
Dina tergopoh mendatangi ruang perawatan Grace setelah menanyakan pada pusat informasi. Di saat genting begini, Stevan sungguh tak bisa diharapkan untuk komunikasi. Telpon dan chat Dina terkatung-katung tanpa kepastian, ingin rasanya Dina marah saking kesalnya. Namun segala amarah itu lenyap seketika begitu melihat pria yang membuatnya kesal itu berdiri bengong di depan pintu.
“Ngapain jadi satpam di luar?” Tanya Dina menatap bingung pada Stevan.
Stevan menatap Dina, ada sedikit rasa senang muncul dalam hatinya namun saat menjawab pertanyaan itu, wajah sStevan kembali datar. “Bosmu lagi bertamu dan minta privasi.” Jawabnya terlihat tidak senang.
Dina mengerutkan dahi, “Bosku? Dia nyuruh aku datang, lah kok udah sampai duluan?” Dina salah menangkap maksud Stevan, dikiranya Weini yang menjenguk Grace. Hingga saat ia mendongak di pintu kaca untuk memastikan, barulah ia kembali melirik Stevan dengan kesal.
“Dia kekasih bosku, bukan bosku!” Tegas Dina.
Stevan mengangkat bahu tak acuh, “Whatever.”
Dina malah ikut bersandar di dinding, tepat di samping Stevan. Sejenak mereka berdua hening, menatap dinding di hadapan mereka yang bercat putih. “Kenapa bisa terjadi? Gue emang nggak gimana suka sama dia, tapi gue juga nggak tega lihat dia begitu.” Lirih Dina.
Stevan menghela napasnya, “Gue juga nggak becus kok, semalaman sama dia tapi nggak tahu kalau dia lagi nahan sakit. Tahunya sudah di rumah sakit.” Sesal Stevan, penyesalan yang teramat dalam sehingga Dina ikut prihatin dan mengelus pundaknya untuk menguatkan.
“Dia pasti sangat berarti buat lu. Selamat ya, akhirnya nggak jomblo lagi.” Ujar Dina pelan.
“Sisa gue doang yang jomblo bentar lagi karatan.” Desis Dina pelan, tetapi terdengar oleh Stevan hingga pria itu tak sanggup menahan senyuman.
“Masih terlalu dini buat senang, gue belum tahu dia beneran suka gue apa nggak.” Ujar Stevan.
“Optimis ajalah, dia mau diajak keluar, dan dari cara dia mandang elu, gue yakin dia juga punya rasa ama lu.” Seru Dina menyemangati.
Stevan tersenyum lalu mengangguk pelan.
“Jadi, kelanjutan kasus ini gimana? Dia sebenarnya kenapa?” Tanya Dina lagi menguak misteri yang masih membuatnya kepo.
“Nggak ada bukti, dan jenis racun yang dia minum juga tidak dikenali. Kemungkinan terbesar dia berniat bunuh diri.” Desis Stevan, terdengar berat kata katanya saat mengucapkan kata terakhir itu.
Dina tersentak kaget, ia menutup mulutnya yang ternganga dengan dua tangannya. “OMG.” Ujarnya sedikit merinding.
“Dia nggak mau besarin masalah ini, jadi fokus sekarang hanya pemulihan dan segera keluar dari rumah sakit.” Lanjut Stevan pelan.
Dina mengelus dadanya, “Syukurlah, akan sangat kacau kalau media sampai tahu. Lebih cepat keluar dari sini lebih baik.”
***
Xiao Jun dan Grace masih terlibat perbincangan serius, dan Grace mulai menceritakan apapun yang ia ketahui dari keluarganya.
“Apa? Kamu memilih menelan racun daripada memberitahuku? Jika kamu terbuka sejak awal, kamu tidak akan menderita begini.” Xiao Jun terkejut mendapati pengakuan Grace.
“Dan aku memberikan obat pencahar di minuman Weini.” Timpal Grace polos.
Xiao Jun meliriknya, tak habis pikir dengan jalan pikiran gadis itu.
“Hei, kau tidak tahu gimana rasanya jadi diriku. Aku hanya ingin memberi pelajaran pada keluargaku, jika aku mati siapa tahu mereka akan sadar.” Jelas Grace, ia tak ingin sepenuhnya disalahkan meskipun tidankannya tidak bisa dibenarkan.
Xiao Jun menatap iba pada Grace, sayang sekali harapan mulia Grace tampak tak berarti bagi keluarganya. “Jika mereka peduli, pasti kau sudah dihubungi. Paman Lau sudah memberitahu mereka sejak tadi pagi, nyatanya sampai sekarang mereka tidak mencarimu kan? Maaf Grace, mungkin agak kasar tapi kamu harus sadar, mungkin hidup dan matimu tidak berarti bagi mereka. Untuk itu, kamu yang harus menghargai hidupmu. Nyawa ini cuma satu, tidak ada cadangannya.”
Grace menundukkan kepala, meresapi tiap perkataan Xiao Jun. Benar saja, hingga sekarang ponselnya sepi. Fang Fang pun melaporkan tidak ada satupun pesan atau panggilan di ponselnya. Tiba-tiba Grace merasa hampa, sedih, dan sangat menyakitkan hingga ia pun menangis.
“Aku … Maaf ….” Lirih Grace. Apa yang ingin ia sampaikan tertahan. Begitu banyak penyesalan di hatinya, tindakan itu tidak berhasil seperti dugaannya. Justru mungkin semakin memperburuk keadaan.
“Gimana kondisi Weini? Aku rasa dia yang menyelamatkanku.” Tanya Grace lirih.
Grace sungguh menyesal, ia mengangguk pelan. Bersedia setuju dengan apa yang ditawarkan Xiao Jun.
“Apa rencanamu selanjutnya?” Tanya Xiao Jun.
Grace menggeleng pelan, tatapan matanya begitu sendu. “Entahlah, aku yakin ayah dan kakakku akan membuat perhitungan padaku. Tidak ada tempat bagiku lagi Jun, aku tidak tahu harus membuat rencana apa lagi.” Keluh
Grace. Ia yakin setelah ini sumber keuangan yang berasal dari ayahnya akan terhenti, dan ia harus hidup mandiri. Itupun jika mereka tidak datang membuat perhitungan dengannya.
“Tempatmu di sini, ada begitu banyak orang yang peduli padamu. Termasuk yang berdiri di luar itu.” Xiao Jun menunjuk Stevan dengan lirikan matanya kemudian tersenyum pada Grace.
Grace tersipu malu, ia pun bisa melihat punggung Stevan yang bersandar di kaca pintu.
“Jun, kumohon jangan usir aku ya dari apartemenmu. Aku janji akan lebih cepat mandiri dan tidak merepotkanmu lagi. Tapi … Mungkin sebaiknya kita tidak boleh berhubungan lagi, ayahku tidak akan memberi kemudahan pada kita.” Grace ketakutan, ia tahu sifat kakaknya.
“Itu yang ingin kutanyakan Grace, sebenarnya apa yang mereka inginkan? Tuan dan nyonya Li menghilang dan di sana ayah dan kakakmu yang memegang kuasa.” Ujar Xiao Jun serius.
Grace mengernyitkan dahi, ia pun tersentak. “Secepat itu? Seharusnya itu mereka lakukan setelah kita menikah. A … Aku nggak mengerti rencana mereka, yang kutahu kakakku punya banyak mata mata. Dan … Dia sepertinya punya dukungan kekuatan hitam.”
Xiao Jun terperanjat, “Maksudmu dia punya kekuatan sihir?”
Grace menggeleng pelan, “Aku tidak tahu sebutan apa yang tepat, yang jelas ia punya kekuatan yang tidak biasanya. Dan ayahku bilang itu adalah karunia leluhur kami.”
Segalanya terasa sangat rumit sekarang, Xiao Jun tak menyangka akan serumit itu. Mereka beradu pandang dengan sekelumit perasaan, hingga dering ponsel membuyarkan suasana tegang itu. Sebuah pesan singkat dari
Haris yang menambah daftar kecemasan Xiao Jun.
***
“Lu udah putuskan gabung di managemen mana?” Tanya Dina, perbincangannya dengan Stevan masih berlanjut. Membahas apa saja demi mengisi waktu menunggu Xiao Jun keluar dari sana.
Stevan mengangkat bahu, “Bebas gini lebih asyik sih. Nggak tahu deh, kalau nemu yang sreg ya gue pikirin ntar.”
Tiba-tiba pintu ditarik dari dalam sehingga tubuh Stevan goyah mengikuti arah pintu. Ia sempat kaget tetapi kakinya sigap menahan tubuhnya agar kembali berdiri tegap. Terlihat Xiao Jun muncul dari balik pintu dan tersenyum pada mereka.
“Maaf membuat kalian menunggu lama, aku pamit dulu. Thanks udah jagain dia.” Ucap Xiao Jun sembari menepuk pelan pundak Stevan.
Dina tersenyum canggung ketika Xiao Jun melemparkan senyuman padanya.
“Dina kalau ada waktu, ayo ikut ke kantorku sebentar.” Ajak Xiao Jun yang kemudian berjalan meninggalkan tempat itu sebelum mendengar jawaban Dina.
“Baiklah bos.” Jawab Dina dan langsung mengejar langkah Xiao Jun.
Stevan nyengir melihat itu, “Katanya bukan bosnya, tapi barusan manggil dia bos.” Desis Stevan pelan setelah keduanya menghilang dari hadapannya. Ia pun bergegas masuk menemani Grace lagi di dalam.
***
Hi readers, terima kasih sudah setia mengikuti kisah ini. Panjang ya? Tapi Thor harap tetap semangat membaca ya. Sama seperti thor yang tetap semangat menulis cerita ini setiap hari. Ke depannya mungkin cerita ini akan banyak menguras emosi dan air mata, jujur saja … Episode yang terdapat adegan haru dan menyedihkanpun thor tulis sambil menangis. Lebay ya? hihihi … Karena thor menciptakan karya ini dengan sungguh-sungguh, menaruh perasaan pada setiap karakternya. Dan Thor percaya, yang dari hati akan sampai ke hati juga. Maka dari itu, terima kasih pada kalian yang sudah ikut menangis, tersenyum, marah, terharu ketika membaca. Karena yakinlah, kalian tidak sendiri. Ada thor yang lebih dulu merasakannya saat menulis.
Salam sayang buat kalian, ^^
Author Lee