
Penjaga sel membawa warga baru yang diciduk paksa. Tangan terborgol dan seragam tahanan menjadi mimpi buruk bagi gadis semuda itu. Ia sampai di depan rumah barunya bersama seorang penghuni yang lebih senior
beberapa hari darinya. Kehadirannya disambut tatapan nanar dari penghuni lama, mereka bersiap saling terkam memperebutkan daerah kekuasaan atau semacam menuntaskan dendam lama.
Borgol terlepas kemudian tubuh kurusnya didorong masuk ke sel, ia mengerang kesakitan karena perlakuan kasar petugas. “Tunggu gue keluar, kelar hidup lo!” cecar gadis galak itu.
“Gue takut sebelum lu keluar, hidup lu kelar duluan di sini hahaha” sambutan hangat dari penghuni yang satunya. Tawa melengkingyang sangat menakutkan hingga bulu kuduk berdiri.
“Lu kira gue takut ama lu? Lihat aja nanti siapa yang duluan membusuk di sini, Lisa jalang!”
“Owh… Metta si babu manja ternyata berhati busuk juga, hahaha… nggak pantes banget lu jadi anak konglomerat toh akhirnya nginep di bui juga.” Cecar Lisa tak mau kalah.
Semula ia mengira Anwar yang sangat berkuasa tidak mau menolongnya, ternyata putri semata wayangnya saja tidak bisa ia selamatkan. Pria tua dan tak becus itu memang tak perlu dipertahankan lagi. Kelak jika ia keluar dari penjara, Lisa pasti mencari pelindung yang lebih berkuasa dan lebih kaya dari Anwar. Hatinya terasa perih saat membayangkan pria kaya dan berkuasa, siluet wajah Xiao Jun terekspos bebas di benaknya. Mengapa bukan ia yang lebih dulu mengenal Xiao Jun? Kenapa justru Weini yang jadi gadis kesayangan pria itu?
“Babu? Lu kira gue babu lu? Heh! Lebih hina elu yang jadi lont* nya bokap gue! JIJIK!” Metta mendorong pundak Lisa hingga tubuh artis itu terhuyung menabrak tembok.
Lisa langsung berdiri, dijambaknya rambut Metta yang dikucir kuda. Gadis itu tak sempat mengelak namun ia berupaya meraih rambut Lisa yang tergerai kusut. Detik berikutnya dua gadis meledakkan amarah sepuasnya, sebabak belurnya tanpa seorangpun yang melerai.
***
Sebuah koper kecil ukuran kabin didorong Lau menuju apartemen baru. Koper hitam itu milik Weini yang sudah ia yakini cukup untuk keperluannya selama tinggal di tempat penampungan. Haris bahkan hanya membawa
sebuah tas jinjing ukuran sedang. Mereka tidak seperti orang pindahan tetapi lebih mirip orang yang pergi melancong.
“Nona yakin ini cukup?” Lau lagi-lagi mengulang pertanyaan yang sama. Sepanjang ia menjadi pengawal kediaman Li, ia tak pernah melihat gadis sesantai Weini. Lau mengira semua wanita memiliki kebiasaan yang kurang lebih
sama, suka menyiapkan segala sesuatu dengan detail dan tidak akan nyaman dengan beberapa setel baju. Nona pertamanya saja sering mengeluh kekurangan pakaian padahal koleksi pakaiannya lebih dari 5 lemari. Weini betul-betul gadis unik yang sangat percaya diri menenteng koper kecil untuk berpergian.
“Lebih dari cukup, Paman Lau.” Weini tersenyum, ternyata meyakinkan seorang pria tua lebih melelahkan ketimbang meyakinkan dirinya sendiri. Ia merasa baik-baik saja dengan bekal seadanya, tapi justru
Lau yang kuatir.
“Nanti kalau kurang, biar dia pinjam bajuku saja.” Canda Haris mencairkan suasana dengan leluconnya.
Lau dan Weini tertawa bersamaan, mereka bertiga akhirnya tiba di depan pintu apartemen. Pintunya persis berhadapan dengan unit Xiao Jun, mulai hari ini Weini hidup bertetangga dengan kekasihnya. Lau memberikan
secarik kertas berisi 6 digit kode masuk pada Haris.
“Ini kode standar, nanti silahkan diubah ya Pak.” Ujar Lau sambil mengajarkan bagaimana cara menginput password.
“Terima kasih, Pak Lau. Nanti biar Weini yang ubah.” Balas Haris dengan ramah.
Weini membungkukkan kepala pada Lau, “Paman, terima kasih banyak atas kebaikanmu. Paman banyak membantuku tapi kami belum bisa membalasnya. Kelak jika perlu apa-apa, jangan sungkan beritahu ya.”
Lau tertawa melihat kesungkanan gadis milik tuannya itu. “Nona jangan sungkan, sudah tugas saya menjaga Tuan dan nona.”
“Kita sudah seperti saudara, adik juga jangan terlalu formal. Saya dan Weini sangat berterima kasih, setelah masalah Weini selesai kami tidak akan merepotkan terlalu lama lagi. ” timpal Haris. Di matanya sosok Lau memang pria yang sangat baik, setia dan bertangung jawab pada tuannya.
“Baiklah kalau begitu, Pak Haris dan Weini selamat beristirahat. Saya akan sampaikan pada tuan bahwa kalian sudah menempati rumah ini. Saya pamit kembali ke kantor dulu.” Lau membungkuk hormat pada Haris yang
“Eh, bagaimana kalau mampir sebentar? Tuanmu tidak akan marah hanya karena kau duduk sepuluh menit bersama kami.” Haris mencoba tawar menawar dengan Lau. Minimal secangkir kopi bisa dinikmati dengan pria
yang sudah dianggap adik oleh Haris.
Weini tidak berkomentar apapun tetapi dari tatapannya, ia sangat mengharap Lau menyetujui permintaan Haris. Ada banyak cerita yang ingin Weini dengar dari Lau, tentang Xiao Jun dan tentang kampung halamannya kini.
“Baiklah, dengan senang hati saya mampir.” Lau mempersilahkan tuan rumah masuk duluan kemudian ia mengikuti dari belakang.
“Wow…” Weini tak bisa menahan diri saat melihat seisi ruangan di apartemen itu sudah dipenuhi perabot, furniture yang komplit dari ruang tamu hingga dapur.
“Kapan dia menyiapkan semuanya? Bukannya baru kemarin ia beli apartemen ini?” Tanya Weini penasaran.
“Setelah jadi hak miliknya, Tuan langsung menyewa jasa desain interior untuk merapikan rumah saat itu juga. Silahkan dilihat ke dalam nona, ada tiga kamar di sini. Kamar utamanya ada di sebelah kanan.” Lau yang tadinya tidak berencana singgah, kini justru menjadi penyambut tuan rumah.
Haris menggeleng salut pada Xiao Jun, “Anak itu memang bisa diandalkan. Aku sangat berterima kasih padanya.”
“Anda bisa sampaikan langsung pada tuan nanti.” Ujar Lau sopan.
Mendengar jawaban itu seketika membuat Haris teringat tujuan awalnya mengajak Lau singgah. “Ah, adik jangan terlalu formal. Kau bisa panggil aku da ge (kakak pertama), ayo duduk dulu! Weinii… bikinkan dua cangkir kopi.” Perintah Haris dengan santainya.
Weini melongo, tak masuk akal rasanya permintaan Haris. Mereka sama-sama penghuni baru yang belum setengah jam menempati tempat itu tapi Haris sudah memintanya membuatkan kopi. Mereka hanya membawa keperluan pribadi dan tidak membawa bekal makanan atau minuman apapun.
“Aku harus beli di mana bubuk kopi?” tanya Weini bingung.
Lau tertawa melihat kebingungan Weini, “Nona tidak perlu repot. Di kulkas sudah terisi banyak stok makanan dan di kitchen set juga lengkap dengan bumbu dapur serta bahan minuman instan.”
Weini terkesima, “Serius sampe sekomplit itu? Xiao Jun niat betul.” Seru Weini takjub. Ia melangkah ke dapur untuk membuktikan langsung informasi dari Lau. Dibukanya kulkas dua 4 pintu lalu melongo kagum. Mulai dari sayuran mentah, buah, pudding, snack, dan minuman kaleng memenuhi seisi kulkas. Begitu pula dengan kitchen setnya yang komplit dengan peralatan masak serta aneka ragam bumbu, persis yang dikatakan Lau.
“Pamaaaaaaan! Aku bisa mencicipi masakanmu tiap hari hahahaha. Atau kau mau masak di sini bersama ayahku juga boleh.” Weini sok mengatur kedua koki andalannya untuk berkolaburasi.
Haris dan Lau hanya tertawa mendengar teriakan girang Weini. Mereka berdua duduk santai di atas sofa mewah. “Da Ge, tidak perlu repot membuat kopi. Bagaimana kalau adik menjamu anda minum arak putih? Kebetulan
minggu lalu aku pulang dan membawanya dari Hongkong.”
Tawaran itu terdengar menggiurkan, sudah lama Haris tidak menikmati pekat dan harumnya arak putih buatan kampung halaman. Cita rasa yang masih teringat dalam memori namun sekian lama tidak bisa ia cicipi. Kesempatan sebagus ini tidak akan dilewatkan begitu saja, secawan arak pelebur rindu.
“Hahaha… tawaran paling menarik yang pernah aku dapatkan. Baiklah, adik siapkan arakmu! Weiniii…
tidak perlu buat kopi, ayah akan mabuk dengan adik Lau!”
Weini langsung menoleh pada bapak-bapak di ruang depan, ia sudah terlanjur merebus air lalu dicancel begitu saja. Rupanya Haris bisa seababil itu berubah selera dalam hitungan menit. Terpaksa Weini menyeduh Teh
untuk dirinya daripada membiarkan air panas itu mubajir.
***