
Letusan petasan yang beruntun serta bunyi tabuh mengiringi permainan sepasang barongsai di halaman kediaman Li San. Atraksi singa kain itu dipertontonkan untuk menyambut kepulangan empat putri Li San dari Amerika. Liang Jia dan Xin Er berdiri di barisan depan berderetan dengan tuan besar. Serombongan orang yang ditunggu akhirnya memasuki gerbang rumah keluarga Li yang bak istana.
“Ibu…” putri sulung Liang Jia memanggil sosok ibu yang sekian lama dirindukan, disusul dengan ketiga saudaranya.
“Putriku Yue Yan, Yue Xin, Yue Fang, Yue Xiao.” Liang Jia mendekap semua anak gadisnya, mereka berlima bercucuran air mata. Xin Er yang berdiri menyaksikan pun ikut menangis haru terbawa suasana. Sementara Li
San menjawa wibawanya dengan memandang dalam diam.
Dua orang pria berjalan memasuki gerbang, Li San menghampiri sosok yang sangat ia kenal itu.
“Kakak pertama, lama tidak berjumpa. Anda tampak sehat dan berwibawa.” Li San memberi hormat pada kakaknya, Li Kao Jing.
Sekian lama ia menitipkan keempat putrinya di kediaman Kao Jing yang menetap di Amerika. Kini Kao Jing beserta putra sulungnya, Li Chen Kho ikut kembali ke Hongkong. Lahir dan besar di Negara asing membuat Chen Kho penasaran dengan tempat asal leluhurnya. Kepulangan ke empat sepupunya pun ia manfaatkan untuk menapaki kota Hongkong.
“Adik, kau juga tampak bahagia dan sehat. Chen Kho, kau tidak menyapa pamanmu?” Seru Kao Jing memerintahkan putranya yang bersifat bebas itu agar mengerti sopan santun budaya timur.
“Ah, salam untuk paman. Saya Li Chen Kho.” Pria muda ia menangkupkan telapak tangan dan tubuhnya separuh membungkuk memberi salam.
Li San takjub melihat sikap keponakannya itu. “Tak perlu sungkan hahaha. Tak disangka kau yang besar di barat masih mengerti adat Timur. Kakak kau berhasil mendidik anakmu, ia bahkan mengerti cara Gongshou.” *penghormatan dengan tangan dikepal yang khas di Negara China*.
Kao Jing tertawa bangga. “Adikku, kau terlalu memuji. Chen Kho masih anak nakal yang harus dididik keras. Ke empat anakmu lebih hebat, di usia muda sudah menyelesaikan kuliah dengan jurusan yang bergengsi. Kau patut berbangga.”
Li San tampak tidak senang keunggulan anaknya dibicarakan. “Tapi mereka perempuan, cepat atau lambat juga akan dipinang orang. Dan aku mempunyai seorang anak laki-laki yang sangat kuandalkan.” Li san tertawa kala menceritakan kehebatan Xiao Jun.
Sayangnya reaksi lawan bicara Li San tampak kurang antusias untuk mengorek informasi tentang putra kebanggaannya. Kao Jing justru mengalihkan pembicaraan dan masuk ke tujuan ia kemari.
“Kau memang pintar mendidik anak. Adikku, aku sudah membantumu menjaga putri-putrimu. Kini bolehkah aku menitipkan Chen Kho padamu supaya ia bisa belajar literasi sastra China lebih detail dan segala hal yang
berurusan dengan leluhur kita. Aku kuatir budaya barat mempengaruhi kepribadiannya hingga lupa akar kehidupannya berasal dari sini.”
Li San berpikir sejenak, ke empat putrinya baru kembali dan sebentar lagi kedua putri Xin Er akan menyusul kemari. Lalu ia dititipkan seorang keponakan yang minta dididik budaya timur. Ia ragu kedatangan sekaligus orang-orang yang kembali dari masa lalu akan membawa dampak kurang baik. Namun jika ia menolak permintaan saudaranya, tentu ia akan dicap tidak tahu balas budi.
“Jika Chen Kho berminat begitu, aku akan membantunya. Semoga ia betah dengan suasana di sini yang mungkin tidak sebagus di Amerika.” Apa boleh buat Li San harus melontarkan sesuatu yang tidak sesuai kata hatinya.
Tangisan dan drama kerinduan ibu dan anak masih berlanjut hingga menjadi tontonan gratis para pelayan yang ikut menyambut kehadiran tuan putri mereka. Sebagai tuan rumah, Li San menyiapkan pesta dengan jamuan mewah kepada tamu kehormatannya. Tanpa ia sadari bahwa karma semakin mendekati, dan ia mulai terjebak dalam permulaan petaka.
***
“Jadi lu mau mangkir dari janji lagi demi jalan ama Stevan?” Sisi sepanjang hari manyun kepada Weini. Kemarin ia sudah pasang badan demi artis cantik itu dengan iming-iming dipertemukan dengan idolanya. Tapi hari ini, Sisi merasa Weini akan menemui Stevan tanpa mengajaknya.
“Si, udah mau dower mulutku jelasin. Aku nggak jalan ama Stevan tapi ada janji pertemuan bisnis.” Weini nyaris nangis frustasi digandrungi kecurigaan tanpa henti dari Sisi.
“Ala… lu bedua pasti kong kali kong. Bilangnya bisnis tapi kencan rahasia kan? Plis deh, itu idola gue, udah cinta mati nih. Lu ama artis lain gih.” Segitu gilanya Sisi ngefans sama Stevan hingga pikiran negatifnya melayang keluar.
“Kong kali kong? Bahasa apaan sih? Ah terserah elu, kalau nggak percaya ikut aja ntar.” Weini pasrah. Lagipula ada baiknya juga ia membiarkan Sisi mengekorinya sehingg ia tidak perlu canggung berduaan dengan pria arogan itu.
“Yes! Gitu baru temen gue.” Sisi melonjak kegirangan tanpa peduli menjadi sorotan sirik dari yang lain.
Suasana kelas sudah tidak menyeramkan seperti kemarin. Weini sempat merasa geli sendiri membayangkan dirinya yang dulu dipandang sebelah mata, sering menerima diskriminasi bahkan sering disentimenin oleh guru, sekarang justru sangat diistimewakan. Benar kata orang, ketika hebat atau kaya atau sukses, semua menganggap saudara. Giliran lagi susah, miskin, gagal, bahkan saudara saja bisa enggan kenal.
Bel sekolah mengisyaratkan kegiatan belajar telah usai. Sebuah sirine yang terdengar seperti lantunan musik romantis bagi Sisi karena sebentar lagi ia akan bertemu pujaan hatinya. Ia bergegas menggeret tangan Weini agar segera menuju gerbang.
“Jangan biarkan pangeran menunggu terlalu lama. Bisa salah jemput tuan putri ntar.” Sisi tak mau kalah memberi perumpamaan yang mewakili rasa antusiasnya. Namun Weini justru merasa mual mendengar kealayan Sisi.
Setiba di gerbang sekolah persis di tempat yang dijanjikan Xiao Jun, hanya ada lalu lalang siswa yang dijemput dengan mobil ataupun motor, tidak terlihat sosok pria itu. Weini mulai gerah oleh terik matahari yan tepat menyilaukan mata. Ia mengambil sebuah buku dan dijadikan kipas. Sisi yang melihatnya langsung inisiatif mengipas Weini dengan bukunya.
“Ini akibat kau terlalu semangat. Dia aja belum nongol.” Protes Weini sebel pada Sisi yang tak bisa sabar.
“Yeee… mana gue tahu dia bakal lama. Kena macet kali.” Ujar Sisi membela diri. Dengan gelar ratu bawel, jelas mudah baginya mempertahankan harga diri.
Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam bergerak mendekati Weini. Ia masih belum menyadari hingga Sisi menyadarkannya dengan suara bombastis.
“Pangeran dataaaaang!” teriak Sisi memekakkan telinga Weini. Spontan Weini menoleh ke arah telunjuk Sisi yang sudah menunjuk target.
Benar saja itu mobil yang dipakai Lau kemarin. Mobil itu berhenti persis di depan Weini. Tak lama pintu mobil terbuka, sepasang kaki jenjang dalam balutan celana panjang hitam dan sepatu pantovel terjulur dari samping pintu mobil. Sisi sangat terpukau meski baru melihat sebagian postur tubuh pria itu, ia segera berlari menghampirinya.
Pria itu keluar dari mobil dengan sosok menyerupai Oppa Korea. Kulit wajah yang putih merona, hidung bangir, bentuk bibir yang seksi serta kacamata hitam yang menambah kesan maskulin di mata Sisi.
“Eh… Bukan Stevan gue.” Sisi separuh kecewa namun karena pesona yang sangat kuat dari pria di hadapannya, ia tetap merasa terhibur bisa melihat makhluk Tuhan yang mendekati sempurna itu.
Xiao Jun hanya tersenyum, ia tetap mengenakan kacamata meskipun sudah melihat keberadaan Weini.
“Permisi.” Ujar Xiao Jun ramah kemudian berlalu dari hadapan Sisi demi menghampiri gadis yang ia cari.
“Kau terlihat mencolok di sini, pria arogan.” Sapaan pertama Weini justru bukan pembuka yang ramah.
“Xiao Jun.” jawab Xiao Jun singkat hingga membuat Weini canggung.
Sisi segera menghampiri mereka serta menyelamatkan kekikukan Weini di hadapan pria itu.
“Lu bener deh ternyata bukan janjian ama Stevan. Gue jadi nggak enak ngeganggu hehe…” Sisi berniat undur diri sebagai obat nyamuk. Selama bukan Stevan, ia ikhlas membiarkan Weini kencan dengan siapapun.
“Si, kamu bilang mau nemenin.” Weini mencegat Sisi yang hampir kabur. Ia tak menyangka akan segugup ini, akan lebih baik jika Sisi menemaninya.
Sisi mengelak dengan lincah, ia bergegas mempercepat langkahnya sembari berteriak tanpa melihat ke belakang. “Sorry gue mau nemenin nyokap ke mall, lu berdua aja ya. Daaaaahhh!”
“Eh…” Weini kaku. Andai ia menguasai sihir menghilangkan diri, sudah pasti ia akan lenyap dari hadapan Xiao Jun sekarang.
“Nona, anda sudah menghabiskan waktuku selama empat menit dua detik menunggu di sini. Kapan kita beranjak?” Xiao Jun bicara dengan ekspresi dan suara yang sangat datar. Sengaja untuk memancing emosi lawan bicaranya.
“Perhitungan banget nih orang. Ayo pergi sebelum kau jadi pusat perhatian.”
Weini berjalan mendahului Xiao Jun yang masih terdiam dalam senyum penuh kemenangan.
***
Kau tahu kenapa aku memakai kacamata hitam? Itu karena aku ingin melihat raut wajahmu tanpa kau sadar bagaimana caraku memandangmu.
__Quote of Xiao Jun__
***