OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 169 I FEEL YOUR PAIN



Pernahkah kamu merasa sedih tanpa tahu apa yang disedihkan?


Perasaan yang tidak menentu tanpa alasan apa yang harus dikhawatirkan.


Air mata yang tiba-tiba jatuh padahal enggan menangisi sesuatu.


Pernahkah kamu begitu?


Aku sedang merasakannya.


_Quote of Weini aka Yue Hwa_


***


Terbangun dengan perasaan aneh, gusar, gelisah dan sedih yang tak terungkapkan, Weini masih terbaring memainkan ponselnya. Ia melihat kalender ponsel untuk memastikan sesuatu lalu menghela napas. Ia tidak sedang PMS tapi kenapa moodnya tak karuan? Antara sedih, bingung dan kecewa sejak kemarin malam. Ia pikir dengan tidur maka akan membaik keesokan hari, ternyata sama saja ia tetap menimbun perasaan yang tak jelas.


Belum ada satu kabarpun dari Xiao Jun sejak chat terakhir, Weini sering membaca ulang pesan itu dan menahan diri membalasnya. Sepertinya pertahanan itu akan segera jebol, Weini tak sanggup lagi hanya terdiam tanpa usaha. Digantung dengan status antara masih ada dan tiada jelas sangat menyakitkan, mungkin itulah yang membuat suasana hatinya kacau.


I miss you … Weini mengetik pesan singkat itu lalu menghapus semuanya, pernyataan yang terlalu jujur itu terkesan seolah ia sangat mengharap. Meskipun kenyataan memang seperti itu tapi ia tetap bersikeras jaga image.


Kamu lagi apa? Lagi-lagi ia hapus. Weini mengetuk dagu, memikirkan kata apa yang harus ia ketikkan hingga ia mulai tersenyum sendiri.


Hi, apa kabar Jun? Weini mantap dengan kata-kata itu, tidak berlebihan dan simpel. Andai bukan Xiao Jun yang membacanya pun tidak akan menimbulkan kecurigaan. Anggap saja hanya sapaan dari seorang teman yang bertanya kabar.


Ia memencet tombol send kemudian melihat status kirimannya. Chat itu masih berstatus pending, Weini tetap mengamatinya hingga beberapa saat sembari berharap berhasil terkirim. Debar jantungnya terasa cepat padahal hanya berkirim pesan, ia lebih was-was jika nomor Xiao Jun aktif dan pesannya terkirim. Apa yang akan dibalas oleh kekasihnya?


Pesan yang belum tersampaikan itu membuat Weini harus puas akan hasil usahanya. Tak ada perkembangan baru, ia masih merana menanti cintanya kembali. Ponsel itu digeletakkan kembali di atas ranjang layaknya barang tidak berguna. Weini enggan melihat ke sana, hatinya kian gusar lalu menyesali tindakannya yang terbawa perasaan tanpa pikir panjang. Untuk apa menghubungi dulu jika tahu hasilnya tetap sama? Hanya menambah sesak dada dengan pikiran dan harapan yang tak kesampaian.


“Pagi Non.” Dina menyapa Weini yang bergabung di dapur. Dua minggu menginap di rumah Weini, si manager itu mulai menganggap sebagai rumah sendiri. Ia tak sungkan memasak, bersih-bersih di rumah seolah ia bukan seorang tamu.


“Pagi kak Dina. Nggak usah repot ngepel, biar aku aja nanti.” Ujar Weini sungkan melihat sikap rajin Dina mengepel seisi rumahnya. Ia mengambil segelas air mineral dan meneguknya dengan semangat seolah habis kehausan sepanjang hari.


“Nggak repot non, anggap aja bakar lemak hahaha.” Dina bersenandung ria mengepel bagian dapur, selama di sini ia sudah makan gratis dan enak-enak hasil masakan Haris, plus diajarin memasak. Hal sepele membereskan rumah wajib ia lakukan agar lebih enak hati menerima kebaikan sang tuan rumah. Ini mutlak kesadaran Dina yang tak mengistimewakan dirinya sebagai tamu.


Weini tersenyum mendengar alasan Dina, selalu ada-ada saja alibinya yang bikin geli. Ia kembali meneguk sisa air dalam gelas, namun saat baru menempelkan bibir tiba-tiba gelas itu retak dan jatuh pecah separuh menyisakan separuh yang masih dipegang gagangnya. Benturan gelas kaca dengan lantai menciptakan kegaduhan sejenak, Dina menoleh ke sumber suara dan terkejut melihat potongan beling itu mengenai jari kaki Weini.


Perintah Dina terpental dari pendengaran Weini, ia gamang sesaat terfokus pada perasaan yang sulit ditafsirkan. Gelas yang semula baik mendadak retak dan hancur lalu melukai dirinya. Ini bukan pertanda baik, Weini mulai menghubungkan kekacauan perasaan serta insiden barusan sebagai peringatan baginya. Akan ada sesuatu


yang tak ia harapkan terjadi pada orang yang ia cintai.


Siapa dan kenapa? Xiao Jun? pak Haris? ayah ibuku? Gumam Weini dengan segala kegusarannya. Lecet di jari kakinya yang mengeluarkan sedikit darah bahkan tak terasa lagi, ada yang lebih sakit dibanding luka terbuka itu. Luka kasat mata, perih dan tertutup di hatinya.


***


Pikiran Weini masih hampa dengan mood yang memprihatinkan, ia tetap memaksakan diri tetap santai dan tenang di lokasi syuting. Jari kaki yang terkena pecahan gelas itu sudah ia obati meskipun tetap terasa perih karena tekanan sepatu heels. Tanpa sengaja ia dan Stevan saling bertatapan sekilas, kemudian pria itu memalingkan muka dengan sombongnya.


“Cih, sebangsa munafiking (munafik) itu sok jual mahal. Kalau di depan non aja berlagak kayak musuh padahal di belakan nih, tiap hari nanyain kabar non. Nyesek dah kupingku non dengar pertanyaan dia itu itu mulu.” Ocehan Dina  mencuat bak ember bocor, kelemahannya memang tak pandai menjaga rahasia padahal Stevan sudah memintanya untuk merahasiakan dari Weini bahwa ia selalu mengkhawatirkan Weini dan hanya berani menanyakan kabar lewat Dina. Setelah melihat keangkuhan sikap Stevan barusan dan Dina tahu artisnya baru saja mengalami insiden kecil, akhirnya Dina keceplosan.


Weini senyum-senyum mendengar pengakuan Dina, ia sama sekali tak mengira managernya menyimpan rahasia di belakangnya. “Oya, apa yang dia tanyakan kak?” ujar Weini iseng mengorek info lebih dalam mumpung Dina sedang keterusan bongkar rahasia.


“Biasalah non, palingan nanya si bos brengs*k itu udah ada kabar belum? Weini gimana masih sedih ya? Ya gitu-gitu deh non tiap hari dikontrol pertanyaan kayak gitu.” Jawab Dina dengan raut sewot, andai ia tak menangkap basah sikap sok dingin Stevan mungkin ia masih betah bungkam.


“Dia masih kayak dulu, tetap perhatian padahal udah aku sakitin.” Weini tersenyum getir, sengaja ia berkomentar begitu agar mengalihkan sakit hatinya mendengar Xiao Jun diungkit.


“Yaa… itu resiko jatuh cinta sih non. Siap sakit kalau nggak kesampaian, salah dia nya juga nggak mau move on. Udah jelas nggak ada harapan masih aja mau jagain milik orang.” Timpal Dina kesal, seringkali ia menasehati Stevan tetapi hanya dianggap angin lewat.


Perkataan Dina barusan sedikit menyinggung Weini, ia seakan tertampar oleh nasehat yang ditujukan pada Stevan. Agaknya kondisi Stevan sekarang sama dengan dirinya, Weini mulai merasa jangan-jangan ia juga wasting time mencintai pria orang lain, menjaga perasaannya untuk pria milik orang.


“Udah gitu nih non, dia tuh lucu deh. Kayak lagi musuhan ama non, tapi masih aja mau nerima tawaran film sebagai peran utama pria, jadi lawan main non lagi. Dia kan udah tahu film itu udah kontrak non jadi peran utama wanita, harusnya dia nolak dong kalau emang mau jauhin non. Nyebelin kan?” cecar Dina.


Weini baru teringat kontrak film yang belum lama ia tanda tangani, ternyata Stevan lagi yang menjadi partnernya. Entah harus senang karena tak perlu penyesuaian chemistry lagi dengan orang baru, atau harus sedih lantaran selalu interaksi dengan orang lama?


“Biarinlah kak, toh dia juga professional bisa bedakan mana kerjaan dan urusan pribadi.” Yang Weini salut dari Stevan memang sikapnya yang seakan punya dua kepribadian, pria itu bisa beracting romantic sesuai peran namun setelah syuting kelar mereka kembali bermusuhan.


Dina manggut-manggut, “Iya sih. Sayangnya proses casting masih berjalan, pihak PH kesulitan cari peran pendukung wanita yang cocok padahal udah beberapa talent yang casting loh.”


Weini mencuri pandang pada Stevan yang serius berbicara dengan managernya. Pria yang baik bahkan sangat baik padanya, apa daya kebaikan tidak menjamin berbuah cinta. Semoga kamu segera mendapatkan yang terbaik, Kak Stev.


***