OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 347 TIDAK ADA TEMPAT BERSEMBUNYI



Kepanikan yang dirasakan Li An dan Wen Ting membuat mereka tak saling bicara sepanjang perjalanan. Fokus mereka sepenuhnya pada Xin Er yang belum sadarkan diri. Li An bahkan tak percaya terhadap apa yang menimpa


ibunya sehingga sesekali mengguncang tubuh tua Xin Er. Pun begitu tiba di rumah sakit, Wen Ting sangat sigap menggendong ibu mertuanya turun dari mobil hingga disambut oleh tim medis dari ruang gawat darurat. Setelah itu pihak keluarga hanya pasrah menunggu konfirmasi lebih lanjut dari dokter yang sedang menangani Xin Er.


Li An kehabisan kata-kata, ia terus menangis sesengukan. Wen Ting yang melihat kondisi istrinya yang sangat terpukul itu langsung mendekapnya dalam pelukan. Dalam dekapan itulah, Li An semakin kuat terisak,


menumpahkan segala rasa yang berkecamuk itu.


“Sabar sayang, percayakan pada dokter ya. Ibu pasti tertolong.” Bisik Wen Ting menguatkan hati Li An.


“Aku tidak tahu apa yang terjadi, aku yang buatkan kue untuk ibu dan dia muntah darah setelah makan kue itu?” Desis Li An, ia mulai menyalahkan diri atas musibah yang menimpa ibunya.


Wen Ting hanya diam dan menepuk ringan punggung Li An untuk menenangkannya. Ia pun tak habis pikir dengan kejadian mengejutkan itu. Semenjak Xin Er datang, tepatnya semenjak resepsi pernikahan mereka ada saja kejadian aneh yang janggal menurut Wen Ting.


“Ah, jika terjadi hal buruk pada ibu … Aku tidak akan memaafkan diriku.” Jerit Li An, ia tak henti menyalahkan dirinya dan menganggap dirinya sebagai pembunuh andai Xin Er mengalami hal terburuk yang tak sanggup ia ucapkan.


Wen Ting menepis pikiran buruk istrinya, ia tetap meyakinkan bahwa itu bukan salahnya. “Jangan berpikir seperti itu, tenanglah aku akan menyelidiki semuanya. Kita doakan yang terbaik untuk ibu.


Li An mulai diam meski masih terdengar sesengukan. Wen Ting melirik supirnya yang masih berdiri di belakang menunggu dengan setia. “Hubungkan aku dengan kepala pelayan Xu.” Perintah Wen Ting karena ia sadar tidak membawa ponsel saking sibuknya tadi.


Tak perlu waktu lama, telpon itu terhubung dengan orang yang Wen Ting cari. Kepala pelayan dari klan Xu yang sudah mengabdi tiga puluh tahun di kediaman Lo. “Bibi Xu, tolong periksa semua pelayan di rumah. Apakah kau menerima orang baru? Dan tolong sampaikan pada bagian keamanan untuk memeriksa rekaman CCTV di setiap sudut rumah. Siapapun yang mencurigakan, laporkan padaku.” Perintah Wen Ting tegas.


Belum terdengar jawaban yang diharapkan Wen Ting namun malah isakan tangis dari wanita tua itu. “Tuan muda, maafkan hamba … Ada seorang pelayan baru ditemukan bunuh diri di kamarnya, dia menggenggam secarik kertas di tangan kanannya dan ….” Kata-kata bibi Xu terjeda karena merasa takut.


“Dan apa?” Tanya Wen Ting dengan suara yang meninggi, ia tak sabar dan tak ingin digantung.


Bibi Xu tak mampu meneruskan namun hanya terisak, hingga Li Mei yang ada di dekatnya pun mengambil alih telpon.


“Adik ipar, ada penyusup di rumahmu. Dia diutus seseorang untuk menaruh racun di makanan ibu. Kertas yang digenggamnya bertuliskan, ‘Tidak ada tempat yang aman untuk sembunyi, jika ingin ibumu selamat dari racun, segera utus Xiao Jun kembali dan menikahi Grace!’ Apa kau tahu siapa pelakunya?” Li Mei mengatakannya dengan suara bergetar, ia jelas ketakutan namun masih kuat mengontrol diri untuk lebih tenang dan menyampaikan pesan menakutkan itu.


Ancaman ini serius, jika diabaikan maka bukan hanya nyawa Xin Er  yang dipertaruhkan namun mungkin nyawa Haris, Xiao Jun, Li An bahkan Li Mei dan Wen Ting pun akan ikut diseret oleh si peneror. Rumah Wen Ting yang super ketat pengawasan dan aman saja berhasil disusupi, itu tandanya kekuatan musuh memang tak bisa


disepelekan.


Wen Ting menggertakkan gigi, tangannya mengepal geram. “Kurang ajar! Dia berani mengusik ketenanganku dengan ancaman murahan itu! Aku tidak akan memberinya ampun!” Ujar Wen Ting kesal, perkataannya barusan memancing rasa penasaran Li An. Lewat tatapan mata, ia berharap diberitahu yang terjadi oleh suaminya.


“Tunggu aku pulang, nanti kubereskan sisanya. Kakak ipar tenanglah, pengawalku pasti menjaga lebih ketat setelah ini.” Ujar Wen Ting mencoba menenangkan Li Mei yang pastinya penuh rasa takut di rumahnya.


“Apa yang terjadi?” Tanya Li An sembari memegangi lengan suaminya.


“Keluarga pasien?” Tanya dokter yang menunggu di depan pintu.


Li An dan Wen Ting menoleh bersamaan, Li An yang lebih dulu berlari menghampiri. “Bagaimana kondisi ibu saya, dokter?”


“Pasien mengalami kelainan darah, kami duga ini karena racun. Namun masih kami pastikan lebih detail, untuk saat ini kami berusaha menetralkan racun dalam darahnya.” Dokter itu tak banyak memberi penjelasan yang melegakan. Dari raut wajahnya pun seolah terbaca bahwa kondisi Xin Er memang parah.


“Apa bisa seratus persen sembuh dok? Lakukan apapun untuk menyelamatkannya, saya bersedia membayar berapapun.” Tegas Wen Ting, ia berusaha mengelak dari ancaman si peneror dan berharap Xin Er dapat disembuhkan tanpa perlu menebus penawar.


Dokter itu hanya menghela napas, “Kami tidak berani menjanjikan tapi hanya akan terus berusaha.”


Li An merasa lututnya lemas hingga sedikit goyah, Wen Ting segera mendekapnya. Sesungguhnya kebahagiaan tak pernah lama, atau bahkan hanya singgah sebagai pemanis saja dalam hidupnya. Ketika ia merasa pantas untuk hidup tenang dan bahagia, rupanya satu persatu hal yang tak sesuai kenyataan itu merenggut kebahagiaannya. “Aku tak mau kehilangan ibuku.” Lirih Li An.


***


Haris tak bisa tidur malam ini, rasa kantuknya berubah menjadi ketegangan yang tak tertahankan. Ia harus bertindak namun semuanya terasa buntu, sungguh di luar perkiraannya bahwa tempat yang dianggap paling aman itu justru adalah tempat yang menakutkan. Ia tahu siapa pelakunya, dan tahu apa yang terjadi pada Xin Er lewat penglihatan gaibnya. Tetapi hanya tahu saja tidak akan berguna karena dia tak bisa membuat penawarnya.


Ia meraih ponselnya, dalam kondisi ini mungkin Xiao Jun belum tahu apa yang terjadi. Tak peduli jam menunjukkan pukul tiga dini hari, Haris tetap akan menghubungi Xiao Jun apapun caranya. Cukup lama sambungan telpon itu berbunyi hingga terputus sendiri karena tak diangkat, Haris tetap mengulangi panggilan, sampai Xiao Jun akhirnya mengangkat.


“Jun, ke tempat yang kemarin saat ini juga. Ayah tunggu!” Hanya itu yang disampaikan Haris kemudian menutup telpon. Untung saja Weini dan Dina sudah terlelap, saking lelahnya mereka sampai tak menyadari gerak gerik Haris yang gelisah. Haris pun bergegas keluar rumah dan menunggu putranya di tepi jalan, tempat baru mereka saat merapatkan hal penting.


***


Xiao Jun tak habis pikir mengapa ayahnya menghubungi di saat ia baru saja tertidur dan lelah. Ia memang tak keberatan karena pasti ada hal penting yang membuat Haris tak sabar menunggu pagi untuk bertemu. Kesadarannya baru saja terkumpul penuh, ia masih duduk di ranjangnya. Namun saat ingin mengunci ponsel, ia melihat ada dua panggilan dari kakak sulungnya yang terabaikan. Seketika itu juga hati Xiao Jun berdegup kencang, ia mulai menarik benang merah bahwa pertemuan yang diinginkan ayahnya ada hubungannya dengan panggilan Li Mei pada jam yang tidak biasa.


Dan teka teki yang menggelantung dalam pikirannya terjawab sudah lewat pesan yang dikirimkan kakak sulungnya. Saat itu juga hati Xiao Jun runtuh, masalah antara ia, ayahnya dan klan Li telah kembali menyetil ibunya. Ironisnya Wen Ting pun ikut diusik hanya karena menjadi bagian dari keluarganya.


Chat whatsapp Li Mei :


Jun, ibu keracunan dan masih dirawat di rumah sakit. Penawarnya ada pada si peneror dan memintamu menikahi Grace segera sebagai tebusan. Jun, apa yang harus kita lakukan?


***


Hi Readers, apa yang harus kita lakukan? Nikahkan Xiao Jun dan Grace sesuai tebusan atau membiarkan Xin Er kehilangan nyawa?


Seperti biasa mohon dukungan like dan komentarnya ya. Lophe lophe all … ^^