
Lau masih sesengukan ketika Xiao Jun mendekatinya, pria tua yang sejak awal diminta menghandel drone untuk mengabadikan momen barusan dari udara itu terharu hingga tak malu menitikkan air mata. Ia mengusap butir di ujung matanya kemudian menunduk hormat pada sang majikan.
“Maaf tuan, aku tidak bermaksud mengkhianatimu. Tadi tuan Wen Ting bilang semua ikut andil, dan ini bagianku.” Ujar Lau dengan sopan dan penyesalan yang amat dalam, ia pun prihatin melihat Xiao Jun harus menjadi badut. Tanpa dikomando, pengawal itu membantu Xiao Jun melepaskan kostum berat itu.
“Sudahlah, aku tidak serius dengan ucapanku tadi paman. Sebaiknya paman tenangkan diri dulu.” Maksud Xiao Jun pasti secara halus meminta Lau untuk membereskan tampangnya sendiri yang sembab dan suara parau akibat menahan tangis.
Lau mengucek hidungnya, “Ng, aku butuh tisu.”
*Tiba-tiba author muncul menyodorkan tisu untuk Lau, pengawal setia dan baik hati itu sangat disukai author ^^
Lau : Terima kasih, Thor. Sana kembali ke asalmu, jangan rusak alur cerita. (Sambil membuang ingus dengan tissue)
Author : ^^
Intermezzo selesai.
Xiao Jun kembali mengenakan setelan formalnya yang ia pakai ketika datang kemari. Suasana hati yang tengah bagus itu membuatnya sering tersenyum. Lau yang sangat mengenal tuan mudanya itupun ikut senang, sudah sangat lama ia tidak pernah melihat senyum bahagia itu tergurat di wajah sang majikan. Seingat Lau, terakhir kali ia lihat Xiao Jun senang ketika melamar Weini.
“Ah, Tuan … aku mulai berpengalaman dengan urusan cinta anak muda. Kelak aku pasti membantumu membuat momen lamaran seromantis ini. Oh, tidak … harus lebih romantis daripada ini.” Sela Lau yang reflek menggoda tuannya.
Xiao Jun tidak berniat menjawab, bahkan ia terus melangkah menuju parkiran dan membiarkan Lau sadar apa yang harus dilakukan tanpa perlu disuruh. Pengawal itu bergegas menuju mobil dan membukakan pintu untuk tuannya. Semula Xiao Jun mengira topik mereka akan selesai begitu saja, nyatanya Lau kembali melanjutkan demi
menuntaskan penasarannya.
“Tuan jangan mau kalah dengan tuan Wen Ting, kelak ketika tuan melamar non Weini, aku bantu pikirkan ide yang lebih bagus daripada ini.” Ujar Lau sembari menyalakan mesin mobil.
Jika bukan Lau yang bicara, Xiao Jun mungkin tidak akan tinggal diam. Saking karena pria tua itu adalah pengawal kepercayaannya, dan tahu segala hal tentang dirinya maka Xiao Jun menyerah juga. Ia bersedia meladeni impian konyol Lau.
“Kalau bisa menikahinya, aku akan melamarnya dengan caraku tanpa campur tangan siapapun paman.” Ujar Xiao Jun tegas.
Lau tersenyum girang, “Aku senang mendengar keoptimisan anda tuan. Tapi ke depannya mungkin harus sedikit bersabar untuk kalian. Anda harus membuat nona Grace menyerah dulu, tuan.”
Xiao Jun menatap ke luar jendela mobil, ia sudah keluar dari area Disneyland meninggalkan sepasang calon pengantin yang masih di dalam. “Bicara tentang dia, kita harus mencari pelayan pengganti untuknya paman. Aku tidak mau tuan besar atau dia yang memilih orang, segera carikan orang kepercayaan kita. Jangan sampai
mereka yang duluan bertindak!”
“Baik tuan muda.” Ujar Lau sigap.
Xiao Jun menerima panggilan masuk dari Li An, belum lama berpisah gadis itu sudah mencarinya dulu.
“Jun, kita ketemu di restoran yang kamu booking ya! Kami bentar lagi ke sana ….” Ujar Li An dengan girang.
Xiao Jun hanya bisa mengiyakan, jadwal kegiatannya hari ini memang sepenuhnya untuk Wen Ting. Kesepakatan bisnis yang berjalan mulus bahkan menguntungkan di luar dugaan telah membungkam Li San, setidaknya tuan besar itu tak berani berkutik menyinggung rekan bisnis kelas kakapnya.
***
Perasaan Xiao Jun lebih dulu meninggalkan area bermain, namun justru Li An dan Wen Ting yang belakangan keluar malah sampai duluan di restoran. Li An melambaikan tangan pada adiknya, di sampingnya sudah duduk dengan gagah sang calon suami. Meskipun agak bingung, Xiao Jun tetap bersikap tenang dan berjalan mendekati meja mereka bersama Lau.
“Kalian ngebut ke sini? Kakak, apa kau tidak takut menaiki mobil dengan kecepatan tinggi?” selidik Xiao Jun, belum apa-apa kakaknya sudah diajak ugal-ugalan oleh Wen Ting.
Li An tertawa kecil, manis sekali senyumnya sembari menggelengkan kepala. “Tidak, malah aku yang suruh dia ngebut. Seru loh Jun, naik mobil kebut-kebutan seperti di film balap.”
Wen ting ikutan tertawa mendengar kepolosan Li An. “Sayang, Xiao Jun sudah hadir, kita mulai makan malamnya ya.” Wen Ting mengkode para pelayan mengantarkan makanan ke meja mereka.
“Paman Lau duduk bersama dengan kami, makanan sebanyak ini tidak mungkin kami habiskan berdua. Xiao Jun tidak mengukur daya tampung perut kami, dia pesan sebanyak itu.” ujar Wen Ting sembari bercanda, pria konglomerat itu punya sifat humoris yang menyenangkan.
Benar saja, para pelayan menyuguhkan dua belas macam menu hidangan dengan porsi sedang yang semula direncanakan untuk makan siang romantis Wen Ting dan Li An. Pantas saja Wen Ting mengundang mereka agar membantu menghabiskan makanan sebanyak itu daripada terbuang mubajir. Seisi restoran sudah dibooking oleh Xiao Jun, jadi makan malam kali ini sangat kentara bernuansa kekeluargaan. Wen Ting menyumpitkan beberapa potong daging ke dalam piring Li An. Mereka berdua tak henti menebar kasih sayang, hingga membuat Xiao Jun tersedak melihatnya – saking canggung.
“Adik ipar, bukankah kamu lebih dulu punya pacar? Kenapa kedekatan kami membuatmu tak nyaman?” tanya Wen Ting heran, ia tahunya Xiao Jun sudah memiliki tunangan dan tahun depan direncanakan menikah. Harusnya pria itu lebih berpengalaman soal cinta.
“Ehem, ceritanya panjang Tuan. Lebih baik kita tidak merusak suasana makan, mari tuan dan nona, saya bersulang untuk kebahagiaan anda berdua.” Lau menyelamatkan tuannya, ia mengalihkan pembicaraan dan mengangkat gelas winenya untuk merayakan hari bahagia pasangan baru itu.
Wen Ting dan Li An mengangkat gelas masing-masing dan minum bersama. Xiao Jun mencoba menikmati suasana serelax mungkin, ia tidak mau merusak moment baik ini gara-gara moodnya.
“Oh ya, adik ipar … aku berencana mengadakan resepsi di sini dan di Beijing. Sebelum kamu sampai tadi, aku sudah minta tanggal lahir Li An untuk mencari hari baik. Dalam waktu paling dekat, hari baik itu minggu depan. Li An bilang minta saranmu saja bagusnya gimana untuk pernikahan adat. Dari pihak keluargaku tidak ada yang
mewakili, di Beijing juga begitu, aku gelar resepsi untuk menjamu relasi serta mewujudkan wedding dream Li An.” Ujar Wen Ting panjang lebar.
“Aku tidak yakin ayahku berkenan dengan resepsi di sini.”
Xiao Jun menatap Li An lekat-lekat, “Kakak, sudah waktunya berterus terang.”
Li An mengangguk tanpa berniat menjawab langsung. Ia membiarkan Xiao Jun mengambil sikap sepenuhnya. Wen Ting menatap Li An dengan raut bingung.
“Tuan Lo Wen Ting, anda sudah tahu sedikit tentang masalah keluarga kami. Status ibu kami di keluarga itu masih seorang pelayan. Jadi, jika kau ingin memaksakan resepsi di sini, aku rasa agak mustahil tuan besar menyetujuinya.”
Xiao Jun menatap Wen Ting dengan tatapan serius, namun pria itu malah berpaling menatap Li An.
“Betul begitu Li An? Jangan kuatir, aku pasti punya cara menyelesaikannya. Besok bawa aku menemui ibumu, aku harus mohon restu melamarmu.” Wen Ting sebenarnya sedikit tahu kerunyaman masalah keluarga Li An, hanya saja ia enggan sok tahu dan bersikap menjaga perasaan dua bersaudara itu. Yang perlu ia lakukan adalah bertindak cepat tanpa banyak mengulur waktu, selagi semua masih sanggup ia kendalikan.
Xiao Jun dan Li An serentak menatap Wen Ting, memastikan bahwa pria itu serius dengan ucapannya. Sepasang bola mata bening milik pria itu memancarkan keberanian, ia terlihat bersungguh-sungguh dengan tekadnya.
***