
Terkurung tanpa diperbolehkan akses keluar sangat menjenuhkan Liang Jia, ia bagaikan sandera yang menanti penyelamat tiba. Sayangnya siapa yang berani menyelamatkannya? Menghadapi amukan Li San yang meletup-letup bahkan mematikan, tidak ada nyawa yang begitu mudah dipertaruhkan untuknya. Liang Jia enggan lagi
memikirkan hari kebebasannya tiba, terpisah dari Xin Er yang menjadi satu satunya teman berbagi rasa kini membuat hatinya benar-benar mati.
Demi menghabiskan waktu yang panjang dan membosankan sendirian di kamar, Liang Jia mulai menekuni hobi lamanya merajut dan menyulam. Ia tengah asyik menyulam sapu tangan dengan berpatokan pada foto Weini sebagai model. Ketertarikannya pada kekasih Xiao Jun itu tak bisa ia jelaskan, ada rasa sayang yang begitu besar
pada gadis itu walau hanya memandang fotonya.
Terlalu fokus menyulam, Liang Jia bahkan tidak menyadari kehadiran Li San yang tidak dilaporkan pengawal yang berjaga di luar. Li San mengamati dari belakang apa yang tengah dilakukan istrinya hingga begitu bersemangat.
“Bahkan seorang raja pun tidak bisa membuyarkan perhatian saat sedang menyulam, kau sangat menikmatinya?” Li San berkata dengan lembut namun sukses mengejutkan Liang Jia hingga tak hati hati dan jarumnya menusuk jari.
“Apa aku mengagetkanmu?” Li San menyesal, ia meraih jemari Liang Jia yang mengeluarkan darah dan segera menghisapnya.
Diperlakukan selembut itu nyatanya justru membuat Liang Jia risih, meskipun telah menemani pria itu selama hampir 36 tahun, ia tetap tidak menyukai sikap semena-menanya. Saat ingin memperhatikannya, Li San bisa menjelma bagai malaikat dan saat tersulut amarah dalam sekejab menjadi iblis. Ia menarik jarinya yang masih dalam kuluman Li San hingga pria itu tersentak kaget.
“Ng… kau terlalu keras.” Ujar Liang Jia beralibi. Dari raut wajahnya terlihat sangat jelas tidak nyaman berada di dekat Li San.
“Terlalu keras atau kau muak padaku? Liang Jia… kau tidak pandai menyembunyikan perasaan, semua jelas terpampang di wajahmu.” Ujar Li San, kali ini ia tidak melibatkan emosi dalam pembicaraan.
“Baguslah, jadi aku tidak perlu berpura-pura. Ada apa tuan besar mendatangi penjaraku?” Liang Jia menghindari kedekatan dengan suaminya, ia mengambil jarak dengan duduk di kursi kayu tanpa mempersilahkan tamunya duduk bersama.
Ekspresi Li San berubah mendengar sindiran halus namun mengena itu, “Sepertinya kau belum merenungi kesalahanmu. Semakin dikurung, kau semakin lupa tata krama. Aku suamimu dan punya hak kapanpun bersamamu.”
Liang Jia tertawa kecil – jika tidak mau disebut sedang mengejek – ia menutup mulutnya dengan sapu tangan, memperlihatkan kesopanan serta keanggunan wanita terhormat. “Rupanya kau masih ingat statusku sebagai istrimu. Tapi mungkin hanya kamu satu-satunya suami yang memperlakukan istri layaknya sebuah mainan,
kau pungut saat dibutuhkan dan buang sesukamu ketika bosan.”
“Aku tidak bermaksud begitu, hanya hukuman kecil untuk menertibkan tingkah lakumu yang di luar batas. Sudahlah, aku kemarin bukan untuk bertengkar. Xiao Jun sudah kembali, kau ingin menemuinya?” ujar Li San mengakhiri cekcok suami istri yang tiada ujung bila diteruskan.
Liang Jia terkejut, bukan hanya ia dan Xin Er yang dapat hukuman. Kini Xiao Jun juga kena imbasnya, kepulangan mendadak ini pasti atas kehendak Li San. “Kau yang menyuruhnya pulang kan? Kau apa kan dia?” pekik Liang Jia mencari jawaban pasti.
“Kenapa selalu menyalahkanku? Dia yang berbuat dan harus bertanggung jawab, dia bahkan melukai anak buahku. Sejak kapan ia berlatih kungfu? Pasti kau yang mengijinkannya tanpa setahuku.” Seru Li San mencari pembenaran, meskipun salah namun tidak akan pernah ia mau disalahkan.
“Jangan mengalihkan pertanyaan, kau apakan dia?” cecar Liang Jia tegas. Ia tak peduli masa hukumannya akan bertambah lantaran dianggap tidak sopan, asalkan ia mendapatkan kejujuran Li San.
Pria tua itu mengambil tempat duduk di atas ranjang Liang Jia, ia memilih meluruskan kedua kakinya yang terasa pegal berdiri lama ketimbang langsung memberi jawaban. Liang Jia menatapnya dengan ketus, jika bukan karena keluarga mungkin ia lebih memilih mati daripada dijodohkan dengan pria berhati batu itu.
“Dia ada di paviliunnya, mungkin belum sadarkan diri. Ia hendak kabur ketika mengalahkan semua pengawalku, lalu Chen Kho menotoknya hingga pingsan.” Kenang Li San sedih, ia cukup mengakui kesalahan dalam hati dan tidak akan sudi mengakui bersalah.
Liang Jia terisak mendengar berita itu, betapa malangnya anak lelaki Xin Er. Terlalu banyak kepedihan yang ia alami, semula Liang Jia mengira setelah mendapatkan kekasih maka Xiao Jun akan bahagia. Siapa sangka kebahagiaan itu hanya pemanis belaka, tak lama dikecap lalu tergantikan penderitaan.
“Kenapa sulit sekali bagimu membiarkan orang lain bahagia? Apa kau hanya bisa puas di atas penderitaan orang? Dia mencintai siapapun itu bukan urusan kita, buat apa mengekangnya?” pekik Liang Jia, akhirnya ia menemukan waktu yang tepat untuk berdebat tanpa didengar pihak lain.
“Aku lebih tahu mana kebahagiaan semu dan kebahagiaan sejati untuknya. Anggap saja ia hanya berpetualang cinta dengan gadis liar di luar, tapi jangan harap bisa menjalin hubungan serius. Hanya orang pilihanku yang layak menjadi istrinya. Ingat, dia calon penerusku, semua anakku sudah disiapkan jodohnya.” Li San mengeluarkan
ultimatumnya, mutlak dan tak bisa ditawar.
Liang Jia tertawa, lagi-lagi kebodohan dan keegoisan yang dilontarkan suaminya. “Siapa yang menurutmu pantas? Kasihan sekali anak-anakmu, tidak seorangpun yang punya hak menikahi orang yang mereka cintai. Apa gunanya harta setinggi gunung, tahta sederajat raja jika kebebasan tak bisa dirasa.”
“Terserah apapun ocehanmu kalau kau memang sayang pada Xiao Jun, bantu aku bujuk dia menikahi Grace.” Li San serius, ia merasa cukup berbasa-basi sebagai pemanasan.
Mendengar nama yang tidak asing itu sontak mengejutkan Liang Jia, “Kau mau jodohin dengan keponakanmu? Bukannya Kao Jing paling anti pernikahan saudara? Dia saja menolak Yue Hwa dijodohkan dengan putranya, mana mungkin ia mau putrinya menikahi Xiao Jun?”
“Itu lain cerita, Xiao Jun bukan keturunan murniku. Menjodohkannya dengan gadis keturunan murni klan Li adalah solusi terbaik. Tidak akan ada yang meremehkannya sebagai anak angkat, ia akan mendapatkan pengakuan umum.” Kilah Li San, alasan itu memang terdengar masuk akal dan Liang Jia harus mendukungnya.
“Apa bedanya dengan Yue Hwa? Kau juga menganggap Xiao Jun darah dagingmu kan? Dunia mengakui
dia adalah putramu. Jika dulu kau risih memikirkan pendapat public tentang pernikahan sedarah, kenapa sekarang kau tidak takut ditertawakan karena menikahkan putramu dengan keturunan Li juga? Kalau kau bisa berbesar hati
menerima keputusan itu sejak dulu, kau tidak perlu membuang putrimu yang sungguh-sungguh darah dagingmu! Kau bunuh putriku! Kau pembunuh!” pekik Liang Jia histeris nyaris kehilangan akal sehat lantaran teringat Yue Hwa.
Sebuah tamparan dari Li San tak terkontrol hingga mendarat di wajah Liang Jia. Emosinya membuncah, sebutan pembunuh membuatnya tersinggung. Ia mengatur napasnya dan emosi mulai terkontrol, namun terlambat sudah telapak tangannya telah menodai wajah Liang Jia. Ada bekas merah tertinggal di wajah mulus dan cerah sang
nyonya.
“Kau kemari hanya buat menyiksaku? Baguuus! Lebih baik aku membusuk di sini daripada harus melihatmu!” Liang Jia geram, ia masih memegangi wajahnya yang hangat oleh tamparan.
“Kau yang memaksaku berbuat seperti itu. kuperingatkan sekali lagi, bantu aku membujuk Xiao Jun menerima perjodohan maka aku akan bebaskan Xin Er sebagai imbalan. Jika ia tolak, aku tak segan menghabisinya, lagian aku sudah terlalu berbaik hati tidak membunuhnya sejak belasan tahun lalu.” Li San lagi-lagi menggadaikan nyawa Xin Er sebagai jaminan agar Xiao Jun menurutinya.
“Menurutmu apa Xiao Jun bodoh? Kau selalu menekannya dengan Xin Er, tapi selama ini ia menurutimu, kau tak juga melepaskan Xin Er. Jangan minta dihormati jika janji saja susah kau penuhi.”
Apa yang diucapkan Liang Jia tak ditampik Li San, ia hanya memerdulikan Xiao Jun tanpa memandang ibunya. Keringanan yang bisa ia berikan hanya dengan menjadikan Xin Er asisten pribadi Liang Jia namun tidak juga memberinya kebebasan. Statusnya tetap sebagai pembantu, jika tanpa bantuan Liang Jia mungkin saja wanita tua itu sudah lama mati sakit.
“Aku tidak peduli, kalian akan terima akibatnya jika perjodohan ini ditolak. Jangan menangis seumur hidup saat melihat tubuh wanita itu terbujur kaku.”
Li San mengakhiri pertemuannya dengan Liang Jia, meninggalkan sebuah pilihan yang sulit. Dalam kamar yang luas dan dingin itu, Liang Jia meratapi nasibnya yang malang karena menikahi pria yang salah. Kehidupan ini tidak memberinya kebahagiaan yang banyak, hanya ada air mata dan penyesalan di sepanjang waktunya.
***