OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 469 TERBONGKAR



Semua mulai kembali normal, Weini bisa meninggalkan paviliun utara dengan lega. Grace meminta ijin untuk tinggal di sana agar bisa merawat ayahnya, dan Weini menyanggupinya. Bukan hal sulit bagi Weini untuk mengabulkan permohonan seorang anak yang ingin berbakti. Andai ia punya sedikit kesempatan untuk menunjukkan rasa baktinya pada Li San, mungkin Weini akan merasa hidupnya jauh lebih berkesan sekarang.


"Jun, makasih ya sudah banyak membantuku." Gumam Weini saat mereka berjalan beriringan keluar dari kawasan paviliun utara.


Xiao Jun tersenyum tipis, "Aku melakukan hal besar, sudah sewajarnya pula melakukan itu semua. Keluargamu juga bagian dari keluargaku."


Weini mengangguk pelan, mereka seperti kehabisan bahan pembicaraan, maklum saja setelah banyak kejadian yang terjadi, keduanya belum sempat berduaan untuk sekedar bersantai. Bahkan saat ini pun rasanya bukan waktu yang tepat untuk meminta Weini menemaninya lebih lama lagi. Xiao Jun jelas bisa mengalah, bersabar sedikit lagi karena bagaimanapun mereka akan menikah.


"Hmm... Setelah ini apa rencana mu?" Tanya Xiao Jun, sebenarnya ia ingin menyampaikan soal diskusi orang tua mereka, namun tiba-tiba Xiao Jun merasa malu harus mengutarakan perasaannya.


"Aku akan menetap di sini, menemani ibuku, selebihnya belum tahu." Jawab Weini tanggap.


Padahal bukan itu yang ingin Xiao Jun tanyakan, tapi tampaknya pertanyaannya kurang jelas. Weini bahkan belum menyinggung soal hubungan mereka.


Ah, bodohnya aku... Kenapa terlalu berharap dia akan bertanya soal itu, dia adalah nona terhormat dan seorang gadis seperti dia tidak pantas meminta dinikahi, harus aku yang inisiatif melamarnya.


"Kamu kenapa?" Tanya Weini yang heran melihat Xiao Jun menepuk jidatnya sendiri.


Xiao Jun buru buru menggelengkan kepala, bisa bisanya ia tak menjaga sikap hingga bertingkah aneh di depan Weini. "Ng... nggak, nggak apa-apa. kita kembali ke aula utama kan? Ini sudah malam, sebaiknya kau segera istirahat." Ujar Xiao Jun mengalihkan perhatian Weini agar ia tidak terlalu malu terlihat bodoh tadi.


"Iya, aku akan mengajak ibu istirahat dulu. Kamu juga jangan terlalu lelah, ah... aku ikut senang akhirnya keluargamu berkumpul lagi di sini." Gumam Weini, melihat kecanggungan Xiao Jun spontan membuat ia kaku juga.


❤️❤️❤️


Dina menopang dagu di atas meja, sesekali terdengar helaan napas berat. Jujur saja ia lelah namun rasanya belum ikhlas untuk tidur. Begitu pula dengan Stevan, yang terus mencemaskan Grace. Alhasil mereka berdua memilih nongkrong di ruang tamu villa.


"Huft... Ternyata kehidupan orang kaya itu ribet banget ya. Nggak kebayang aja kalau gue ke sini tanpa elu. Bisa garing gue sendirian di sini." Keluh Dina, ia masih belum paham dengan perbedaan status dan aturan dalam kediaman Li. Meskipun ia pernah dekat dengan Weini, namun setelah wajah gadis itu berubah, serta kehidupan aslinya terbongkar, Dina merasa nyaris tak mengenalinya, terasa ada terbentang jarak yang jelas di antara ia dan Weini. Untuk mendekatinya saja rasanya sangat segan, Dina takut salah, takut dijebloskan ke penjara seperti ayah Grace.


"Gue juga nggak nyangka, kita kenal mereka udah berapa lama sih? Kok rasanya sekarang gue nggak kenal dekat lagi dengan mereka, terutama Weini. Eh...." Stevan memukul mulutnya yang salah mengucapkan nama Weini.


Dina melotot, "Mulai sekarang kita jangan latah lagi. Kita harus terbiasa dengan sebutan barunya." Bisik Dina.


Stevan mengangguk, mengerikan rasanya dan ia ingin pulang ke Jakarta tanpa kurang apa pun.


"Din, gimana ceritanya ayah Haris bisa meninggal?" Lirih Stevan yang kembali teringat Haris, kesedihan yang masih membekas hingga sekarang.


Dina menghela napas, "Gue juga nggak gimana paham gimana ceritanya. Gue aja kaget waktu lihat non Wei... eh, Nona itu menangis dengan wajah nggak berdaya di ruangan dia. Gue kira ayah Haris belum dimakamkan, ya gue langsung inisiatif mau bantu urus, nggak tahunya udah dia urus semuanya. Terkesan cepat banget kan, kayak ada yang mau dia tutupi. Tapi belum sempat gue nanya detail, udah keburu kejadian itu." Ungkap Dina mengungkit masa lalu.


"Yang lebih mengejutkan sih, ternyata ayah Haris hanya pengawal nona. Gue rasa kematiannya juga karena melindungi nona, makanya waktu itu dia cepat cepat mengurus pemakaman supaya musuh nggak ganggu atau apa, kita kan nggak tahu posisi dia kayak apa saat itu." Gumam Stevan.


"Dan yang bikin gue sedih, kita nggak tahu di mana makam om Haris. Niat mau jiarah aja nggak bisa, mau nanya ke nona tapi sekarang dia udah beda banget, sumpah gue sungkan." Keluh Dina.


Mereka terdiam dalam pikiran masing-masing, sampai Stevan kembali angkat suara.


"Nggak nyangkanya lagi, Bos muda itu malah anak angkat ya. Anak pengawalnya si nona. Duh... kepala gue pusing mikirin sejarah keluarga mereka. Gue kira hidup gue udah yang paling ribet, ternyata ada yang lebih parah." Celetuk Stevan.


Dina mengangguk setuju, namun wajah antusiasnya mendadak berubah gelisah. "Ini kok kita jadi ngegosipin mereka sih. Hati hati ah, siapa tahu dinding ada kupingnya. ****** dah kita." Ujar Dina takut.


Tanpa mereka sadari, seseorang sudah di belakang mereka sejak tadi, bahkan saat mereka membahas tentang kematian Haris. Hanya saja kedatangan orang itu tidak diketahui Dina dan Stevan, mereka malah tanpa merasa bersalah meneruskan gosipnya.


"Ehem...." Suara deheman yang disengaja itu spontan mengejutkan Dina dan Stevan. Bahkan Dina sampai melompat dari kursinya begitu melihat siapa yang ada di belakang mereka. Dalam hatinya berseru, mungkin ajal sudah mendekati mereka karena ketahuan membicarakan Weini.


"Tu... Tuaan... sejak kapan anda berdiri di sana?" Tanya Dina gelagapan pada Haris yang masih tampak tenang tenang saja.


Stevan segera berdiri namun canggung entah harus berkata apa, ia sudah kepergok bersalah, jika ia terus bicara belum tentu itu dibenarkan.


"Sejak tadi saat kalian asyik membahas sesuatu." Jawab Haris santai, kemudian mendekat ke kursi kosong di tengah Dina dan Stevan. Dengan entengnya Haris duduk di sana lalu menatap dua orang itu secara bergantian.


"Duduklah, apa enaknya bicara sambil berdiri. Tenang saja, aku bukan datang untuk menghukum siapapun." Jelas Haris dengan senyum ramahnya.


Kala melihat senyuman itu, Stevan merasa seperti dejavu, rasanya pria tua itu sangat dikenal olehnya.


"Apa kalian sudah makan malam? Hmmm... Semoga kalian betah di sini, jangan sungkan katakan jika ada yang kalian perlukan." Ujar Haris ramah.


Dina tersenyum kaku, diperlakukan sebaik itu justru membuatnya makin segan. "Nggak perlu repot repot kok, tuan. Kami nggak akan merepotkan kok. Apa yang ada di sini sudah sangat lengkap, kami senang kok. Iya kan? He he he...." Dina tertawa canggung seraya menyenggol lengan Stevan agar ikut andil menghadapi tamu tak diundang itu. Saking canggungnya, Dina pun tahu bahwa kata katanya cukup belepotan tapi ia tak peduli.


Haris tersenyum simpul, tujuannya kemari tentu bukan sekedar mengatakan hal itu saja. Semuanya hanya basa basi, tetapi Haris tidak akan menutupi lebih lama lagi. Terlebih saat ia tahu betapa terpukulnya Stevan saat tahu kehilangan dirinya.


"Untuk orang terdekat tidak ada kata repot, kita sudah seperti keluarga sejak dulu. Untuk apa merasa canggung seperti itu Dina, Stevan?" Raut wajah Haris sangat familiar saat ia mengatakan itu. Senyuman ramahnya ia tujukan bergantian dengan tatapannya ke arah Dina dan Stevan.


Dina mengerutkan dahi, ia terlalu polos dan kemampuan nalarnya belum setajam Stevan. "Bukankah kita baru bertemu dua kali? Wah... saya sangat terkesan anda menganggap kami keluarga. Saya memang sangat dekat dengan nona... ng... nona...." Dina lupa nama Weini, saking canggung dan bagi lidah Indonesia-nya itu terlalu rumit diucapkan.


"Nona Yue Hwa." Ujar Haris membantu Dina mengingat.


"Ah, iya nona Yue Hwa. he he... tapi sekarang saya sangat senang bisa dianggap keluarga oleh keluarga nona Yue Hwa di sini juga. makasih ya tuan." Ujar Dina dengan polosnya, sepolos senyumannya.


Haris tersenyum lalu mengangguk pelan, "Sebenarnya bukan sejak saat ini kita sudah seperti keluarga, jauh sebelum itu... Saat kalian dekat dengan nona Yue Hwa, bagi saya kalian sudah jadi bagian keluargaku. Kapan kapan kita kembali bernostalgia di rumah Grogol saja, bagaimana?"


Senyuman polos Dina spontan terkatup, ia merinding dan merasakan bulu kuduknya berdiri.


Bagaimana mungkin dia bisa tahu soal Grogol?


Batin Dina polos.


Lain halnya dengan Stevan, senyum pria itu mengembang penuh seraya menatap Haris dengan antusias.


"Ayah Haris." Pekik Stevan bahagia.


Dina tercengang mendengar Stevan memanggil nama Haris kepada pria di depannya.


"Hah? Masa sih ini om Haris?" Kaget Dina tak percaya.


Haris tersenyum lalu mengangguk, ia tetap diam membiarkan kedua anak muda itu berspekulasi.


"Ya, apa yang tidak mungkin di dunia ini? Yang kita anggap aneh saja bisa terjadi, nyatanya Weini... nona itu ternyata wajahnya berubah, tidak mustahil kalau wajah ayah Haris juga hanya topeng. Dan ini pasti wajah aslinya, benar kan ayah Haris?" Tanya Stevan pada Haris, ia mengharapkan jawaban yang baik dari pria tua itu.


"Kamu benar, Stevan. Dina, kita ketemu lagi ya tapi dalam wujud yang berbeda. Maaf ya sudah membuat kalian sedih, dan sekarang Dina sedang ketakutan, tapi tenanglah aku masih hidup. Aku tidak benar benar mati saat itu." Haris mengakui kebenaran di hadapan mereka, seketika itu pula bebannya terasa plong.


Tanpa menunda lagi, Stevan langsung berlari mendekap Haris. Persetan dengan rasa malu, baginya saat ini bisa bertemu dan memeluk Haris lagi adalah kebahagiaan terbesarnya. Ia tidak jadi kehilangan sosok ayah, dan tidak akan merasa seperti orang asing di tempat yang memang asing ini.


Dina menangis sesenggukan, ia masih berdiri di tempatnya dan melihat Stevan memeluk Haris. Antara terharu sekaligus bahagia karena seseorang yang dikira telah pergi dari dunia ini, ternyata masih hadir di sisi mereka.


"Om Haris jahat! Ini kan bukan pertama kita ketemu, kenapa waktu itu nggak jujur aja sama aku. Aku kirain... hiks... Padahal waktu itu aku udah curiga kalau itu om Haris, tapi Fang Fang bilangnya malah ayah Bos Jun." Protes Dina di sela isakannya.


Haris tertegun, ia ingat kejadian yang dimaksud Dina adalah saat di apartemen Xiao Jun. "Maaf Dina, waktu itu bukan saat yang tepat. Segalanya terjadi memang ada waktunya. Terima kasih ya, kalian berdua sangat peduli padaku dan nona Yue Hwa. Sampai kapanpun, kita tetap keluarga." Ungkap Haris.


Stevan mengangguk setuju, ia menatap lekat pada Haris. "Jadi ayah dan yang lainnya akan tinggal di sini seterusnya?"


Haris mengangguk pelan, "Ya, sudah saatnya kami kembali ke tempat asal. Setelah sekian lama berkelana, nona juga sudah mendapatkan titah untuk meneruskan klannya. Aku harus mengawal beliau di manapun berada."


"Yaaah... Bakal sepi dong markas di Grogol." Gumam Dina dengan nada sedih, raut wajahnya langsung berubah sendu.


"Ayah, aku pasti kesepian tanpa ayah dan nona Yue Hwa. Tapi kalau memang ini yang terbaik, Aku hanya bisa mendoakan semoga kalian bahagia dengan kehidupan yang semestinya." Ucap Stevan, walau akan merasa kehilangan tetapi ia tetap mengharapkan yang terbaik untuk Haris dan Weini.


Senyuman yang Haris sunggingkan penuh maksud tertentu, ia pun berujar pada Stevan. "Kamu tidak akan kesepian, mulai saat ini sudah ada yang mengisi hari harimu kan. Percepat saja prosesnya, jangan menunda hal baik." Haris menyampaikan isyarat yang dengan mudah diartikan oleh Stevan dan Dina.


"Tuh denger, udah buruan lamar. Mumpung ada ayahnya juga, ntar tunggu kondisinya membaik, langsung dilamar aja Grace nya." Goda Dina dengan senyum jahilnya.


Stevan terdiam, saat ia digoda soal kehidupan percintaannya, saat itu pula ia merasa punya urat malu.


"Kamu juga tidak akan kesepian, Dina. Jodoh mu kan sedang terang, jangan kelamaan juga loh nanti bisa redup lagi." Gumam Haris memberi nasehat.


Giliran Dina yang diceramahi, Stevan balik menertawakan dan meledek Dina. "Tuh dengar, jangan kelamaan ntar lewat loh jodoh lu. Udah lah susah kan dapaten cowok ganteng itu, jangan kasih kendor, cepat suruh datang lamar."


Dina sewot seketika, "Ih, apaan sih nggak lucu ah." Kesalnya pada Stevan agar segera diam.


"Tapi om, aku masih ingin jadi asisten non Wei... eh nona Yue Hwa. Apa ada lowongan untuk jadi asisten pribadinya?" Tanya Dina penuh harap, sepertinya ia belum melupakan impiannya menjadi asisten seorang penguasa.


Haris tampak berpikir lalu manggut-manggut, "Hmmm... di sini sudah banyak pelayan dan pengawal. Seorang penguasa lebih memerlukan pengawal dan penasehat ketimbang asisten. Lagipula, untuk apa kau mau jadi pelayan di sini? Asisten di sini sama saja dengan pelayan."


Dina tertohok, membayangkan dirinya memakai seragam pelayan seperti yang ia lihat sejak tadi. Ia harus mengganti dandanannya ala kuno serta pakaian yang kurang modis menurutnya, seketika ia nyengir sendiri. Rasanya impian itu harus ia telan mentah-mentah. Maksud hati ingin kembali menjadi manager yang mengatur jadwal Weini, yang terjadi malah jadi pelayan.


Stevan tertawa melihat raut wajah masam Dina. "Sudahlah, enakan nikah aja jadi nyonya Ming Ming. Kerja mulu, ingat usai woi... lu udah waktunya ngurus rumah pake daster." Canda Stevan, yang kemudian mendapat jitakan sebagai balasan dari Dina.


❤️❤️❤️


Maaf panjang banget ya guys? he he... biar cepat ending ya, jangan lupa like dan komennya ya. Makasih.