OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 349 ANCAMAN SERIUS



“Aarrgghh!” Teriakan Dina mengawali harinya yang masih tanda tanya. Gadis itu sangat terpuruk mendapati tubuhnya berbalut piyama tidur Weini. Ia berusaha mengingat kejadian semalam yang membuatnya menginap di


rumah Weini, padahal tidak ada rencana untuk bermalam di sini. Hingga separuh ingatannya kembali tentang kekonyolannya kemarin, Dina kembali berteriak saking galaunya.


“Udah bangun, kak? Buruan yuk kita harus ikut menjemput Grace keluar rumah sakit.” Ujar Weini yang dengan tenangnya keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut dengan handuk. Ia tak kaget melihat kebingungan Dina yang persis orang hilang ingatan.


“Non, aku mabuk ya? Aku ngomong ngelantur nggak? Aaarrgghhh!” Kesal Dina masih belum menerima kenyataan.


“Ya, standar orang mabuklah. Ayo kak, kita bisa telat loh kalau kakak masih meratapi nasib.” Jawab Weini yang memang sedang tergesa-gesa memilih pakaian yang akan dikenakan. Ia sekaligus mencarikan pakaian yang pas untuk dipinjamkan ke Dina.


“Nanti pakai ini saja, pakaian kakak yang kemarin sudah tidak terselamatkan.” Lanjut Weini setelah mendapatkan satu setel pakaian yang kira-kira sesuai gaya Dina.


Dina beranjak dari ranjang menuju kamar mandi dengan mulut ternganga, sekarang ia yakin bahwa pakaian yang tidak terselamatkan itu karena ada jejak muntahannya. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya, terlalu malu untuk menunjukkannya sekarang.


**


Haris bersiap pergi setelah menyiapkan sarapan untuk nonanya. Sesuai kesepakatan bahwa ia akan berada di kantor Xiao Jun sebelum jam delapan pagi. Kedua gadis belum juga keluar dari kamar dan Haris masih segan


untuk mengetuk. Untung saja Weini membuka pintu kamarnya sebelum Haris terlanjur mengetuk. Weini menatap Haris dengan heran, tidak biasanya pria itu rapi sepagi ini.


“Ayah mau keluar?” Tanya Weini lembut.


Haris mengangguk, “Iya, aku ada perlu sebentar. Sarapan sudah kubuatkan, makanlah sebelum berangkat kerja.” Jawab Haris agak canggung, jika tidak ada Dina sudah pasti ia memanggil sebutan ‘nona’ lagi pada Weini.


Dina cukup peka membaca situasi, keakraban Weini dan ayahnya terkesan dipaksakan. Dina sangat yakin pasti ada sesuatu yang ditutupi antara ayah dan anak itu.


“Baik ayah, aku pasti memakannya. Terima kasih.” Ucap Weini lembut.


Haris mengangguk kemudian berlalu dari hadapan dua gadis itu. Meskipun langkahnya sampai di depan pagar rumah, ia tetap mendengar suara hati Weini yang mencoba berkomunikasi dengannya. Meskipun terdengar


akrab, tetapi Haris memilih bersikap diam saja.


Ayah, hati-hati … Nanti malam aku akan pulang cepat untuk makan malam denganmu.


***


Xiao Jun menunggu Lau di lantai teratas gedung kantornya, jet pribadi itu diperkirakan mendarat pukul delapan pagi. Sementara Haris dibiarkan menunggu di dalam ruang kantornya sendirian. Dalam momen sendiri itu, Haris berkesempatan mengamati ruangan kantor Xiao Jun yang berdesain interior modern minimalis. Tak ada satu fotopun terpajang di meja, hanya ada berkas-berkas yang tidak dipahami Haris.


Pintu dibuka dari depan, Xiao Jun dan Lau masuk bersamaan dan mendapati Haris yang masih berdiri menatap jendela luar di belakang kursi. Lau terkejut melihat keberadaan Haris, ia tak mengira ada tamu di dalam.


“Da Ge, maaf aku tidak tahu anda di dalam.” Lau setengah menunduk memberi hormat pada Haris. Kehadiran Haris di kantor terpaksa menunda laporan yang ingin segera Lau sampaikan sebagai pertanggung-jawaban tugas.


Haris tersenyum kemudian berjalan menjauhi tempat yang seharusnya terlarang untuk tamu. “Adik, senang bertemu denganmu. Jangan bicara formal ya, santai saja padaku.” Pinta Haris.


Xiao Jun tersenyum pada ayahnya kemudian mengajaknya duduk di sofa bersama Lau.


“Saya ambilkan minuman dulu, tuan.” Ujar Lau yang minta ijin keluar sebentar untuk melayani tamu dan tuannya.


“Tidak perlu paman, duduklah. Paman baru saja sampai, istirahatlah dulu. Biar aku yang menyiapkan minuman untuk kalian.” Ujar Xiao Jun yang sudah menyiapkan segalanya sebelum menjemput Lau di atas. Ia berjalan mendekati mini kitchen dalam ruangannya dan kembali dengan nampan berisi teko dan tiga gelas kosong.


Haris menatap kagum pada putranya, Xiao Jun tumbuh dengan didikan yang bagus meskipun itu hasil campur tangan didikan tuan besar Li.


“Silahkan minum, ayah dan paman.” Xiao Jun mempersilahkan dua pria tua itu minum setelah menuangkan teh dalam masing-masing gelas. Tanpa menunggu lama, minuman itupun berpindah tangan dan diseruput bersamaan.


“Jadi bagaimana hasil pemantauan paman di kediaman tuan besar?” Tanya Xiao Jun memulai pembicaraan serius mereka.


“Tuan?” Lau berhenti bicara, ia menatap heran pada Xiao Jun kemudian melirik sekilas pada Haris. Xiao Jun tahu maksud Lau yang mengingatkannya tentang keberadaan orang luar yang tidak berurusan dengan masalah ini. Pengawalnya canggung karena ada Haris di sana.


Xiao Jun tersenyum lembut, “Tidak apa-apa, paman. Ceritakan saja, ayah Haris harus mendengar laporanmu juga. Paman, sebenarnya ayah Haris adalah ayah kandungku, Wei Ming Fung.”


Lau sontak terkejut, ia memang tahu Xiao Jun mencari ayahnya tetapi tidak menyangka bahwa Haris yang selama ini dikenal sebagai ayah Weini itulah orang yang tuannya cari. Lau segera berdiri dan membungkuk hormat pada Haris. “Hormat kepada senior Wei, maafkan hamba yang tidak menyadari identitas anda.”


Lau menuruti permintaan Haris, mereka kembali duduk dan tenang. Tetapi hanya sekejab saja, begitu Lau menyadari sendiri fakta selanjutnya, ia kembali bersuara. “Jika senior Wei adalah Haris, berarti anak gadismu … Ah, maksudku nona Weini adalah ….”


“Iya, Weini adalah putri bungsu tuan besar Li. Nona Li Yue Hwa.” Haris memotong kata-kata Lau yang terbata-bata antara ragu dan terkejut.


Mata Lau berkaca-kaca mendapati kenyataan itu, “Syukurlah, nona kecil masih hidup. Ini sungguh takdir, kalau bukan karena kehendak langit, mana mungkin kita akan dipertemukan seperti ini. Tuan dan nona Li jatuh cinta, semua itu sudah ditakdirkan.” Ucap Lau penuh takjub.


Xiao Jun hanya tersenyum, “Begitulah paman, jadi informasi apa yang paman dapatkan di sana?”


Senyum Lau yang mengembang lebar seketika berubah datar ketika diingatkan masalah itu. Ia mengatur napasnya sejenak agar tenang menyampaikan informasi yang sedikit diimprovisasi olehnya, tentu saja untuk menutupi kebenaran bahwa ia telah diracun.


“Ketika saya sampai di sana, mereka sedang menyiapkan keperluan pernikahan nona kedua. Besok nona Yue Xin akan dinikahkan dengan pengusaha Macau, sesuai rencana tuan besar Li. Hanya saja … Yang akan menjadi walinya adalah tuan Kao Jing. Seperti dugaan kita, tuan Kao Jing dan putranya memegang kuasa sementara, keberadaan tuan besar juga tidak diketahui. Dan ….” Lau berhenti bicara, ia nampak menunduk.


Haris memincingkan mata, ia bisa mendengar suara hati Lau.


“Dan apa?” Tanya Xiao Jun.


“Dan nyonya Liang Jia juga disekap di kamarnya, tapi keadaannya baik-baik saja tuan. Mereka ingin tuan segera pulang bernegosiasi bersama.” Ujar Lau menyudahi laporannya.


Xiao Jun mengepalkan tangan saking geramnya, “Keterlaluan! Dia sungguh antusias mencari masalah denganku. Setelah meracuni ibu, sekarang menyuruhku pulang bernegosiasi.” Kesal Xiao Jun. Haris masih diam, ia lebih


menaruh perhatian pada Lau yang menyembunyikan sesuatu.


“Ibu anda diracuni? Ah, apakah itu berarti kakak Xin Er?” Lau tampak terguncang mendengar itu. Ternyata bukan hanya ia yang terkena racun, Chen Kho bahkan sudah menyentuh Xin Er. Lau menyesalkan semua itu dan terus membatin sedih.


Xiao Jun mengangguk, “Ia mengancamku jika ingin mendapatkan penawar racun maka aku harus menikahi Grace.”


Lau memucat seketika, ia kehabisan kata-kata sekarang. Chen Kho sungguh berbahaya dan tak terduga, Lau mengira hanya nyawanya saja yang dipertaruhkan dan ia bisa mengabaikannya namun jika ibu Xiao Jun yang diracuni, tentu Xiao Jun tidak punya alasan menolak lagi.


“Kamu juga terkena racunnya kan, Adik Lau?” Celetuk Haris yang langsung mengejutkan dua orang di sana.


“Benarkah itu paman?” Selidik Xiao Jun yang bergegas mendekati Lau dan memeriksa fisiknya.


Lau hanya menunduk tak berani menatap wajah tuannya. Haris tak tinggal diam, ia langsung meraba leher Lau yang masih membekas tusukan jarum beracun. Ada tanda hitam di leher Lau yang menandakan racun masih


aktif di tubuhnya.


“Ini racun langka, aku tidak tahu namanya dan tidak tahu penawarnya.” Sesal Haris.


Xiao Jun ikut memeriksanya, betapa shock ia melihat tanda hitam itu. Bos muda itu membalikkan badan kemudian melayangkan tinju pada dinding, bersamaan dengan teriakan kesalnya.


“Maafkan saya tuan.” Lirih Lau. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi.


“Apa yang dia inginkan sebagai tebusan penawar?” Tanya Xiao Jun tegas.


Lau tertunduk ragu, ia masih mempertahankan prinsipnya untuk tidak mengatakan yang sebenarnya.


“Katakan!” Bentak Xiao Jun, ia sungguh marah.


Lau tersentak, belum pernah ia melihat Xiao Jun semarah itu. “Anda menikah dengan nona Grace … Mereka sudah menyiapkan tanggal pernikahannya.”


Xiao Jun terdiam, amarahnya sudah menbuncah. Chen Kho keterlaluan mempermainkan dirinya dan orang terdekatnya. Haris tidaklah terkejut, ia sudah tahu ini akan terjadi. Satu persatu mimpi buruk terjadi, dan ia sudah mendekati ujung permainan maut itu.


***


Apa yang Haris rencanakan? Mengapa ia bisa setenang itu guys?”


Seperti biasa, mohon dukungan like dan komennya ya. Jangan bosan ya guys. Thanks.