
Li San tepekur menatap wajah Xiao Jun yang terpejam polos. Tubuh anak muda yang barusan membangkang terhadapnya kini terbaring tak berdaya. Sepanjang memilik Xiao Jun sebagai anak, baru kali ini Li San begitu cemas.
“Gimana kondisinya, dokter Chen?” tanya Li San kuatir.
Dokter pribadi keluarga Li itu melepas stetoscop lalu berbalik menatap Li San, “Dia baik-baik saja, tunggu siuman saja. Kesehatannya tidak bermasalah, pengaruh totok akan hilang dengan sendirinya.”
Penjelasan dokter memang terdengar bagus namun tidak cukup menenangkan Li San, bila perlu ia ingin Xiao Jun membuka mata sekarang juga. “Apa tidak bisa dibangunkan saat ini? Dia sudah tidak sadarkan diri hampir satu jam.”
Dokter Chen menggeleng, ketidak sabaran Li San memang tak pernah berubah. “Bukan tindakan baik bila dipaksakan, sarafnya bisa rusak kecuali disadarkan dengan totok. Maaf tuan Li, ilmu totok bukan keahlian saya.” Dokter itu membungkukkan badan, mohon maaf atas ketidak mampuannya sekaligus undur diri dari hadapan Li
San.
Li San berpikir keras, totok itu dilakukan oleh Chen Kho namun entah mengapa ia tidak yakin harus menyuruhnya membuka. Tidak ada yang tahu apalagi yang akan ia perbuat pada Xiao Jun andai ia memberinya peluang lagi. Satu-satunya harapan hanya menantikan Xiao Jun siuman secara alamiah, lagipula jika ia terbangun pun Li San masih harus bersitegang dengannya.
“Jaga tuan muda, jangan ada satupun yang lengah. Jika ia sudah sadar langsung laporkan padaku.” Li San akhirnya menyerah menunggu putranya buka mata, ia masih punya satu tempat tujuan yang harus dikunjungi. Seorang tahanan rumah yang belum ia besuk dan barangkali sudah merenungkan kesalahannya.
“Baik tuan besar.” Enam pengawal di sana kompak menerima perintah baru sang tuan.
Selepas kepergian Li San dan setelah memastikan pria kejam itu sungguh berlalu, Xiao Jun membuka matanya dan melirik beberapa pengawal di sampingnya hingga mereka sadar tuan muda telah siuman.
“Hormat pada tuan muda.” Enam pengawal itu segera berlutut pada Xiao Jun yang masih mengumpulkan nyawa agar sepenuhnya sadar.
“Ng… bangunkan aku.” pinta Xiao Jun saat ia merasa masih terlalu lemah untuk duduk bersandar.
Dua pengawal bergegas inisiatif membantu Xiao Jun duduk, sementara yang satunya memberi perintah agar melaporkan kepada Li San bahwa Xiao Jun sudah siuman.
“Jangan! Jangan beritahu dia dulu. Biarkan aku istirahat sejenak sebelum dikunjungi dia lagi.” Pinta Xiao Jun. Ia sebenarnya sudah sadar sejak dokter memeriksanya namun sengaja berpura-pura demi menghindari Li San.
Keenam pengawal itu kebingungan, perintah mana yang harus mereka dengar sedangkan yang mengutus mereka kemari adalah tuan besar untuk melindungi tuan muda itu.
“Kalian tidak perlu merasa bersalah, anggap saja aku belum bangun jadi belum perlu dilaporkan. Hanya kita saja yang tahu lalu untuk apa takut? Kecuali ada salah satu di antara kalian yang membocorkannya.” Ujar Xiao Jun, ia tahu keraguan yang terbersit di benak para pengawal itu.
“Hamba tidak berani tuan muda.” Ujar para pengawal kompak.
Xiao Jun tersenyum, “Baguslah. Sekarang di antara kalian siapa yang memegang ponselku?”
Hening seketika suasana ketika pertanyaan itu dilontarkan, permintaan Xiao Jun semakin sulit dilakukan oleh bawahannya. Salah satu di antara mereka memang mengantongi ponsel itu, namun atas perintah Li San bahwa barang itu tidak boleh diberikan pada pemiiknya.
“Huft… kalian berapa tahun jadi pengawal di sini? 1 bulan? 1 tahun? Aku bahkan sudah hapal wajah kalian sejak aku masuk ke rumah ini. Apa menurut kalian, aku orang yang tidak bertanggung jawab?” ujar Xiao Jun kalem meskipun gemas dengan ketakutan para pengawal itu seakan tidak mengenalinya.
“Hamba mohon ampun tuan muda, tapi jika tuan besar tahu… kami pasti dihukum. Mohon tuan muda tidak menyulitkan kami.” Seorang pengawal lebih berani bersuara, ia lebih takut mati ketimbang mengikuti kata hatinya membantu Xiao Jun.
“Apa kalian pikir hanya tuan besar saja yang bisa menghukum kalian? Aku bahkan bisa membunuh kalian saat ini juga! Xiao Jun mempertegas posisinya, ia tidak bercanda terhadap ancamannya. Semua pengawal itu bersujud dan tidak berani menatap wajah Xiao Jun.
“Sebagai pengawalku, aku minta kalian bersikap baik. Di masa depan, akulah tuan besar kalian.” Demi menunjukkan kekuatan, Xiao Jun terpaksa menghalalkan cara intimidasi kepada mereka. Terkadang orang lebih
“Maaf tuan muda, ponsel anda ada pada saya. Tanpa mengurangi rasa hormat, hamba mohon tuan tidak menyalah gunakan kesempatan. Mohon tidak mempersulit kami, masih ada anak dan istri yang jadi tanggungan kami, jika tuan besar menghukum kami maka kasihanilah nasib orang-orang yang kami cintai.”
Xiao Jun tersenyum lirih, ia paling mengerti perasaan itu jauh sebelum mereka berkorban, ia sudah mati-matian berkorban untuk ibu dan saudaranya sejak kecil.”Kalian bicara soal pengorbanan pada orang yang tepat. Tanpa dijelaskanpun aku paham betul kondisinya, tidak akan ada seorangpun yang boleh mati karena aku. Berikan
ponselku, aku hanya pakai sebentar lalu kembalikan padamu. Akan kuhapus semua memrorinya untuk menghilangkan bukti rekam jejak. Itu tidak sampai membuatmu kesulitan kan?”
Pengawal itu mulai menaruh kepercayaan pada Xiao Jun, tanpa ragu ponsel yang ia amankan telah berpindah tangan pada pemiliknya. Xiao Jun mengibaskan tangan menyuruh para pengawalnya keluar dari ruangannya. “Tunggu di luar sebentar, tuan besar tidak akan tahu tenang saja.”
Setelah menyingkirkan mereka, hanya ada Xiao Jun dan ponsel yang belum sempat ia lihat sejak tadi malam. Ratusan miscal dan inbox dari Weini membuat hati Xiao Jun sangat terpukul, gadis itu pasti sangat kelabakan tanpa kabarnya. Ia segera menghubungi Weini tak peduli jam berapa di sana dan sedang apa ia di sana.
Berkali-kali mencoba namun tidak ada tanggapan, Xiao Jun menduga kekasihnya pasti tengah syuting. Gedoran pintu di luar mulai mengusiknya, padahal ia belum berhasil menghubungi Weini.
“Tuan, mohon jangan terlalu lama. Kami bisa ketahuan tidak menjaga anda, tuan besar bisa curiga.” Pekik seorang pengawal dari luar.
“Ya, sebentar lagi.” Balas Xiao Jun dengan nada keras, ia harus berteriak agar suaranya bisa menembus ruangan.
Tidak ada pilihan lain, sebenarnya Xiao Jun ingin mendengar suara Weini namun apa daya telponnya tidak tersambungkan. Ia mengetik teks pesan sebagai pilihan terakhir dengan resiko tidak akan membaca balasan Weini. Ponsel itu harus kembali diserahkan pada pengawalnya, dan ia harus mencari kesempatan lain untuk menghubungi Weini.
Sayang, apa kabarmu? Maaf baru berkabar, aku kembali ke Hongkong tanpa sempat berpamitan denganmu. Ada masalah yang harus ku selesaikan di sini, tolong jaga dirimu baik-baik, jangan telat makan dan jangan menangis. Percaya padaku, secepatnya kita akan bertemu. Aku pasti kembali untukmu. Setelah baca pesan ini, jangan dibalas ya… tunggu aku menghubungimu, sementara ini ponselku tidak akan aktif. I keep my love for you, trust me…
Pesan itu sukses terkirim dari WA, Xiao Jun menepati perkataannya dengan mengembalikan ponsel itu dalam pengawasan pengawal. Sebelum ia menyelamatkan Xin Er, ia belum bisa meninggalkan tempat ini meskipun peluangnya besar untuk kabur.
***
Ini tentang dia…
Yang tak mampu kulihat secara nyata namun ada dan berada dekat di sini, hatiku.
Ini tentang cinta…
Yang harus kuperjuangkan walau nyawa taruhannya, namun aku terpangku diam untuk sementara.
Ini tentang rasa…
Yang tak mampu kubendung kala rindu menembus ke sukma, menikam dengan belenggu ketika tak mampu bersatu karena raga yang terpisah jauh.
Ini tentang aku…
Sang pemilik raga dan rasa, yang tahu kepada siapa cinta ini berlabuh dan harus bagaimana memperjuangkanmu.
_Quote of Xiao Jun_
***