
Lautan berair hijau udah mendominasi pemandangan di bawah jet. Xiao Jun, Haris dan Su Rong sudah berada di atas udara selama hampir empat jam. Perjalanan yang cukup jauh dan tempat persembunyian yang sungguh tidak mudah ditemukan. Xiao Jun tak habis pikir, Chen Kho begitu nekad mencari tempat sembunyi hingga di kawasan yang sulit dijangkau manusia.
“Kita sebaiknya mulai bersiap, Su Rong pastikan kamu tetap tenang saat bertemu dia.” Ujar Haris yang mulai bersuara setelah diam agak lama.
Su Rong mengangguk paham, ia hanya berharap kebohongannya dapat dipercaya oleh Chen Kho yang licik itu. Ia kembali dengan seragam yang sama serta ikat pinggang yang menjadi identitas pengawal Chen Kho. Seharusnya dengan penyamaran sempurna ini bisa mengecohkan perhatian Chen Kho.
Xiao Jun mengeliat saat merasakan getaran dari saku jasnya. Sikapnya yang berlebihan itu menarik perhatian Haris dan Su Rong. Ia bergegas mengeluarkan sesuatu yang membuatnya merasakan getaran sakit sekaligus geli. Xiao Jun terkesiap, benda itu ternyata chip yang diberikan oleh Weini. Benda yang semula tidak ada reaksi apa-apa
tetapi kini justru mengeluarkan sinar merah seperti sorotan sinar laser dan berputar seperti gasing.
“Ayah?” Xiao Jun menatap ayahnya dengan tatapan bingung. Ia menyodorkan benda kecil itu pada Haris.
Chip yang berasal dari kekuatan Haris itu tetap bereaksi sama ketika berada di atas telapak tangan si empunya. Haris tampak mendeteksi kekuatan yang terpancar dari chip itu, sinyal sihir terasa kuat terdeteksi dan menunjukkan keberadaan pemiliknya.
“Benda ini sudah bisa melacak keberadaan nona Yue Hwa. Bersiaplah, kita sungguh sudah dekat. Jun, lakukan seperti yang sudah ku instruksikan sebelumnya.”
Xiao Jun mengangguk, “Baik, ayah.”
Tak lama setelah mereka menyepakati pembagian peran, Xiao Jun dan Haris kembali menghilangkan diri. Tinggallah Su Rong yang nampak sedikit gugup menghadapi medan pertempuran secara nyata, ia benar-benar mengandalkan kemampuan aktingnya.
Jet itu perlahan terbang dengan jarak yang kian dekat dengan permukaan air, Xiao Jun dan Haris terus mengamati pergerakan jet itu hingga mereka takjub dibuatnya. Mereka melihat air laut yang bergejolak, banyak riak lalu menyusul sesuatu yang muncul ke atas permukaan air. Perlahan jet mendarat di atas tempat datar yang persis sebuah halaman portable.
Su Rong berdiri lalu bersiap menuruni jet, setelah ini ia tahu langkah selanjutnya untuk masuk ke dalam rumah bawah laut. Ia berdiri tepat di atas lingkaran merah yang menjadi pintu ke dalam sebuah lorong hisap. Setelah ia turun, jet beransur naik lagi dan bersiap meninggalkan Su Rong.
“Apa kalian ada di sini? Aku sudah harus masuk, tuan.” Gumam Su Rong yang tidak tahu apakah kedua tuannya masih mengikutinya.
Xiao Jun dan Haris mendengar perkataan Su Rong, kemudian Haris menjawabnya. “Kami di sini, lakukan saja dengan hati-hati.” Perintah Haris.
Siap tak siap, Su Rong tetap harus menjalankan misi ini. Ia memutar kepala sabuk pinggangnya lalu sesuatu yang mengesankan terjadi. Lingkaran merah yang diinjaknya bergerak seperti gerakan membuka, “Ikuti aku, lubang ini hanya sekitar lingkaran merah, tuan.” Teriak Su Rong tepat di saat tubuhnya terhisap ke dalam lorong yang
akhirnya mengantarkannya menuju saluran rumah bawah laut. Lorong transparan yang melintasi isi laut, dengan mata terbuka siapapun yang melewati lorong itu bisa melihat pemandangan di bawah laut.
“Tempat apa ini?” Gumam Xiao Jun yang merasa takjub sekaligus tak masuk akal.
“Apa tuan Chen Kho sekaya itu hingga punya tempat persembunyian di bawah laut? Tuan besar saja tidak punya aset seberharga ini.” Gumam Haris yang juga tak bisa menutupi rasa kagumnya, terlepas dari misi mereka kemari.
Su Rong diam saja, ia tidak bisa mendengar percakapan ayah dan anak yang bersembunyi di dimensi lain. Di depan mata tampak sebuah pintu berwarna emas yang megah, pintu yang sekaligus menjadi tempat masuk ke dalam rumah mewah di bawah laut. Namun sebelum melintasi itu, ada sekat transparan yang harus dilewati lagi, dan sabuk pinggang Su Rong masih berfungsi untuk membuka pembatas itu.
Krieeeet....
Sekat transparan terbuka, secara otomatis mereka terlindungi mendapatkan suplai oksigen di dalam tekanan air yang sangat dalam. Su Rong tidak berani bicara sepatah katapun lagi, kawasan ini sudah masuk dalam jangkauan Chen Kho, bagaimanapun penyihir jahat itu peka terhadap siapapun yang melangkahi area kekuasaannya. Su Rong membuka pintu berwarna emas itu, membiarkannya terbuka agak lama agar tuan-tuan yang membuntutinya ikut masuk. Padahal mereka tidak perlu diperlakukan seperti itu, mereka bisa masuk menembus apapun tanpa melukai fisik. Dalam pengaruh sihir, tubuh mereka seperti roh, layaknya jiwa yang telah meninggalkan raganya namun dalam keadaan hidup.
***
“Aku tak habis pikir, kenapa dulu kamu mau membunuhku sampai menyuruh Grace meracuniku.” Gumam Weini
yang memang tak menyangka akan dijahati oleh seseorang yang masih ada ikatan keluarga dengannya.
Chen Kho tersenyum nyengir, tak bisa terelakkan bahwa dia memang pernah merencanakan pembunuhan
terhadap Weini lewat campur tangan adiknya. “Tapi aku salah menilai kemampuan adikku, ternyata hatinya terlalu lembut, tak seperti peringainya yang manja dan kekanakkan. Aku tak menyangka, kau ternyata memakai topeng sihir. Rupa aslimu sangat cantik, kini aku bersyukur Grace tak punya nyali sebagai psikopat.” Terang Chen Kho dengan blak-blakan.
Weini menyeringai, tak menyangka bahwa Chen Kho terpukau oleh wajah aslinya. “Aku bahkan belum melihat seperti apa rupa asliku.” Lirih Weini.
Chen Kho terkesiap, pria itu ikut terkejut. “Jadi sejak sadar, kamu belum melihat wajahmu sendiri?”
Weini menyeringai, pertanyaan Chen Kho terdengar seperti ejekan. “Rumahmu memang punya kaca tapi tidak bisa memantulkan bayangan apapun, bahkan di kamarpun tidak ada cermin satupun. Aku heran padamu, bagaimana kau bisa membangun rumah di bawah lautan?”
Chen Kho tertawa terbahak, ia merasa iba dengan Weini yang belum juga tahu seperti apa bentuk rupanya. Padahal beberapa orang termasuk dia sudah melihat betapa sempurnanya paras gadis itu. “Kau tidak tahu betapa kayanya leluhur kita? Ini hanya salah satu aset yang mereka sembunyikan. Ayahmu bahkan tidak tahu keberadaan rumah ini.”
Weini terkesiap, sulit untuk dipercaya bahwa rumah ini adalah warisan dari klan Li. “Jika benar ini punya leluhur, kenapa ayahku tidak tahu? Kenapa justru kamu yang tahu dan bisa menggunakannya?”
Chen Kho menyeringai, ia tak menyangka Weini sepolos itu tidak mengetahui seluk beluk keluarga mereka. “Kelihatannya kau sama sekali tidak tahu banyak tentang leluhur kita, ah... Aku bisa mengerti karena sejak kecil kau sudah terpisah dari keluargamu. Tidak perlu heran mengapa nasibmu seperti itu, asal kau tahu saja, klan Li dari
leluhur kita memang punya sekelumit masalah yang tak masuk akal, termasuk ini. Kau perhatikan saja, apa ada garis keturunan kita yang hidupnya sungguh bahagia? Baik kamu maupun aku, bahkan saudara-saudaramu, serta Grace, kita semua tidak ada yang merasakan kebebasan, kebahagiaan hidup. Aku bahkan sering berpikir,
terlahir di keluarga ini membuatku merasa seperti mati dalam status hidup. Tidak ada artinya sama sekali.” Gumam Chen Kho, dari nada bicaranya terdengar kepedihan yang sangat dalam.
Weini ikut terdiam, apa yang dikatakan Chen Kho memang ada benarnya. Hidup Weini memang sangat menderita sejak kecil, namun ternyata saudaranya yang lain pun mempunyai beban penderitaan mereka masing-masing.
“Aku justru merasa kamu sangat beruntung, bisa keluar dari keluargamu, jauh dari mereka yang hanya akan memperalat hidupmu. Kau lihat saja, saudara-saudaramu hidup tanpa banyak pilihan. Tidak sepertimu yang bebas bersama siapapun yang kau mau.” Timpal Chen Kho dengan mimik serius, Weini dapat merasakan kejujuran dari perkataannya.
Weini tetap terdiam, ia tidak tahu harus membenarkan atau mengelak pandangan Chen Kho. Bagi Weini, hidup jauh dari keluarga, terasingkan di tempat baru dan memulai hidup baru dalam pengalaman pahit masa lalu juga bukan hal yang patut disyukuri.
Chen Kho melirik Weini, ia mendekatkan wajahnya pada gadis itu hingga membuat mata mereka salingberadu. “Kita di sini merasa nyaman bukan? Dunia di luar sana sangat menjengkelkan, kita sebaiknya tinggal di sini saja seterusnya. Kau dan aku... Bukankah sudah cukup untuk bahagia? Tinggallah bersamaku, aku janji akan
membuatmu bahagia.” Pinta Chen Kho dengan penuh kesungguhan.
***