OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 248 PENDEKATAN ULANG SETELAH TUNANGAN?



Dina mengirimkan sebuah voice note kepada Stevan sebelum ia masuk ke dalam kantor Xiao Jun. Beberapa jam lalu ia meninggalkan tempat ini, tak disangka secepat itu ia kembali menginjakkan kaki lagi.


“Kalau non Weini tanya gue di kantor nggak, lu harus jawab gue datang! Awas kalau sampe lu kebablasan jujurnya. Ini masalah hidup dan mati gue, jadi jangan gegabah. Paham!” Dina mendengar ulang pesan suara yang sudah terkirim itu. Ia tertawa geli mendengar suaranya, terlebih kata-katanya yang kelewat lebay.


Manager Weini itu disambut oleh Lau di muka pintu ruangan Xiao Jun, membuatnya melangkah penuh bangga lantaran merasa jadi tamu kehormatan yang ditunggu kedatangannya.


“Lama tak jumpa seperti ini, aku pikir om sudah lupa sama aku.” Goda Dina pada pria separuh baya itu.


Lau tersenyum, langkah mereka tetap bergerak masuk ke dalam ruangan yang sudah terbuka untuk Dina. “Mana mungkin lupa pada Dina, nyatanya sekarang diundang datang kan? Selamat datang kembali, Dina.” Lau mempersilahkan Dina menempati sofa tamu dalam ruangan besar itu.


Dina menuruti begitu saja dan mengambil posisi duduk di tengah, senyumnya merekah lebar saat Xiao Jun berjalan menghampirinya. “Tuan Xiao Jun apa kabar?” Pertanyaan yang sangat klasik, jelas Dina tahu bahwa Xiao Jun dalam keadaan sehat namun tidak dalam suasana hati yang senang, pasca kejadian siang tadi. Namun ia masih bertanya kabar untuk sekedar basa-basi.


“Seperti yang kau lihat, Dina. Terima kasih sudah memenuhi undangan kami kemari.” Balas Xiao Jun dengan keramahannya yang sangat meluluhkan hati. Dina tak berkutik dibuatnya, kharisma Xiao Jun sebagai seorang


pimpinan perusahaan memang piawai dalam ilmu komunikasi. Cara bicaranya sangat menenangkan sekaligus meyakinkan lawan.


Dina mengangguk antusias, “Aku selalu siap untuk anda tuan. So, apa yang bisa kulakukan?” Dina bertanya blak-blakan, sudah pasti ia diundang kemari untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan Weini. Mustahil


rasanya jika Xiao Jun hanya memintanya datang mencicipi teh manis dari Hongkong, seperti yang sekarang disuguhkan Lau di hadapannya.


Xiao Jun tertawa kecil, mata-matanya itu memang berjiwa humoris. “Itu yang aku suka darimu. Gimana keadaan Weini?” Awalnya Xiao Jun masih bisa sambil tertawa menjawab Dina, namun ketika ia beralih pada


pertanyaan itu, suaranya yang riang seketika berubah lebih kalem.


Dina tersenyum girang, bentuk perhatian Xiao Jun yang seperti itu sangat ia sukai. Mengingatkannya dengan masa lalu saat dua orang itu tengah pendekatan dan Xiao Jun diam-diam menyewa jasanya. Sejarah mungkin berulang, dan dua sejoli itu dipaksa keadaan untuk menjalani pendekatan ulang ketika sudah bertunangan.


“Non Weini lagi istirahat di rumah, tadi aku habis dari sana. Dia baik-baik aja tuan.” Jawab Dina sekenanya.


Xiao Jun mengangguk, raut wajahnya tampak senang mendengar berita itu. “Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi, aku nggak perlu jelaskan lagi ….”


“Tidak, aku sama sekali nggak tahu apa yang terjadi. Weini nggak mau kasih tahu, kalian kenapa berantem lagi?” Dengan cepat Dina menyanggah perkataan Xiao Jun, membuat bos muda itu mengernyitkan dahi.


Xiao Jun menghela napas, “Dia sangat tertutup sekalipun kepadamu.” Gumamnya sedih.


Dina mengangkat bahu, entah harus menjawab apalagi. “Ya, begitulah.”


“Dina, aku ingin kamu membantuku lagi. Tolong jaga dia untukku, segala yang ia perlukan dan ia lakukan wajib kabari aku.” Xiao Jun tak berniat menjelaskan yang sudah terjadi, jika Weini saja enggan berbagi masalah pribadi itu kepada Dina, maka Xiao Jun pun memilih tutup mulut.


Dina mengangkat satu alisnya, ia sudah tak asing dengan permintaan tuan muda itu. “Bukankah kerja sama kita yang dulu masih berlaku? Tuan muda tidak perlu sungkan meminta ulang, aku siap laksanakan tugas.” Dina


menyatakan kesediaannya bekerja sama lagi, bibirnya melengkung lebar mengguratkan senyum girang. Ia rindu pekerjaan ini, rindu menjadi mata-mata Xiao Jun sekaligus orang terdekat Weini.


“Eit, tunggu sebentar tuan. Maaf banget, bukannya aku nolak rejeki … Tapi kali ini aku akan membantu kalian tanpa imbalan. Jangan ada perhitungan atas nama persahabatan, aku serius bantu kalian biar akur lagi. Plis jangan kelamaan berantemnya *pembaca juga capek konflik mulu katanya*, aku masih nunggu traktiran buat syukuran pertunangan kalian loh. Janji tetap janji, buruan baikan trus rayakan!” Dengan bangga Dina baru saja menolak cipratan pundi rupiah yang bisa saja mencapai angka ratusan juta. Atas nama persahabatan, ia abaikan kesempatan memperkaya diri seperti yang ia lakukan di masa lalu.


Lau tersenyum mendengar keputusan Dina, saking takjubnya ia bahkan bertepuk tangan sehingga Dina bingung. Apa ini sebuah prestasi yang perlu diapresiasi?


“Anda tidak menyesal, Dina? Masih ada kesempatan loh untuk berubah pikiran.” Goda Lau sembari tersenyum, tatapan tidak beralih pada Dina saking ingin melihat responnya.


Dina dengan sombongnya menggeleng sembari memejamkan mata, lebih baik menutup mata sebentar daripada tergoda untuk berubah pikiran seperti yang ditudingkan Lau. “Tidak!”


Xiao Jun tersenyum, ia semakin yakin bahwa Dina adalah orang baik di dekat Weini. “Terima kasih atas ketulusanmu. Oya setelah dari sini, dia ngapain?” Tanya Xiao Jun lirih, ia belum berani mengganggu Weini lewat telpon ataupun menyusulnya ke rumah. Biarlah gadis itu menenangkan diri, lebih baik lagi bila Weini bisa menjernihkan pikiran agar tidak kelamaan menghindarinya.


Dina menyipitkan mata, dari bibirnya mencuat kata-kata yang mengejutkan. “Habis dari sini dia ngajak kami ke toko perhiasan buat lepasin cincinnya.” Dina sengaja terdiam, ia ingin menikmati sejenak reaksi Xiao Jun yang tegang.


“Tapi udah susah payah dipotong tetap aja utuh itu cincin.” Timpal Dina, tawanya pecah. Ia menganggap kejadian itu seperti lelucon, belum pernah ada cincin yang begitu sulit ditakhlukkan dan baru kali ini ia saksikan dengan mata kepalanya.


Xiao Jun tersenyum lega, cincin itu sungguh sakti. Meskipun ada rasa sesak saat tahu Weini serius ingin menyingkirkan cincin itu dari jarinya, namun Xiao Jun bisa sedikit tenang karena sekuat apapun usaha gadisnya


tetaplah tak akan berhasil. Hanya Xiao Jun yang bisa memakaikan dan melepaskannya.


***


Sepanjang malam Grace habiskan waktunya untuk menonton tayangan di Youtube. Ia tidak pernah seniat ini sebelumnya untuk dapat menguasai kemampuan baru dalam waktu singkat, berbekal kecanggihan teknologi


serta tekad bulatnya, Grace mantap mempelajari bahasa Indonesia. Mulai saat ini ia akan belajar lebih keras, bahkan mengorbankan waktu istirahat malamnya asalkan segera fasih dengan bahasa lokal.


Pelayannya sudah menyajikan sarapan di atas meja, Grace yang sudah menyiksa diri sejak kemarin dengan tidak makan, akhirnya tak bisa terus membiarkan perutnya keroncongan. Ia menarik kursi dan membiarkan Fang Fang melayaninya.


“Mulai saat ini kamu harus bicara dua bahasa denganku!” Ujar Grace lantang kepada Fang Fang.


Pelayan itu tidak berani membantah, meskipun bingung dengan cara Grace yang kurang praktis. “Baik, nona.” Jawabnya dengan mengulang dua kali dalam bahasa berbeda sesuai perintah Grace.


Grace tersenyum senang, ia mengelap bibirnya dengan tisu kemudian meletakkannya pada piring bekasnya yang sudah kosong. Sarapan yang Grace minta cukup simpel dan praktis, hanya roti selai yang cocok dengan seleranya.


“Ya sudah, segera bersiap dan ikut aku ke kantor. Hari ini aku perlu melakukan perubahan besar!” Grace tersenyum licik, ia sudah membuat keputusan dan siap beradu dengan segala konsekuensinya. Demi cinta, segalanya adalah fair!


***


Hi Readers, terima kasih tetap setia menunggu update kisah Xiao Jun dan Weini. Terima kasih pula kepada kamu yang sudah berkontribusi menaikkan popuaritas karya ini, baik dengan vote, like, komentar, semuanya sangat berkesan bagi author. Apresiasimu adalah suntikan semangatku!


Love you all ^^