
Derap langkah sepatu mengetuk keheningan hingga terdengar seperti detak jarum bom waktu. Dina menahan napas saat merasakan bunyi itu mendekat ke arahnya, firasatnya mulai menerawang pada hal buruk, ia merasa tak akan selamat dari jangkauan seseorang di luar sana. Dan benar saja ketika pintu lemari tempatnya bersembunyi dibuka dari luar, Dina langsung mengatupkan mata dengan kuat, ia ketakutan dan tak kuat melihat kenyataan
bahwa akhirnya persembunyiannya terkuak.
“Mbak? Apa yang anda lakukan di sini?”
Suara seorang pria yang terdengar baik hingga membuat Dina sedikit terheran, dalam benaknya yang muncul
adalah sederet kata-kata menakutkan ala penculik bahkan pembunuh yang berhasil mendapatkan mangsanya. Tapi ternyata suara dari pria yang kedengarannya baik itu justru menimbulkan kelegaan dalam hatinya.
Dina mengintip dari matanya yang dibuka sedikit, rasa ingin tahunya masih terhalangi rasa takut. Namun itu semua sedikit terhapuskan saat suara dari pria itu terdengar lagi.
“Jangan takut, Mbak. Saya polisi kok, Mbak aman sekarang.” Seru pria yang ternyata adalah polisi yang
melakukan penyelidikan.
“Eh?” Ujar Dina tercengang, bahkan ia tidak tahu bahwa tempat ini sudah dikuasai polisi yang artinya ia aman melangkah keluar dari lemari persembunyiannya. Dina memberanikan diri menatap ke arah luar, yang pertama ia lihat adalah seorang polisi yang berdiri tepat di hadapannya seraya tersenyum. Perlahan Dina mulai menggerakkan
tubuhnya yang terasa kesemutan lantaran bertahan dalam posisi itu sekian lama. Polisi itu inisiatif membantunya keluar dari lemari.
“Apa Mbak baik-baik saja? Untuk apa bersembunyi di sana?” Selidik polisi itu.
“Eh?” Lagi-lagi Dina hanya bisa memberikan jawaban singkat dan ambigu. Dalam hatinya berpikir cepat, ia tidak boleh menunjukkan kelemahannya yang mudah keceplosan. Ada rahasia besar yang harus ia jaga, rahasia yang diembankan Weini padanya dan hanya boleh diutarakan pada satu orang saja – Xiao Jun.
“Aku... Aku ketakutan saat dengar suara menyakitkan kuping tadi, jadi aku sembunyi di sini.” Jawab Dina menyampaikan kebohongannya.
Polisi itu tampak percaya dengan alibi Dina, apalagi melihat wajah Dina yang penuh tekanan dan ketakutan. Cukup masuk akal jika seorang gadis seperti Dina ketakutan saat itu dan mengira ada ancaman besar di dekatnya. “Baiklah, sekarang sudah aman. Mbak bisa meninggalkan tempat ini segera.” Ujar polisi itu yang masih akan melanjutkan penyelidikan di tempat lain.
“Ng... Bolehkah aku istirahat di sini dulu? Setidaknya sampai pagi... Aku takut untuk pulang sendiri sekarang.” Kelit Dina, ia tidak mau meninggalkan kantor sebelum menemui Xiao Jun.
Polisi itu mengernyit, “Di sini kurang aman nona, kami masih menyelidiki sumber ledakan yang ada di dekat sini.”
Dina terkesiap, “Maksud bapak? Ledakan itu dari sini?” Tanya Dina mulai mencemaskan Weini yang tergeletak di toilet ruangannya yang hanya selisih beberapa ruang dari sini.
Polisi itu mengangguk kemudian meminta Dina untuk bersikap kooperatif agar segera meninggalkan lokasi supaya mempermudah tugas polisi. Dina menggeleng kuat, ia bersikeras menolak. “Pak, apa semua orang sudah keluar? Apa ada yang terluka parah?” Tanya Dina mulai mengorek informasi secara tak langsung untuk tahu kabar Weini.
“Sepertinya sudah keluar semua kecuali anda. Silahkan mbak, tinggalkan tempat ini. Jika anda masih takut, anda bisa bermalam di kantor polisi bersama rekan kantor yang lain untuk dimintai keterangan.” Ujar polisi itu memberi win win solusi pada Dina.
***
Beberapa orang dari tim forensik serta polisi masih terlihat bingung di tempat kejadian perkara. Tepatnya di sebuah toilet yang diduga sebagai sumber ledakan, mereka mengambil sampel darah yang sudah mengering di lantai serta kebingungan menatapi langit-langit yang berlubang serta reruntuhan puing bangunan bekas ledakan.
sedasyat itu.” Gumam salah satu polisi sambil berdecak, kondisi ini akan menyulitkan mereka dalam penyelidikan lantaran sedikitnya bukti di tempat kejadian.
“Semua titik CCTV juga sudah dirusak pelaku, tampaknya mereka cukup terlatih bertindak. Tetapi motifnya belum tertebak, kecuali memang mereka ingin menculik seseorang.” Ujar penyidik lainnya bergumam seraya melipat tangan.
“Apa benar sudah fix bahwa artis itu yang menghilang?” Tanya polisi lain yang mendapat jawaban berupa anggukan dari personil lainnya.
***
Bams tengah gugup menghadapi pemeriksaan polisi, ia tak banyak tahu menahu dengan apa yang terjadi dan tak yakin apa yang disampaikannya bisa membantu. “Aku waktu itu sedang syuting, lalu salah satu kru bilang ada kericuhan. Awalnya aku menahan semua pemain dalam studio biar aman, tapi begitu teringat Weini masih di ruangannya, aku bergegas ke sana menolongnya. Tapi sepertinya benar, penjahat yang datang waktu itu memang mengincar Weini. Aku melihat mereka membawa pergi Weini dalam gendongan.”
polisi tampak tenang saja mendapati jawaban Bams, mereka sudah mengumpulkan keterangan dari saksi lainnya termasuk security yang tengah mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Dan dalam sekejab, simpang siur di media yang terendus keluar bernada sangat menyedihkan. Padahal belum
ada pihak managemen yang memberikan klarifikasi tetapi rumor miring terlanjur beredar karena sulutan dari media. Apalagi korbannya berasal dari kalangan selebriti yang memang rentan ditimpa rumor.
“Weini, artis papan atas yang belum lama membintangi sebuah film baru ternyata pelaku peledakan. Weini
dikabarkan menghilang bersama komplotannya. Sosok Weini, artis terkenal yang ternyata punya kemampuan mengerikan. Artis cantik yang menjadi korban penculikan dengan motif yang masih misteri.” Dan banyak lagi judul di portal online dan televisi yang secara intens menyorot pemberitaan ini. Weini sukses menarik perhatian, tidak hanya secara nasional namun telah menyita perhatian dunia.
Segerombolan wartawan pun telah mengepung rumah mereka yang telah kosong. Para penggiat berita itu masih tak menyerah meskipun melihat kondisi rumah yang gelap dan sepi. Mereka masih berasumsi bahwa itu hanya salah satu trik menghindari media. Jikapun tidak ada Weini, mereka percaya masih ada ayahnya yang bertahan di dalam rumah dan bisa dimintai keterangan.
***
Pemberitaan di Hongkong tidak kalah hebohnya dengan Jakarta, kediaman Li bahkan sudah diserbu media yang hendak meminta klarifikasi kepada sang penguasa. Di gerbang utama kediaman mewahnya, tertahan ratusan pers yang mendesak masuk dan diberi kesempatan wawancara.
“Mengapa bisa seperti ini? Dari mana mereka mendapatkan kabar itu?” Tanya Liang Jia yang panik mengetahui kondisi di luar. Ia sengaja menjauh dari Li San agar kabar itu tidak mengejutkan suaminya. Liang Jia memercayakan Grace menjaga Li San sebentar, sementara ia keluar menemui pengawalnya.
“Nyonya, saya rasa ada yang sengaja menyebarkan berita kepada media untuk mengguncang kita. Sekarang
mereka meminta klarifikasi kita tentang rumor itu. Mereka bahkan punya foto masa kecil nona Yue Hwa dan mengaitkannya dengan artis dari Indonesia yang kabarnya adalah nona Yue Hwa.” Jelas seorang pengawal kepercayaan Liang Jia.
Liang Jia memijit dahinya, malam ini pun ia tidak diijinkan tidur sama sekali. Hari yang betul-betul panjang dan menegangkan ini ia harap segera berlalu. “Pasti ada orang dalam yang membocorkannya. Atau mungkin ini memang sengaja disiapkan untuk menyerang kita. Aku rasa tersangkanya pasti dia.” Tuding Liang Jia, ia yakin kemenangan tidak mudah menghampiri dan musuh mungkin masih menunggu sisi lengah mereka.
***
Dia yang Liang Jia maksud adalah....
Yang kangen Xiao Jun, ditunggu besok ya update nya.