
Kepala Stevan terantuk-antuk lantaran tertidur dalam posisi duduk, tangannya masih kuat menggenggam tangan Grace. Sekalipun dalam tidur, pria itu enggan melepaskannya. Fang Fang tetap setia menjadi pengamat dari sofa, ia terharu melihat perhatian Stevan pada nonanya dan merasa bersyukur tidak salah memberi dukungan pada orang yang tepat.
Sepanjang malam dalam kamar perawatan itu, Lau yang paling siaga dan tidak tidur hingga hari berganti. Kini pengawal tua itu kembali lantaran harus memimpin rapat di kantor, mewakili Xiao Jun yang sedang dalam perjalanan pulang.
Grace perlahan membuka matanya, sebelumnya ia menggerakkan jemarinya yang ada dalam genggaman Stevan. Hanya saja saking kantuknya, Stevan tidak menyadari itu. Orang pertama yang dilihat Grace ketika siuman adalah pria itu, dan tanpa Grace tahu bahwa harapan Stevan akhirnya terkabulkan.
Fang Fang menegakkan posisi duduknya, ia menyadari bahwa majikannya telah siuman. “Nona …” Panggil Fang Fang dengan sumingrah.
Grace meletakkan telunjuk di bibirnya, mengisyaratkan agar Fang Fang menjaga suaranya. Ia tahu betapa lelahnya Stevan hanya dengan memandangi wajah tampan itu. Grace tak ingin membangunkan pria itu sekarang, ia berpuas untuk menatapnya sebentar. Dalam keadaan tertidur, wajah tampan Stevan yang putih itu terlihat tampan. Pria itu adalah standar pria tampan yang punya wajah cantik seperti yang diidamkan Grace.
Fang Fang tetap mendekati Grace meskipun tanpa bersuara, ia memastikan kondisi Grace dengan mengucapkan kata-kata yang Grace pahami. “Nona sudah baikan?” Begitulah kata kata yang terbentuk dari bibir Fang Fang.
Grace tersenyum lalu mengangguk pelan, jawaban singkat yang melegakan hati pelayannya. Beberapa saat kemudian, Stevan terbangun spontan dan kaget. Kantuk masih sangat dirasakan namun apa yang dilihatnya sekarang membuat rasa kantuk itu lenyap. Sepasang mata yang sejak semalam tertutup kini berbinar menatapnya. Dan itulah yang menjadi kebahagiaan Stevan saat ini. Stevan mencondongkan tubuhnya ke dekat Grace seraya tersenyum lebar, “Lu udah sadar.”
Grace belum bersuara, hanya mengangguk lagi sembari tersenyum pada Stevan. Tak lama kemudian, Stevan mendekapnya dalam pelukan meskipun harus setengah berbaring mengikuti posisi Grace. “Syukurlah. Gue takut
banget kemarin, plis jangan tinggalin gue. Gue janji nggak akan nyakitin lu. Lu harus terus hidup, Grace.” Lirih Stevan, ia terlalu malu menunjukkan kelemahannya yang kini sedang menitikkan air mata.
Grace membiarkan sejenak pria itu meluapkan perasaannya, namun perhatian gadis itu terpecah lantaran ia memandangi sekeliling kamar bernuansa putih itu dan tidak menemukan sosok yang ingin ia lihat sekarang. “Weini di mana?” Tanya Grace lirih, suaranya kecil saking masih belum sepenuhnya bertenaga.
Stevan mengangkat satu alisnya kemudian menyudahi pelukannya dari Grace. “Dia belum ke sini, mungkin masih istirahat di rumah.” Jawab Stevan pelan.
“Ng, bisakah kamu memanggilnya ke sini? Aku ingin menemuinya.” Pinta Grace seraya memohon dengan tatapannya.
Stevan menghela napas, ia sudah mencoba menghubungi Weini namun hingga saat inipun belum ada repson dari gadis itu. Stevan malah mengira Weini marah padanya. Namun untuk menghibur Grace, terpaksa ia harus sedikit berbohong lagi. “Iya, pasti gue panggilkan. Weini mungkin masih tidur, dia sampai subuh di sini. Sekarang lu tenang dulu, biar dokter memeriksa kondisi lu pasca bangun.” Stevan memencet bel yang ada di atas bangsal Grace
untuk memanggil tim medis.
Grace terpaksa menurut, padahal hatinya penasaran dan ingin segera melihat Weini. “Apa dia masih di sini? Dia tidak menyusul Jun ke Beijing kan?” Grace akhirnya bertanya saking tak sanggup menahan penasaran.
Stevan bergeming, ia sedikit ragu menatap Grace. Ia bahkan tidak tahu rencana Weini menyusul Xiao Jun, bagaimana ia bisa memberi kepastian pada Grace sekarang?
***
Lau menghubungi nomor Liang Jia namun berkali-kali mendapatkan respon yang sama. Nomor nyonya besar itu dinyatakan tidak aktif padahal Liang Jia selalu siaga dengan alat komunikasinya. Kejanggalan yang semakin membingungkan lantaran di saat bersamaan, ia menghubungi Li San namun panggilannya selalu ditolak. Padahal nomor yang Lau hubungi adalah nomor telpon yang berada di aula utama. “Ini mencurigakan.” Gumam Lau.
Di tengah kebingungannya, Xiao Jun masuk ke dalam ruang kerjanya dan mengejutkan Lau yang tidak siap menyambut kedatangan tuannya. Lau bergegas menghampiri Xiao Jun kemudian membungkuk hormat. “Salam
Xiao Jun tersenyum kemudian mengisyaratkan agar Lau berhenti membungkuk. “Tidak perlu repot, paman. Jetnya mendarat di atas kantor, aku tinggal turun kemari. Apa ada hal penting yang ingin paman sampaikan?” Xiao Jun tahu Lau menyembunyikan sesuatu dari raut wajahnya itu.
Lau mengangguk pelan kemudian menceritakan rasa curiganya. “Tuan, sepertinya ada yang tidak beres di kediaman tuan Li. Mereka tidak bisa dihubungi hingga sekarang.”
“Coba selidiki, minta bawahanmu laporkan apa yang terjadi.” Pinta Xiao Jun tegas.
Lau tampak kecewa, “Itu … Tidak ada satupun yang bisa kuhubungi tuan.”
Xiao Jun mengepalkan tangannya, firasatnya pun turut memprovokasi perasaan bahwa memang ada hal buruk yang terjadi. Tanpa menjawab Lau, ia meronggoh ponselnya dari saku jas kemudian menghubungi nomor Li San. Sayangnya nomor itu tidak aktif, begitupun saat ia menelpon Liang Jia. Xiao Jun menatap cemas pada pengawalnya. “Apa aku harus kembali ke sana untuk memastikan?” Tanya Xiao Jun serius pada pengawalnya.
Lau berpikir keras, ia tak bisa sembarangan memberi keputusan. Pikirannya buyar saat ponselnya berdering. Ketika membaca penelpon adalah Fang Fang, pengawal tua itu menatap Xiao Jun untuk meminta ijin menerima panggilan itu dulu.
“Ya, Fang?” Ujar Lau to the poin.
“Tuan, kabar baik … Nona Grace sudah siuman.” Jawab Fang Fang terdengar senang.
Dan pembicaraan singkat itu berakhir cepat, karena hanya intinya saja yang perlu Fang Fang laporkan. Lau kembali menatap majikannya, ia perlu memberikan pendapat yang tertunda sejenak. “Ada baiknya tuan pulang, tetapi sangat berbahaya jika kita tidak mengukur kekuatan musuh dulu. Kita tidak tahu apa yang terjadi, dan setahu saya tuan Chen Kho dan tuan besar Kao Jing ada di sana.”
Xiao Jun manggut manggut, kekhawatiran Lau ada benarnya. Satu satunya perantara agar ia tahu yang terjadi adalah mencengkeram Grace. Selama masih ada satu orang dari pihak Kao Jing ada di tangannya, Xiao Jun merasa masih punya kesempatan untuk menekan mereka.
“Apa masih ada yang perlu kutangani? Jika tidak, aku akan ke rumah sakit sekarang.”
“Tidak ada, tuan.”
Mendengar jawaban Lau, Xiao Jun berbalik tubuh kemudian meninggalkan ruang kerjanya. Padahal belum sempat ia duduk dan beristirahat sejenak, ia pun belum mengabarkan Weini bahwa ia telah sampai. Biarlah, ada hal yang lebih penting saat ini. Dan semua itupun dilakukan Xiao Jun demi Weini, seperti yang dipesankan Haris kepadanya.
“Tak peduli setinggi apapun pangkatmu, segunung hartamu, kita tetap harus melindungi keluarga Li. Itulah sumpah leluhur kita, Jun. Minum air jangan lupakan sumbernya dan keselamatan nona muda adalah tanggung jawab kita.”
Kesetiaan adalah harga mati, bukan hanya tentang cinta manusiawi tetapi pada siapa yang telah membuatmu ada di dunia ini.
Quote of Xiao Jun
***