OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 504 BERHARAP



“Jun? kamu masih di sana? Kamu dengerin aku?” Weini tak bisa tenang lagi, dua kali ia bertanya dan belum juga diberi tanggapan oleh Xiao Jun.


“Jun, jangan bercanda plis. Kamu tega banget bikin aku cemas?” Rengek Weini yang gagal meminta video call dengan kekasihnya. Hatinya tak tenang, ia tidak bisa berpikir apapun lagi dalam kondisi sekacau ini. Membayangkan Xiao Jun sakit sendiri di perantauan, ah... sebenarnya dia tidak sendiri di sana, hanya saja Weini merasa tidak bisa melihat langsung keadaan Xiao Jun dan itu menyakitkan baginya.


“Berbaliklah, Hwa... aku melihatmu.”


“Hah?” Weini terkesiap, jawaban tak terduga itu jelas mengejutkannya. Semacam prank yang nggak lucu andai Xiao Jun tidak ada di belakangnya. Perlahan ia menoleh ke belakang, menuruti apa yang diinstruksikan Xiao Jun dan....


“Juuun....” Pekik Weini girang antara percaya atau tidak. Di saat itu pula Weini bisa tersenyum sekaligus menitikkan air mata bahagia. Ia kembali bertemu dengan kekasih yang sangat dirindukannya, pria itu hadir tepat di hadapannya dan memberikan seulas senyum yang hangat menjalari hatinya.


Xiao Jun berlari mendekati Weini, membiarkan gadis itu masih terpana dalam diam. Senyumnya masih mengembang menatap wajah manis serta hidung Weini yang memerah karena menangis. “Gadis imut jangan menangisiku seperti itu, aku masih hidup.” Gumam Xiao Jun yang dengan entengnya bercanda, padahal ia barusan sukses membuat Weini tegang dengan pikiran buruknya.


“Kamu tuh... bisa banget bikin orang jantungan!” Kesal Weini yang merajuk dengan bibir manyunnya. Ia bahkan enggan menatap Xiao Jun yang masih terkesima menatapnya saking rindu.


“Kenapa datang nggak bilang bilang? Sengaja buat ngeprank aku ya ka... Ng....”


Belum selesai Weini menyatakan protes, bibir lembut Xiao Jun sudah menempel di bibir tipis nan ranumnya. Weini terkesiap, kedua bola matanya membulat dan hatinya bergerumuh riuh saat melihat Xiao Jun yang terpejam dengan posisi masih menempelkan bibir padanya. Weini secara reflek ikut memejamkan mata, menikmati sejenak cumbu rayu kekasihnya yang sudah lama ia nantikan. Mereka berdua meleburkan kerinduan dengan bahasa tubuh, lewat kecupan ringan yang seolah bisa berteriak betapa mereka saling merindukan.


“Hmm... sudah nggak marah lagi kan?” Gumam Xiao Jun lembut saat kecupan romantis itu berakhir.


Weini hanya menunduk, menyembunyikan rasa malunya yang mungkin saja kini terlihat jelas dengan wajah yang bersemu merah. Entah mengapa hanya karena hal sesimpel ini saja bisa membuatnya merasa bergetar, malu namun tak menampik bahwa ia menginginkannya.


“Ng....” Hanya itu saja yang dijawab oleh Weini, selebihnya ia masih menundukkan kepalanya.


Xiao Jun tersenyum tipis, kemudian ia mengangkat dagu Weini dengan jari telunjuknya. Ia masih ingin menatap lekat wajah itu setelah beberapa lama tidak melihatnya. “Jangan disembunyikan, aku ingin menatapmu... aku sangat rindu padamu, Hwa.” Bisik Xiao Jun lembut.


Weini pun menyuguhkan senyuman manisnya, memperlihatkan pada pria yang telah mengakui kerinduannya. “Aku juga.” Jawab Weini tak kalah lirih.


❤️❤️❤️


Xin Er menghampiri Haris yang duduk membaca majalah dengan tergesa, namun Haris sudah tahu apa yang membuat wanita itu begitu panik. Ia hanya diam saja, berpura-pura seolah tidak tahu apa apa.


“Suamiku... apa kau sudah tahu kalau putra kita... Li Jun... Li Jun sudah kembali.” Ujar Xin Er tergopoh-gopoh. Faktor usia tidak bisa berbohong, ia begitu kelelahan hanya karena berjalan sedikit cepat.


Haris menutup majalahnya kemudian menyoroti Xin Er dengan tatapan lembut. “Sayang, kita sudah tua, sebaiknya lebih perhatikan diri. Jun tidak akan lari meskipun kamu lebih lambat sepuluh menit untuk mengabariku. Pelan pelanlah ya.” Ujar Haris penuh perhatian.


Haris kembali tersenyum, kali ini dengan tawa kecilnya hingga membuat Xin Er tampak bingung. “Sayang, tapi sepertinya kali ini dia pulang bukan untuk kita. Ada seseorang yang sedang ia prioritaskan, kita ngalah dulu ya. Biarkan yang muda menikmati masa masa indahnya.” Gumam Haris yang secara halus mengingatkan Xin Er bahwa Xiao Jun pulang demi pacarnya.


Xin Er tersenyum geli, “Jika bukan kamu yang ingatkan, mungkin aku sudah berlari menghampirinya. Kamu benar juga, biarkan mereka melepas rindu dulu.”


Haris manggut-manggut, “Nanti dia juga akan mencari kita, tenang saja. Kita tunggu dia di sini.” Ujar Haris yang akhirnya bisa dimengerti oleh Xin Er. Mereka pun asyik berduaan menikmati waktu ditemani dua cangkir teh.


❤️❤️❤️


“Jadi kamu bisa menguasai semua itu dengan cepat karena pengaruh sihir? Wah... aku tidak menyangka kemampuanmu berkembang pesat seperti ini Hwa.” Ujar Xiao Jun berdecak kagum setelah mendengar cerita Weini tentang kemampuan barunya.


Weini mengangguk, membenarkan apa yang Xiao Jun katakan. “Aku juga tidak menyangka, apa yang tercetus dalam pikiranku tiba-tiba bisa menjadi kenyataan. Pertama waktu pertemuan pers, lalu sekarang... ah?” Weini teringat sesuatu dan tampak terkejut hingga membuat Xiao Jun mengerutkan dahinya.


“Kenapa Hwa?”


“Aku baru ingat, tadi aku sempat bilang andai kamu ada di sini. Dan... kamu beneran di sini.” Ujar Weini bingung dengan dirinya.


Xiao Jun tertawa kecil, “Pantas saja aku merasa tak tenang dan ingin segera pulang, rupanya ada yang menyihirku untuk segera kembali. Tapi bagus juga, ini hasil yang tidak buruk Hwa.” Gumam Xiao Jun.


Weini menyipitkan matanya, mencoba berpikir sesuatu lagi yang masih mengganjal dalam benaknya. “Kalau begitu aku harus berhati-hati sekali untuk bicara. Jangan sampai ucapan burukku jadi kenyataan. Saat ini masih aman saja, apa yang terkabul adalah hal baik. Tapi aku sendiri tidak yakin dengan kemampuanku ini Jun. Apa ada efek sampingnya terhadap orang yang ku sihir dan... berapa lama sihir itu bekerja?”


Xiao Jun berpikir keras, ikut merasakan apa yang Weini cemaskan. Ia pun tidak paham dengan kekuatan baru Weini yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. “Hmmm aku pun tidak mengerti Hwa, sementara ini kita sambil riset saja seberapa lama sihir itu bertahan. Jangan dipikirkan, mulai sekarang pikirkan yang baik-baik, yang indah-indah saja ya biar jadi kenyataan.” Gumam Xiao Jun menghibur Weini.


Weini menatap Xiao Jun dengan lembut, ingin rasanya ia menyentil sesuatu yang ia harapkan tercetus dari pengakuan pria itu. “Contohnya?” Dan Weini mulai memancing Xiao Jun, berharap pria itu menjawabnya dengan tepat.


Xiao Jun mengerutkan dahinya, tatapan lembut Weini seakan memberinya kode untuk mengungkapkan lamaran. Tetapi....


Dua pasang mata itu saling beradu, bersitatap seolah bisa berkomunikasi lewat telepati.


Jun, apa kau akan mengatakan itu padaku? Gumam Weini berharap dalam hatinya.


❤️❤️❤️