
“Tempat apa ini gelap sekali? Tuan tidak apa-apa?” Lau mencemaskan tuannya, saking gelapnya ruangan hingga mereka tak bisa saling melihat sekeliling.
“Tidak apa-apa, ada yang bawa ponsel? Tolong hidupkan senternya.” Seru Xiao Jun, ia sendiri tidak membawa alat komunikasi itu karena tahu akan menghadapi situasi yang sulit dan tak ingin beresiko kehilangan benda itu saat berkelahi.
Tiga orang pengawal Wen Ting menyalakan senter dari ponsel mereka, salah satunya memberikan pada Xiao Jun agar lebih leluasa memimpin jalan. Koridor sempit yang hanya bisa dilalui dua orang dalam satu baris itu cukup panjang dan pengap. Sepanjang kaki melangkah, Xiao Jun menaruh perhatian dan waspada lantaran khawatir ada jebakan di tempat itu. Sampai ia menemukan ujung koridor yang tampak ad seberkas cahaya di depannya.
“Kalian tunggu di sini, aku dan pengawalku yang akan meneruskan ke sana.” Perintah Xiao Jun pada pengawal Wen Ting.
Xiao Jun melangkah penuh awas, jika ia menuruti rasa takutnya mungkin saja ia akan langsung menghentikan pencarian ini. Selama ia dibesarkan di rumah ini, tidak pernah terpikirkan bahwa Li San mempunyai ruang bawah tanah yang dirahasiakan dari jangkauan siapapun selain dirinya. Xiao Jun akhirnya sampai pada seberkas cahaya lentera yang remang-remang itu, seketika itu pula ia terkesiap mendapati dua tubuh tergeletak di lantai. Salah satunya adalah orang yang memang dicarinya.
“Ayah!” Pekik Xiao Jun kencang lalu berlari kencang mendekati tubuh Li San yang tak sadarkan diri. Ia berjongkok di samping tubuh itu, rasa takut menjalari hati Xiao Jun. Tubuh Li San bersebelahan dengan tubuh seorang pengawal yang tampaknya sudah tewas bersimbah darah. Xiao Jun bergegas memeriksa nadi Li San, dan ia bisa menghela napas lega lantaran masih ada denyut nadi yang terasa berdetak lemah.
“Tuan, ini pengawal setia tuan besar. Tampaknya terjadi perkelahian hebat di sini sehingga pengawal andalan tuan besar jadi korban.” Gumam Lau sedih melihat rekan pengawalnya meninggal mengenaskan dalam tugas.
Xiao Jun mengangguk lemah, “Kamu urus mayatnya, aku yang urus tuan besar. Kita bawa mereka keluar dari sini.” Perintah Xiao Jun tegas. Ia kemudian memapah tubuh Li San ke punggungnya, begitupula dengan Lau yang harus menggendong mayat rekannya seperti yang lakukan Xiao Jun. Xiao Jun sempat memandang sekilas tempat ini, sekilas tidak ada yang istimewa, hanya sebuah ruangan yang terlihat kosong saking luasnya namun minim perabotan.
Mereka berjalan menuju jalan keluar dan tiba di tempat para pengawal Wen Ting berdiri menunggu. Xiao Jun tak habis pikir, mengapa Li San bisa masuk namun tidak bisa keluar? Padahal ini adalah tempat rahasia yang jelas ia ketahui benar cara masuk dan keluarnya. Dan rasa penasarannya terjawab ketika ia beserta rombongannya sampai di depan pintu yang mereka masuki tadi.
“Tidak bisa terbuka, tuan. Sepertinya terkunci otomatis dari luar.” Lapor seorang pengawal Wen Ting yang gagal membuka pintu itu.
Xiao Jun bergeming, sementara ini belum ada yang bisa ia lakukan. Untung saja ia sudah mewanti-wanti plan B sehingga tidak mati konyol terjebak di sini. “Kita tunggu sampai tuan Wen Ting membukakan pintu dari luar. Sementara itu kita bersiap, begitu pintu terbuka segera lompat keluar sebelum tertutup lagi.” Perintah Xiao Jun.
Tubuh Li San yang dipapahnya terasa bergerak lemah, Xiao Jun terkejut menyadari reaksi dari ayah angkatnya itu.
“Jun, apa itu kamu?” Desis Li San lemah.
Xiao Jun lega mendengar suara Li San meskipun pelan setidaknya tuan besar itu masih hidup. “Ayah, bertahanlah sebentar lagi kita keluar.”
“Jun, pintunya sudah dirusak. Kita tidak bisa keluar….” Desis Li San lemah.
“Tenang saja ayah, aku pasti membawamu keluar dari sini. Ayah jangan banyak berpikir, bertahanlah sampai dokter memeriksa kondisimu.” Jawab Xiao Jun yang begitu mencemaskan kondisi ayah Weini itu.
Selang tak begitu lama setelah Xiao Jun menenangkan Li San, terdengar derit pintu dan getaran yang sama seperti yang mereka rasakan ketika masuk. Wen Ting pasti sudah menekan bola mata naga sesuai instruksi Xiao Jun. Seberkas cahaya terang dari depan mulai terlihat, Xiao Jun ancang-ancang untuk melompat sesuai perhitungannya.
“Semuanya lompat!” Teriak Xiao Jun dengan keras yang disusul dengan lompatan secepat kilat dari mereka.
***
“Nona muda….” Sapa seorang pelayan yang langsung membungkuk hormat dengan girang di hadapan Grace.
Grace mengalihkan fokus dari cemilan kepada pemilik suara yang tak asing itu, wajahnya berbinar seketika. “Kamu masih kerja di sini? Ah syukurlah, cepat bawakan aku baju ganti. Aku gerah memakai kostum ini, membuatku terlihat seperti gadis bodoh.” Gerutu Grace yang merasa seperti melakoni lawakan garing, di mana ia didandani menjadi pengantin hanya untuk sandiwara drama laga dan bukan adegan romantis.
“Kamu tak nyaman dengan pakaian itu ternyata, maafkan aku tidak peka bahkan tidak menawarimu berganti pakaian.” Ujar Liang Jia yang tiba-tiba muncul di hadapan Grace.
Spontan Grace berdiri mengangguk hormat pada tantenya itu, ada rasa canggung serta rasa bersalah karena penyebab kekacauan di kediaman Li ini adalah ulah ayah dan kakaknya.
“Hormat pada tante. Ng… Saya tidak … Ng maafkan saya atas kekacauan ini.” Ujar Grace setelah bersusah payah mengumpulkan keberanian dan melontarkan pernyataan maafnya walau terbata-bata.
Liang Jia tersenyum tulus kemudian meraih tangan Grace untuk digenggam. Perhatian itu menggetarkan hati Grace, ia tidak menyangka masih mendapat perlakuan baik bahkan diberi tempat berlindung oleh wanita itu. Setelah apa yang dilakukan ayah dan kakaknya, ternyata Liang Jia tidak menyimpan kebencian padanya.
“Jangan takut, aku tidak membencimu. Justru aku sangat berterima kasih padamu, atas kebesaran hatimu mengikhlaskan Jun untuk gadis yang dicintainya.” Gumam Liang Jia lembut, suaranya menenangkan serta
perlakuan hangatnya sangat keibuan membuat Grace nyaman.
Grace mengangguk pelan, “Cinta mereka sangat kuat, aku tidak tega menjadi perusak hubungan mereka. Lagipula aku sadar Jun tidak akan pernah mencintaiku.” Desis Grace lirih, ia tak merasa tersakiti lagi mengungkapkan semua itu. Kehadiran Stevan dengan cinta tulusnya telah mengobati luka hati Grace akibat cinta bertepuk sebelah tangan itu.
“Tante, Weini adalah putrimu. Dia dan Xiao Jun….” Ungkap Grace yang kemudian dipotong oleh Liang Jia.
“Aku tahu, dia baik-baik saja kan? Dia pasti memperlakukanmu dengan baik juga meskipun tahu kamu mencintai Jun dan mungkin jadi penghalangnya.” Gumam Liang Jia dengan senyum lembutnya.
Grace ikut tersenyum, “Ah, iya… Tante sudah tahu tentang itu. Ya, dia sangat baik bahkan saat aku tidak menyukainya. Dia mempertaruhkan nyawa demi menolongku, aku merasa berhutang budi padanya.” Grace mengakui perasaannya serta rasa bersalahnya pada Weini.
Liang Jia mempererat genggamannya pada tangan Grace, naluri keibuannya membuat ia lebih memerhatikan Grace yang juga tumbuh besar dengan kurang kasih sayang ibu. “Sudahlah, yang lalu biarkan berlalu. Setelah ini kita berangkat menjemput Yue Hwa, aku tak sabar ingin bertemu dengannya lagi.”
Grace mengangguk setuju, ia pun sependapat dan berharap keluarga yang telah tercerai-berai puluhan tahun itu segera berkumpul kembali. Dalam momen kehangatan dua wanita itu, tiba-tiba bunyi pintu terbuka mengalihkan pandangan mereka. Dua pasang mata wanita itu spontan berkaca-kaca melihat siapa yang mendatangi mereka.
***
Yang kangen Weini mana suaranya? Diselang-seling ya kemunculan karakternya, banyak konflik yang tumpang tindih soalnya hehe… Pokoknya mohon dukungan like, komen dan votenya ya man-teman. Beberapa hari ini
hanya bisa update satu episode, author kurang fit waktu itu. Nggak mungkin dipaksakan nulis sih, takut ngaco ceritanya. Ha ha ha…. Kalau lagi fit dan sempat pasti update lebih dari satu kok. Sip, akhir kata ditunggu saja
kelanjutannya besok. Thank you ^^