
Sejak kembali dari paviliun Xiao Jun, sudah puluhan kali Li San mondar-mandir tanpa tujuan di kamarnya yang luas. Belum pernah hatinya segusar itu olah rasa bersalah, tangan yang ia gunakan untuk menampar Xiao Jun bahkan masih terasa hangat karena sugestinya. Masih terngiang jelas perkataan Xiao Jun yang menyinggungnya, ia begitu menyayangi pria itu walau bukan darah dagingnya. Ternyata selama ini kasih sayang yang ia berikan justru disalah-artikan, Li San mencoba mencerna kata-kata Xiao Jun dan merenungkan sikapnya, apa selama ini memang ia yang salah cara menunjukkan perhatian?
Ia sengaja menjauhkan ke-empat putri kandungnya demi memusatkan perhatian, didikan serta segala ilmu terbaik untuk Xiao Jun kuasai. Sedemikian diistimewakan karena Li San begitu menyayanginya. Kehadiran Xiao Jun mengambil posisi penting dalam hatinya, namun nyatanya hanya bertepuk sebelah tangan. Xiao Jun tidak
bisa menyayanginya seperti ayah sungguhan, hubungan ini hanyalah antara majikan dan bawahan.
“Pengawal, panggilkan penasehat He menghadapku sekarang!” Li San memantapkan hati memerintahkan
salah satu tangan kanannya, meskipun ia telah banyak menyebabkan kematian orang bukan berarti ia tidak punya hati terlebih untuk satu orang yang ia kasihi.
***
Xiao Jun sudah mengusir secara halus tamu yang tak ia harapkan itu, tetapi dua kali sindiran tidak juga mempan. Entah karena sang rival terbiasa dan kebal dengan penolakan, atau memang ada maksud terselebung dari kedatangannya yang belum terlaksanakan. Kesenyapan terasa mencekam, Xiao Jun merasa merinding sejenak
dengan sikap diam Chen Kho yang berdiri di belakangnya. Ia pun langsung menoleh ke arah pria aneh di belakangnya.
Dahi Xiao Jun otomati mengkerut ketika melihat Chen Kho tengah komat-kamit tanpa sepatah kata, bibirnya bergerak seperti sedang mengajaknya bicara. “Kamu ngapain?” Tanya Xiao Jun ketus.
Chen Kho tersentak kaget, ia serius berkonsentrasi merapalkan mantera untuk mengendalikan pikiran Xiao Jun, namun si target justru terlihat masih mempunyai kesadaran yang tinggi. Xiao Jun malah balik bertanya dengan sorotan mata layaknya hendak mengulitinya hidup-hidup. Ia memilih bungkam dan kembali mencoba menghipnotis Xiao Jun.
“Apa kau punya kelainan? Aku memintamu keluar tapi kau lebih suka bicara sendiri.” Xiao Jun mendekati Chen Kho yang mulai tegang lantaran ilmu sihirnya tidak mempan pada pria yang kian berjarak dekat.
Ketika Xiao Jun hendak membukakan pintu untuk mengusir Chen Kho, pintu itu terbuka dari luar oleh pria yang sudah Xiao Jun kenal baik. Tamu baru itupun melirik Chen Kho dengan tatapan heran, ada kepentingan apa hingga keponakan Li San menghampiri Xiao Jun?
“Hormat pada tuan muda, hamba kemari untuk menyampaikan langsung titah tuan besar.” Penasihat He membungkuk hormat dan menyampaikan maksud kedatangannya, namun ia sengaja menjeda apa yang ingin disampaikan.
Xiao jun menangkap maksud penasehat He, informasi penting itu pasti hanya untuk diketahui dirinya. Ia kembali melirik Chen Kho yang mematung dengan sorot aneh, seketika Chen Kho mendehem dengan canggung.
“Ehem … Aku pergi dulu, masih ada kepentingan lain di kantor.” Chen Kho enggan kehilangan muka di depan orang lain, sudah jelas Xiao Jun yang mengusirnya namun ia berkata seolah ia yang undur diri dahulu. Harga diri yang terlampau tinggi membuatnya berjalan penuh wibawa seakan ialah sang tuan.
Penasehat He mengekori bayang Chen Kho hingga hilang ditelan pintu. Pikiran jeleknya berkembang, membayangkan ada konspirasi apa yang Chen Kho rencanakan dengan tuan muda.
“Jangan hiraukan dia, aku tidak tertarik berurusan dengannya. Penasehat He, kepentingan apa yang membuatmu kemari?” Xiao Jun mengerti isi pikiran penasehat He, sebelum tangan kanan Li San menudingnya yang bukan-bukan maka lebih baik langsung ia tegaskan.
“Ah, maafkan hamba tuan muda. Hamba lalai perhatian, kedatangan hamba untuk menyampaikan pesan penting dari tuan besar. Beliau mengijinkan anda untuk bertemu dengan pelayan Xin Er dan pengawal Lau dalam pengawasan hamba.” Seru penasehat He.
Berita bagus yang disampaikan penasehat He rasanya sulit dipercaya Xiao Jun. Belum satu jam Li San berlalu dari sini menyisakan kenangan tamparan di wajahnya, lalu tiba-tiba mengutus tangan kanannya untuk menemani Xiao Jun mengunjungi Xin Er dan Lau di penjara bawah tanah. Xiao Jun ragu untuk berekspresi senang, ia takut hanya iming-iming dan jebakan yang akan memerosokkannya.
“Maaf, aku sedang berpikir apa ini bukan jebakan dari ayahku?” tanya Xiao Jun terang-terangan.
“Maaf tuan muda, hamba sudah mengikuti tuan besar selama tiga puluh tahun. Beliau tidak pernah mengingkari keputusan yang sudah diambil. Walaupun terlihat kejam, kasih sayang terhadap anda sangat tulus. Mohon supaya tuan muda dapat menerima kemurah-hatian tuan besar. Hamba akan menunggu kesiapan anda untuk berangkat
kapanpun.” Ungkap penasehat He dengan tenang dan bijak.
Xiao Jun menatap kejujuran dari kedua bola mata penasehat He, kemujuran yang baik ini harus dimanfaatkan. Tak peduli esok akan seperti apa jika Li San berubah pikiran, asalkan saat ini bisa bertemu kedua orang penting dalam hidupnya, Xiao Jun berani menghadapi resikonya.
“Kita berangkat sekarang, penasehat He!” Xiao Jun mengambil jubahnya, ia perlu penampilan yang baik untuk menunjukkan kondisi baik pada Xin Er.
***
Batuk Xin Er semakin menjadi-jadi, suasana hening di dalam penjara menggemakan suara batuknya. Saking parahnya terkadang ia kesulitan mengatur napas, di dalam sel tidak tersedia air minum yang cukup sehingga kian menyiksa tenggorokan.
Sebuah tangan terjulur masuk dalam celah sel Xin Er. Satu gelas air digenggam oleh tangan kurus itu, “Cepat minum ini.” Ujar Lau yang bertetangga sel dengan Xin Er. Sama-sama terkurung di ruang lembab dan gelap membuatnya tidak bisa berbuat banyak pada ibu kandung tuannya.
“Aku tidak apa-apa, adik Lau. Simpan kembali jatah minummu.” Tolak Xin Er halus, ia enggan menyusahkan Lau.
“Aku juga tidak perlu banyak makan dan minum, bagaimanapun sisa hidupku sudah bisa diprediksi tinggal menghitung hari. Sebelum itu terjadi, biarkan aku sedikit berguna untuk kakak.” Seru Lau dari selnya. Walau tak bisa bicara tatap muka, mereka sudah terbiasa hanya saling bertukar suara.
Xin Er menyambut gelas yang masih terjulur itu, semakin ditolak maka Lau akan makin merasa tidak berguna. “Terima kasih, adik.” Xin Er langsung meneguk habis air dalam gelas bening itu dan mengembalikan pada Lau yang masih menjulurkan tangan.
“Terima kasih juga telah menggantikanku menjaga Li Jun sejak kecil. Aku berhutang budi padamu, adik.” Xin Er mengelap air mata di ujung mata, betapa ia sangat menyayangkan pria sebaik Lau harus dikorbankan karena putranya.
Di saat Xin Er menangis, Lau justru tertawa lepas hingga Xin Er bingung bagian mana dari kata-katanya yang terdengar lucu.
“Bisa menjadi pengawal pribadi tuan Xiao Jun adalah kehormatan bagiku. Mati demi dia, aku tidak ada penyesalan. Setelah aku tiada, semoga tuan mendapatkan pengawal yang tepat dan setia. Kakak juga harus menjaga diri, aku yakin tuan muda pasti mencari jalan keluar untuk menyelamatkanmu.” Ujar Lau sembari memejamkan mata
dan senyuman yang begitu lapang.
“Percayalah, Li Jun pasti menyelamatkan kita. Dia putra Wei satu-satunya, dia pasti bisa diandalkan.” Xin Er menjulurkan tangannya menanti sambutan Lau. Hanya itu yang sanggup ia lakukan untuk saling menguatkan.
Sementara itu, Xiao Jun dan penasehat He telah memasuki pelataran tahanan.
***