
Dina sesekali melirik Weini yang sejak tadi duduk diam dengan senyum mengembang. Sepertinya euphoria persahabatan yang baru dimulai itu sangat menyenangkan hatinya. Artis cantik itu bahkan betah berdiam diri dan asyik dalam pikirannya, membuat Dina merasa kehadirannya hanya menjadi supir saja.
“Akhirnya ya non, kayak mimpi jadi kenyataan. Bisa juga dia jadi orang baik, coba dari awal kayak gitu pasti tanganku nggak jadi korban managernya. Huft.” Keluh Dina.
Weini melirik ke managernya, senyum manisnya hilang sejenak mendengar keluhan Dina. “Ya ampun kak, kamu masih mengingat itu? Jangan disimpan dalam hati, nggak enak loh nyimpan dendam.” Ujar Weini kemudian terkekeh.
Dina manyun mendengar itu, “Non nggak tahu sih gimana rasanya dicekik pergelangan tanganku sampai merah gitu. Ada bekas jarinya pula, tuh cewek makannya apa sih sampai punya tenaga sekuat itu.” Kesal Dina.
Weini tertawa kecil, “Nggak akan terjadi lagi setelah ini. Mungkin kakak bisa minta ilmu sama asistennya, gimana biar sekuat itu.” Canda Weini.
Dina hanya memutar bola matanya, namun antusiasnya bangkit seketika saat menangkap hikmah dari persahabatan baru Weini dan Grace. “Syukurlah kalian bisa akur, damai itu memang indah non. Karena habis ini
kalian bakal sering bersama dan satu kerjaan lagi, daripada kayak kapan hari yang panas mulu tiap ketemu.”
Weini tak bisa menahan rasa penasarannya lagi, saat ini memang mereka sedang dalam perjalanan menuju kantor managemen baru yang merekrut Weini sebagai artisnya. Namun barusan Dina menyampaikan hal yang sedikit
membingungkan dirinya, “Maksud kakak, Grace juga jadi artis managemen itu?” Selidik Weini.
“Yup.” Jawab Dina singkat sambil menepuk setirnya.
“Kok bisa? Bukannya dia sudah direkrut managemen ternama?” Tanya Weini heran.
“Apa yang nggak bisa sih di dunia ini non, selagi ada ini.” Dina menjentikkan jemarinya yang Weini pahami maksudnya adalah uang.
Weini menggeleng kepala, tak habis pikir dengan jalan pikiran Grace. “Dia rela bayar uang kompensasi pembatalan kontrak demi pindah managemen?” Decak Weini.
Dina menggeleng cepat. “Bukan! Tepatnya dia dibeli dari managemen itu sama bos kita.” Ungkap Dina dengan raut yang memamerkan kebanggaan.
“Bos kita? Kak, Buruan cerita deh jangan bikin penasaran.” Desak Weini tak sabar lagi.
“Bentar lagi sampai non, sabar ya ntar juga tahu sendiri. He he he ….” Ujar Dina.
Dan dalam hati manager itupun tidak bisa dikorek Weini, yang terdengar dari suara hati Dina hanyalah perasaan senang menerima bayaran besar atas kenaikan jabatannya dalam perusahaan entertainmen itu. Weini
menggelengkan kepalanya, Dina terkadang memang kalap jika sudah berurusan dengan uang.
***
“Halo cantik! Lama tak jumpa, kangen nggak sama gue?” Suara bariton yang khas dan familiar itu jelas masih tersimpan dalam ingatan Weini.
Weini segera menoleh ke sumber suara, tak sabar mendapatkan si pemilik suara yang memang ia rindukan. Dan benar saja, pria yang ia kenal itu sudah membuka kedua tangannya menantikan pelukan gadis itu mendarat
padanya.
“Kak Bams ….” Pekik Weini dengan senyum merekah, ia langsung menghambur dalam pelukan sutradara itu. Dina yang berdiri di belakang hanya senyam senyum menyaksikan dua sahabatnya yang melepas rindu. Ia sebelumnya pun melakukan hal yang sama, bahkan Dina melakukan obrolan seru di bar bersama pak sutradara itu kemarin selepas perbincangan seriusnya dengan Xiao Jun.
“Ehem, kayaknya gue ketinggalan adegan pelukan.” Seru Stevan yang muncul sambil meniru gaya Bams yang merenggangkan tangan.
Weini menatap takjub karena kehadiran Stevan, sepertinya jodoh mereka sebagai lawan main masih punya babak baru yang panjang. Weini hanya tersenyum memandangi Stevan yang menunggu hampa pelukan Weini, tetapi gadis itu tak berniat mengabulkan keinginannya. Stevan melengos kecewa yang malah mengundang tawa Bams, Weini dan Dina secara bersamaan.
“Kayaknya lu banyak berubah bro? Dulu kan suka merengut, sekarang bisa lebay gitu.” Ledek Bams kemudian menghampiri Stevan dan menepuk bahunya.
Weini pun ikut menghampiri Stevan, terlepas dari masalah tempo hari di rumah sakit, Weini tak lagi mempermasalahkannya. Terlebih ia maklum dengan sikap Stevan yang terdesak kepanikan, masih terasa wajar dan
Stevan tersenyum nyengir kemudian melirik sejenak Dina sebelum membalas pertanyaan Weini. “Tadinya sih gitu, tapi ternyata ada bos yang berani kasih penawaran luar biasa. Iya kan, Dina?”
Dina hanya tersenyum canggung, bisa-bisanya Stevan melempar poin kepadanya. Ia terpaksa mengangguk kaku sebagai bentuk jawaban.
“Siapa bosnya?” Weini mengerutkan dahi, hanya dia yang belum diberitahu siapa bos yang telah memersatukan orang-orang terdekat Weini dalam satu managemen lagi.
“Pacar lu lah bosnya.” Celetuk Bams yang mewakili Dina mengungkapkan yang sebenarnya.
Weini tertegun, begitupula dengan Dina yang langsung pamer senyuman canggungnya.
Flashback on.
Dina duduk di sofa ruangan kantor Xiao Jun, ia langsung mengikuti bos muda itu ketika diajak dari rumah sakit. Dari raut serius Xiao Jun saat memintanya, Dina tak kuasa menolak karena ia yakin ada hal penting yang akan dibahas pria itu. Lau menyuguhkan minuman dan terus berdiri di samping sofa yang Dina duduki. Mereka menunggu kesiapan Xiao Jun yang terlihat sedang menyiapkan sesuatu untuk dibahas.
“Dina, setelah ini apa Weini punya tawaran syuting? Kudengar dia belum tergabung managemen manapun setelah kantor sebelumnya bangkrut.” Tanya Xiao Jun yang sudah bergabung dengan Dina duduk di sofa.
Dina menggeleng pelan, “Dia sepertinya belum tertarik bergabung di manapun. Setelah inipun belum ada rencana menerima proyek baru.”
Xiao Jun tersenyum, “Ya, aku sudah memperhitungkan itu dan mungkin akan sedikit merepotkanmu lagi. Aku mendirikan sebuah managemen artis untuknya, dan tolong pastikan dia serta teman-teman artisnya bergabung.
Sebagai hadiahnya, aku sudah menarik Bams bergabung. Selebihnya kuserahkan padamu untuk mengaturnya, apa kamu bersedia?”
Bukan main terkejutnya Dina hingga tak sadar mulutnya ternganga, secepat dan semudah itu bagi Xiao Jun membangun bisnis hiburan demi kekasihnya. Seketika itu juga Dina mengangguk setuju, “Siap bos. Aku pastikan non Weini dan Stevan pasti bergabung, dan hmm … Ada beberapa artis pendatang baru yang potensial juga akan kuajak.”
Xiao Jun tersenyum, “Grace juga bergabung dengan kita, setelah ia pulih maka kalian akan kerjakan judul baru yang sudah disiapkan Bams.”
Dina terkejut, “Tapi bos, dia sudah jadi artis managemen XX.” Dina menginterupsi pembicaraan Xiao Jun.
“Mulai besok dia sudah resmi keluar dari sana dan bergabung dengan kita. Ini permintaannya tanpa unsur paksaan.” Jelas Xiao Jun.
Dina hanya bisa mengangguk walaupun masih merasa sedikit shock.
“Aku percayakan kamu sebagai asisten produser dan kamu punya hak untuk merekrut talent yang menurutmu potensial untuk perusahaan. Apa kamu merasa keberatan?”
Dina terlihat galau, ia menatap Xiao Jun dengan rasa tak percaya atas kepercayaan yang diberikan padanya. “Tuan, makasih banget aku dikasih naik pangkat setinggi itu, tapi aku lebih nyaman menjadi manager Weini saja. Biarlah posisi itu diberikan kepada yang lebih kompeten, aku ingin tetap bersama Weini.” Pinta Dina sungguh-sungguh, Xiao Jun bisa melihat dari raut wajah gadis itu.
“Baiklah, aku menghargai niat baikmu. Teruslah bersama dia senyaman kalian saja, soal gaji mulai sekarang biar aku yang mengaturnya, Weini tak perlu mengurus bagianmu lagi dari pendapatannya. Tapi aku minta satu hal penting padamu, tolong untuk saat ini pastikan Weini terlibat kesibukan sepanjang hari. Jangan biarkan dia nganggur dan punya kesempatan pergi, secepatnya syuting produksi sinetron baru.” Ujar Xiao Jun dengan nada serius.
Dina masih tak mengerti sepenuhnya, namun ia tak merasa terbebani dengan tanggung jawab itu. Ia menyanggupi yang ditanggapi dengan anggukan mantap dari Xiao Jun.
Maafkan caraku, Weini. Kami terlalu menyayangimu dan hanya cara ini yang efektif menghentikan langkahmu sementara. Percayalah, ini tidak akan lama lagi ….
Xiao Jun membatin tanpa siapapun di sana yang menyadari maksud terselubungnya.
Flashback off.
***
Di pihak lain, ada sepasang mata yang awas menatap gedung elit yang dijadikan kantor managemen baru Weini. Si pemilik tatapan tajam itu menempelkan headset Bluetooth di telinganya, “Dia sering meninggalkan rumah hingga malam, tuan.” Ujarnya melaporkan apa yang dipantaunya selama ini kepada sang tuan.
***