OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 173 KEKASIH YANG TERLUPAKAN?



Sepanjang perjalanan pulang penuh keheningan, Weini memilih bungkam meskipun sesekali Dina mengajaknya bicara. Tanpa memberi sepatah jawaban akhirnya membuat Dina angkat tangan, mungkin diam lebih baik untuk saat ini. Sesampai di rumah pun, Weini melenggang masuk membiarkan Dina sibuk sendiri. Ia hanya menyapa


sekenanya pada Haris dan langsung menyembunyikan diri di balik kamar.


Dina mengangkat bahu ketika Haris menatapnya penuh tanya. “Nggak tahu deh, om. Moodnya langsung jelek habis diincar wartawan pas pulang.”


Haris manggut-manggut, ia tahu bukan itu alasan utama kesedihan Weini. “Ya sudahlah, biarin aja dia sendiri. Dina, apa kamu keberatan malam ini tidur di kamarku? Aku akan tidur di ruang tamu.” Haris dengan halus meminta pengertian Dina untuk memberi Weini ruang dan waktu menyendiri.


Dina mengernyit, meski enggan suudzon tapi ia merasa Haris berharap ia tidak mengganggu Weini saat ini. “Okelah om, atau aku pulang ke rumahku aja ya?” Dina merasa tak enak kehadirannya harus menggusur tuan rumah dari kamar. Lagipula ia sudah setengah bulan membiarkan rumahnya terlantar.


“Ini sudah larut malam, apa nggak capek kamu langsung pulang? Istirahat saja di sini, aku nggak masalah tidur di luar.” Haris menahan Dina, ia tak akan tenang membiarkan seorang wanita pulang selarut ini meskipun ditemani supir.


“Mmm … Nggak masalah Om. Aku balik lihat rumahku dulu, besok aku pasti balik ke sini lagi.” Dina menolak kebaikan Haris, niatnya untuk kembali ke rumah sudah bulat. Sekedar mengecek keadaan rumah yang ia biarkan kosong.


Haris tak bisa berkeras menahan Dina yang sudah penuh tekad. Selepas manager yang energik itu pulang, masih tersisa satu misteri yang belum terpecahkan. Ia menatap ke arah kamar Weini, mencoba konsentrasi membaca pikiran gadis itu.


***


Weini menghempaskan tubuh ke atas ranjang, tiada mood untuk sekedar berganti pakaian, membersihkan diri terlebih dulu. Ia mengabaikan rasa risih itu, semangatnya pudar seiring harapan yang semakin pupus menantikan balasan dari seberang yang tak kunjung datang. Apa ia harus menghubungi lagi? Dipandangnya chat Xiao Jun yang masih dibuka, status aktifnya tiga jam lalu.


Niat video call via Whatsapp pun diurungkan Weini, kurang etis bila ia memaksakan kehendak mengganggu di tengah malam. Weini mulai menenangkan diri, pikiran kembali jernih untuk menahan rasa ingin tahunya. Biarlah, kutunggu hingga esok. Dia pasti membalasku.


Harapan itu terbawa dalam tidur, Weini sudah terlampau lelah untuk membersihkan diri. Lelah hati mengantarkannya pada kepala yang tak mampu lagi menahan kusutnya pikiran dan mata pun berat hingga terpejam tanpa ia sadari.


Haris tersenyum di luar kamar Weini, firasatnya sudah menduga adanya ketidak beresan dengan anak-anaknya. Weini hanyalah korban dari ketidak-mampuan Xiao Jun menangani masalah, dan Haris sangat menyayangkan sikap putranya. Kali ini ia mengambil sikap menjadi penonton, mengamati sejauh mana kedewasaan anaknya.


Haris berjalan keluar menghadap langit terbuka di belakang rumah, dengan mata terpejam dan rapalan mantera, ia mencoba menembus penglihatan yang ditujukan pada satu nama yang membuatnya gusar.


Penerawangan Haris berlanjut, menelusuri keberadaan dan kondisi terkini putrinya. Nalurinya sebagai ayah terus gusar memikirkan nasib putri yang terlupakan itu. Rekam jejak Li An masih dilacak, Haris mengeluarkan sekuat tenaga melawan kehendak langit. Hingga bunyi petir di malam yang cerah menggelegar dan koneksi Haris dengan sihirnya terpental. Matanya langsung terbuka, ia sudah mencapai usaha maksimal dan hanya mampu melihat sepenggal kisah Li An.


Dalam penerawangan paksa Haris, ia mendapati kenyataan bahwa anak gadisnya hidup sebatang kara dengan susah dan sedang dimanfaatkan oleh seorang pria. Haris tak pernah mengira nasib Li An begitu mirisnya, ia mulai menyalahkan diri yang tak berguna menjadi seorang ayah. Jika terus dibiarkan, masa depan Li An akan direnggut pria bejat itu.


Haris kembali menutup mata dan merapalkan satu mantera, dironggohnya secarik jimat dari saku dan langsung terbakar oleh api sihir. Hanya ada satu cara untuk menyelamatkan Li An, dan Haris sungguh mengandalkan Xiao Jun sebagai perantara.


***


Weini terbangun karena suara pesan masuk yang bergetar di tangannya. Ia tertidur dengan posisi menggenggam ponsel. Meski penglihatannya masih blur, ia paksakan mengecek siapa si pengirim pesan. Hati kecilnya harap-harap cemas menginginkan Xiao Jun lah yang menghubunginya.


Non, udah bangun belom? Sarapan yuk!


Chat yang begitu familiar itu (pembaca pasti tahu dari siapa) memupuskan harapan Weini. Ia berharap terlalu banyak kemudian merasa terluka akibat harapan yang tak kesampaian. Beberapa pesan masuk diperiksa tapi tak satupun yang berasal dari Xiao Jun. Chat yang telah diread itu ditatap Weini tanpa berkedip, ia mengumpulkan kekuatan untuk mengklik kolom pesan Xiao Jun. Tangannya gemetaran ketika mendapati Xiao Jun tengah online, namun tidak mengetik pesan balasan.


Tanpa pikir panjang, Weini mengambil inisiatif memencet tombol video call. Panggilan itu masuk dan ditolak oleh si pemilik. Weini nyaris tak percaya, apa benar Xiao Jun yang menolaknya? Jelas-jelas ia tengah online lantas apa susahnya mengangkat telponnya sebentar. Weini kembali mencoba menghubungi via telpon suara, bunyi dering masuk terdengar mendebarkan hatinya. Hingga panggilan itu terputus sendirinya, tak ada respon dari seberang.


Air mata Weini tak terbendung lagi, ia panik, bingung mengapa Xiao Jun menolaknya? Bahkan hingga saat ini, Xiao Jun masih online di whatsapp, Weini masih berharap pria itu mengetik pesan untuknya. Dua kali penolakan, Weini memilih diam dan masih membuka kolom chat Xiao Jun. Mirisnya hingga Xiao Jun menutup aplikasi komunikasi itu, belum ada balasan yang ia tinggalkan untuk Weini.


Kesabaran Weini seolah teruji, ia tak punya kelapangan hati seluas samudra. Ia hanya seorang gadis merana yang mengharapkan kembalinya sang pujangga. Apa berlebihan bila Weini meminta balasan dari tunangannya yang sekian lama tanpa kabar berita?


Jun, aku nggak tahu apa salahku sampai kamu nggak mau angkat telpon dan balas chatku. Sesalah-salahnya aku atau bahkan kalau kamu sudah tak menginginkanku, setidaknya terus terang saja. Jika memang aku mengganggumu, katakan! Aku butuh kepastian ….


Pesan itu terkirim dan hanya perlu beberapa menit diread oleh si empu ponsel. Weini kembali gusar menantikan balasan hingga ia pesimis ketika Xiao Jun hanya membaca dan tak aktif lagi. Weini mulai sesengukan, “Apa kamu kira aku ini bisa baca pikiran orang? Kamu diam gitu maksudnya apa? Udah nggak inginkan aku? Ya ngomong aja! Ngapain sembunyi di balik diam, nggak cukup lama kah ninggalin aku? Kamu jadi nggak punya perasaan sekarang. Li Xiao Jun aku benci kamuuuuu ….”


***