OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 109 TO SEE YOU ONCE AGAIN



Hampir setengah jam Weini mendengar konser kamar mandi yang dibintangi oleh Haris. Beberapa hari ini perubahan sikap Haris sangat menakutkan, Weini hampir tak mengenali pria yang tinggal bersamanya selama belasan tahun.


“Lagi masak dia nyanyi, mandi juga nyanyi, sebelum tidur nyanyi. Sepanjang hari tak terhitung jumlah lagu yang dia bawakan. Huft… ada apa dengan ayahku?” Weini mengangkat bahu, pasrah dengan keadaan sekarang.


“Ayaaah… lagi ngapain?” teriak Weini di depan kamar mandi. Terdengar suara guyuran yang intens namun sepertinya Haris tidak sedang mandi.


“Eh kenapa? Kau mau masuk? Bentar lagi kelar, aku lagi sikat lantai.” Teriak Haris kemudian kembali nyanyi.


Weini menopang dagu, sebenarnya suasana hati Haris sedang bagus. Namun yang Weini heran, apa yang bisa membuat ayahnya segitu bahagianya, seperti seorang remaja yang jatuh cinta… “Hah… mungkin ayah lagi


jatuh cinta!”


Tebakan yang terdengar konyol, Weini tidak mampu mempertahankan kegirangannya hingga satu menit. “Yang bener aja pak Haris jatuh cinta? Bukannya dia cinta mati sama istrinya? Kok bisa cepat berubah hati?”


Perasaan dan pikiran kacau berkecamuk, kalau Haris sungguh jatuh cinta lalu menikah lagi, Weini tidak tahu harus ikut senang atau kecewa. Belum kelar pikiran buruknya, Haris sudah keluar dari kamar mandi sambil bersenandung dan berlalu tanpa menghiraukan perasaan kusut Weini.


“Ajun bentar lagi sampe loh, kamu mau melamun sampai kapan?” Haris tiba-tiba celetuk dengan serius hingga membuat Weini ngibrit ke kamar mandi. Pria tua itu tersenyum kemudian melanjutkan senandungnya lagi.


So I say a little prayer


And hope my dreams will take me there


Where the skies are blue


To see you once again, my love


Westlife – My Love


***


“Huft…” Weini gundah gulana biarpun Xiao Jun ada di sampingnya, untuk saat ini pria yang ia cintai itu tidak bisa membuat hatinya berbunga-bunga seperti biasa.


“Ada masalah?” Xiao Jun mulai cemas, sepanjang ia menyetir dan Weini di sampingnya, ia sudah beberapa kali mendengar gadis itu mengeluh seperti itu.


Weini menoleh pada Xiao Jun, ia perlu teman curhat dan kekasihnya pasti orang yang paling tepat. “Nggak sih, hanya saja ayah beberapa hari ini bersikap aneh.”


“Aneh gimana?” kali ini Xiao Jun ikutan bingung, ia baru saja bertemu Haris dan pria tua itu terlihat normal.


“Itu… dia kayaknya lagi jatuh cinta.” Weini tak yakin dengan kata-katanya namun tidak sanggup memendam


sendiri. Walau terdengar seakan menuduh, tapi ia merasa tenang mengungkapkan apapun uneg-unegnya pada Xiao Jun yang tidak akan menyalahkannya.


“Hah? Jatuh cinta? Bukankah dia sangat tertutup?” Xiao Jun ikutan penasaran, wanita mana yang bisa


memenangkan hati pria sedingin kutub utara itu?


“Ayahku tidak begitu, malah lebih dingin kamu waktu pertama kenal.” Sindir Weini tidak rela Haris dinilai sangat tertutup padahal menurutnya Haris sosok yang ramah dan terbuka.


Xiao Jun bungkam, ia tidak menyangkal tapi gengsi mengakui. “Anehnya gimana? Kamu yakin itu tanda


dia lagi jatuh cinta?”


Weini dengan semangat menceritakan praduga tak bersalahnya tentang Haris. Sesekali ia malah mempraktekkan lagu yang sering diulang, Weini yakin makna lagu itulah yang mencerminkan perasaan Haris pada seseorang.


“pppfffff hahahaha…” Tawa Xiao Jun lepas saat melihat ekspresi menggemaskan Weini yang sedang meniru


gaya Haris.


Tawa yang tidak tepat waktu itu membuat Weini kesal, ia merasa seperti lelucon yang patut ditertawakan. “Luucu?”


Xiao Jun menutup mulut, ia bersusah payah menghentikan tawa. “Sorry… sorry… tapi menurutku paman tidak


sedang jatuh cinta. Ia hanya terlalu gembira menantikan sesuatu. Hemmm… udah beberapa hari ya sikap anehnya, apa karena kabar yang aku sampaikan jadi dia sangat antusias?” Xiao Jun mencoba menarik kesimpulan, sepertinya Haris terlalu gembira akan diajak ke luar negri bertemu ibunya.


Spekulasi Xiao Jun malah semakin membingungkan Weini, ia menatap curiga pada kekasihnya. “Kabar apa? Kapan kamu sampaikan ke ayahku? Kenapa aku nggak tahu? Apa kamu sekarang suka main rahasia ama aku?”


Segerombol pertanyaan langsung diborong Weini, ia sepertinya mulai menyerap ilmu jurnalistik saking sering ditodong wartawan dan menghindar. Xiao Jun tetap konsentrasi menyetir tanpa sepatah kata, hingga ia menemukan lahan di tepi jalan yang diperbolehkan untuk pemberhentian sejenak.


“Aku nggak bisa jawab semua pertanyaanmu, tujuanku mengajakmu keluar sekarang memang untuk


 menyampaikan secara khusus. Weini, dua hari lagi ikut aku ke Guangzhou menemui ibuku. Aku sudah minta Dina mengosongkan jadwalmu mulai hari itu hingga empat hari ke depan. Kamu dan paman Haris akan jadi tamu spesial kami, ini bersifat pemberitahuan jadi aku tidak mau mendengar penolakan!”


Serasa mimpi, Weini menepuk sebelah pipinya lalu meringis. Ketika ia ingin menepuk sebelahnya, Xiao Jun menangkap tangannya. “Hei, ini bukan mimpi. Jangan tampar wajahmu lagi.”


protes Weini. Ia kesal hingga nyaris meledak rasanya.


“Eh… kenapa kamu ngomong ke ayahku dulu? Kalian dekat banget sekarang, aku merasa kayak tersisihkan. Hiks…” rengek Weini, ini semua karena ia terlalu panik memikirkan akan dikenalkan pada seseorang yang sangat penting dan ia tidak percaya diri.


Xiao Jun membelai lembut rambut Weini, ditatapnya gadis itu dengan sorot yang menenangkan. Ia tahu Weini akan bereaksi seperti ini dan tahu kelemahannya agar bisa ditenangkan – dielus. “Paman yang memintaku merahasiakan dulu, ia tahu kamu akan cemas dan minder. Semakin cepat diberitahu, semakin lama kamu kepikiran terus. Kami hanya tidak ingin kamu takut, semua akan baik-baik saja. Ini hanya makan malam keluarga, biasa saja.”


Ucapan Xiao Jun ada benarnya, Haris memang sangat mengenal karakter Weini yang mudah panik. Tetapi ini


akan menjadi penilaian pertama keluarga Xiao Jun padanya, ia harus melakukan yang terbaik jika tidak mau dinilai kurang layak mendampingi seorang bos muda terkemuka.


“Jadi diri sendiri saja. Kamu jangan kebanyakan mikir, ibuku pasti suka padamu.” Xiao Jun memahami


kegelisahan Weini, tanpa diceritakan pun ia tahu itulah yang sedang dikhawatirkan kekasihnya.


Dua hari lagi, aku harus gimana? Pekik Weini dalam hati.


***


Weini bergegas masuk rumah ketika mobil Xiao Jun berhenti di depan pagar. Saking bengongnya hingga ia lupa mengajak Xiao Jun masuk, namun pria itu mengerti perasaan Weini dan membiarkannya menerima kenyataan dulu. Mobilnya melaju meninggalkan kediaman Weini setelah ia memastikan gadis itu menghilang di balik pintu masuk.


Rumah terasa sepi tanpa nyanyian Haris, keheningan itu terasa kurang nyaman bagi Weini yang tanpa disadari


sudah kecanduan suara ayahnya.


“Ayah?” any body home?”


Kepala Haris muncul dari balik dinding dapur hingga mengejutkan Weini. “Kebetulan kamu udah pulang,


sini bantuin aku.” Ujar Haris girang akhirnya ada tangan yang bisa membantunya.


“Ayah ngapain?” Weini menaruh tas di sofa ruang tamu lalu menyusul ke dapur. Ia penasaran apalagi


ulah Haris hingga tumben-tumbennya meminta bantuan.


Betapa kagetnya Weini melihat di lantai tercecer semir rambut hitam yang tidak karuan mengotori nyaris dua keping keramik. Si pelaku hanya nyengir tanpa rasa bersalah dan kedua tangan yang belepotan hitam.


“Bantu aku semir rambut, haha.” Dengan enteng Haris meminta Weini menjadi hairstylis padahal ia juga tidak berpengalaman menyemir rambut.


“Aku mana bisa ayah.” Weini menepuk jidatnya, Haris mendadak puber hingga merasa sangat peduli pada


penampilan. Selama ini ayahnya sangat simpel, potongan rambut ala bapak-bapak dan membiarkan uban mendominasi kepala.


“Nggak bisa ya?” Haris mulai kecewa, ia sudah bermain-main dengan pewarna rambut hingga habis dan


tidak mendapatkan hasil sesuai harapan.


Melihat ekspresi itu membuat Weini tidak tega, Haris saja berusaha berpenampilan terbaik demi pertemuan keluarga apalagi Weini yang menjadi bintang utama. Ia tidak boleh mengecewakan kekasihnya meskipun ia diminta menjadi dirinya sendiri.


*Bayangan Weini ketika menjadi diri sendiri : tomboy\, tidak suka pakai dress terbuka (karena tidak pede dengan bekas di punggungnya)\, tidak suka berdandan\, tidak suka pakai perhiasan.*


Weini menggeleng kepala, membuang jauh-jauh apa adanya dirinya yang harus ditonjolkan. Ia harus tampil berkelas agar dapat serasi dengan Xiao Jun.


“Besok kita ke salon langgananku aja, daripada disemir kita yang amatiran.” Ujar Weini menenangkan Haris.


Pria itu seakan mendapat ide, ia mengumbar senyum penuh semangat. “Tidak perlu, ayah akan minta


om Felix temani. Semasa om-om pasti lebih seru.”


Weini nyengir, “Kenapa nggak dari tadi aja ayah ajak dia?”


***


HI READERS, NANTIKAN EPISODE SELANJUTNYA YA…


SEPERTI APA KESAN PERTAMA XIN ER SAAT BERTEMU WEINI?


APA WEINI MENGENALINYA?


BAGAIMANA REAKSI HARIS MENGETAHUI IBU XIAO JUN ADALAH XIN ER?