OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 325 KEKACAUAN YANG SALING BERKAITAN



Hidup memang selalu diwarnai dengan dua sisi, tinggal kamu yang tentukan akan memakai sisi yang mana untuk hidupmu. Tidak ada manusia yang sepenuhnya putih, pun tak ada yang hitam pekat. Jangan pernah mengira seseorang yang baik belum tentu selamanya baik, masalah hati tak akan pernah mudah diselami. Jangan seratus persen mempercayai siapapun, termasuk dirimu sendiri.


Quote of Weini aka Yue Hwa


***


“Jangan sentuh putriku!” Pekik Li San. Sayangnya permohonan itu tidak menggerakkan hati Kao Jing dan Chen Kho, ayah dan anak itu justru semakin senang dan tertantang mempermainkan Li San. Semakin Li San menggertak tanpa kekuatan, semakin menarik bagi mereka.


“Terlambat paman, dia pasti sudah menenggak racun dan bersiap mati sendirian. Wei tidak mungkin bisa melindunginya saat ini seperti dulu.” Jawab Chen Kho dingin.


Dua lutut Li San gemetaran, kehilangan tenaga untuk menopang tubuhnya. Perlahan tubuh itu ambruk seiring tangisan yang memilukan, andai Liang Jia mendengarnya, ia yakin wanita itu akan merangkulnya dalam pelukan dan menangis bersama. Li San telah tertipu sekian lama oleh kedok palsu kakaknya, dan seluruh kehidupan yang dianggapnya normal ternyata sudah hancur semenjak ia yang kalap mata memerintahkan pengawalnya menghabisi darah dagingnya.


“Sudahlah, simpan tangisanmu. Bukankah kau penguasa berhati dingin? Buat apa menangisi nyawa seorang gadis? Dulu kau begitu bertekad membunuhnya, sejak dulu pun dia sudah mati dalam hidupmu tapi kenapa baru sekarang kau tangisi?” Nyinyir Kao Jing, dendam pribadinya terlampiaskan dalam kesempatan melihat kehancuran adiknya.


Chen Kho tak berkomentar, bukan porsinya lagi untuk menghadapi pamannya. Ia hanya perlu menjalankan satu persatu rencana untuk sampai pada tahta yang dijanjikan ayahnya.


Li San tak lagi punya tenaga untuk berdebat dengan Kao Jing, air mata dan tangisannya mendominasi suasana hatinya. Dalam kesempatan yang nyaris tak ada harapan itu, ia pergunakan untuk merenungi segala kebodohan masa lalunya.


“Ayo pergi, tinggalkan si dungu ini. Dan kau pengawal bodoh, hidup matimu atas sumpah setia padanya kan? Kalau begitu temani dia di sini sampai membusuk bersama tikus. Ha ha ha ….” Kao Jing tertawa puas, inilah yang ia harapkan setelah sekian lama memendam ambisinya. Hari ini akhirnya tiba, ia bisa melihat keterpurukan Li San di penghujung hidupnya.


“Jangan sakiti istri dan putriku!” Desis Li San. Tenaganya nyaris hilang semua, tetapi ia masih punya keinginan melindungi orang tercintanya yang masih tersisa.


Kao Jing dan Chen Kho yang sudah berjalan mendekati pintu pun berbalik, menatap tajam pada Li San yang masih tersungkur. “Aku tidak janji, itu tergantung bagaimana perlakuan mereka terhadapku. Ha ha ha ….”


Dan ayah anak itu berlalu dengan langkah ringan, meninggalkan lawan yang terkalahkan dengan telak. Dendam yang tak pandang bulu, tiada pertimbangan belas kasihan antara saudara, yang ada hanya ambisi dan haus kuasa


di atas segala rasa.


***


“Ada penyusup di tengah pestaku? Berani sekali dia!” Wen Ting bereaksi kaget saat mendengar kabar tertunda yang baru disampaikan Xiao Jun setelah pesta berakhir. Ketika memastikan para tamu telah meninggalkan tempat resepsi, Xiao Jun menarik kakak iparnya dan menceritakan segala yang terjadi.


“Dan dia mati.” Tambah Xiao Jun datar.


Wen Ting mengangkat satu alis, “Brengsek, di hari baikku malah ada yang menyumbangkan nyawa. Aku nggak bakal beri ampun pada orang yang sudah memberi tanda buruk di pernikahanku!” Kecam Wen Ting serius.


Xiao Jun menghela napas, “Sudahlah, dia sudah jadi mayat. Sekarang ayah masih menunggu mayatnya di atas. Kami mengandalkanmu untuk mengurusnya.”


kelar kata-kata, kakinya sudah lebih dulu melangkah memimpin jalan. Xiao Jun membuntuti langkahnya dengan senyum smirk.


Haris berdiri melipat tangan dan masih menaruh perhatian pada sosok tubuh kaku pria di depannya. Yang menarik perhatian, ia mendapati satu lencana yang sangat ia kenali dari saku dalam jas itu. Sebuah simbol tak asing yang pernah ia miliki. Lamat-lamat terdengar langkah kaki mendekati tempat sunyi itu, Haris tahu siapa yang menjangkau area yang sudah ia amankan dengan kekuatan sihirnya agar tidak ketahuan oleh orang yang tidak berkepentingan.


“Bagaimana ayah? Apa ada yang ayah temukan?” Xiao Jun penasaran dan langsung bertanya setelah melihat wajah Haris.


Haris mengangguk lalu menunjukkan lencana itu pada Xiao Jun. Benda itupun menarik perhatian Wen Ting yang tidak tahu apa makna lencana tersebut. Namun Xiao Jun malah mengambilnya dari tangan Haris.


“Ini … Tanda pengenal pengawal tuan Li. Sudah bisa dipastikan dia suruhan tuan Li.” Tegas Xiao Jun penuh keyakinan.


Haris bersikukuh menolak, “Bukan. Ini sudah direkayasa pihak lain. Misteri tidak mungkin mudah dipecahkan, terlalu jelas justru semakin meragukan. Aku rasa musuh ini punya maksud padamu, Jun.”


Ketiga pria itu hening sejenak dalam pikiran masing-masing, hingga Xiao Jun merasakan getar dan dering ponselnya. Ia mengangguk meminta waktu sebentar untuk menerima panggilan tersebut setelah memmbaca nama Lau tertera di layar. Selarut ini namun Lau masih menghubunginya, pasti ada kabar mendesak yang harus disampaikan pengawal itu.


“Ya, paman?”


“Tuan, maaf mengganggumu semalam ini. Keadaan tidak beres tuan … Nona Grace keracunan dan kondisinya kritis sekarang, dan nona Weini pun sakit mendadak.”


Berita yang disampaikan Lau berhasil mengguncang Xiao Jun. Di hadapannya masih tergeletak masalah ditambah lagi musibah tak terduga dari dua gadis di sana. “Kenapa bisa terjadi? Bagaimana keadaan Weini sekarang?”


Haris mendengar pembicaraan itu dan ikut tersentak, tanpa menunggu Xiao Jun menyampaikan padanya, Haris langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Weini. Berkali-kali tetapi panggilan itu terlalu sibuk dan terus dialihkan ke pesan suara. Sungguh tidak masuk akal, semua kejadian hari ini pasti saling berkaitan. Dan Haris yakin musuh yang belum diketahuinya itu sudah merencanakan dengan matang dan tahu kapan celah untuk menyerang.


“Jun, kita pulang besok. Wen Ting, aku titip Xin Er dan Li Mei sementara di tempatmu.”  Tegas Haris.


Xiao Jun dan Wen Ting mengangguk paham. Memang rencana itulah yang ingin Xiao Jun sampaikan. Belum saatnya mereka berkumpul bahagia, terutama mengenalkan Weini dan menceritakan yang sebenarnya. Segala rencana mereka rupanya sudah disusupi oleh musuh, untuk saat ini saling melindungi adalah keputusan yang paling tepat.


“Ayah, aku akan mengirimkan pengawal khusus untuk melindungi kalian di sana. Jaga diri kalian baik-baik, soal ibu mertua dan lainnya serahkan padaku.” Ucap Wen Ting menawarkan bantuan.


Haris menggelengkan kepala, “Tidak perlu nak, kerahkan pengawal terbaikmu untuk melindungi mereka saja. Aku dan Jun akan baik-baik saja. Jangan libatkan dirimu terlalu jauh, masalah ini adalah konflik internal keluarga Li. Tapi aku masih punya sumpah yang harus ditepati pada keluarga itu, aku tidak bisa mundur dan tidak bisa membiarkan kalian terseret masalah lebih dalam.”


Xiao Jun hanya mengangguk, masalah ini bukan lagi sekedar tanggung jawab ayahnya sebagai pengawal klan Li. Namun Xiao Jun pun punya tanggung jawabnya sendiri, terhadap Li San serta terhadap Weini yang ia cintai. Ia tidak bisa mundur lagi, meskipun nyawa taruhannya.


***