
Weini memencet enam digit tanggal lahirnya sebagai password apartemen Xiao Jun. Ia tersenyum tipis saat mendapati suara kunci terbuka yang menandakan password itu diterima. Weini tak habis pikir mengapa Xiao Jun menggunakan tanggal lahirnya untuk hal sepenting ini. Sembari tersenyum kecil, Weini meraih gagang pintu kemudian membukanya perlahan. Sejak saat itu, ketika Weini keluar dari apartemen di sebelah, saat itulah terakhir
ia berkunjung kemari. Ia masih ingat betul ruang tamu berdesain interior modern itu, tatanan ruang serta perabotnya masih sama.
Melihat seisi ruangan itu semakin mengingatkannya pada Xiao Jun. Weini mengernyit, langkah kakinya berhenti padahal hampir sampai di dapur untuk mencari arak sesuai instruksi Haris. Ia mempertajam indera penciumannya
di sudut itu, rasanya seperti mencium aroma parfum Xiao Jun yang khas. Aroma yang begitu ia kenali dan sangat dirindukan. Weini menggeleng pelan, ditepisnya perasaan rindu itu lalu kembali fokus ke dapur mencari arak pesanan Haris.
Weini mencari arak yang dimaksud ayahnya di antara banyak botol minuman serta kotak bumbu yang berjejeran. Jujur saja Weini kagum pada Lau yang sanggup mengurusi pekerjaan rumah serta kantor sekaligus. Terlihat dari kondisi rumah yang rapi dan bersih padahal Xiao Jun tidak mempekerjakan asisten rumah tangga. Sebuah botol kaca berwarna kuning gading dan transparan menarik perhatian Weini, ia mengambil kemudian membuka tutupnya.
Diciuminya mulut botol untuk mengetahui aroma dari minuman dalam botol tersebut.
“Sepertinya ini yang ayah maksud, tapi kadaluwarsanya masih lama. Kenapa dia bilang sebentar lagi dan harus segera diambil?” Gumam Weini bingung tetapi ia memilih tak ambil pusing lagi. Ia mencari sebuah kantong plastik untuk mengantongi botol itu lalu berniat segera keluar dari apartemen. Meskipun ini adalah hunian kekasihnya tetapi Weini segan berlama-lama di sini, apalagi tanpa seijin pemiliknya.
Semakin menatap sekeliling, Weini merasa kangen dengan kehadiran Xiao Jun. Terbayang andai di sini ada kekasihnya itu, mungkin rumah ini akan terasa jauh lebih hangat. Perhatian Weini tersita pada sebuah pintu ruangan yang ia yakini adalah kamar Xiao Jun. Kakinya melangkah ringan menuju kamar itu dan kata hatinya menuruti gerak reflek itu. Weini berhenti di depan pintu, ada sedikit ragu namun juga terselip rasa penasaran yang besar.
Tidak perlu buru-buru pulang, kamu kangen-kangenan dulu di kamar Jun. Siapa tahu masih ada aroma tubuhnya yang tertinggal dan bisa mengobati kangenmu. Kata-kata Haris terngiang dan makin menggoda Weini untuk masuk ke dalam, siapa tahu bisa membuktikan pesan Haris itu. “Sebentar saja pasti tidak masalah.” Gumam Weini mencari pembenaran agar tidak merasa bersalah menyelundup ke tempat privasi milik kekasihnya.
Kamar nan luas dan rapi itu memukau Weini, senyumnya mengembang seiring derap kaki yang sepenuhnya membawa ia masuk semakin dalam. Sebuah ranjang besar yang tertata rapi, meja kerja yang berdekatan dengan jendela, dan tidak banyak perabot di dalam kamar besar itu. Dugaan Weini keliru, ia mengira di dalam kamar Xiao Jun justru lebih banyak barang-barang yang lebih berharga daripada yang terpajang di ruang tamu.
Tirai jendela disibak oleh Weini agar ruangan itu mendapatkan sinar yang masuk. Betapa terkejutnya Weini saat pemandangan pertama yang ia lihat dan mencolok dari balik jendela itu menampakkan dengan jelas papan reklame berukuran besar yang dulu memajang wajahnya. Ia tak menyangka bahwa Xiao Jun memajang iklan dirinya di sana bahkan sebelum mereka jadian, dan kini ia tahu alasannya agar leluasa menikmati fotonya dari kamar ini. “Kamu memang tidak tertebak, tapi trimakasih Jun atas cintamu.” Gumam Weini yang terharu dengan cinta Xiao Jun padanya. Jika ia tidak datang hari ini, mungkin kenyataan itu tak pernah ia ketahui.
Perhatian Weini beralih dari pemandangan luar jendela, tatapannya sibuk mencari tahu apalagi yang mungkin bisa membuatnya semakin mengenal pria itu. Tangan Weini mulai membuka berkas di meja kerja, ia membolak-balik halaman kertas dan hanya tersenyum karena tak mengerti isinya yang menyangkut pekerjaan. Hingga saat matanya tak sengaja menatap di lemari TV yang tak jauh dari meja, sebuah foto kecil yang dipigura dan terletak di sana
mencuri perhatiannya. Weini merapikan lagi berkas yang dibukanya kemudian berjalan mendekati lemari, matanya menyipit saat melihat foto itu. Ia mengambilnya agar lebih jelas melihat siapa ketiga orang yang ada dalam foto
yang diduga potret sebuah keluarga. Ada seorang anak laki-laki kecil kisaran usia 4 tahun yang imut yang digendong oleh seorang wanita muda dan di sebelahnya berdiri pria yang pasti adalah ayahnya.
Tangan Weini seketika gemetaran, jantungnya berdegup kencang lalu ia merasa lututnya tak mampu menopang tubuhnya. Pria dalam foto itu ada dalam ingatan Weini, sesaat ia belum mengingat jelas namun kini ia memastikan betul bahwa foto yang dipegangnya adalah foto Haris ketika muda. Haris yang dulu menjadi pengawal ibunya sebelum ditugaskan untuk melindunginya. Tubuh Weini terhuyung lalu terduduk di lantai, kedua matanya terbelalak tanpa berkedip dan akhinya mengenali wanita yang menggendong anak itu adalah Xin Er muda.
“Aaarrghhh!” Weini menjerit seorang diri, air matanya menetes kaca pigura foto lantaran ia masih terus menatap antara percaya atau tidak percaya.
“Jadi selama ini ayah sudah bertemu putranya tanpa mereka sadari? Tapi kenapa Jun berganti marga? Ah… Jangan-jangan ayah kandungku….” Weini kembali terkejut dengan dugaannya, ia merasa ayahnya telah menjadikan
Xiao Jun sebagai anak penggantinya. Jika dipikirkan, penguasa bermarga Li yang mana lagi yang sanggup memaksakan perjodohan pada anaknya selain Li San.
Jangan pergi! Mereka tidak akan melepaskanmu! Kata-kata yang Grace sampaikan sewaktu sekarat di rumah sakit teringat lagi. Semuanya ada kaitan, Grace juga menyembunyikan sesuatu dari Weini. Mereka yang dimaksud Grace
saat itu masih terus mengganggu pikiran Weini, “Apa mungkin ayah kandungku masih berusaha membunuhku? Apa Grace juga tahu itu semua?”
Weini menggelengkan kepala, ia meronggoh ponsel dalam tasnya dan segera menelpon Xiao Jun. Ia terus menggigiti bibir bawahnya saking panik dan ingin segera mendapat konfirmasi dari Xiao Jun, apa dia sudah tahu atau justru Xiao Jun belum sadar bahwa Haris adalah ayahnya. Berkali-kali Weini mencoba menghubungi Xiao Jun tetapi gagal, ia berganti haluan dengan menelpon Haris tetapi hasilnya sama saja, tidak terdengar sahutan yang menerima panggilannya.
“Sesibuk apa kalian sampai tak ada yang menjawabku!” Pekik Weini mulai menyerah. Jemarinya dengan lincah mengetik pesan lalu mengirim pada Xiao Jun. Ia tak punya banyak waktu untuk menanti balasan, foto kecil itu dimasukkan dalam tasnya kemudian ia berlari tergesa meninggalkan kamar dan apartemen Xiao Jun. Ia harus mencari tahu sendiri siapa saja yang sudah tahu rahasianya.
Ayah, kamu sudah menemukan putramu! Xiao Jun itu putramu! Gumam Weini dalam hati, ia berharap telepatinya tersampaikan pada Haris.
Saat berlari melintasi depan apartemen Grace, langkah kaki Weini berhenti seketika. Ia bergeming menatap pintu itu kemudian bergegas menghampiri dan memencet belnya. Tak sabar menunggu, ia menggedor pintu dengan keras sampai terbuka dari dalam.
“Nona Weini?” Fang Fang bertanya dengan sorot heran pada Weini yang tiba-tiba muncul dengan mata yang masih sembab.
Weini menatap tajam pada Fang Fang, sulit untuk menentukan siapa yang bisa dipercayai lagi. “Siapa….” Weini menahan isak tangisnya dengan susah payah kemudian melanjutkan perkataannya.
“Siapa Grace?”
***
Poor Weini hiks….