
Semula aku hanya mengenal satu warna, hitam.
Lalu dia muncul, memberiku satu warna baru, putih.
Dia hilang, dan ku mulai mengenal dia yang baru
memberiku warna abu-abu.
Dia dan dia yang datang dan pergi, meninggalkan luka
namun mengenalkanku berbagai warna
Hingga aku sadar di dunia ini penuh dengan berbagai
warna-warni kehidupan.
Warnai hatiku…
__Quote of Yue Hwa aka Weini__
***
“Hei kau malah tidur!?” Weini berdiri di samping Xiao Jun yang masih terbaring diam, antara ketiduran atau pura-pura diam. Sikap macam apa ini, mengundangku datang lalu ditinggal tidur! Gerutu Weini dalam benak. Ia tidak akan membiarkan tuan rumah menelantarkan tamunya.
Preeet… preeeeet… terompet yang dibelikan Xiao Jun bak senjata makan tuan kala Weini dengan tega meniup untuk mengejutkan pria malang itu. Xiao Jun terbelalak sembari menutup kedua telinga, akhirnya ia bangkit dari posisi tidur.
“Kau mau membuatku jantungan!?” pekik Xiao Jun kesal, namun Weini malah menertawakannya. Bagi gadis itu reaksi Xiao Jun sangat menggelikan, ia makin terpingkal ketika pria itu marah. Tanpa ia sadari, terompet di tangannya telah diambil alih. Xiao Jun melakukan pembalasan secepat kilat. Lengkingan terompet memekakkan telinga Weini hingga ia reflek melompat ke sofa.
“Nggak enakkan dikerjain?” Ujar Xiao Jun nyindir. Ia kembali bersandar di sofa, persis di sebelah Weini.
Kejutan bertubi dari tingkah Xiao Jun membuat debaran jantung Weini kian kencang. Pria itu dengan entang duduk di sebelahnya, meskipun masih ada sedikit jarak, namun Weini merasa canggung dengan suasana ini. Wajahnya terasa hangat, ia tak mampu menatap ke samping.
“Artis terkenal sepertimu kenapa nganggur di malam tahun baru?” Suara Xiao Jun terdengar nyaring di antara kesunyian ruang yang hanya diisi dua insan.
Weini merasa kikuk, tapi tak punya nyali untuk menatap lawan bicaranya. “Kau sendiri, pengusaha muda sukses yang harusnya punya banyak relasi bisnis, kenapa malah merayakan ulangtahun dan pergantian tahun sendiri?” Weini merasa menang.
“Kamu ada di sini.” Jawab Xiao Jun singkat namun menancap di hati lawan bicaranya.
Suasana kembali hening. Mereka berdebat tanpa saling menatap. Weini segera berdiri, ia harus melakukan sesuatu untuk mengusir rasa canggung.
“Aku nggak tahu ini hari jadimu, jadi… jadi nggak ada persiapan kado. Kita makan jagung bakar aja yuk.” Bakat acting Weini luntur semua di hadapan Xiao Jun, ia tak bisa pura-pura tenang sedikitpun. Diraihnya plastik
makanan berisi dua buah jagung bakar lalu menyodorkan ke Xiao Jun.
“Boleh minta tolong?” Xiao Jun menerima pemberian gadis yang jelas terlihat malu-malu di hadapannya.
“Ya?” Weini penasaran. Pria serba bisa itu minta tolong padanya? Apa ia tidak salah dengar?
"Kemarilah.” Xiao Jun memimpin jalan menuju ruangan lain. Weini mengekorinya tanpa rasa curiga. Apartemen Xiao Jun sangat luas, Weini bahkan terus mengamati desain interior serta aneka perabotan mewah yang
menyilaukan mata sepanjang langkahnya. Namun saat Xiao Jun menunjukkan maksud terselubung dari kata ‘tolong’ barusan, ia mendadak merasa blenger.
“Ini… kamu yang masak?” Tanya Weini polos.
“Apa aku punya tampang jago masak?” Xiao Jun bertanya balik.
“Kenapa kamu suka bertanya balik? Apa susahnya jawab dulu?” Ujar Weini Ketus. Sejak awal mengenal pria ini sampai sekarang ada kesempatan berdua, pria itu suka mengalihkan pembicaraan. Eh tapi… aku juga sering gitu ke dia. Weini seketika bungkam saat sadar ia juga tak jauh berbeda dengan pria yang ia tuding.
“Paman Lau yang membuat ini semua. Aku menjamumu sekarang, mari makan!” Xiao Jun menarik kursi kemudian mempersilahkan Weini duduk. Sikapnya yang mendadak perhatian ini mengacaukan perasaan Weini. Ia tak
punya pilihan lain, demi menyembunyikan rasa gugup, ia segera makan tanpa sepatah katapun.
“Dia pasti senang, masakannya dicicipin kamu.” Xiao Jun tersenyum. Tak biasanya ia mengukir senyuman. Weini nyaris keselek melihat pemandangan langka itu. Ah… pria itu terlalu tampan untuk dideskripsikan kata-kata.
“Enak kok. Sampaikan makasihku padanya.” Pujian dari Weini betul-betul tulus. Ia mengakui kemahiran Lau soal makanan.
“Kamu tidak punya keluarga di sini? Atau sahabat?” Tanya Weini penasaran. Ia melihat tatapan pria itu menyiratkan kesepian yang mendalam. Ada sebuah perasaan yang tak bisa ia tafsirkan dari sorot tegasnya.
“Sekarang kamu temanku.” Jawab Xiao Jun sekenanya. “Aku nggak suka bergaul.” Timpalnya segera.
Weini lagi-lagi menemukan kesamaan antara ia dan Xiao Jun. Wajar bila pendatang baru yang belum satu tahun di sini mempunyai sedikit teman. Justru Weini lah yang aneh, nyaris sebelas tahun namun temannya hanya Sisi. Itupun sudah mantan teman, sekarang ia tidak punya pertemanan dekat lagi.
Letupan kembang api yang datang dari berbagai sudut mengalihkan perhatian Weini. Ia bergegas berdiri tanpa berkedip. Xiao Jun melangkah ke depan jendela, menyibak tirai putih transparan yang menghalangi pandangan.
Weini menyusulnya untuk melihat lebih dekat. Senyumannya begitu lepas saat kedua matanya menatap takjub pesta kembang api dari ketinggian. Impian yang selama ini ia idamkan akhirnya terwujud, setelah ia hampir menguburnya menjadi harapan semu.
Sekarang ia mengerti mengapa Xiao Jun membawanya kemari. Baru Weini sadari bahwa pria yang ia anggap arogan, cuek, introvert, ternyata punya sisi baik. Langit malam dipancari kemilau kembang api, suara letupan yang menggelegar berkolaburasi dengan lengkingan terompet.
“Selamat tahun baru, Tuan Xiao Jun.” Weini menjadi orang pertama yang mengucapkannya. Mereka kembali diam, menyaksikan pesta kembang api yang kian semarak.
***
Xiao Jun belum juga berniat istirahat setelah mengantar Weini kembali. Ia memilih bersender di sofa, tempat yang sempat diduduki Weini. Gadis itu masih sangat keras kepala, Xiao Jun masih ditolak untuk menemui ayahnya. Bahkan ia minta diturunkan di depan jalan dan hendak jalan kaki pulang, namun Xiao Jun tidak membiarkan itu terjadi. Ia tetap mengantar gadis itu sampai ke depan rumah untuk memastikan keamanannya.
“Aku tidak perlu persetujuanmu terus, kelak akan kutemui ayahmu dengan caraku.”
Sebuah panggilan masuk dari Lau menggetarkan ponsel Xiao Jun. Pengawal setia itu mungkin sudah menyelesaikan tugasnya.
“Bagaimana Paman?” video call tersambung. Lau melambaikan tangan kepada tuannya, sebelum mengganti kamera belakang.
Xiao Jun terkesima melihat kondisi rumah orangtuanya yang sekian lama tak berpenghuni. Rumah kayu itu masih seperti dulu saat terakhir ia tinggalkan. Lau terus berjalan mengitari sekeliling rumah, mempertontonkan situasi di sana. Nostalgia yang mengingatkan Xiao Jun akan kenangan bersama sang ayah. Matanya mulai sembab digenangi tetasan bening.
“Tuan, apa ini bukunya?” Lau menunjukkan sebuah buku usang yang nyaris tak bersampul yang ia temukan di dalam peti.
“Benar! Segera tinggalkan tempat itu dan kembali ke sini. Bawa pulang itu dengan hati-hati!”
Sebuah harapan baru mulai menyemangati Xiao Jun. “Aku pasti bisa mempelajari sihirmu dari sini dan menemukanmu, Ayah!”
***