
Chen Kho mondar mandir di depan pintu rumah Li An sejak subuh. Ia sengaja menanti gadis itu berangkat kerja dan hendak mencegatnya. Perhitungannya tepat, daun pintu mulai bergerak dan terbuka dari dalam.
“Aku ke sini untuk mengabari tentang adikmu. Dua hari lagi Yue Yan nikah dan adikmu pasti pulang. Kalau kau ingin bertemu, aku akan mengatur pertemuan rahasia untuk kalian. Ya sudah aku pulang dulu!” Chen Kho secara marathon berbicara sebelum disanggah Li An. Ia pun berinisiatif pulang sebelum diusir seperti biasanya.
Li An mengernyit heran, sikap pria agresif itu berbeda kali ini. Salah makan apa dia? Batin Li An.
“Tunggu dulu!” Li An mencegat Chen Kho pergi lebih jauh lagi.
Sebaliknya Chen Kho tersenyum girang, trik dia kali ini sepertinya akan berhasil menambah kesan baik di mata Li An. Ia merubah ekspresinya menjadi lebih sendu sebelum membalikkan badan.
“Jangan ganggu adikku! Aku tidak akan merepotkanmu untuk bertemu dia!” sambung Li An tegas.
Chen Kho kecewa, prediksinya meleset total. Ia mengira Li An memanggilnya untuk mengucapkan terima kasih dan akan bergantung padanya. Nyatanya ia sama sekali tidak memerlukan bantuan.
***
Lisa secara khusus diundang bergabung dalam sinetron garapan Bams demi melengkapi sebuah peran pelakor dalam hubungan Weini dan Stevan. Cinta segitiga mulai terajut antara mereka bertiga dan membuat penonton
bersimpati penuh pada peran protagonis yang dimainkan Weini.
“Sialan! Naskah apaan ini? Bams sengaja nih ngerjain gue dengan peran sampah gini.” Lisa melempar naskah hingga mengenai kepala Metta.
Metta tak berani protes dan bergegas memungut naskah itu lalu memegangnya. Ia mencuri baca dialog tokoh yang diperankan Lisa sambil berkhayal andai ia yang mendapatkan peran itu. tak terkatakan lagi betapa malu dirinya yang selalu menemani Lisa layaknya pembantu. Ke sana ke sini melayani keperluannya dan hingga hari ketiga syuting ia belum diberi jatah tampil oleh Lisa.
“Gue kira kemunculan gue bakal redupin pamor Weini, ternyata malah bikin dia terlihat kayak malaikat dan gue setannya!” geramLisa.
Pintu diketuk dari luar, Metta bergegas melihat siapa di balik pintu. Tim kreatif menyodorkan sebuah naskah episode selanjutnya untuk dipelajari dulu. Metta memberikannya pada Lisa yang mengambilnya dengan kasar. Diperlakukan seenaknya seperti itu membuat Metta nyaris kehilangan kesabaran, belum pernah ada orang yang berani menganggapnya sebagai asisten namun sekarang ia dengan bodohnya mengabdi pada gadis sombong tak berperasaan di hadapannya.
Lisa membaca naskah di tangannya, tiba-tiba senyumnya sumingrah seperti menemukan wangsit di sana. Ia melirik Metta dan kembali tersenyum hingga membuat Metta terheran-heran.
“Lu mau tampil kan? Akhirnya giliran lu datang juga!” ujar Lisa memberi Metta harapan.
“Serius kak? Gue tampil kapan?” Metta kegirangan. Momen yang ia tunggu sudah mendekati waktu. Ia akan memamerkan kemampuan actingnya dengan maksimal sambil berharap mendapat perhatian Bams lalu emberinya peran.
“Besok kalau nggak lusa. Sini gue bisikin job desc nya.” Lisa menarik Metta mendekat lalu membisikkan rencananya.
***
Dina sudah puluhan kali mondar mandir ke toilet. Ia beralasan perutnya yang mules akibat makan terlalu banyak sambal. Weini mulai khawatir dengan kondisi Dina dan sudah mencoba menawarkannya ke rumah sakit. Namun Dina tetap menolak dan yakin sebentar lagi akan reda mulesnya.
“Sorry ya non jadi pulang telat. Di kantor udah nggak ada siapa-siapa tinggal kita berdua.” Dina menggaruk kepala yang tidak gatal sama sekali, ia hanya canggung membuat Weini menunggu sekian lama gara-gara masalah perutnya.
“Nggak apa apa kak. Yakin udah baikan? Kita ke rumah sakit aja buat cek sebentar.” Weini menawarkan opsi itu untuk kesekian kali.
“Nggak perlu non. Suwer udah baikan. Daripada ke rumah sakit mending kita makan bakso aja non di tempat langgananku. Dijamin nagih hahaha.” Canda Dina walau terdengar tak masuk akal.
“Masa baru sembuh mules langsung makan bakso?” tanya Weini polos.
“Hahaha biar ekstrim non.”
Ponsel Dina berdering, ia segera meronggohnya dari saku celana jeans. Saat menatap layar, ia terlihat bingung sembari menatap Weini.
“Siapa?”
“Om Lau. Asistennya tuan Xiao Jun. aku angkat nggak nih?” tanya Dina meminta persetujuan Weini.
Weini terperanjat kaget, untuk apa Lau menghubungi Dina. Apa Xiao Jun tertarik pada Dina lalu meminta Lau sebagai perantara? Weini teringat di awal perkenalan dengan Xiao Jun juga banyak campur tangan Lau yang
mungkin diminta Xiao Jun sebagai perantara.
Dina langsung menerima telepon masuk itu. “halo… ya om?”
Weini berusaha menguping meskipun mustahil karena volume ponsel Dina terlalu kecil.
“Apa? Sekarang om dimana? Tunggu di situ, kami segera ke sana.”
Weini terkejut karena pekikan Dina, ia menatap Dina yang terlihat sangat cemas seperti telah terjadi sesuatu yang buruk.
“Ada apa kak?” tanya Weini cemas.
“Non kita harus segera turun. Om Lau kecelakaan saat perjalanan kemari.” Dina menarik tangan Weini dan segera berlari menuju lift.
“Hah? Sekarang paman Lau dimana?” Weini mempercepat langkahnya, kini mereka setengah berlari.
“Di bawah, di ruang tamu kantor.” Jawab Dina pendek.
“Kenapa nggak ke rumah sakit tapi malah ke sini?” Weini makin panik.
Lift bergerak turun hingga ke lantai satu. Weini bergegas lari meninggalkan Dina yang larinya lebih lamban. Keadaan cukup gelap, hanya beberapa lampu di sudut yang masih menyala tapi Weini masih bisa melihat
sekitar dengan jelas.
“Paman, apa kau baik-baik saja? Aku antar ke rumah sakit sekarang!” teriak Weini meskipun belum sampai ke ruang tamu.
Dari arah depan sepasang kaki juga berlari sangat cepat menyusuri lorong kantor. Ia menoleh kiri kanan mencari ruangan yang diberitahukan padanya. Seseorang di ruangan itu membutuhkan bantuannya segera. Namun pada sebuah persimpangan lorong, ia justru bertabrakan dengan seseorang yang juga berlari kencang.
Bruk! Kedua orang yang bertabrakan itu terjatuh.
“Sorry!” suara pria itu mengucapkan maaf sebelum ia berdiri.
Hah? Suara itu. Weini familiar dengan suaranya, ia segera menegadah untuk memastikan lagi tebakannya tepat atau tidak.
“Xiao Jun!” kali ini Weini tak salah lihat. Pria itu… pria yang sekian lama ia rindukan namun tak punya keberanian untuk berterus terang, pria yang sudah hampir sebulan tidak bertemu baru saja menabraknya. Oh tidak, bahkan ia ada di sini.
Xiao Jun mematung tak kalah kaget mendengar suara Weini. Ia bergegas jongkok untuk memastikan keadaan Weini.
“Kamu nggak apa-apa? Masih sakit perutnya? Kita ke rumah sakit sekarang!” Xiao Jun menodongnya dengan berbagai pertanyaan.
“Loh, aku nggak apa apa. Paman Lau gimana? Apa lukanya parah? Kita bawa dia ke rumah sakit. Dina bilang paman ada di ruang tamu.” Weini bertanya balik dengan tak kalah kuatirnya.
“Paman Lau? Kenapa dia? Barusan dia telpon bilang kamu pingsan sakit perut di kantor dan tidak ada siapapun di sini. Katanya asistenmu tidak masuk hari ini dan takutnya kamu dikerjain Lisa.”
Keduanya terdiam dan saling menatap. Semenit kemudian sepertinya mereka sadar sudah dikerjain.
“Dina, Paman Lau! Kaliaaan keterlaluan!” pekik Xiao Jun kesal.
“Sepertinya kak Dina sudah pulang duluan. Aku ditertipu telak.” Ujar Weini lemes.
“Hei… jadi kamu ke sini karena aku?” Weini telmi baru menyadari betapa khawatirnya Xiao Jun padanya.
Xiao Jun terdiam. Ia memalingkan wajahnya yang memerah malu. Padahal tanpa melakukan itupun Weini tak bisa melihat wajahnya dengan jelas dalam keremangan.
“Ku antar kau pulang.” Ujar Xiao Jun berjalan duluan meninggalkan Weini yang masih duduk terpaku.
***