
Dua hari berlalu setelah kemunculan Weini di muka publik, seluruh dunia memberitakannya dan tentu saja seperti yang Weini harapkan, tidak ada kendala berarti. Semua tampak terkendali sesuai sihir yang tercetus dari pikirannya. Kini ia tengah bersantai menikmati siangnya dengan minum teh bersama Haris.
"Ayah, menurutmu sampai kapan sihir itu akan berlaku?" Tanya Weini yang kepikiran tentang masa berlaku sihir yang ia kerahkan untuk mempengaruhi massa waktu itu.
Haris tampak berpikir kemudian menggeleng, ia pun tak bisa mendapatkan jawabannya.
"Saya pun kurang mengerti Hwa, ini sungguh kasus baru bagi saya. Belum pernah saya lihat ada sihir yang bisa menembus jarak dan dimensi. Hmm... Kamu hanya mengontrol mereka lewat pikiran, tapi bukan hanya orang-orang di tempat itu yang terpengaruh, tapi sampai ke segala penjuru. Kita hanya bisa mengamati saja, sejauh mana sugesti itu akan tertanam di benak mereka."
Weini manggut-manggut, ia bisa mengerti kendala Haris. Kekuatannya yang baru inipun di luar perkiraan Weini, tak disangka bisa muncul di saat itu. "Jun juga bilang di sana sihirku sangat terasa, dia yang peka dan tidak bisa terpengaruh. Sama halnya dengan ayah di sini. Apa mungkin orang-orang yang tidak terpengaruh hanya mereka yang juga punya kekuatan seperti kita, ayah?"
"Mungkin saja, tapi dunia ini sangat luas, kita tidak bisa tahu semua hal tentang siapa yang juga memiliki kekuatan." Gumam Haris, ia tahu arah pembicaraan Weini hendak ke mana.
"Aku khawatir keberanianku kemarin malah menyinggung mereka yang memilih menyembunyikan identitas dan kekuatannya. Mereka pasti menganggap aku sombong, atau mungkin saja ingin menguji kemampuanku. Aku harus bagaimana ayah, ini sama sekali tidak terpikir olehku." Weini agak cemas, ia tak ingin berurusan dengan ahli sihir manapun di muka bumi, apalagi sampai harus adu kekuatan jika mereka tidak terima dengan kemampuan Weini yang tampak luar biasa.
Haris tersenyum tenang, senyuman yang bisa meredakan kepanikan Weini.
"Jangan terlalu banyak berpikir, tenanglah. Yang belum pasti terjadi jangan dibuat beban. Kekuatan pikiranmu baru muncul, dan kamu juga belum tahu bagaimana mengendalikannya. Sebaiknya terus pikirkan yang baik baik saja, agar hal buruk tidak terjadi." Ujar Haris memberi nasehat terbaiknya.
Weini perlahan mengangguk paham, senyuman pun terpancar dari wajahnya. "Aku mengerti, ayah. Terima kasih."
❤️❤️❤️
Bukan kali pertama Grace dibuat panik oleh Stevan yang tiba-tiba tidak bisa dihubungi. Kali ini pun pria itu kembali berulah dan bahkan lebih parah dari sebelumnya, sejak kemarin ponselnya tidak aktif dan tidak meninggalkan pesan sama sekali pada Grace. Tentu saja Grace cemas, pria yang perhatian dan tampaknya tidak akan menyakitinya itu ternyata bisa berbuat ulah seperti ini. Sekarang Grace kelabakan mencarinya, dan menyesal karena tidak mempunyai nomor orang orang terdekatnya.
"Apa kamu tidak tahu nomor managernya juga Fang?" Tanya Grace tak sabaran saking gusarnya, ia menjadi emosian dan imbasnya tentu saja Fang Fang.
"Aku tidak tahu, nona. Tapi Dina pasti tahu." Jawab Fang Fang takut takut.
"Dina...." Grace segera menyalakan layar ponselnya, dalam hatinya pun tak henti merutuki dirinya yang bisa melupakan Dina di saat ini.
Panggilan Grace mencoba terhubung dengan manager Weini itu.
"Halo Dina, kamu tahu Stevan di mana?" Tanya Grace tak sabaran begitu panggilannya terhubung.
"Stevan? Tidak... bukankah harusnya kamu yang lebih tahu tentang dia?" Dina malah bingung dan balik bertanya, ia tidak tahu menahu dan jarang lagi berkomunikasi dengan Stevan semenjak mereka berdua punya pasangan masing-masing.
Seketika itu juga hati Grace terasa runtuh, tidak ada siapapun yang tahu di mana keberadaan pria itu sekarang. Rasanya tidak ada harapan lagi, Grace tak tahu hendak mencari ke mana.
"Oh... baiklah, makasih." Jawab Grace lemah kemudian mengakhiri panggilan itu.
Dina ikutan bingung, terlebih saat mendengar suara lemah Grace. "Apa aku salah jawab?" Ia pun ikut penasaran lalu mencoba mendial nomor Stevan.
"Eh? Tidak aktif? Tumben bener itu anak." Gumam Dina yang akhirnya ikut cemas seperti Grace.
❤️❤️❤️
Di suatu tempat yang sangat jauh dari Jakarta, orang yang tengah membuat panik orang terdekatnya tampak berdiri di depan pintu.
Demi sampai ke tempat ini, ia diam-diam memesan tiket pesawat dan terbang dengan penerbangan paling awal. Tanpa pemberitahuan kepada orang yang hendak ia kunjungi, pun tanpa sempat berpamitan pada yang ia tinggalkan.
Tangannya meraih bel yang ada di dinding, dengan satu sentuhan sudah berhasil membunyikannya ke dalam rumah. Terdengar ia menghela napas, seakan jengah dengan keadaan yang mau tidak mau harus ia jalani ini. Matanya menatap pada ujung sepatunya, resah menunggu respon si pemilik rumah. Untung saja penantian itu tidak lama seperti yang ia duga, pintu itu bergerak dan terbuka menyambutnya.
Seorang wanita paruh baya yang cantik dan berpenampilan modis meskipun usianya tak lagi muda, semula tampak bingung dengan kedatangan tamu yang ia duga. Hingga ketika matanya beradu tatap dengan seorang pria muda yang sangat ia kenali dan rindukan, barulah senyumannya terukir dari bibirnya.
"Stev...." Lirih wanita itu, matanya mulai berkaca-kaca, betapa ia merindukan sosok pria muda itu sekian lama. Dan tak pernah ia sangka akan ada hari di mana pria itu datang mencarinya.
Stevan terdiam sejenak, ingin membalas panggilan itu namun lidahnya masih terasa kelu. Berat sungguh... tapi saat melihat wanita itu ada si hadapannya, amarah yang ia pendam selama ini pun mulai memudar, berganti rindu yang ingin segera diekspresikan dalam bahasa tubuh.
Wanita yang dipanggil 'Ma' itu bergegas menggeser pintu hingga terbuka sepenuhnya, ia berharap bisa segera memeluk putranya namun diurungkan niatnya. Takut jika Stevan menolak lagi seperti dulu.
Mereka berdiri dalam diam, tertegun dan saling menatap dengan mata berkaca-kaca. Hingga salah satu dari mereka mengalah dalam aksi diamnya dan memecah kesunyian dalam sebuah perkataan.
"Masuklah, kita bicara di dalam saja." Lirih wanita itu, kemudian berjalan masuk ke dalam rumahnya, berharap Stevan mengikuti jejaknya.
Stevan diam dan mengikuti langkah si pemilik rumah, semula ia ragu untuk duduk, namun mamanya memberikan kode agar mereka bicara dalam suasana yang lebih tenang dan duduk di sofa ruangan itu.
"Apa kabarmu nak? Sudah lama sekali semenjak hari itu...." Lirih wanita itu mengenang masa lalu saat Stevan berontak dan tegas meninggalkannya.
Stevan agak menunduk, tanpa ia sadari jemarinya saling meremas dari kedua tangannya. Ia tak ingin mengenang apapun di masa lalu, kedatangannya bukan untuk bernostalgia dengan kepahitan hidup yang enggan diingat lagi.
"Ma, sudahlah aku tidak mau mengungkit itu lagi." Tegas Stevan.
Mama Stevan terpaku, raut wajahnya pun seketika tampak sedih namun ia paksakan untuk tersenyum. "Ah... iya, maafkan mama."
Beberapa menit mereka terdiam, mencari kata kata yang tepat untuk memulai obrolan dan Stevan yang lebih dulu tak tahan diri. Toh, memang ia yang datang kemari mencarinya, jika bukan karena permintaan sang kekasih, mungkin sampai saat ini Stevan tak akan tergerak untuk mencari lagi kedua orangtuanya.
"Rupanya masih sama saja, tidak ada yang berubah oleh waktu. Kalian masih saja hidup terpisah." Gumam Stevan blak blakan.
Wanita paruh baya itu tampak serba salah, bola matanya berputar mencari jawaban yang tepat.
"Ah... itu...."
"Sudahlah ma, aku datang bukan untuk membahas itu. Maaf kedatanganku mendadak, ada hal penting yang ingin ku mohonkan padamu." Ujar Stevan dengan penuh kesungguhan hingga bisa dirasakan oleh ibunya.
"Apapun itu katakanlah, mama akan melakukannya untukmu." Seru wanita itu serius, ia sudah sangat bahagia bisa bertemu kembali dengan putra semata wayangnya, dan Stevan pula yang datang mencarinya.
Hubungan Stevan dan kedua orang tuanya memang cukup pelik, ia lari dari mereka lantaran tak sanggup melihat rumah yang bak neraka. Tidak ada kehangatan keluarga di dalam rumah, yang ada selalu dipenuhi konflik dan cekcok kedua orang tuanya.
Hanya demi Grace, demi mewujudkan impiannya yang ingin mengenal dan mendapatkan restu dari orang tuanya yang gagal membina keharmonisan rumah tangga. Yang tidak Stevan harap dijadikan teladan bagi Grace, ia berimpian mempunyai rumah tangga yang damai, hidup akur dan tenang hingga maut memisahkan, tak seperti yang terjadi pada dua orang terdekatnya itu.
Kini wanita itu menerimanya dengan riang hati, bersedia mengabulkan apa yang ia inginkan, tapi Stevan tak yakin apakah itu akan terjadi setelah wanita itu mendengar apa yang ia mau darinya.
"Aku ingin mengenalkan seorang gadis padamu, dia sangat ingin mengenalmu. Dan dia adalah gadis yang aku pilih untuk menjadi pendamping hidupku."
Seulas senyum mengembang penuh dari bibir mama Stevan, kabar bahagia yang tak ia sangka akhirnya bisa didengar dari putranya. Stevan mengerutkan dahinya, tak mengira kalau ibunya bisa tampak bahagia. Ia pikir wanita itu akan berang dan tidak mau memenuhi keinginannya.
"Tentu, nak. Kenalkan pada mama, dan ceritakan seperti apa calon istrimu." Pinta wanita itu antusias.
Stevan ikut tersenyum lega, namun masih ada yang terasa mengganjal di hatinya. Ia menatap ibunya dengan lekat, kemudian jawaban yang dinantikan ibunya terucap dengan tegas.
"Dia gadis yang baik dan spesial, dia besar di Amerika namun berdarah campuran Asia. Aku akan membawanya ke sini menjumpaimu. Tapi aku mohon, jangan ungkit apapun di masa lalu. Aku tidak mau dia terbebani dengan kisah surammu. Aku sungguh berharap bisa mempunyai kehidupan pernikahan yang harmonis dan bisa mengayomi anak-anak kami, memberi mereka kebahagiaan dan rasa aman." Tegas Stevan, meskipun ia serius namun terdengar kegetirannya pula. Ia tak bermaksud mengungkit kesalahan orang tuanya, tapi lebih tidak ingin lagi jika ia gagal menjadi orang tua di kemudian hari.
Wanita itu menunduk sedih, menyesali apa yang telah ia perbuat di masa lalu.
"Aku tahu kamu sangat terluka karena kami, namun begitu kamu pergi dari kehidupan kami, aku merasa itulah hukuman terberatku. Aku dan ayahmu memang memutuskan untuk hidup terpisah tapi kami tidak sungguh berpisah. Masih ada ikatan pernikahan di antara kami. Tapi, dengan kepulanganmu saat ini dan dengan permohonanmu itu, Mama sepenuhnya sadar bahwa mama dan papa memang gagal memberi contoh yang baik untukmu. Tenang saja, mama tahu apa yang harus dilakukan. Ajak gadismu kemari, kita akan menyambutnya sebagai keluarga."
Stevan tampak berbinar-binar sekarang, masih ada sisa kebaikan dari ibunya dan ia sangat terharu.
"Terima kasih, mama...."
❤️❤️❤️