
“Eh putra ayah sudah ingat pulang.” Ledek Haris sebagai kata sambutan saat melihat Xiao Jun datang.
Xiao Jun membungkuk hormat pada pria tua yang dihormatinya, meskipun hatinya agak geli mendengar sapaan yang terkesan berlebihan itu. “Selamat malam ayah, maaf baru ingat jalan pulang.” Tutur Xiao Jun menimpali candaan Haris.
Haris menahan tawa gelinya, sisi humoris dalam diri mereka rupanya klop bila dipadukan. “Ibumu sudah menunggu, sana temui dia segera daripada nggak tidur tidur dia.”
Xiao Jun mengangguk paham seraya tersenyum, “Baik ayah, aku permisi dulu.” Ujarnya kemudian bergegas berlari masuk ke dalam paviliunnya.
“Setelah itu temui ayah di pendopo, ayah tunggu!” Teriak Haris selagi Xiao Jun masih tampak oleh penglihatannya.
Xiao Jun hanya membalas dengan lambaian tangan dan dalam hatinya melontarkan balasan. Tenang saja ayah, aku pasti datang.
Xin Er tampak menyulam sapu tangan dengan pencahayaan terang sekaligus kacamata andalannya. Ia memilih melakukan aktivitas sembari mengisi kekosongan waktu kala menunggu kedatangan Xiao Jun. Putra yang begitu ia rindukan itu, tak sabar rasanya ingin melihat keadaannya sekarang. Ya, meskipun Xin Er sadar bahwa kekasih memang jauh lebih mendebarkan ketimbang seorang ibu, tetap saja terkadang Xin Er merasa egois untuk bisa dipentingkan Xiao Jun lebih dulu. Padahal Haris sudah berulang kali mengingatkannya, bahwa ini adalah masa anak muda, dan yang tua harus lebih pengertian.
“Ibu....” Sebuah panggilan dari suara yang sangat ia nantikan akhirnya terdengar juga.
Xin Er menghentikan aktivitasnya, diletakkan kain sulaman itu kemudian menengadah dan melihat kedatangan Xiao Jun. “Putraku, akhirnya kau pulang.” Ujar Xin Er dengan senang.
Xiao Jun membungkuk hormat, kemudian memeluk ibunya sejenak. “Maaf ya sudah membuat ibu menunggu sampai malam. Tadi ada urusan penting yang harus aku sampaikan pada Yue Hwa.”
Xin Er menggeleng pelan seraya tersenyum, “Tidak masalah, yang penting kamu sudah di sini. Besok kamu mau makan apa? Ibu siapkan apapun yang kamu mau.” Ujar Xin Er bersemangat.
“Apapun yang ibu masak, pasti aku habiskan. Oya bu, aku hanya sampai lusa saja di sini. Belum waktunya aku pulang tapi aku sudah terlalu rindu sama ibu.” Seru Xiao Jun mantap.
Xin Er tertawa kecil, pengakuan polos Xiao Jun barusan tidaklah sepenuhnya benar. Dan Xin Er tahu betul itu, “Rindu pada ibu atau rindu pada nona Yue Hwa?” ledek Xin Er yang akhirnya membuat tawa mereka pecah.
❤️❤️❤️
Haris menabur makanan ikan ke dalam kolam, menimbulkan gemericik air saat ikan itu memakan umpannya. Kebiasaan yang menyenangkan di saat menikmati masa tuanya yang santai. Samar-samar ia menangkap suara langkah pelan dari kejauhan, senyumnya mengembang, ia tahu siapa yang sedang mendekati tempat ini sekarang.
“Ibumu sudah tidur?” Tanya Haris basa basi sambil menyudahi kegiatan asyiknya. Ia berdiri dari posisi jongkok kemudian bersitatap dengan Xiao Jun.
“Sudah, ayah. Oya, ada apa ayah meminta ngobrol selarut ini? Apa ayah tidak istirahat?” Tanya Xiao Jun perhatian.
Haris menyunggingkan lekuk bibirnya, “Hmm... ayah terbiasa tidur beberapa jam satu hari, tidak masalah. Ayah hanya ingin memastikan padamu, jangan ditunda terlalu lama lagi. Tidak baik membuat anak gadis menunggu, kami para orang tua hanya menunggu yang muda gerak dulu. Kamu paham kan maksud ayah?”
Xiao Jun mengangguk mantap seraya tersenyum, “Paham ayah! Jangan khawatir, aku sudah mengajak Hwa ke Jakarta, aku akan tuntaskan urusan ini di sana.” Ujar Xiao Jun mantap.
Haris lega mendengarnya, ia tersenyum lebar dan senang. “Ini baru yang namanya putra ayah, ayo cepatan dan berikan ayah cucu.” Ujar Haris tak kalah bersemangat.
Xiao Jun hanya tertawa mendengar antusias ayahnya, ia tahu betul keinginan kedua orangtuanya untuk segera menimang cucu. “Pasti ayah!”
❤️❤️❤️
“Jadi fix ya ini, jangan gonta ganti lagi loh sayang!” Ujar Stevan menegaskan, ia perlu sedikit penekanan agar Grace tidak berubah pikiran lagi.
Stevan mengangkat satu alisnya, ragu dengan keputusan Grace yang tampak belum stabil. “Bener loh ya, ini pilihan terakhir. Jangan minta diubah lagi loh.” Pinta Stevan.
“Eh? Tapi hmm....” Dari raut wajah Grace yang labil itu, sepertinya tidak meyakinkan lagi untuk dipercaya. Stevan menghela napas, andai ia tahu seribet ini mengajak Grace menyiapkan pernikahan, lebih baik ia lakukan sepihak saja biar gadis itu tahu beres. Tapi tetap saja tidak mungkin, gadis itu pasti terlibat untuk fitting gaun dan pasti akan cerewet untuk diajak ikut serta.
“Plis deh sayang, kasihan mas nya loh dari tadi kamu kerjain.” Ujar Stevan yang melirik melas pada pegawai toko itu. Sementara orang yang dia maksud hanya cengar cengir saja.
Grace merasa bersalah, bibir seksinya membentuk bulatan O hingga terlihat sangat manis. Andai hanya berduaan, sudah pasti Stevan menjiwir bibir manis itu dengan kecupan mesra.
“Iya deh, kali ini fix kok. Tapi mas, aku mau warna tintanya diganti gold ya, aku nggak suka sama silver kurang serasi.” Pinta Grace bawel.
“Baik kak, pasti kita ganti sesuai keinginan. Ini fix ya pakai model ini untuk seribu pcs undangan?” Tanya pegawai toko itu memastikan ulang, sudah kesekian kali juga ia mengatakan dan berharap kali ini adalah finalnya.
Grace mengangguk mantap kemudian tersenyum, “Ya, fix.”
“Syukurlah, kalau gitu ayo sayang kita ke butik desainer. Kita udah telat nih dari janjiannya, dia paling nggak suka kalau klien telat.” Ujar Stevan sengaja menciptakan alasan demi mencegah Grace berubah pikiran lagi. Ia menarik tangan gadis itu pergi dari sana tanpa mendengar sepatah katapun sebagai balasannya.
“Yang benar saja ada desainer sebawel itu terhadap langganan? Kok aku nggak yakin ya?” Grace akhirnya bisa buka suara ketika mereka sudah di dalam mobil.
Stevan setengah tertawa, menahan tawa itu pecah lantaran Grace ternyata percaya seratus persen dengan mengarang indahnya. “Ya... gitu deh, pokoknya nanti pilih model impian kamu ya. Kamu udah ada gambaran kan pengen model gaun seperti apa?” Tanya Stevan memastikan lagi dan berharap keplin planan Grace tidak terulang di tempat lain.
Grace mengetuk bibirnya dengan jemari telunjuk, nampak berpikir serius tentang pertanyaan Stevan. “Hmm... ada sih, aku lagi naksir model yang kayak gini tapi kalau bisa lebih divariasikan lah biar nggak jiplak banget.” Grace meraih ponselnya kemudian menunjukkan sebuah foto gaun pengantin yang ia simpan dari pencarian internet.
Stevan manggut manggut, setidaknya ia boleh lega karena untuk masalah gaun, Grace sudah punya pilihannya. “Aman deh kalau gitu.” Gumamnya pelan.
“Apa sayang?” Tanya Grace yang tidak jelas mendengarnya dan mengira Stevan tengah bicara dengannya.
Stevan agak gelagapan, tidak mungkin juga ia mengulang kembali ucapan yang tadi. Yang jelas jelas sedang mensyukuri jika Grace tidak bawel dengan pilihan. “Nggak apa apa sih, aku tadi Cuma bilang sayang aja si Dina nggak bisa ikutan, kalau bisa kan kalian bisa klop aja. Dia bisa kasih kamu masukan juga, sayang.” Ujar Stevan mengalihkan topik.
Grace beroh – oh ria, apa yang dikatakan Stevan memang benar andai ada Dina pasti lebih ramai. “Iya, lagian kamu sih pilih hari huntingnya kok pas banget sama kedatangan pacarnya. Ya dia lebih milih jemput Ming Ming lah daripada nemenin aku, huh... coba ada Yue Hwa, pasti aku juga bisa minta pendapatnya.” Gumam Grace yang merasa rindu pada dua sahabatnya itu.
Stevan hanya nyengir, “Kamu kangen ya sama Weini? Sama... aku juga sih, terbiasa ada dia di sini jadinya aneh aja kalau tiba-tiba udah nggak ada aja itu orang. Nggak adanya beneran pula, wajahnya udah berubah ha ha ha....”
Grace ikutan nyengir saat mendengar gelak tawa Stevan, “Apanya yang lucu? Kalau aku jadi dia pun, aku pasti lebih memilih kehidupan yang sekarang. Hidup di balik topeng itu apa enaknya? Serasa membohongi diri sendiri.”
Stevan mengangguk, membenarkan apa kata kekasihnya. “Yup, kamu benar seribu persen. Dan yang tidak habis aku pikirin, kenapa kalian yang dulunya musuh bebuyutan kok bisa jadi rindu setengah mati? Ha ha ha... benar kata orang, benci dan cinta itu beda tipis, makanya kamu yang dulu ikutan benci sama aku, sekarang jadi cinta kan.” Ledek Stevan yang mulai membanggakan dirinya.
Grace yang merasa tersindir dan malu pun memilih bungkam namun memberi balasan yang menyakitkan bagi Stevan. “Ampun... udah Grace udah!” pekik Stevan yang meringis lantaran dicubit pinggangnya oleh Grace.
❤️❤️❤️