
Grace menduduki kursi yang sering dipakai Xiao Jun, hanya duduk di sana saja membuatnya tersenyum senang seolah sedang duduk di pangkuan pria itu. Kedua pengawal itu terkecoh, mengira ia berjalan mengikuti mereka
dari belakang. Nyatanya Grace malah mengutak-atik barang Xiao Jun.
“Eh?” Matanya Grace mengerjap saat menatap kotak merah yang mencolok ditutupi kertas. Tangannya reflek meraih benda itu, ia mengernyitkan dahi dan semakin terheran-heran ketika mendapati isinya ternyata sebuah gelang berlian yang sangat indah. Grace mengeluarkan gelang itu dari kotak lalu terpaku mengaguminya.
Lau bergegas menghampiri Grace saat gadis itu hendak mencoba gelang tersebut. “Nona, mohon jangan sembarangan mengambil barang di ruangan ini.” Ujar Lau, ia masih sanggup berlaku sopan memperingatkan Grace yang sudah keterlaluan.
Grace berhenti melingkari pergelangan tangannya dengan perhiasan itu, ia menatap tajam kepada Lau sebelum menuruti perkataan pengawal itu. Grace semakin penasaran, hendak dihadiahkan kepada siapa perhiasan semewah ini? Apa mungkin Xiao Jun sengaja menyiapkan untuknya sebagai kejutan di hari pertama ia masuk kantor? Khayalan Grace membuat perasaannya membumbung tinggi, ia yang mengarang dugaan itu.
“Ehem, pengawal Lau, apa ini hadiah untukku? Aku tak menyangka Xiao Jun yang kelihatan cuek padaku ternyata punya sisi romantis.” Ujar Grace, senyumnya merekah. Membuat Lau tak tega dan serba salah.
“Maaf nona, saya tidak tahu. Yang saya tahu, gelang itu dari nona Li An.” Ujar Lau sekenanya.
Grace seketika manyun, ia terlalu jauh menebak. “Begitu?”
Lau menundukkan kepala, “Harap nona segera bergabung di ruang rapat, tuan muda tidak suka stafnya terlambat.”
Grace beringsut dari tempat duduk, setengah hati beranjak dari ruangan Xiao Jun. Ia benci pekerjaan formal, namun ini semua ia lakukan demi selalu didekat Xiao Jun.
***
Mobil Weini nganggur hari ini, supirnya malah diminta libur lantaran Stevan menawarkan tumpangan dengan mobilnya menuju kantor. Suasana hati aktor itu sedang bagus, ia begitu royal memberikan apapun pada Weini dan Dina. Sayangnya Dina justru sedang mendung di hati, ia tak henti berpikir tentang sesuatu yang penting namun ia lupakan.
“Aarrgghh!” Pekik Dina menggaruk kepalanya dengan kesal, sudah empat kali ia berteriak tak jelas dan marah-marah. Stevan bahkan Weini dibuat melonjak kaget mendengar pekikannya.
“Kenapa kak? Lagi nggak enak badankah?” Tanya Weini kuatir, ia memegang pundak Dina untuk menenangkannya.
Stevan yang mengemudi di depan pun menoleh cemas, namun hanya sesekali lantaran terbagi fokus harus menyetir. “Lu kesurupan apa? Bentar-bentar teriak gaje (nggak jelas), jangan bikin kaget dong.” Keluh Stevan.
Dina menggigit bibir bawahnya, ia pun sadar tingkahnya berlebihan. “Sorry.” Jawabnya singkat.
Weini sebenarnya tahu sikap aneh Dina itu karena apa, rupanya ini salah satu alasan Haris tidak mau sembarangan memakai jurus sihir pelupa. Kekacauan psikologis akan mengguncang orang yang jadi korban mantera ini, dan Dina tengah mengalaminya. Tetapi Weini tak mengerti mengapa Haris perlu melakukan itu pada manajernya?
***
Studio disetting seperti gedung resepsi, Bams rela menggelontorkan uang pribadinya demi dekorasi itu. Tak hanya itu, ia menyiapkan masakan nasional yang disajikan prasmanan namun minumannya yang tampak mengerikan. Berbagai jenis minuman alkohol dengan merek ternama disuguhkan kepada para kru dan cast, sebagai bentuk syukuran dan ucapan terima kasih atas kerja sama selama ini.
Weini dan kedua sahabatnya takjub melihat pesta meriah di depan mata. Ia tak menyangka Bams yang cerewet dan perfeksionis itu rupanya punya sisi lain yang sangat royal. Sutradara cerdas itu mengklaim bahwa seratus persen pengeluaran dari pesta ini sangat pantas mereka nikmati. Namun bagi Weini, perayaan ini terkesan aneh dan seperti merayakan perpisahan.
Sikap Dina yang kembali ceria seperti biasa itu membuat Weini bernapas lega, “Syukurlah.” Desisnya berbicara pada diri sendiri.
“Apanya?” Tanya Stevan yang mendengar ucapan Weini.
“Tuh, sudah normal lagi.” Weini menunjuk Dina dengan dagunya seraya tersenyum.
Stevan menatap Weini dengan tatapan penuh arti, kali ini bukan sorotan cinta namun penuh kasih. Ia sudah bisa mengontrol perasaan sayangnya murni sebagai kakak adik.
“Perhatian semuanya, yang gue cintai … Lu semua yang udah berjuang bersama setahun lebih, yang sering gue maki-maki, nggak tahu kalau lu pada benci ke gue, gue nggak peduli.” Bams meraih microphone, berdiri di atas panggung dan mulai berceloteh. Ia tampil seakan sedang memberi aba-aba waktu syuting, namun kali ini dialah aktornya. Seisi ruangan didominasi oleh gelak tawa saat mendengar banyolannya.
Stevan menyodorkan sebotol air mineral untuk Weini, hanya itu minuman palang aman yang bisa ia konsumsi. Mereka belum mengalihkan perhatian dari Bams yang tampaknya akan berceloteh panjang lebar.
“Thanks banget buat kalian semua yang sudah royal buat managemen ini, gue pribadi sangat nyaman kerja dengan kalian. Tapi ada awal, tentu ada akhir … Ya, gue juga nggak nyangka kebersamaan ini bakal berakhir seperti ini.” Bams berhenti sejenak, ia menatap sekeliling dengan sorot mata yang menyedihkan. Semua yang menyaksikannya otomatis merasakan ketegangan, suasana ini bukan lagi kegembiraan melainkan kesedihan.
Weini terkesiap, perasaannya terbukti. Pesta ini diselenggarakan bukan sekedar untuk senang-senang. Aroma perpisahan sudah kentara terendus dari perkataan Bams.
Bams menyeka keringat di dahi sebelum melanjutkan, “Gue atas nama pribadi dan managemen ngucapin makasih banget buat kalian. Terhitung mulai lusa, managemen kita akan tutup. Gue berharap ini hanya mimpi, atau mungkin
hanya sementara … Tapi, C’mon show must go on! Gue harap lu pada makin bersinar di luaran sana, khususnya buat talent kita yang berbakat, pasti banyak managemen hebat yang akan merekrut kalian. Sukses buat kita semua! Dan terakhir, ini yang paling gue benci tapi harus gue ungkapkan mumpung masih ada kesempatan. Sorry kalau selama kerja bareng gue, ada yang nyakitin lu pada. Sekian dan nikmati pestanya! Pantang pulang sebelum tumbang!” Pekik Bams, ia mengangkat sebotol Whiskey penuh semangat kemudian meneguknya langsung dari botol.
Pengakuan Bams sukses mengejutkan semua orang di sana, Weini bahkan tak sengaja menjatuhkan botol minumannya saking shock. Dina yang sibuk kuliner keliling langsung terkesiap dan berlari menghampiri Weini
dan Stevan. Belum juga ia berhasil menyambangi Weini, artis itu sudah berlari kencang menaiki panggung. Weini mencegat Bams yang hendak mabuk di atas panggung, selagi kesadarannya masih terjaga ia harus dimintai keterangan.
“Apa yang terjadi? Kak Bams ceritain kenapa managemen yang lancar ini bisa tutup? Kak Bams udah lama nutupin dari kami kan, sekarang katakan sejujurnya alasan penutupan ini karena apa?” Weini merebut botol minuman Bams, ia perlu keseriusan dan enggan diduakan perhatian karena minuman itu. Stevan dan Dina berhasil menyusul Weini, harus mereka akui bahwa Weini sangat gesit berlari bahkan saking lincahnya tubuh Weini seperti setengah
terbang ketika berlari.
Bams memandang Weini begitu lekat, semula Weini mengira pria itu serius dan akan bicara. Namun sedetik kemudian Bams terkikih, “Weini? Bos itu udah nggak cinta sama lu ya? Ha ha ha, dasar hidung belang! Udah nggak
cinta trus seenaknya hancurin kita? Dia yang beli semua saham managemen, trus dia yang lelang saham kita sampe anjlok harganya. Sekarang dia pasti sudah puas, ha ha ha ….” Bams terlanjur mabuk, tetapi apa yang ia sampaikan jujur dari dalam hatinya. Mungkin ketika masih sadar, ia tidak akan seblak-blakan itu.
Weini terperanjat, “Jadi semua ini ada hubungannya sama dia?” Ia mengepalkan tangan, bisikan Dina tak lagi ia dengarkan. Weini membalikkan badan, ia berlari meninggalkan pesta yang belum usai itu dengan tatapan nanar.
“Weini, tunggu!” Stevan dan Dina mengejar Weini yang sudah kadung berlari cukup jauh.
***