
Dina menyeret kopernya dengan lemah, perjalanan panjang di atas udara tak membuatnya lelah. Semangatnya hilang tiba-tiba hanya karena membayangkan saat ini harus berpisah dengan pria yang beberapa jam lalu baru menjadi kekasihnya. Gadis manager itu baru merasakan manis-manisnya pacaran tapi harus siap hati menjalani LDR dan segala konsekuensinya.
“Kamu yakin akan langsung berangkat lagi?” Dina berhenti melangkah, ia menoleh ke samping pada pria yang berjalan sejajar dengannya.
Wajah Ming Ming tampak berpikir sejenak kemudian anggukannya terlihat menegaskan. Dina langsung menunduk sambil menghela napas lemah, untung saja ia segera sadar diri bahwa waktu begitu berharga, ia tak bisa menghabiskannya dengan mengumbar emosinya. Dina kembali mendongak, menatap lekat Ming Ming yang masih setia menunggu ia buka suara.
“Ditunda satu malam saja, boleh ya plis....” Lirih Dina yang sengaja memasang wajah memelas agar pria ita tak tega menolak.
Ming Ming serba salah, ia tampak berpikir serius lalu menjawab. “Aku tidak bisa, Dina. Tuan Wen Ting sudah memerintahkan aku untuk kembali ke Beijing.”
Bibir Dina otomatis manyun, ia tak akan menyerah begitu saja. Bukan Dina namanya kalau langsung pasrah menerima tanpa diperjuangkan dulu. “Kenapa tidak bisa? Mereka saja masih di Hongkong dan tak perlu pengawalanmu. Kau hanya molor satu malam saja, anggap saja pesawatnya delay dan besok pagi baru terbang.” Seru Dina mencoba mencarikan alasan agar Ming Ming bisa mengulur waktu pulangnya.
“Hmmm....” Ming Ming tampak mempertimbangkan saran Dina.
Dina mulai tersenyum optimis, ia yakin usahanya akan berhasil mempengaruhi kekasihnya agar bisa menghabiskan waktu satu malam lagi bersamanya.
“Tetapi gawat jika tuanku sampai tahu aku berbohong.” Ujar Ming Ming masih menimbang konsekuensinya.
“Jika ketahuan, aku akan membantumu. Bos Xiao Jun bisa diajak kompromi, dia pasti bantu bicara pada tuanmu. Okay... nginap ya malam ini.” Gumam Dina penuh harap. Binar di matanya yang membuat Ming Ming tak tahan serta tak sanggup mengecewakan gadis itu.
Sebuah anggukan pun tampak dari Ming Ming, menyusul suara teriakan girang dari Dina yang berhasil merayu pria itu. Ming Ming tertawa melihat tingkah Dina, saking gemasnya ia pun merangkul Dina dan melangkah dengan ringan meninggalkan bandara.
***
Kondisi sakit dan terbaring lemah di rumah sakit menjadi alasan telak bagi Stevan untuk bermanja-manjaan pada Grace. Ada saja tingkahnya untuk mencari perhatian gadis itu, seperti yang terjadi saat ini, Stevan merengek minta disuapi makan bubur ayam yang dibawakan Grace saat tadi datang.
“Aku bosan makan bubur terus, kenapa kau masih bawakan aku bubur?” gerutu Stevan sok imut memanyunkan bibirnya sambil melirik Grace.
Grace nyengir, di tangannya sudah ada semangkuk bubur ayam yang masih mengebul uap. Setelah berkeliling
di jalanan, akhirnya ia mendapatkan bubur yang jualan malam hari. “Pasien seperti kamu mau makan apa? Nasi goreng? Stick? Nanti tunggu udah keluar dari sini.” Gumam Grace lalu duduk di samping ranjang Stevan.
“Yang sakit itu tanganku, kepalaku, bukan gigiku. Napsu makanku juga normal, aku cepat lapar kalau hanya makan bubur. Kecuali....” lirik Stevan nakal ke arah Grace.
“Kecuali apa? Banyak sekali syaratmu, Fang Fang dan kak Bams saja tidak protes saat kubawakan bubur.” Gerutu Grace pura-pura marah.
Stevan nyengir, lagi-lagi dia dibandingkan dengan Fang Fang yang patuh pada Grace. “Mereka kan lain, aku kan pacarmu.” Gumam Stevan cemberut.
Grace mengulum senyumnya, ia merasa geli mendengar perkataan Stevan barusan. Memang terdengar jujur tapi terlalu blak blakan. “Terus? Apa lagi sekarang syaratnya?”
Stevan melirik Grace dan tersenyum lebar. “Suapin aku dong, yank!” Ujar Stevan lalu bergegas membuka lebar mulutnya, menanti suapan bubur itu masuk ke sana.
Grace mendelik, namun ia tetap menuruti permintaan Stevan. Sendok berisi bubur itu pun disuapkan perlahan pada kekasihnya. Stevan terlihat sangat menikmati setiap suapan itu.
“Emm.... Suapan pacar memang terasa beda deh, tambah enak nih yank!” Puji Stevan.
“Sudahlah, cepat habiskan saja. Jangan banyak bawel.” Ujar Grace yang tak tahan mendengar gombal Stevan terus-terusan.
Stevan tertawa kecil melihat ekspresi Grace, kemudian ia menghabiskan semua bubur itu hingga tak bersisa dan tentunya tanpa gimmick lagi.
“Hari ini mereka sekeluarga sudah berkumpul.” Lirih Grace yang belum mengabari Stevan tentang kejadian hari ini.
Stevan tampak antusias, ia melihat Grace dengan serius. “Weini pulang ke Hongkong?”
Grace mengangguk pelan, Stevan melihat ekspresi wajah kekasihnya yang tampak memikirkan sesuatu. “Kenapa kau tidak ikut pulang?” Tanya Stevan serius.
“Aku mau, tapi ada yang lebih penting yang harus aku jaga di sini.” Lirih Grace seraya menatap Stevan dengan lekat.
Grace agak risih namun tetap membiarkan pria itu mengekspresikan rasa sayangnya. “Aku harap mereka akhirnya menjalani hidup dengan kebahagiaan, terutama sepupuku.” Lirih Grace.
“Kamu tampaknya sangat mencemaskan Weini.” Ujar Stevan.
Grace mengangguk pelan, membenarkan dugaan kekasihnya. “Jika aku jadi dia, mungkin aku tidak bisa bertahan hidup seperti itu. Aku sungguh salut padanya, dia pantas bahagia seterusnya.”
Stevan tersenyum tipis, apa yang dipikirkan Grace meman benar, dan ia juga berharap yang sama pada Weini. “Setelah aku keluar dari sini, kita susul mereka ke sana saja. Bagaimana menurutmu?” Tanya Stevan.
Grace melihat Stevan seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar, tapi saat melihat raut wajah pria itu yang sangat meyakinkan, Grace tak bisa meragukannya lagi. “Tentu saja, aku sungguh berharap bisa ke sana secepatnya. Kau cepatlah sembuh, Fang Fang besok sudah boleh keluar rumah sakit loh.”
Stevan mengerutkan dahi, “Heh? Fang Fang sudah boleh keluar? Kok cepat? Aku ikutan keluar dong kalau gitu, bisa mati bosan aku di sini. Eh tapi ada kamu, jadi nggak terasa bosan sih.” Stevan meralat dengan cepat agar tidak mendapat delikan dari gadis itu. Lebih beruntung lagi saat Grace hendak berkoar-koar, Stevan diselamatkan
oleh kehadiran Dina yang tak disangka.
“Yuhu... Stev, lu masih hidup kan?” Teriak Dina begitu membuka pintu, antara girang bercampur was-was karena ia mencemaskan keadaan Stevan. Sayangnya ia tak pintar memakai kata-kata yang lebih wajar pada Stevan, saking terbiasa blak-blakan dengannya.
Stevan dan Grace kompak menoleh pada sumber suara, mereka sontak terkejut melihat kedatangan Dina dengan seseorang yang tak dikenal. Pria itu terlihat tinggi, berpostur tegap dan luar biasa machonya. Sadar diperhatikan sejak masuk tadi, Ming Ming pun menganggukkan kepalanya.
“Lu kalau ngomong bisa baik dikit nggak sih? Datang datang doain gue mati?” gerutu Stevan sok kesal, setelah itu ia tersenyum lega karena Dina akhirnya muncul batang hidungnya.
“Ups sorry... kebiasaan ember bocor kalau lagi sama lu. Eh, ada Grace yang jagain. Wah seger dong lu, sengsara membawa nikmat nih hikmahnya.” Ledek Dina yang ditujukan pada Stevan.
“Bisa aja lu! Lu yang enak tuh, bisa liburan di saat semua lagi galau. Trus, kayaknya lagi ehem ehem nih. Kenalin dong siapa tuh?” Ujar Stevan santai.
Dina senyam senyum malu diledek terang terangan seperti itu, kontras dengan Ming Ming yang tetap berpembawaan tenang walaupun sedang dibicarakan. Dina baru merasa tahu malu ketika ia jatuh cinta, rasanya hubungan asmaranya harus tertutup rapat dari konsumsi publik meskipun ia bukanlah darikalangan selebriti.
“Ng... kenalin dia Ming Ming. Cowok gue....” Lirih Dina malu-malu.
Grace dan Stevan sontak tersenyum menggoda, terutama Stevan yang sudah tertawa duluan. “Akhirnya... Teman gue laku juga! Gue udah was was lu bakal jadi perawan tua. Syukurlah, makasih ya bro udah jadian ama temen gue yang bawel ini.”
Ming Ming hanya tersenyum dan mengangguk, pesonanya sebagai seorang pengawal membuat ia terbiasa bertampang serius.
“Kalian kenal di mana? Sepertinya dia bukan orang sini?” Selidik Grace.
Dina dan Ming Ming saling pandang sebelum menjawab itu, mereka tersenyum malu sejenak untuk mengakuinya. “Dia orang Beijing, mantan bodyguard aku. Sekarang sih udah jadi cowokku, dia pengawal bos Wen Ting.” Jawab Dina jujur.
“Wah, keren bener lu apain dia ampe bisa kecantol secepat itu? Ha ha ha... btw, congrat ya... Gue tunggu undangannya.” Ucap Stevan tulus.
“Gue nunggu punya lu duluan deh, buruan nikah woi sebelum Grace berubah pikiran.” Jawab Dina santai.
Stevan melirik Grace yang tersipu malu, sepertinya memang ia punya kesempatan baik untuk segera meminang gadis cantik itu. “Oke, tunggu tanggal resepsinya ya.” Jawaban Stevan yang mantap itu membuat hati Grace bergetar. Gadis itu merasa senang sekalipun itu baru rencana, bisa dibilang ia tidak punya siapa-siapa lagi setelah ayahnya memperlakukannya seperti itu. Wajar jika ia berharap mendapat perlindungan dari seorang pria yang ia cintai dan melamarnya.
“Tapi lu beneran udah nggak apa-apa kan? Gue khawatir banget begitu tahu kabar kecelakaan itu.” Lirih Dina.
“Ya, dia sampai ngotot minta pulang begitu tahu kabar itu.” Timpal Ming Ming.
Stevan tersenyum, “Gue udah baikan berkat ditemani bidadari cantik ini.”
Canda tawa terdengar mendominasi suasana dalam ruangan itu, ketika mereka merasa boleh berbahagia sejenak lantaran menganggap masalah Weini pun sudah menemui titik terang. Akhir yang tampaknya sempurna bagi mereka semua, namun tak ada yang bisa menebak alur kehidupan selanjutnya. Di saat duka berkepanjangan itu pergi, berganti suka yang nyatanya tak bisa abadi. Entahlah....
***
Bersambung besok ya, ditunggu komen, like dan votenya. Makaciiiih....