OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 250 MENGUMPULKAN SISA NOSTALGIA BERSAMAMU



Kamu ada di hari-hariku, terbenam dalam diriku


Bagaikan pagi yang bertemankan embun dan fajar


Bagaikan siang yang bertemankan matahari dan awan


Bagaikan malam yang berpadukan cahaya rembulan dan kerlip bintang


Bagaikan hembusan napas dalam setiap detikku


Tanpamu, aku bagaikan subuh yang mendung


Bagaikan siang berawan gelap pekat dan hujan yang membiaskan sinar matahari


Bagaikan rembulan yang bersembunyi di balik awan hitam, tanpa bintang


Sepenting itulah arti dirimu dalam hari-hariku


Kumohon, beri aku kesempatan memperbaiki kesalahan di masa lalu


_Quote of Xiao Jun_


***


Kualitas tidur Weini pasca tidak ada job ternyata lebih berkualitas dan nyenyak. Sepanjang malam ia tidur tanpa terusik apapun, bahkan mimpi pun tidak singgah menjadi bunga tidurnya. Gadis itu berencana bangun siang, semampunya untuk tidur hingga terjaga dengan sendirinya. Ia tak lagi perlu menyetel alarm, biarlah ia nikmati masa libur ini sepuasnya.


“Jam pagi datang! Waktunya gadis bangkit dari kasur!” Haris berdiri di muka pintu kamar Weini, membuat suara ketukan dari wajan dan spatula, makin lama bunyinya kian intens dan nyaring sehingga Weini tergugah dan menutup telinga. Ayah dan anak itu seperti tengah perang mengadu kepala siapa yang paling keras. Weini tetap enggan beranjak meskipun suara gaduh itu memekakkan pendengaran, kolaburasi wajan dan spatula itu tentu sudah terkontaminasi pengaruh sihir Haris sampai bisa menggema dan menggelitik telinga gadis itu.


“Ayah! Cukup ah!” Weini menyerah, ia bangun dengan sangat terpaksa. Wajahnya kusut lantaran tak senang kalah perang dengan Haris.


Haris tersenyum puas lalu kembali ke dapur, ia yakin Weini akan berpikir ulang untuk kembali tidur. Tebakannya cukup jitu, gadis itu kini berjalan tergopoh menghampirinya dan Haris tahu apa yang akan terjadi setelah ini.


“Ayah, kau tega! Bahkan di hari liburku pun tidak kau biarkan aku tidur santai.” Pekik Weini, ia mendengus saking kesalnya.


Haris berbalik badan dan tertawa mendengar keberatan yang dinyatakan anak gadisnya. “Tidak ada alasan, bangun pagi adalah keharusan.”


Weini menguap, ia sungguh masih ingin bercumbu dengan kasur. “Oke, aku sudah bangun untuk kembali tidur.” Usai menyampaikan itu, Weini berbalik hendak kembali ke kamar. Haris jelas tidak akan mengijinkan itu terjadi, dengan benang sihir ia menarik paksa tubuh Weini hingga terseret mendekati Haris. Weini tersentak kaget dan berteriak lantaran tidak siap menerima serangan itu.


“Bantu aku masak, kita sudah lama tidak pesta.” Haris membeberkan alasan sebelum Weini mengamuk.


Weini mengurungkan niat melakukan pembalasan, ajakan Haris lebih menarik ketimbang adu kekuatan. “Tumben, ada perayaan apa ayah?” Weini mengingat tanggal hari ini, takut kalau ada hari penting yang luput dari ingatannya.


Haris menahan jawabannya sesaat demi memastikan rasa masakannya sudah pas atau belum. Setelah ia meletakkan sendok cicipnya, ia menoleh dan tersenyum pada Weini sembari memberikan jawaban yang menohok. “Hanya perayaan kecil-kecilan, merayakan hari pertamamu menjadi pengangguran.”


Weini mencibir, “Apa itu membuatmu sangat bahagia? Melihatku mendekam di rumah tanpa pemasukan itu sebuah prestasi bagi ayah?”


“Kau bisa kembali jadi asistenku, tenang aku pasti menggajimu. Atau kau bisa melanjutkan studimu, bukankah kau tetap harus jadi mahasiswi?” Haris penuh semangat memberikan dua tawaran sekaligus pada Weini.


Ingin rasanya Weini menangis, jika bukan karena gengsinya masih tinggi untuk tidak menyerah. Ia bersedia menjadi asisten Haris, tetapi opsi kuliah adalah sebuah keputusan yang di ambang putus asa. Perlu puluhan kali berpikir untuk menjadikannya nyata. “Ayah, sembilan tahun sekolah masih terasa lelahnya sekarang. Aku belum mau menyiksa otakku dengan pikiran berat, lebih baik aku tetap jadi asistenmu bila perlu kelak aku akan mewarisi bisnismu ini. Ayah tidak perlu kuatir tidak ada penerus yang jadi guru privat.”


Haris menggelengkan kepala, menyuruh gadis itu belajar lebih sulit daripada memaksanya bangun pagi. Sebenarnya Haris hanya cemas Weini akan stres karena kehilangan pekerjaan dan ingin mencarikannya kesibukan.


Namun sepertinya usulnya tak terdengar menarik bagi gadis itu. “Lalu apa rencanamu sekarang?”


Weini tersenyum, ia tahu ayahnya mencemaskannya. “Ayah tenang saja, aku sangat menikmati masa ini. Nanti juga pasti akan kembali syuting lagi kok. Sekarang aku ingin lebih fokus berlatih, apa yang sering aku lakukan ketika masih punya banyak waktu luang.”


“Apa itu?” Haris penasaran, minat apa lagi yang digandrungi Weini selain seni peran.


“Nanti juga ayah tahu. Ayo, mau dibantu masak apa sekarang?” Weini menjadikannya sebuah kejutan, ia bahkan enggan membeberkan dalam pikiran karena ia tahu Haris peka membaca isi hatinya.


***


Sejak pagi hingga matahari kian meninggi, Xiao Jun terus berkutat dengan setumpuk pekerjaannya. Ia mulai penat lalu menjauhkan laptopnya dari jangkauan. Matanya mulai terpejam sembari ia memberikan pijitan ringan di sekitar dahi. Betapa hari-hari yang tidak mudah dilalui, setiap hari mempunyai tantangan tersendiri bagi Xiao Jun. Sarapan paginya tadi justru dibingungkan dengan tingkah aneh Weini, dan teka-teki itu masih menunggu untuk dipecahkan. Lalu yang tak kalah membingungkan lagi adalah Grace, sifat gadis yang meluap-luap itu sulit ditebak. Xiao Jun belum merasa tenang meskipun gadis itu menyatakan untuk membatasi diri darinya, semua terasa terlalu mudah dan semakin mencurigakan.


“Weini, sebenarnya kamu punya rahasia sebanyak apa? Aku harap ini hanya sebuah kebetulan, tidak mungkin sihir ayahku begitu terasa padamu.” Xiao Jun meremas kertas tak terpakai di mejanya kemudian melemparnya tepat ke tong sampah. Tak puas dengan pelampiasan seperti itu, ia memutar kursi yang ia duduki hingga menghadap ke luar jendela. Namun ketika melihat wajah artis cantik lain yang terpampang di papan reklame yang menghadapnya, justru


semakin memperkeruh suasana hatinya. Ia segera berdiri dan dengan kesal meraih tirai lalu menutup rapat jendela besar di hadapannya.


“Apa aku yang terlalu berlebihan? Ah …” Xiao Jun kembali duduk, jarinya mulai mengusap hidungnya.


Ponsel yang masih senyap sejak ia bangun itu menarik perhatiannya. Ia meraih ponsel itu untuk memeriksa, rupanya memang tiada berita di sana. Bahkan Dina pun belum melaporkan apapun padanya. Xiao Jun membuka


histori chatnya dengan Weini, semua pesan di sana memang tidak sinkron sejak ia kembali ke Hongkong. Tak ada lagi balasan yang cepat, saling melemparkan candaan atau sekedar perhatian kecil yang membuat mereka tersenyum sendiri membacanya. Xiao Jun merindukan masa-masa itu, jarinya tergerak untuk bernostalgia lalu dengan lincah merangkai sebuah kata dan mengirimkannya untuk Weini tercinta. Meskipun Xiao Jun tahu hasilnya akan percuma, yang pasti ia sudah sangat puas bisa mengeluarkan isi hati dan perhatiannya pada gadis yang


tepat. Pesan itu sukses terkirim, menanti pihak sebelah membacanya.


***


Hi readers, kira-kira apa ya bunyi chat Xiao Jun kepada Weini? Coba tebak, thor ingin tahu pendapat kalian dan siapa tahu nanti thor jadikan cerita buat episode selanjutnya. ^^