OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 436 PERGILAH!



"Awas nona!" Pekik Haris yang langsung sigap mengeluarkan jurus sihir perisai ketika melihat serangan Chen Kho begitu nyata tertuju pada Weini.


Weini terkesiap, ia tak menyangka Haris maju begitu cepat. Kini persengitan kembali terjadi antara Chen Kho dan Haris, rasanya seperti mengulang kisah lama yang baru beberapa hari terjadi.


"Kamu rupanya punya cadangan nyawa, apa kamu tidak jera? Minggir! Urusanku dengan gadis itu, jangan halangi aku!" Bentak Chen Kho yang kini bukan lagi dirinya.


Haris tersenyum tenang, "Bahkan saat itu saja kamu tidak menang dariku, kamu hanya menang karena licik." Gumam Haris setengah menyindir.


Chen Kho terbahak, suara tawanya terdengar menakutkan. "Menyingkir! Jangan campur urusanku! Atau kamu memaksaku melukaimu."


Haris tidak mau kompromi, ia langsung menyerang Chen Kho hingga memunculkan pantulan sinar biru. Xiao Jun tidak membiarkan ayahnya berjuang sendiri lalu ia mendekat ke samping Haris dan mengerahkan tenaganya.


Langkah Chen Kho mundur satu langkah saking sulitnya menahan serangan dari dua orang sekaligus.


Weini jelas tahu dua lawan satu itu mulai tidak berimbang, jika Xiao Jun dan Haris meneruskan lagi maka kemungkinannya Chen Kho akan mati.


Ia berlari menghampiri Haris, namun Su Rong mencegatnya, Weini tak peduli dan ia pun tidak kesulitan menepis kekuatan Su Rong yang tidak seberapa.


"Ayah, Jun, sudah hentikan. Dia bisa mati... Dia tidak boleh mati." Pinta Weini memelas.


Haris melirik ke Weini sekilas dan perhatiannya teralihkan. "Nona, dia berbahaya, dia licik. Minggirlah, aku bisa tangani dia."


Xiao Jun tidak merespon Weini, ia sebenarnya agak kesal dan kecewa karena kekhawatirannya terhadap gadis itu terkesan berlebihan setelah melihat kondisinya yang justru lebih melindungi musuh.


Weini tidak tega lagi melihat mulut Chen Kho yang mengeluarkan darah. Ia yakin kekuatan Haris telah melukainya, dan tanpa menunggu persetujuan Haris lagi, Weini turun tangan untuk menghentikan serangan Haris dan Xiao Jun.


"Nonaaa!" Pekik Haris tak percaya melihat Weini justru membantu Chen Kho.


"Ayah, kau melukai fisiknya. Bukan dia yang salah, ada yang memperalatnya." Pekik Weini yang masih berdiri di pihak Chen Kho untuk menangkis serangang Xiao Jun dan Haris.


Haris tidak tega lagi, ia tak mau melukai Weini hingga ia menurunkan tangannya. Dalam sekejap semua terhenti, tubuh Chen Kho ambruk ke lantai hingga membuat Weini terpekik.


"Sepupu... Kau tidak apa-apa? Ayo kita pergi dari sini." Ujar Weini panik melihat mulut Chen Kho masih mengeluarkan darah.


Xiao Jun mengepalkan tangannya, ia merutuki dirinya yang merasa cemburu di saat tidak tepat. Tetapi ia memang merasa tidak rela ada pria lain yang diperhatikan Weini bahkan bisa mengalihkan perhatian Weini darinya.


Chen Kho tertatih, tangannya mengepal di depan dadanya yang terasa nyeri. Ia menatap Weini dengan lembut dan Weini yakini bahwa Chen Kho telah kembali seperti semula, bukan lagi dalam pengaruh sihir. Weini tersenyum lembut pada Chen Kho, mengulurkan tangannya untuk membantunya berdiri.


"Sepupu, ayo kita pergi dari sini." Ajak Weini mengulangi permintaannya tadi.


Chen Kho terdiam menatap Weini, ia benci melihat air mata gadis itu yang tengah mengasihaninya. "Pergilah, cepat pergi! Aku tidak mau melukaimu." Ujar Chen Kho tertatih, luka dalamnya cukup parah. Bukan karena serangan dari Haris tetapi karena ia juga berontak dari pengaruh sihir jahat yang merasuki tubuhnya. Akal sehatnya berusaha keluar dari kesurupan itu, namun kekuatan itu terlanjur mendarah daging dalam raganya.


Weini masih keras kepala, ia tak meladeni pinta Chen Kho tapi justru menyeret tangannya agar keluar bersama. Chen Kho terharu melihat perhatian tulus yang diberikan Weini, betapa gadis itu sangat peduli padanya meskipun pernah disakiti. Pria itu menitikkan air matanya, dengan berat hati dia menepis tangan Weini, lalu mengerang dengan nyaring dan mendorong tubuh Weini hingga terpelanting hanya dengan teriakan.


"Pergiii!" Pekik Chen Kho. Saat itu pula kesadarannya kembali dikuasai, tubuhnya menggelinjang lalu mulai mengumpulkan tenaganya.


Tubuh Weini yang terpelanting itu dengan gesit ditangkap Xiao Jun, meskipun cukup kuat tubrukan tubuh mereka tetapi Xiao Jun tetap menahannya. Ia tak ingin Weini terluka sekalipun bisa melukai dirinya sendiri.


Seisi ruangan itu terasa berguncang, seiring tenaga Chen Kho yang terkumpul dan siap melakukan serangan lagi. Tempat Haris dan yang lainnya berdiri pun mulai menunjukkan keretakan.


"Ayo pergi, tempat ini akan ambruk." Pekik Haris waspada.


"Kalian jalan dulu, bawa nona keluar." Timpal Haris yang masih berjaga-jaga agar Chen Kho tidak melukai mereka.


"Jun, jangan lukai dia." Pinta Weini lirih.


Xiao Jun tak menjawab lagi, ia mengambil keputusan sendiri dengan menotok Weini hingga diam. Akan sangat merepotkan jika Weini kembali berontak dan turun dari gendongannya demi pria lain.


Chen Kho melemparkan sebuah serangan yang ditujukan pada Weini. "Jangan pergi, ku habisi kamu!" Pekik pria yang telah dirasuki sihir hitam itu. Wajah Chen Kho menampakkan sosok makhluk menyeramkan yang tak mirip wajah manusia.


Serangan itu ditangkis Haris yang memang sudah bersiap melindungi. Haris sebenarnya shock melihat wajah menyeramkan yang menguasai tubuh Chen Kho, sekarang ia mengerti mengapa Weini sangat ingin menolongnya. Haris tak berani menyerang balik, ia tahu jika dilakukan maka berpotensi melukai fisik Chen Kho bahkan bisa membuatnya mati.


"Ayah, cepat!" Xiao Jun menoleh ke belakang, mengingatkan Haris agar cepat menyusul mereka.


Su Rong sudah membuka sekat transparan yang melindungi rumah itu dari air. "Tuan, keluarlah dulu. Saya akan menunggu tuan Haris." Seru Su Rong yang membuka jalan untuk Xiao Jun.


Xiao Jun mengangguk, ia bergegas masuk dalam lorong transparan yang dilewatinya waktu datang. Su Rong menggerakkan sabuk pinggangnya yang terkoneksi dengan alat itu hingga terjadi dorongan kuat yang menghisap tubuh Xiao Jun dan Weini keluar dari sana.


"Tuan Haris, cepat!" Teriak Su Rong yang panik saat melihat tempatnya berdiri mulai retak.


Haris menyaksikan Chen Kho melukai tubuhnya sendiri dan bergelut melawan sesuatu yang ada dalam dirinya. Haris ingin menolongnya namun tidak tahu harus dengan cara apa. Menyerangnya sama saja dengan melukai fisik pria itu karena sesuatu yang ia lawan ada di dalam dirinya. Goncangan dasyat mulai terasa mengguncang badan Haris.


"Pergi! Cepat pergi!" Teriak Chen Kho, ia mulai sadar namun tak bisa mengendalikan diri.


"Ayo kita pergi dulu dari sini. Aku akan berusaha membantumu." Ujar Haris yang bergegas mendekati Chen Kho. Ia tak lagi khawatir terkena tipu muslihat Chen Kho seperti waktu lalu, karena setelah beberapa saat memerhatikannya, Haris mencari titik lemahnya.


"Tidak, jangan mendekat! Dia bisa menghabisimu!" Pekik Chen Kho menolak didekati. Setelah itu menyusul ledakan yang Chen Kho timbulkan hingga guncangan layaknya gempa terjadi.


Haris menjulurkan tangannya untuk Chen Kho di tengah puing yang berjatuhan. Haris mengeluarkan sihirnya untuk melindungi dirinya, namun saat tangan Chen Kho terjulur untuk menyambut pertolongan Haris, tubuhnya justru mengeluarkan percikan api.


Haris terkejut, firasatnya mengatakan bahwa ia tak bisa nekad lebih jauh lagi. "Su Rong, cepat kita pergi." Pekik Haris yang langsung berbalik badan dengan cepat menghampiri Su Rong.


Dua orang itu berlari menuju pintu keluar satu-satunya, reruntuhan semakin nyata dan berlomba dengan Haris dan Su Rong yang menyelamatkan diri.


"Masuk dulu tuan." Perintah Su Rong pada Haris, dan saat Su Rong menyusul masuk ke dalam lorong itu, ledakan dahsyat terjadi tepat saat tubuh Su Rong masuk sepenuhnya dan menutup pintu.


Duuuaaaaarrr...


Haris dan Su Rong saling pandang saat tubuh mereka terhisap menuju tempat keluar. Tanpa perlu melihat betapa hancurnya tempat yang baru saja mereka tinggalkan itu, mereka tahu bahwa Chen Kho pasti tak berhasil menyelamatkan diri dari ledakan itu.


Istana di bawah laut itu runtuh, air laut mengerubungi setiap celah yang bocor ke dalamnya. Pun sama halnya dengan lorong yang masih mengantarkan Haris dan Su Rong keluar, pipa transparan itu mulai terkontaminasi air laut dan daya sedotnya berkurang.


Su Rong mulai kesulitan bernapas, suplai oksigennya berkurang banyak. Posisi Haris ada di atas Su Rong, ia mulai panik melihat pengawal itu sesak napas.


Sementara itu lorong yang masih dilalui Haris mulai hancur dari bawah dan mendekati tempatnya berada kini.


🌹🌹🌹


Hmm... Maaf ya guys, kali ini Chen Kho tidak bisa diselamatkan lagi. Mohon diampuni dosanya yang bikin kita kesal sejak dia muncul.


Dia harus berakhir begini, tanpa jodoh dan tanpa kesempatan memperbaiki dirinya.


Bye Bye Li Chen Kho 🌹🌹🌹❤️❤️❤️