
Liang Jia duduk di belakang Weini yang tengah sibuk dirias oleh dua orang perias kepercayaannya. Wanita tua itu sedari tadi murah senyum mengamati Weini yang bersiap menghadapi momen pentingnya. Ia berlagak bak mandor yang tak bisa percaya begitu saja pada ahli kecantikan yang sedang merias wajah putrinya. Tetap saja Liang Jia ingin mengawasi sedetail mungkin agar Weini terlihat sempurna.
Parasnya yang memang sudah cantik alami dari sananya, semakin terpancar kecantikannya berkat sapuan make up. Sebenarnya Weini sudah terbiasa dengan perlakuan ini, dulunya ia selalu berkutat dengan make up dan ribetnya persiapan sebelum tampil. Rasanya saat ini ia sedang bernostalgia sejenak dengan rutinitas yang telah ia tinggalkan, dan mungkin tak akan pernah ia lakukan lagi.
“Sudah cukup, biar begini saja.” Gumam Weini saat melihat pantulan wajahnya di cermin. Hasil riasan yang simpel namun membuatnya terlihat flawless, rambut panjangnya yang diikat simpul menambah kesan manis pada penampilannya. Weini tersenyum, ia puas dengan hasil yang sesuai dengan keinginannya.
“Eh, coba ibu lihat.” Ujar Liang Jia yang ikut penasaran, ia pun bergegas menghampiri Weini dan melihat langsung bagaimana rupa anak gadisnya itu. Senyum puas pun mengembang penuh dari bibir Liang Jia.
“Kamu memang sudah cantik, dipoles sedikit aja tambah cantiknya.” Puji Liang Jia sambil menatap Weini dengan terkagum kagum.
Weini tersenyum seraya menggeleng pelan, “Ibu bisa saja... ini kan sesuai arahan ibu yang katanya dirias seperti ini saja.” Ujar Weini yang ingin memberi andil pada ibunya agar terhibur.
Liang Jia meraih tangan putrinya, menggenggamnya dan merasakan kehangatan dari tangan halus itu. Tinggal mereka berdua dalam ruangan ini, menunggu kesiapan mereka untuk menjalankan tugas selanjutnya. “Kamu sudah siap kan?” Tanya Liang Jia lembut.
Weini memberikan jawaban berupa anggukan, “Iya ma, Hwa akan berusaha yang terbaik. Ibu tenang saja, semua pasti berjalan lancar.”
Liang Jia menghela napas sejenak, meskipun Weini berkata demikian namun ia tidak bisa menutupi rasa cemasnya. “Hwa, ibu percaya kamu sanggup mengatasi semua itu. Ibu akan tetap ada di dekatmu, kamu harus tegar ya. Ini pasti sulit bagimu, tapi setelah ini ibu yakin akan kehidupan kita akan normal lagi.” Gumam Liang Jia penuh harap.
“Aku mengerti ibu, semoga demikian.” Ujar Weini dengan senyum lapangnya.
❤️❤️❤️
Hari yang dinantikan oleh banyak pihak akhirnya telah tiba, di mana Weini akan muncul pertama kalinya di depan umum. Memperlihatkan wajah asli yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng, yang secara otomatis akan menguak tentang kemampuan supranatural yang ia serta Haris rahasiakan pada dunia.
Aula utama sudah disetting menjadi tempat menampung awak media yang disortir oleh pihak kediaman Li. Tidak semua media berkesempatan datang meliput, dan Haris yang secara ketak menyeleksi mereka yang boleh hadir. Pun ketika mereka hendak memasuki aula utama, beragam pemeriksaan ketat kembali dilakukan, dan Haris yang memimpin semua protokol keamanan itu.
“Tuan, semua sudah kami periksa dan sesuai dengan identitas mereka.” Lapor salah satu pengawal yang diutus Haris untuk membantunya.
Haris mengangguk, “Ijinkan mereka masuk dan menempati tempat yang sudah kita beri nama masing masing. Setelah itu jaga perintahkan yang lainnya untuk menjaga keamanan di gerbang utama serta pengawalan ketat saat Gong Zhu berangkat dari paviliunnya menuju kemari.” Ujar Haris tegas.
Segalanya sesuai yang direncanakan oleh Haris, persiapan menuju konferensi pers yang akan disampaikan langsung oleh Weini. Para penggiat berita itu sudah mempersiapkan alat tempurnya, hingga kondisi aula utama layaknya studio syuting yang dipenuhi banyak kamera. Banyak yang memanfaatkan kesempatan ini untuk menyoroti desain bangunan serta keunikan dekorasi kursi kebesaran sang penguasa. Haris hanya mengawasi dengan tatapannya, selama semuanya masih dalam konteks kewajaran, ia tidak akan bersuara.
“Aku penasaran seperti apa sih wajah nona penguasa baru itu? Mungkin parasnya menakutkan sehingga ia perlu bersembunyi sekian lama.”
“Ya... aku juga curiganya begitu, kalau memang cantik dan normal, untuk apa juga ia sembunyi. Katanya dia pakai topeng, wajah topengnya begitu cantik, apa mungkin dia bersembunyi sejenak sambil membuat topeng baru lagi? Mengerikan....” Celoteh rekan wartawan menanggapi ocehan salah satu rekan seprofesinya.
Kini Haris tak hanya mendengarkan saja, ia pun melirik tajam ke arah dua orang pria bermulut nyinyir itu. Reaksi tubuh mereka saat bergunjing bahkan terlihat bergidik ngeri, membuat mata Haris panas saking geramnya. Beraninya kalian membicarakan hal buruk tentang nonaku!
Haris tak akan tinggal diam, tanpa ampun lagi ia menjentikkan jemarinya lalu sihirnya mulai bekerja. Dua orang yang masih asyik berjunjing itu tidak menyadari bahwa kamera mereka telah dirusak oleh Haris dan tiba tiba terlepas dari pegangan mereka.
Bruk! Dua kamera yang dipegang dua pria itu jatuh ke lantai dan membuat perhatian teralih pada mereka.
“Ahh... gawat!” pekik salah satu di antara mereka, disusul kata kata umpatan kekesalan saat memeriksa kamera mereka tidak bisa lagi difungsikan.
Haris tersenyum tipis, menyimpan kepuasannya seorang diri. Karena kalian lancang menghina seorang penguasa, terpaksa harus ku hadiahi hukuman ringan. Gumam Haris dalam hatinya, ia pun kembali melanjutkan tugasnya untuk mengontrol keamanan di sekitar, sembari menunggu kehadiran Weini di ruangan ini.
❤️❤️❤️
“Kamu cantik banget, Hwa....” Pujian itu lancar tercetus dari Xiao Jun saat ia melihat Weini yang tengah menerima panggilan videonya. Pujian yang jujur menyatakan rasa kagum Xiao Jun pada kekasihnya itu.
Weini tersipu, belakangan ini kekasihnya sering blak blakan memujinya. Tapi justru Weini merasa ketagihan mendengar apa yang disanjungkan oleh Xiao Jun.
Xiao Jun tahu gadisnya sedang tersipu malu, nampah dari wajahnya yang sedikit memerah oleh perona alami. Ia pun tak meneruskan kegombalannya lagi, karena apa yang ingin ia sampaikan lebih penting dari itu. “Hwa, maafkan aku yang tidak bisa menemanimu di sana. Aku akan terus mengawasimu dari sini, semoga semuanya berjalan sesuai yang kita harapkan. Aku yakin kamu pasti bisa mengatasinya.” Ungkap Xiao Jun lembut namun tegas.
Weini terkesima, perhatian Xiao Jun seperti itu sudah cukup menguatkan hatinya. Tidak perlu banyak hal yang diberikan, asalkan ia mendapatkan dukungan penuh dari orang terdekatnya, itu saja sudah cukup bagi Weini. “Ya, tenanglah... aku pasti bisa.”
Suara ketukan pintu mengalihkan fokus mereka, kemudian Liang Jia yang inisiatif membukakannya. Haris berdiri di depan sana, menampilkan senyumannya dan aura positif yang sangat terpancar jelas. Perlahan ia membungkuk hormat pada Liang Jia lalu kembali pada posisi siaga. “Sudah waktunya Gong Zhu hadir di aula utama, nyonya.” Ucap Haris pelan.
Liang Jia mengangguk, begitupun Weini yang langsung menyudahi percakapannya dengan Xiao Jun. Gadis penguasa itu berdiri tegap, kemudian menyoroti Haris dengan tatapan teduhnya menyusul anggukan mantapnya yang saat makna bahwa ia sudah siap menghadapi kenyataan.
“Mari ayah, ibu... Aku sudah siap.” Ajak Weini seraya memimpin jalan di barisan depan.
❤️❤️❤️
Ketika aku melangkah satu kali... itu akan jadi langkah yang pertama dan akan terus berjalan tanpa henti... hingga mencapai tujuan terakhirku.