
Dalam keheningan malam yang sangat kentara kesunyiannya, Weini masih mencari satu sudut yang aman dari jangkauan siapapun. Kamar Liang Jia tidak memberinya rasa nyaman, terlebih saat ia ingin terlibat pembicaraan yang lebih dalam bersama kekasihnya.
“Kamu nggak capek habis perjalanan? Kita bisa telponan lagi besok.” Tanya Weini yang tampak mencemaskan Xiao Jun. Mereka baru saja terlibat video call setelah Weini memastikan kondisinya nyaman.
Xiao Jun terlihat tersenyum lebar, perhatian Weini terdengar menggemaskan. “Justru aku khawatir kamu yang udah ngantuk duluan. Di sana kan lebih malam, aku sih nggak merasa capek atau apapun. Hanya ada satu hal saja yang jadi kendalaku.” Gumam Xiao Jun lirih, ia nampak sedikit lesu dan menundukkan pandangannya.
“Kenapa?” Weini cemas seketika, pikirannya sudah melayang entah kemana mengkhawatirkan kondisi Xiao Jun.
Xiao Jun menatap lekat pada wajah gadisnya, walau dalam balutan baju sederhana yang dipakai untuk tidur, namun pesona kecantikan Weini tetap bersinar. Pria muda itu sengaja menghela napas berat dan memamerkan kegundahannya. Semakin Weini penasaran dan memasang wajah cemas, rasanya kian membuat hati Xiao Jun puas.
“Ng... hanya satu hal yang bikin aku tersiksa....”
“Apa?” Desak Weini dengan cepat.
“Aku... nggak mampu nahan rindu untuk kamu.” Jawab Xiao Jun dengan mimik serius.
Deg! Weini rasanya nyaris meleleh, di saat ia sungguh berdebar-debar mencemaskan pria itu, tetapi jawabannya justru sangat mengejutkan. Weini terdiam, agak tersipu malu lantaran tidak biasanya Xiao Jun menggombalinya.
“Hei... apa kau marah karena tahu dirindukan seseorang?” Ledek Xiao Jun, ia masih bisa santai bertanya seperti itu padahal terang terangan Weini menampakkan sedang menyembunyikan rasa senangnya.
“Kamu itu... aku pikir ada hal serius apaan.” Protes Weini sok kesal, padahal kalau ia berani jujur, saat ini hatinya serasa berbunga-bunga hanya karena sebait kata gombal Xiao Jun.
Xiao Jun terkekeh tetapi dalam detik berikutnya ia berubah serius, memperlihatkan kesungguhan dari apa yang ia ucapkan. “Aku serius, Hwa... rindu ini menyiksaku, setelah semua hal yang terjadi membuat aku kesulitan untuk berjauhan lama dengan kamu.”
Hening... dua anak muda itu terdiam dan saling menatap. Cukup betah membisu padahal bukan dalam suasana yang buruk. Weini merasakan debaran jantungnya teramat kencang, ia tidak tahu apakah Xiao Jun menunggu responnya ataukah cukup hanya berdiam diri begini?
Apa dia akan mengatakan sekarang? Gumam Weini dalam batinnya. Ia sudah tahu rencana pernikahannya dan setelah tahu banyak tentang itu, justru rasa hatinya semakin tidak menentu. Antara senang, tegang dan takut, yang pasti ia menunggu pria itu menyatakan maksudnya.
“Hwa... kamu masih mendengarku kan?” Tanya Xiao Jun yang tak betah didiamkan.
Weini terkesiap, ditatapnya layar ponselnya yang kini terlihat Xiao Jun mengubah posisi tidurnya yang tadi terlentang menjadi tengkurap. “Eh... iya aku masih dengar kok. Ya, mau gimana lagi, cepat selesaikan tugasmu di sana lalu kembali ke sini.” Jawab Weini sekenanya.
Xiao Jun tersenyum tipis, mata teduhnya mengamati mimik wajah Weini yang belum sepenuhnya tenang. “Hwa... apa kamu tidak mau mampir kemari?” Tanya Xiao Jun penuh harap.
Weini menggeleng lemah, “Aku ingin tapi sepertinya belum bisa dalam waktu dekat.” Lirihnya tak berdaya menghadapi kenyataan yang mau tidak mau harus diterima.
“Meskipun aku memintamu? Dan juga teman-temanmu di sini memintamu?” Tanya Xiao Jun lagi.
Weini mulai berpikir ulang, permintaan Xiao Jun membuatnya sedikit tergoda untuk mendatangi Jakarta lagi. Tapi saat teringat kata-kata Haris yang mendesaknya melakukan tindakan segera, hanya helaan napas berat yang Xiao Jun dapatkan sebagai jawaban.
Weini menatap prianya dengan lekat, ingin berbagi kegelisahan yang ia rasakan kini. “Ayah tadi memintaku untuk segera mengundang media ke sini. Aku tidak boleh menunda terlalu lama lagi untuk memperkenalkan diriku langsung kepada publik.”
Xiao Jun manggut-manggut, “Bagus kalau begitu, lakukan saja Hwa. Ayah pasti sudah mempertimbangkannya, jadi tunggu apalagi?”
“Apa sesimpel itu menurutmu? Aku nggak yakin akan berjalan mulus. Ya... aku tahu cepat atau lambat pasti harus aku lakukan, tapi kalau dalam waktu yang terlalu cepat, aku belum siap Jun.” Lirih Weini, ia mengalami krisis kepercayaan diri dan takut tidak diterima oleh publik.
Xiao Jun tersenyum tipis, berdiam sejenak untuk berpikir kemudian memberikan jawabannya. “Hwa, kamu hanya perlu percaya pada dirimu, percaya pada ayah yang tidak mungkin mencelakakanmu. Ayah sudah menyarankan seperti itu, ia pasti punya pertimbangan lain. Lagipula statusmu sebagai penguasa yang ditunjuk mendiang ayah, suka tidak suka mereka tetap tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi jangan terlalu cemas, jalani saja bagianmu. Waktu yang akan membuat kamu diterima sepenuhnya di hati mereka.”
Weini mencari kebenaran kata-kata Xiao Jun dari binar mata pria itu, tidak ada keraguan dan terlihat jelas kesungguhan hatinya. Xiao Jun benar, Haris sudah mengenal Weini dengan baik, ia tidak mungkin memberikan arahan yang menyesatkan, semua pasti demi kebaikan Weini. “Baiklah, aku mengerti Jun... makasih ya.” Jawab Weini mantap.
“Terima kasih untuk apa, sudah semestinya aku membantumu. Sayangnya aku belum bisa selalu ada untukmu meskipun aku maunya seperti itu. Jadi... apa rencanamu dan ayah dalam jumpa pers nantinya?” Tanya Xiao Jun lembut.
Weini masih terkesima dengan keinginan Xiao Jun yang ingin selalu ada untuknya. Aku juga mau begitu Jun, ingin ada selalu untukmu. Lirih Weini dalam hatinya.
“Hwa? Kamu udah ngantuk ya?” Xiao Jun terbengong saat melihat Weini kurang fokus lagi.
Weini menggeleng cepat, membantah dugaan kekasihnya. “Nggak kok, maaf aku kurang perhatian tadi. Ayah... dia minta aku untuk mengakui kemampuan sihirku. Apa menurutmu itu baik? Aku belum sreg dengan permintaan itu, gimana ya... aku khawatir semakin banyak orang tahu, makin banyak pula yang tidak bisa menerimaku.”
“Karena kamu berbeda, gitu?” Timpal Xiao Jun cepat.
Weini pun mengangguk pelan, membenarkan tebakan Xiao Jun dengan anggukan. “Lebih baik menyembunyikan apa yang tidak perlu orang lain ketahui, daripada mengaku namun dianggap menakutkan.”
“Ya, aku setuju Hwa, tapi tidak semua hal bisa diperlakukan dengan tindakan itu. Terlebih... kamu sudah terlanjur menggemparkan dunia, efek sinyal sihir waktu itu sudah membuat seluruh dunia berspekulasi tentangmu. Coba lihat berita di media luar, baik online maupun siaran TV masih hangat membahas kasus itu. Wajah lamamu masih terus dijadikan potret utama, untungnya wajah itu sudah hilang jadi kamu bisa tenang sementara. Tapi tidak bisa terus-terusan, dimulai dari pembahasan internal yang tidak pasti dibungkam sampai kapan, lama kelamaan simpang siur beritamu akan keluar. Hwa, sikap diam dan tertutupmu justru akan membuat masalah ini semakin serius.” Jelas Xiao Jun, ia punya pemikiran yang sama dengan Haris.
Weini terpaku diam, semenjak ditemukan oleh Haris dan Xiao Jun, ia memang langsung terfokus pada urusan keluarganya. Pulang kembali ke tanah kelahirannya lalu mendapati kenyataan pahit dengan kematian ayahnya. Semasa waktu berkabung itulah, segala urusan tentang masalah itu terkesampingkan baginya. Namun tidak bagi Haris dan Xiao Jun yang masih terus mengikuti perkembangan berita di luaran, masalah ini sudah merambat terlalu jauh dan akan semakin parah dampaknya jika Weini masih terus bersembunyi dengan wajah aslinya.
“Hwa... ini saatnya dunia mengenal wajah aslimu. Percayalah padaku, percaya pada ayah, kami tidak mungkin membiarkanmu terjatuh lagi. Ungkapkanlah, buatlah dunia mengakui keberadaanmu!” Ujar Xiao Jun tegas.
Weini tersenyum tipis, semangatnya mulai terbakar oleh dukungan Xiao Jun. “Ya, dunia harus mengakuiku!” Ungkap Weini seraya menyunggingkan senyuman optimisnya.
❤️❤️❤️
Author harap kamu yang masih setia mengikuti kisah ini, mari berikan dukungan nyata dengan like dan komen ya. Makasih... sukses selalu untuk kita semua.
Tertanda, Author Lee.