OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 147 CINTA YANG MERETAKKAN PERSAHABATAN



Weini mencetak rekor baru dengan tiba di kantor paling awal dari artis lainnya. Bahkan talent figuran saja belum tampak batang hidungnya, ia malah sudah standby mode on kerja. Demi menghabiskan waktu yang mubajir, Weini selonjoran di sofa ruangannya dengan menyibukkan diri membaca script hari ini. Ia leluasa dalam ruang pribadinya karena hanya Dina yang berhak masuk tanpa seijinnya.


Me time Weini hanya berlangsung kisaran satu jam, ketika Dina melabrak masuk dengan terburu-buru dan sangat terkejut melihat kehadirannya. “Ealaaah, non … Aku kirain siapa yang nyelonong masuk, udah nyala aja nih lampu ruangan sebelum aku datang. Lah non tumben awal banget? Kayak lagi tugas piket kelas aja.” Ujar Dina ceplas ceplos sembari kerepotan menggotong sebuah koper.


“Kak Dina mau keluar negri? Kok repot banget bawa koper besar?” tanya Weini heran, managernya belum pernah membawa koper ke kantor apalagi yang sebesar itu.


Dina melemaskan ototnya lalu menggelengkan kepala ke kiri dan kanan hingga mengeluarkan suara. “Oh ini, hehe buat nginap di rumah non. Om Haris bilang mau ngajarin bikin cake dan masak, jadi di waktu senggang aku harus berlatih.” Ungkap Dina antusias, matanya berbinar.


Weini berpikir yang benar saja Haris mengijinkan orang nginap di rumah mereka? Rumah ukuran minimalis itu bahkan tidak punya kamar tamu, lalu mau diletakkan di mana manager bawelnya itu? “Kami nggak punya kamar tamu, kakak mau tidur di mana?”


Dina terbahak, “Itu bukan masalah non, aku tahu kok kasur non single size. Tenang, sofa ruang tamu juga empuk kok, atau aku bisa gelar tikar di bawah kasur non. Yang penting tampung aku ya, Non.” Dina merengek seperti anak TK minta dibelikan balon pada ibunya. Ia menarik lengan baju Weini sambil memohon hingga Weini risih dibuatnya


“Iya kak, iyaa …” seru Weini sekenanya.


Dina jingkrak kegirangan, terlebih karena Weini tidak mencurigai alasan yang dikarangnya. Ia rela meninggalkan kamarnya yang nyaman dan luas dan berhimpitan dengan Weini, semata karena ia prihatin dan tak ingin Weini sendirian. Dina memuji kebolehan actingnya dalam hati, sepertinya ia menyadari bakat terpendam yang


bisa didebut sebagai artis juga.


“Eh tapi non, serius nih kenapa non seawall ini udah di kantor? Boring di rumah ya?” Dina baru ingat pertanyaannya belum mendapatkan titik terang.


Weini menutup naskah yang ia baca lalu duduk dengan tegap, ia perlu bersikap serius untuk sebuah pembicaraan serius. “Karena aku mampir ke aparteman Stevan.”


“What? Ngapain ke aktor labil itu? Gile, aku masih belum ridho digituin sama dia kemarin.” Belum selesai Weini bicara, Dina sudah memotongnya sebagai pelampiasan emosi.


“Buat bertanggung-jawab atas luka dia. Sebenarnya kemarin kakak disuruh keluar itu karena dia nggak ingin lebih banyak yang tahu masalah insiden itu. Luka di punggungnya masih terbuka dan rentan infeksi, dia malah nggak mau balik kontrol ke rumah sakit saking takut ketahuan wartawan. Jadi dia minta aku yang gantikan perban sampai lukanya sembuh. Tapi … kak, mulai besok aku akan sedikit merepotkanmu, tolong gantikan aku yang merawatnya. Ini atas permintaan Stevan tadi.” Cerita Weini panjang lebar, ia merasa tak perlu menutupi kebenaran dari Dina, toh besok dialah yang diminta untuk menggantikannya.


Sebagian besar yang diceritakan Weini dapat dimengerti Dina kecuali satu hal ini, “Oh jadi aku dianggap lupa gimana dia dilempar piring ampe beset-beset itu punggungnya? Trus kita yang panik gotong dia yang semaput ke rumah sakit, lalu dengan gampangnya dia cuman spesialin non aja dan basmi aku kayak serangga? Kalau gitu, ngapain dia minta ganti aku, kan nggak percaya ama aku?”


Weini reflek nyengir kaku mendengar celotehan panjang dan berisik itu, “Sssstttt … kak jangan keras-keras ntar tembok ada kuping.”


Weini menarik napas, ocehan Dina kian membuat pikirannya kusut. “Sudahlah, udah terjadi kak. Sekarang kak Dina bisa kan gantiin aku urus dia sampe dia sembuh?” Weini menekankan poin itu lagi. Dari sekian banyak pembahasan, hanya jawaban dari pertanyaan itulah yang ingin ia dengar.


Dina menyadari kesungguhan Weini, sepertinya suasana hati Weini belum sepenuhnya membaik. “Hmmm … sebelumnya aku boleh tanya non, ada masalah kah dengan Stevan?” ia hanya ingin memastikan kehadirannya tidak berujung pengusiran lagi.


Weini agak berat menjawab, namun harus ada penjelasan bagi Dina untuk meminta pengertiannya. “Aku berantem sama dia, susah dijelasin tapi ini mungkin yang terbaik buat kami.” Weini menunduk, enggan meneruskan penjelasan lagi.


Dina terdiam dalam pikiran, dua orang itu berantem hingga berefek seperti ini pasti ada kaitannya soal perasaan. Cinta yang bertepuk sebelah tangan itu rumit, lebih rumit dari rumus matematik yang pernah membuat Dina dapat nilai 0. “Dia pasti bikin non pusing dengan perasaannya lagi kan? Haiz cowok itu, udah tahu non punya pasangan masih aja nggak mau nyerah. Padahal masih banyak cewek high quality jomblo contohnya aku, hahaha. Yaudahlah, karena insiden kemarin juga ada aku, jadi aku ikut nanggung bebas non juga. Besok aku yang urus dia,


kubikin makin lebar itu luka kalau dia nyebelin hahahaha …” tawa cekikikan Dina terdengar menyeramkan, dendam kesumat memang sungguh menakutkan jika belum ada perdamaian.


***


Setting studio sudah siap untuk mengambil scene pertama, seluruh talent yang terlibat mulai mengambil posisinya kecuali Stevan. Bams sampai berteriak pada manager Stevan karena lambannya sang aktor. “Masa ganti baju aja setengah jam gak kelar-kelar? Lu periksain tuh artis lu, kali ketiduran dalam ruang ganti.” Pekik Bams pada manager Stevan yang jadi bulan-bulanannya.


Weini dan Dina terdiam serba salah, Stevan dikenal sebagai aktor yang disiplin dan nggak neko-neko, pasti ada sebabnya dari keterlambatan ini.


“Kak, apa dia sengaja lamban biar nggak lihat aku?” Weini mulai menebak alasan Stevan belum juga muncul.


Dina menggeleng pelan, “Kayaknya bukan deh non, kalian udah sering gitu dan dia tetap professional, mau sesebel apapun sama non kalau adegannya lagi romantis dia masih enjoy kan.”


“Lalu kenapa ya?” Weini masih sibuk berpikir hingga akhirnya ia dan Dina saling berpandangan dengan raut wajah yang sama kagetnya.


“Ya ampun non, itu pasti karena dia nggak bisa ganti baju sendiri.” Bisik Dina ke telinga Weini.


Weini juga sependapat dengan Dina, kenapa tidak terpikir sebelumnya. “Trus gimana dong kak?”


***