OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 343 KETEGASAN WEINI



“Deal ya guys, kita mulai syuting lusa. Besok kita mulai pembacaan naskah jam satu siang.” Bams memberikan arahan pada job perdana mereka dengan antusias yang meletup-letup. Bisa dimaklumi semangat itu mungkin


karena sutradara itu baru kembali setelah vakum nyaris tiga bulan.


Weini mendengar arahan itu setengah hati, selebihnya perhatian itu tersita untuk mengamati sekeliling yang terlihat sangat sempurna. Harus ia akui, kekasihnya itu sungguh sulit ditebak. Ia harus mempertanyakan langsung padanya saat Xiao Jun mencarinya.


“Ehem, aku kurang setuju dengan peranku di sinetron ini.” Weini sengaja berdehem sebelum menyatakan penolakannya.


Semua mata yang ada di sana tertuju pada Weini, terutama Dina yang membelalakkan mata menatapnya. Weini tak ambil pusing, ia tersenyum lalu melanjutkan perkataan. “Mungkin terdengar aneh bagi kalian, mengapa ada artis yang menolak diberikan peran utama, tetapi aku ingin melakukannya sekarang. Aku sedikit jenuh dengan genre romantis dalam sinetron, dan bosan selalu menjadi pemeran yang paling banyak mendapat sorot kamera. Tanpa


bermaksud apa-apa, bolehkah aku bertukar peran dengan Grace? Dia artis pendatang baru dan punya potensial untuk melariskan sinetron ini jika disandingkan dengan Stevan.”


Saat namanya disebut akan dipasangkan dengan Stevan, secara spontan Stevan menganggukkan kepala. Membayangkan dipasangkan dengan Grace sebagai peran utama saja sudah sangat menggembirakan, apalagi kalau jadi kenyataan. Dina yang melihat responnya langsung menyikut tangan Stevan, hingga ia terpaksa memasang wajah datar dan melirik Dina sebentar untuk mengancamnya. “Ntar gue bikin perhitungan ama lu.” Bisik Stevan pada Dina yang duduk di sampingnya.


Bams tercengang mendengar penolakan itu, “Wow, baru elu doang yang berani nolak peran utama dari gue. Sepanjang dua puluh tahun karier gue di entertainment, baru elu artis yang songong gitu.” Komen Bams, sebenarnya ia sedikit tertekan karena penolakan Weini. Kariernya akan terancam andai Xiao Jun, si bos tunggal managemen ini tahu bahwa misi pertamanya saja gagal. Xiao Jun hanya minta Bams membantu mendongkrak popularitas Weini dengan memberikan karya yang berkualitas, dan ia sudah merancang skenario sebagus mungkin demi mewujudkan keinginan bosnya. Lalu dengan mudahnya Weini memberikan kesempatan yang bisa melejitkan namanya lebih besar lagi kepada seorang artis yang kemarin sore baru menetas? Bams langsung tepuk tangan dengan kepala menggeleng, tak habis pikir dengan jalan pikiran Weini.


“Ayolah kak, kita ini kan tim. Aku yakin Grace punya aura bintang yang pasti bisa membawa kesuksesan untuk proyek perdana kita. Aku sungguh jenuh selalu menjadi orang nomor satu, rasanya tidak ada tantangan baru


untukku.” Gerutu Weini. Ia tetap keras kepala mempertahankan kemauannya.


“Pokoknya gue nggak setuju.” Celetuk Bams.


“Aku juga.” Teriak Dina sembari mengangkat tangan, seperti absensi sekolah saja. Ia senasib dengan Bams, bisa repot urusannya jika Xiao Jun kecewa dengan kinerjanya. Terlebih Dina merasa ini kesempatan emas bagi Weini, mengapa harus terlalu baik memberikannya kepada orang lain sekalipun Grace telah berteman dengannya.


Weini melirik Bams dan Dina bergantian. “Lalu siapa yang setuju Grace dan Stevan yang jadi bintang utama?” Weini mengangkat tangannya, mengikuti jejak Dina. Di ruangan rapat itu hanya ada mereka berempat, dan kini Weini melirik Stevan untuk meminta dukungan.


“Gue.” Stevan pun ikut mengacungkan telunjuk seperti yang diharapkan Weini. Gadis itu tersenyum lalu mengangguk pada Stevan.


“Suara kita imbang ya, tapi karena yang minta peran utama diganti Grace adalah aku dan Stevan, maka pendapat kami harusnya lebih didengarkan karena kami berdua adalah pemainnya. Plis ya dua kakakku, kali ini aja ijinkan aku sedikit lega sebagai pemeran pendukung.” Weini meyakinkan Bams dan Dina, walaupun ia tahu caranya sedikit memaksa apalagi suara mereka berimbang jumlahnya.


“Nggak bisa sih caranya gitu, kalau suara berimbang terpaksa kita harus minta bos untuk ambil keputusan.” Seru Bams yang kemudian diangguki Dina karena punya kepentingan yang sama.


Weini tersenyum lebar, “Kalau itu mau kalian, aku rasa kalian hanya buang waktu karena dia pasti lebih mendengarkanku. Sudahlah, percaya saja dia tidak akan keberatan. Kalaupun dia protes, biar aku yang tanggung


jawab. Oke? Hoaam … Aku sangat ngantuk, rapatnya udahan kan? Aku balik dulu ya.” Seru Weini yang langsung berdiri ssegera angkat kaki dari sana sebelum masalah diperpanjang oleh Bams. Ia memilih kabur membawa kemenangan sepihak sembari menahan senyuman.


Weini berhenti dan menoleh pada Dina, sebenarnya suasana hatinya masih kacau, ia belum berminat kembali ke rumah dan melihat Haris yang masih mendiaminya. “Kak, Kau tahu di mana tempat minum yang asyik dan privat?”


Pertanyaan Dina sukses membuat mulut Dina ternganga, ia bahkan mengorek lubang telinga dengan kuku panjangnya saking takut salah mendengar ucapan Weini barusan. “Nggak salah denger nih? Non ngajak minum


sore-sore gini? Tumben?”


Weini tersenyum nyengir, “Kamu ikut atau aku pergi sendiri nih kak?” Ujar Weini kemudian melanjutkan berjalan menuju pintu keluar diikuti Dina yang tentu tak bisa menolak. Lebih baik ia menemani ketimbang membiarkan artisnya mabuk sendirian.


***


“Kak udah deh jangan minum lagi! Kamu udah mulai mabuk loh.” Weini merebut gelas sloki dari tangan Dina. Ini semua di luar perkiraannya, Weini yang mengajak managernya untuk menemaninya minum biar bisa melepas penat. Yang terjadi adalah Weini harus menjaga Dina yang kebablasan meneguk alkohol hingga mulai mabuk. Parahnya lagi, Dina sok kuat minum dan teler di gelas ketiga. Kini gadis manager itu sibuk mengeracau, melontarkan


uneg uneg hatinya yang gelisah karena kejombloan. *Ngenes ya ^^*


Dering ponsel Weini melonggarkan perhatian Weini pada Dina, setidaknya Dina hanya mabuk dan berdiam dalam ruangan VVIP itu jadi Weini merasa bisa menerima panggilan itu di hadapan Dina. Sebuah telpon dari pria yang memang ingin segera ditemui Weini.


“Ya? Kamu sudah santai jam segini?” Tanya Weini setelah melewati basa basi di awal pembicaraan.


“Ng, kamu di mana? Perlu aku susul ke sana?” Tanya Xiao Jun yang jelas tahu bahwa Weini sedang minum bersama Dina. Jelas Dina sudah memberitahunya sebelum berangkat dan Xiao Junlah yang memberitahu bar privat yang jadi langganannya kepada Dina.


Weini tersenyum, ia tak menolak pun tak mengiyakan terang-terangan. “Terserah kau saja, asal jangan paksakan kalau lagi sibuk. Ah tapi, kekasihku ini memang multitasking kok. Kamu pasti tak kerepotan mengerjakan beberapa kerjaan penting sekaligus. Benarkan sayang?” Ledek Weini.


Xiao Jun tertawa mendengar sindiran halus gadisnya, ia tahu Weini hendak melayangkan protes atas tindakan sepihaknya. “Gimana? Kamu senang kan hadiah dariku? Bekerja bersama sahabat tentu lebih menyenangkan ketimbang harus berhadapan dengan rival yang penuh persaingan tak sehat. Tapi sayangnya, gadisku ini menolak jadi peran utama. Hmm ….”


Weini ikut tertawa, pasti Bams atau Dina yang melaporkan pada bos muda itu. “Baguslah kau sudah tahu kabar itu, aku tidak perlu capek mengulangnya. Jun, aku salut padamu, kau bisa mengurus banyak hal penting dalam satu hari kepulanganmu dari Beijing. Tapi aku juga tahu maksudmu, kau sedang menghalangiku kembali ke Hongkong kan?”


Tebakan yang tepat dari Weini itu sedikit menohok Xiao Jun, terkadang Weini memang polos namun tak bisa diremehkan. Ia punya intuisi yang tinggi, seperti saat ini yang berhasil menebak maksud Xiao Jun dengan mudah.


“Kamu sengaja membuatku sibuk dengan kerjaan yang bersifat mengikat kan? Apa ayah yang memintamu? Jun, apa kamu tidak bisa mempercayaiku? Kalau kamu memang keberatan membantuku, baiklah … Aku tidak akan


merepotkanmu, aku tetap akan kembali ke Hongkong. Keluargaku membutuhkan bantuanku dan aku tidak bisa diam membiarkan mereka menderita.” Tegas Weini, ia sudah membulatkan tekadnya. Tiada lagi dendam atas apa yang telah dilakukan ayahnya di masa lalu, ketika mimpi buruk itu memberinya penglihatan lain yang sekaligus membuka mata hatinya untuk menyadari bahwa rasa sayangnya lebih besar ketimbang benci, marah, kecewa atas perlakuan tidak adil ayahnya.


***