OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 531 PERMINTAAN DINA



Dina tak henti menyeka air matanya, saking terharu hingga menitikkan air mata. Hanya menjadi saksi kebahagiaan orang lain saja sudah melenakan hati kecilnya. Grace yang sadar suara sesenggukan Dina yang di sebelahnya pun melirik dengan tatapan aneh.


“Din, udahan ah. Kayak lagi kenapa aja, nangis sampai segitunya.” Ujar Grace risih. Di moment bahagia malah ada yang tersedu sedan.


Dina membungkam mulutnya, alih alih diam malah tangisannya makin menjadi. Kali ini bukan hanya Grace yang menyorotinya tapi semua yang ada di sana. “Iya iya, aku bakal diam. Tapi nggak bisa berhenti air mata ini hiks.” Seru Dina menyeka kasar kedua matanya. Ming Ming yang melihat kondisi Dina pun bergegas menghampiri dan merangkul pundaknya, berharap bisa menenangkan tangisan itu.


Weini yang melihat itupun memandangi Xiao Jun sejenak agar bersedia melepaskan tangannya. Xiao Jun paham apa yang gadis itu inginkan, ia memberi anggukan kemudian membebaskannya sebentar. Weini menghampiri Dina kemudian meraih kedua tangannya untuk digenggam. Ia tahu betul isi hati Dina yang terbaca sangat jelas olehnya. Rasa bahagia yang begitu tulus atas kebahagiaan Weini dan Xiao Jun.


“Kak... makasih ya, kamu sangat berjasa pada kami. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu.” Ucap Weini dengan lembut, tangannya yang satu membantu Dina menyeka air matanya. Membiarkan jemarinya ikut basah oleh tetesan bening milik Dina.


Dina semakin terharu mendapatkan perlakuan selembut itu dari seorang nona yang begitu terhormat seperti Weini. Nona yang dulu selalu ia temani, dan yang membuat Dina semakin sedih adalah membayangkan perpisahan dengan Weini. Meskipun saat ini bisa berkumpul bersama, namun tidak bisa seperti masa sebelumnya. Tak akan bisa setiap hari menemaninya, melihat senyumannya yang manis serta merasakan kebaikan hatinya. Itulah yang membuat Dina merasa sangat terpukul dan kembali menangis.


“Din, yang bener saja, dirayu biar diam malah makin menjadi nangisnya.” Celetuk Grace yang geleng geleng kepala, terkadang sosok Dina yang bawel itu bis juga bersikap kekanakkan dan cengeng.


Weini tersenyum datar seraya melirik sepupunya, dari sorot mata teduh Weini, ia berharap Grace paham dan sedikit memberi pengertian pada Dina yang sedang bersusah hati. Grace pun mengangguk mengerti, padahal tidak ada kata kata yang terucap di antara kedua gadis itu.


Dina menatap penuh arti pada Weini kemudian berganti melirik Xiao Jun yang masih berdiri diam di tempat semula. Ada sesuatu yang sangat mengganjal di hatinya dan tak sanggup ia pendam lagi. “Tuan Jun... bolehkah aku memakai hak istimewaku sekarang? Aku punya satu permintaan.” Ucap Dina dengan suara agak serak lantaran tangisnya belum sepenuhnya reda.


Perhatian kini tertuju pada Xiao Jun, semuanya penasaran dengan permintaan pertama Dina yang baru mendapatkan hak istimewa beberapa jam lalu. Belum sampai satu hari saja, Dina sudah berencana memakai satu dari tiga kesempatannya. Semua belum tahu, kecuali Weini yang sedang menguping suara hati managernya itu.


Xiao Jun mengangguk pelan, menunjukkan senyuman hangatnya pada Dina. “Ya, katakan saja Dina.”


Dina beralih menatap sejenak pada Weini, kemudian melihati Ming Ming yang masih merangkul pundaknya. Ia perlu kesungguhan hati dan tak akan menyesali apa yang akan ia pinta saat ini. “Tuan, aku ingin anda memberiku posisi apa saja terserah, asalkan aku bisa bersama nona Weini. Aku... aku nggak bisa bayangkan harus berpisah dengan nona. Terserah mau anggap aku lebay, tapi aku ingin ikut non Weini dan berguna untuk dia. Ku mohon tuan, bantu aku.” Lirih Dina. Ia mengeluarkan plakat emasnya yang berukuran kecil itu, bersiap menyerahkan kepada Xiao Jun untuk dilubangi.


Weini serta semua yang mendengar ketuluan serta kesetiaan Dina itu sontak trenyuh. Stevan bahkan mengangguk seakan menyetujui keputusan Dina dan mendukung sepenuhnya, padahal bukan ia pemberi kuasa. Xiao Jun terdiam sejenak, padahal bukan kuasa ia untuk memberikan tugas pada Dina. Semestinya Weini punya keputusan penuh untuk menerima siapa saja sebagai orang kepercayaannya, namun Xiao Jun bisa memaklumi karena Weini merasa Dina terkendala bahasa dan bukan berasal dari keluarga tersumpah yang harus mengabdi pada Klan Li, maka Weini tak ingin menjerat Dina. Tapi akan lain kondisinya jika orang itu yang meminta langsung, Weini seharusnya bisa menyelesaikan ini tanpa perlu Xiao Jun yang turun tangan.


“Baiklah, tapi beri aku waktu untuk memikirkan posisi yang tepat untukmu. Karena menjadi orang terdekat Yue Hwa juga bukan orang sembarangan meskipun kami sangat mengenalmu, aku tidak bisa gegabah juga.” Ujar Xiao Jun akhirnya buka suara.


Weini yang melihat semua itu menjadi serba salah, semestinya Dina tidak perlu sampai memohon seperti itu. Andai ia punya cara untuk mengabulkan permohonannya, karena Weini pun merasa nyaman bila ada Dina yang biasanya bisa ia andalkan. “Kak Dina... jangan memohon seperti itu lagi ya. Aku... aku bisa membawa kakak bersamaku, tanpa perlu meminta hak istimewamu. Terima kasih karena kakak tetap ingin bersamaku, aku hargai keputusanmu kak.” Lirih Weini yang masih memegangi tangan Dina, mereka saling berpandangan dan terharu.


“Jun, tolong batalkan permohonan kak Dina. Aku bisa mengabulkannya tanpa pengajuan hak istimewa.” Pinta Weini.


Xiao Jun yang sudah bisa menebak arah pembicaraan Weini pun mengangguk senang. Semakin senang saat melihat dua gadis itu berpelukan dengan haru. Bukan hanya cinta yang berharap bisa dipersatukan, tapi juga persahabatan yang akrab dan menjurus pada hubungan persaudaraan. Rasa memang tak pernah bisa dibohongi, tak bisa ditutupi kebenarannya dan akan saling mencari cara agar bisa bersatu.


“Nona, aku bersedia jadi apapun. Jadi pelayanmu juga rela, yang penting bawa aku ke kediamanmu ya. Aku tidak punya siapa siapa lagi di dunia ini, bertemu denganmu adalah berkah bagiku. Nona adalah majikanku, nona juga sudah aku anggap seperti saudaraku.” Seru Dina yang sudah berhasil menghentikan tangisannya, ia bisa bicara dengan jelas dan didengar oleh semuanya.


Weini menggeleng pelan, hatinya tidak akan tega membiarkan Dina menjadi seperti yang dia sebutkan tadi. “Kak, kamu adalah saudaraku, tidak mungkin aku jadikan pelayan. Jika memang itu keputusanmu, yang penting ikut saja dulu denganku ke Hongkong. Aku akan pikirkan baik baik posisi apa yang tepat untukmu nanti. Tapi kamu jangan salah paham kak, di sini semua sangat menyayangimu. Kita semua keluarga, apalagi ada Ming Ming yang selalu di sampingmu kak.” Gumam Weini, senyumnya mengembang penuh dan berharap bisa menulari semua yang ada di sana.


Ming Ming yang sejak tadi hanya diam pun ikut tersenyum saat namanya disentil, bukan hanya karena itu saja, namun ia merasa bahagia dan paham mengapa Xiao Jun menugaskannya untuk ke Hongkong menjadi pengawal pribadi Weini. Awalnya ia berpikir akan menjalin hubungan jarak jauh lagi dengan Dina, rupanya niat Dina sangat mudah ditebak tuannya, tanpa perlu Ming Ming yang mengajaknya pun, Dina sudah mengajukan diri.


Dina mengerutkan dahinya, baru teringat ada Ming Ming sebagai orang spesialnya. Ia merasa serba salah, terlebih ia sudah mengambil keputusan untuk mengikuti Weini ke Hongkong. Dina menatap kekasihnya, wajahnya canggung dan ingin meminta pengampunan. “Ng... Ming Ming... aku minta maaf sempat lupain kamu tadi. Aku mau ikut non Weini, tapi kamu gimana ya? Nggak apa apa kan kita LDR lagi?” pinta Dina takut takut.


Ming Ming tersenyum lebar, raut wajah bingung Dina membuatnya terlihat sangat manis. “Tidak masalah, aku malah sangat senang.”


Alis Dina langsung mengkerut, ia salah paham mendengar jawaban Ming Ming. “Maksudnya? Kamu senang gitu kalau kita LDR?” Seru Dina menggebu gebu.


Ming Ming menggelengkan kepalanya dengan cepat sembari tertawa kecil. “Siapa bilang kita akan LDR? Justru kita akan selalu bersama sama karena tuan Jun menugaskan aku menjadi pengawal pribadi Gong Zhu. Kita akan bekerja di sana. Kamu senang kan mendengarnya?”


Kekesalan Dina yang nyaris tumbuh di hatipun patah sekejab, senyumannya kembali merekah. Bak mimpi yang terwujudkan, Dina pun tak sabar lagi menunggu hari itu tiba. Tanpa rasa malu, Dina menghambur dalam pelukan Ming Ming sebagai luapan rasa senangnya.


Weini tersenyum kemudian melirik ke arah Xiao Jun, pria itu hanya mengacungkan jempol kepadanya. Malam ini benar benar akan berlalu dengan sempurna!


❤️❤️❤️