OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 510 PENYAMBUTAN



Jet yang ditumpangi Xiao Jun dan Weini akhirnya mendarat di atas apartemen tempat bos muda itu tempati. Sebelum mendarat sempurna, Xiao Jun menatap lekat wajah kekasihnya dulu. Memastikan ada raut bahagia dari pancaran wajahnya.


"Kamu senang?" Tanya Xiao Jun singkat, seraya menebarkan pandangan penuh perhatian kepada Weini.


Weini membalas tatapan itu tak kalah lembut, selembut anggukannya yang pelan. "Ng, rasanya seperti kembali ke masa lalu." Gumam Weini kemudian tersenyum.


Xiao Jun menggandeng Weini, menuntunnya turun dari jet. Di bawah sana berdiri Lau yang sudah menantikannya sejak tadi.


"Selamat datang kembali Gong Zhu, tuan Li Jun." Lau membungkuk hormat.


Weini membalas dengan anggukan pelan, "Terima kasih paman Lau. Apa kabarmu?"


"Hamba baik, Gong Zhu." Jawab Lau singkat dan tersenyum pula. Pria itu kemudian mengambil alih koper yang dibawa Su Rong hingga masing-masing membawa satu milik dua orang terhormat itu.


Mereka berempat berjalan beriringan dan akan menuju apartemen Xiao Jun.


"Tinggal di apartemenku saja, Hwa. Nggak lucu kan kalau kamu pulang ke rumah lamamu." Pinta Xiao Jun.


"Wah kamu baru saja memberi ide yang bagus, boleh juga." Canda Weini yang sengaja menggoda Xiao Jun.


Xiao Jun menggelengkan kepalanya, sikap Weini membuat ia semakin gemas saja. Walau ia tahu hanya bercanda namun tak mengira gadis itu ketagihan mengusilinya.


"Awas saja kalau berani ke sana tanpa seijinku. Nanti kamu dikerumuni wartawan, repot loh." Seru Xiao Jun. Mereka sampai di depan lift, menantinya terbuka untuk mengantarkan ke kamar tujuan.


"Atau kau bisa ke unit sebelahku yang memang khusus untukmu, jika kau ingin ketenangan." Ujar Xiao Jun yang mengingatkan apartemen hunian Weini dan Haris dulunya.


Weini menggeleng, "Aku di tempat Grace saja, dia kan sebentar lagi melepas masa lajang. Kapan lagi kami bisa berkumpul sebebas ini?" Ujar Weini yang sudah punya banyak rencana dalam pikirannya.


"Ide bagus juga, aku tidak akan menganggu malam para gadis lajang yang akan melepas masa bebasnya." Seru Xiao Jun antusias.


"Baguslah kalau begitu." Seru Weini. Langkah mereka sampai di depan apartemen, menunggu Lau membukakannya.


Xiao Jun mempersilahkan Weini masuk dulu, sejenak bernostalgia dengan masa lalu. "Apa kau sudah memberitahukan Grace dan yang lainnya?" Tanya Xiao Jun.


Weini menggelengkan kepalanya, "Biar jadi kejutan aja. Nanti aku akan datang ke unit depan. Kamu mau ikut Jun?"


Xiao Jun menggeleng pelan, "Kamu sendiri dulu nggak apa-apa kan? Aku masih ditunggu paman Lau untuk urusan kerjaan."


"Pergilah, aku tak masalah jangan hiraukan aku." Ujar Weini meyakinkan.


Xiao Jun lega mendengarnya, "Oke, aku akan utus Su Rong untuk mengawalmu saja. Jangan pergi sendirian ke luar dari apartemen, dan tunggu aku pulang jika mau pergi." Pesan Xiao Jun serius.


"Baik tuan." Jawab Weini ala pelayan yang pakai acara membungkuk.


Lau dan Su Rong yang melihat itu hanya menahan senyum, betapa berbedanya Weini ketika ada di sini dan ada di kediaman Li. Sangat kontras berbeda, di sini Weini otomatis menjadi dirinya yang dulu, yang tak mementingkan formalitas seperti di istananya.


Xiao Jun yang merasa kikuk diperlakukan seperti itu, ia langsung merangkul pinggang ramping Weini hingga gadis itu terkesiap dan segera menegakkan tubuhnya. Risih diperlakukan mesra di hadapan orang lain.


Su Rong dan Lau pun terpaksa tutup mata, tak sopan melihat keromantisan keduanya meskipun penasaran juga.


❤️❤️❤️


"Apa yang penting disampaikan paman?" Tanya Xiao Jun saat duduk tenang di kursi kebesaran yang ia tinggalkan dua hari.


"Bams tadi menghubungi anda namun ponsel anda masih belum aktif, jadi dia menghubungiku." Seru Lau mulai bercerita, diperhatikannya raut Xiao Jun yang masih santai padahal apa yang akan ia sampaikan nantinya memang cukup rumit.


"Lanjutkan saja paman."


"Bams mendapatkan surat peringatan somasi dari management yang pernah mendapuk Gong Zhu sebagai pemeran utama. Film itu terancam tayang karena skandal peran utamanya. Dan pihak mereka mengancam melayangkan tuntutan pada Gong Zhu, dan pemeran lainnya. Saya rasa untuk Gong Zhu, mungkin ini tidak masalah tetapi bagi yang lainnya, Stevan dan nona Grace yang menggantungkan hidup dari pekerjaan ini. Image buruk ini pasti akan berpengaruh besar pada kelangsungan karier mereka." Ujar Lau serius.


Xiao Jun tampak berpikir sejenak, masalah yang sempat terlupakan saking ia merasa semua beban dan urusan di masa lalu Weini sudah terhandel, nyatanya masih ada yang tertinggal.


"Hmm mereka nuntut apa?"


"Mereka ingin Gong Zhu menuntaskan kontrak hingga premier film. Gong Zhu harus hadir jika tidak mau kasus ini diangkat ke hukum karena mangkir kontrak kerja. Begitu permintaan mereka tuan." Jelas Lau.


Xiao Jun berpikir sejenak, kebetulan yang pas memang Weini hadir di Jakarta, namun semua tergantung dirinya dan Xiao Jun tidak dapat memaksa andai Weini menolak untuk tampil lagi di muka publik.


"Hmm sebenarnya kontrak itu dengan data diri Yue Hwa yang lama, sebagai Weini. Dan sekarang dia bukan lagi Weini, kita punya alasan untuk mengabaikannya karena mereka pun tak punya cukup informasi untuk menggugat Yue Hwa. Hanya saja, seperti yang paman bilang, ini bukan menyangkut Yue Hwa saja, namun nasib orang banyak ikut dipertaruhkan. Termasuk Bams, dan para talent lainnya."


Sejenak dua pria itu terdiam berpikir, mungkin mudah untuk memutuskan sepihak tapi jika ada cara lain yang baik bagi semuanya, kenapa tidak?


"Management itu pasti rugi besar andai filmnya gagal tayang, aku bisa mengerti posisi mereka. Baiklah, aku akan coba bicarakan dengan Yue Hwa, siapa tahu dia tergugah untuk membantu teman temannya." Seru Xiao Jun yang akhirnya tak berani bertindak menyepelekan peringatan itu, bukan karena ia tidak sanggup tetapi lebih sulit menjadi orang bijak yang mampu menahan diri walaupun ia berkuasa penuh.


❤️❤️❤️


"Udah laper belum? kita sambil cari makan dekat sini saja ya." Usul Dina yang tampak sibuk menyetir sambil melirik tempat makan yang strategis menurutnya.


Ming Ming justru khawatir dengan cara gadis itu menyetir, konsentrasinya terbelah antara mengamati jalan atau fokus padanya.


"Apa aja boleh, kamu fokus nyetir aja."


"Tenang aku udah terlatih kok, udah boleh jadi supir malahan. ha ha ha... Karena kamu akan jadi orang di sini, maka kamu harus disambut dengan ritual wajib." Seru Dina bersemangat, pikirannya sudah aneh aneh hingga Ming Ming mengerutkan keningnya tak mengerti.


"Jangan cemas dah, nggak aneh aneh kok, cuma ngajakin kamu merasakan jadi orang di sini." Seru Dina terkekeh geli melihat raut tegang Ming Ming.


"Apa itu?" Tanya Ming Ming mempertegas pada Dina.


Dina tak menyahut lagi, tangannya mulai perlahan mengarahkan setir ke kiri. Mobil pun berbelok ke sebuah halaman luas dari rumah makan yang dipilih Dina sebagai tempat santap siangnya.


"Sudah sampai, selamat menikmati ritual penyambutan dariku. Setelah ini kamu akan sah jadi orang Jakarta." Celetuk Dina sumingrah.


"Makan di sini trus sah jadi orang Jakarta?" Ming Ming mengulang perkataan Dina. Gadis itu mengangguk bahkan saking menghayatinya dengan mata terpejam.


"Makanan apa yang seistimewa itu?" Tanya Ming Ming heran.


Senyum Dina merekah, pertanyaan itulah yang sejak tadi ia tunggu-tunggu.


Dan dengan bangga gadis itu menjawabnya, "Nasi padang ha ha ha."


Tanpa mendengar jawaban Ming Ming atau wajah bengongnya, Dina menarik tangan Ming Ming dan melangkah semangat masuk ke tempat makan bernama warung nasi sederhana namun bangunannya berlantai tiga dan megah itu.


❤️❤️❤️