
Derap langkah kaki Weini berlari ringan di atas lantai koridor rumah sakit. Kalau bukan karena kondisi pasien yang kritis, tidak mungkin pihak rumah sakit mengijinkan pembesuk masuk dini hari. Ketika menerima telpon dari Stevan, untung saja Weini masih terjaga saat itu. Andai ia ketiduran, bisa dipastikan ia terlambat mengetahui kabar ini keesokan hari. Mendapati kabar tentang kondisi Grace yang sekarat, serasa nyaris luluh lantak pertahanan diri Weini. Ia menduga Grace yang sengaja memasukkan obat pencahar ke dalam winenya, entah karena alasan apa. Weini bahkan berpikir bahwa Grace belum sepenuhnya membuka hati untuk memulai pertemanan dengannya, namun setelah Stevan mengabari kondisi Grace yang kritis akibat keracunan, tanda tanya dalam hati Weini semakin membesar. Siapa yang melakukan itu pada Grace? Apa motifnya? Kenapa setega itu melukai artis yang baru menetaskan karier?
Di depan sana sudah tampak Stevan yang berjalan mondar mandir tidak tenang, dan ketika mendengar langkah seseorang yang mendekat, perhatian Stevan teralihkan. Begitupun dengan Lau dan Fang Fang yang menatap dengan raut harap harap cemas.
“Bagaiman kondisinya?” Tanya Weini dengan napas sedikit tersengal.
Stevan menggelengkan kepala tak bersemangat, bahkan wajahnya tampak sembab dengan mata memerah. Weini yakin pria itu habis menangis diam-diam. “Gue beneren nggak becus, gue bersama dia beberapa jam tapi nggak
sadar kalau dia kenapa-napa.” Lirih Stevan sembari menepuk dadanya dengan keras.
Weini tak tega melihat itu kemudian memegang tangan pria itu yang hampir saja mendaratkan pukulan kesekian kali di dada. Tatapan mereka beradu, dan Stevan tak mampu menahan kesedihannya lebih lama lagi. Pria itu menangis, sesengukan seperti anak kecil yang akan ditinggal pergi orangtuanya. Atau mungkin seperti orang yang tak ingin sendirian di dunia ini. Weini berusaha menenangkan sosok pria yang sudah dianggap kakak baginya, ia menarik
Stevan dalam pelukan dan menepuk pundak kokohnya.
Air mata Stevan yang membasahi kerah baju Weini seolah memberinya sebuah pelajaran hidup, bahwa cinta sanggup membuat siapapun yang kuat menjadi orang paling lemah sekalipun. Tak ada yang ingin kehilangan orang yang mereka cintai, pun tak akan sanggup menyaksikan kematian itu terjadi di depan mata mereka.
Lau dan Fang Fang hanya membisu, terlebih Fang Fang yang tak henti menangis sejak mendapati kondisi Grace pertama kali hingga dibawa ke rumah sakit. Air matanya belum mengering, ia sungguh takut kehilangan nonanya.
“Nona, apa yang terjadi padamu? Katanya nona sakit?” Lau memberanikan diri buka suara lantaran penasaran apa yang terjadi pada kekasih tuannya.
Weini menatap teduh pada Lau kemudian perlahan melepaskan pelukan dari Stevan. Pria itu sudah mulai menenangkan dirinya, tidak seperti sebelumnya yang menangis tak karuan. Ini bukanlah acting, bahkan Weini belum pernah melihat Stevan menangis sebelumnya.
“Aku sudah baikan, paman. Hanya salah minum obat pencahar.” Jawab Weini pelan.
Semua kembali hening, dokter di dalam ruangan ICU itupun belum menampakkan diri lagi. Mereka masih mengupayakan yang terbaik untuk menolong Grace, kondisi yang disampaikan Stevan sebelumnya bahwa racun
sudah mulai merusak organ penting dalam tubuh Grace. Hingga saat seorang dokter keluar dari dalam dengan wajah tegang, empat pasang mata di luar langsung menyorotinya dengan tatapan yang tak kalah tegang.
“Bagaimana dokter?” Desak Stevan, ia dengan lincah menghampiri dokter yang baru keluar dari pintu.
Dokter itu belum mengeluarkan kata-kata namun sudah menggelengkan kepala dengan desahan napas pasrah. Fang Fang langsung terisak lagi dengan kencang, sementara Stevan seketika merasa lemas dan terhuyung
menyandar di dinding.
“Gimana kondisinya dokter?” Weini yang masih punya kekuatan mental kembali mendesak dokter menyampaikan keterangan yang diminta.
Stevan kesal dan marah, ia menghantam dinding tempatnya bersandar sebagai luapan amarah hingga melukai tangannya.
“Silahkan keluarga pasien menemui namun hanya boleh bergantian satu persatu. Saya mohon maaf sekali lagi.” Ujar dokter kemudian undur diri dari hadapan mereka.
Fang Fang dan Stevan adalah dua orang yang paling terpukul mendengar keadaan Grace, sementara Lau dan Weini yang masih sanggup mengontrol diri akhirnya berunding sejenak.
“Saya harus sampaikan kepada keluarga nona Grace. Kondisi ini sangat buruk, akan lebih buruk jika terlambat memberitahu mereka.” Ujar Lau berinisiatif menghubungi tuan Li yang lebih berhak menyampaikan pada ayah
Grace.
Stevan beringsut, setelah puas melampiaskan amarah pada dinding. Kesadarannya kembali untuk bertindak lebih normal. “Gue masuk dulu, gue mau lihat kondisinya.” Ujar Stevan.
Weini mencegat Stevan dengan melangkah lebih gesit hingga mencapai pintu. “Please, biarkan aku dulu yang temui dia.” Weini menatap Stevan dengan sorotan memohon. Dalam bahasa isyarat mata saja, Stevan tahu apa yang diinginkan Weini. Mereka terdiam sesaat dengan saling beradu tatap. Hingga akhirnya Stevan melepaskan gagang pintu dan membiarkan Weini masuk dulu. Gadis itu berterima kasih padanya lalu membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Stevan.
“Aku akan berusaha.” Bisik Weini. Andai Stevan tidak mengetahui kelebihan Weini, mungkin saat ini ia masih bersikukuh merebut jatah masuk duluan ke dalam. Namun apalah artinya melihat Grace jika dalam kondisi sekarat dan hanya menunggu momen ajal menjemputnya, lebih baik ia berikan kesempatan itu pada Weini yang mungkin masih bisa diandalkan.
Weini terpaku sejenak saat menginjakkan kaki ke dalam ruangan yang dingin itu. Grace tampak membuka mata namun memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong. Dari sorot mata itu, Weini bisa menebak isi hatinya yang tak lagi memiliki keinginan untuk hidup. Begitu pasrahnya hingga tidak ada ketakutan menjelang kematian. Grace sadar ada yang datang tetapi enggan menoleh pada siapapun yang datang melihat keadaan lemahnya.
“Grace, hei ….” Sapa Weini dengan lembut, ia meraih jemari tangan Grace yang dipasangi infus.
Grace sudah sadar tamu pertama yang membesuknya adalah Weini, semula ia tak menaruh antusias namun ketika ingatannya mulai bekerja, Grace pun dengan lemah menggerakkan kepalanya agar bisa bertatapan dengan Weini. Melihat wajah Weini yang segar dengan kondisi yang sudah fit, seketika membuat Grace kecewa.
“Kamu … Sudah baikan?” Tanya Grace dengan terbata-bata. Matanya sedikit membesar lantaran terkejut. Grace tak menyangka Weini berhasil melewati masa merepotkannya secepat itu.
Weini tersenyum lalu mengangguk, “Ng, obat pencaharmu lumayan untuk cuci perut. Aku tidak perlu diet lagi.” Canda Weini, ia tak terlihat kesal ataupun menyalahkan Grace. Setelah tahu bahwa Grace sengaja memberinya bubuk pencahar yang membuatnya bolak balik ke toilet.
Grace hanya nyengir, ia nyaris tak punya tenaga lagi untuk sekedar tersenyum.
“Kenapa kamu sangat nekad? Apa tidak bisa dirundingkan lagi?” Tanya Weini pelan, ia mengusapkan tangan pada jemari Grace. Dari sentuhan saja, Weini sudah mampu mendeteksi sapa yang terjadi pada gadis itu, termasuk tindakan nekadnya yang sengaja meracuni diri sendiri.
“Aku tidak perlu dikasihani, apapun yang kulakukan bukan untukmu!” Grace masih meninggikan harga dirinya, sekalipun harus mati dia tetap enggan dikasihani.
***