
Wen Ting dan Dina berkumpul di halaman luas yang akan menjadi tempat pendaratan jet dari Beijing. Raut wajah Dina yang berbinar dan tak sabaran membuat Wen Ting sesekali mengintip curiga padanya. Sayangnya kendala bahasa yang tidak bisa ditolerir itu menjadi penghalang besar bagi keduanya untuk bertukar pikiran. Mereka hanya diam saja sejak ditinggal Lau yang sempat jadi penyambung lidah mereka.
Apa hubungan dia dengan pengawal ku? Kenapa dia yang paling semangat menunggu jetku datang?
Wen Ting hanya bisa bertanya tanya tanpa ada yang menjelaskan. Dina terus menatap ke arah langit, ia betah bertahan dengan posisi seperti itu tanpa merasa pegal padahal Wen Ting yang melihatnya saja merasa otot lehernya kaku.
Ming Ming... kamu seperti apa sekarang? apa tambah ganteng?
Ujar Dina dalam hatinya, lebay padahal baru beberapa hari ia bertemu kekasihnya. Cinta dan efek rindu telah membutakan matanya. Bayangan adegan dalam drama Korea kesukaannya terbanyang dalam benak Dina, di mana peran utamanya turun dari jet dan saling bertatapan, kemudian angin mempermainkan helai rambut mereka serta menerbangkan syal si wanita. Nantinya tokoh utama pria akan memungut syal itu lalu menyerahkan padanya. Keromantisan itu terbayang jelas, Dina ingin sesuatu yang berbau romantis seperti itu sekarang.
Perlahan di udara tampak jet yang ditunggu mulai memelankan kecepatannya, semakin turun lalu mendarat sempurna. Senyum Dina mengembang lebar, ia berlari kencang menghampiri jet yang kini sudah menurunkan tangga. Wen Ting masih bergeming, menunggu pembuktian dari pertanyaan besar dalam hatinya. Untuk saat ini ia lebih percaya apa yang ia lihat ketimbang apa yang ia dengar.
Dina menunggu dengan anggun, tangannya mengepal di depan dada, sungguh pemandangan yang langka bisa melihat Dina bertingkah seanggun itu, dan itu hanya bisa terjadi ketika ia jatuh cinta. Sepasang kaki turun dari tangga pertama di atas, Dina harap harap cemas menebak itu adalah kaki kekasihnya. Namun senyumnya mengerucut jadi satu saat melihat orang lain yang dilihatnya.
Mana dia sih? Masa nggak jadi datang?
Gumam Dina sedih saat pria yang berseragam seperti Ming Ming baru saja berjalan melewatinya. Dina masih mendongak ke atas jet, berharap ada penumpang lain yang turun. Penantiannya terkabulkan, saat sepasang kaki mulai melangkah turun dan membuat hati Dina bergetar.
Ini pasti dia! Pasti dia! Yakin Dina dalam hatinya. Dina menegakkan punggungnya, berdiri seanggun mungkin agar kesan pertama yang dilihat Ming Ming adalah dirinya yang cantik dan anggun. Gadis secuek Dina akhirnya menganggap serius penampilan setelah ia mengenal cinta.
Ming Ming terkesiap, saat matanya beradu pandang dengan seorang gadis yang membuatnya resah menahan rindu. Ia mempercepat langkahnya turun demi menyambut gadis istimewa itu.
Dina nyaris tak berkedip, bola matanya membulat saat wajah Ming Ming terpampang nyata di depan matanya. Penantian ini membuahkan hasil yang indah baginya. Dalam imajinasi Dina yang mulai liar, ia membayangkan Ming Ming langsung memeluknya erat dan menyatakan rindu. Dina tak sabar merealisasikan itu.
Tatapan Ming Ming menyebar ke sekeliling, mencari rekannya yang sudah turun duluan. Ia terkesiap saat melihat tuan mudanya ikut datang menyambutnya. Rekan yang datang bersamanya tadi pun sudah berdiri di sebelah Wen Ting.
"Ming Ming...." Panggil Dina pada kekasih nya dengan suara yang dibuat-buat semanis mungkin. Tangannya ingin terjulur untuk menyambut Ming Ming, tapi tertahan lantaran reaksi pria itu yang membuyarkan khayal Dina.
"Bentar ya Dina, aku harus ketemu tuanku dulu." Ujar Ming Ming sebagai sapaan pertama pada Dina. Bukan I miss you, i love you seperti yang diharapkan Dina, namun ia langsung diabaikan begitu bertemu.
Dina melengos, menatap pasrah pada Ming Ming yang berlari menghadap tuannya. Ternyata secinta apapun pria itu padanya, Dina tetap dinomor duakan dari sang majikan.
Ekspresi wajah kecewa Dina tertangkap oleh Wen Ting, ia tersenyum simpul saat tahu siapa dan apa yang sebenarnya terjadi di antara pengawalnya dan Dina. Kini Ming Ming sudah hadir di depannya dengan penghormatan formal khas seorang pengawal.
"Hormat untuk tuan Wen Ting." Ucap Ming Ming tegas.
Wen Ting hanya mengangguk pelan sebagai jawaban, hati kecilnya tak sabar lagi untuk menggoda pengawal bermuka manisnya itu.
Tebakan Wen Ting sukses memerah padamkan wajah putih Ming Ming, ia terbiasa membahas masalah serius dengan tuannya tapi kini malah digoda soal wanita. Rasanya urat malu pria perkasa itu menyembul semua dan nyaris meledak saking malunya. Ia menundukkan kepala tanpa sanggup berkomentar apapun.
Wen Ting tertawa, ia suka melihat ekspresi orang yang malu malu tapi jatuh cinta. Ia kemudian mendekati Ming Ming lalu berbisik pelan padanya.
"Pria sejati nggak akan bikin wanita menunggu loh. Dia sejak tadi udah senang banget nungguin kamu, jangan dikecewakan ya."
Ming Ming mengerutkan dahinya, ia sangat ingin bersama Dina sekarang tapi saat ini ia dalam posisi bertugas.
"Tapi tuan, saya harus mengawal anda sekarang." Tolak Ming Ming, walau berat tapi profesionalitasnya dipertaruhkan.
Wen Ting tahu sikap segan pegawainya, dan ia pun tahu harus bersikap bagaimana.
"Ini perintah! Temani gadismu sampai aku menyuruhmu pulang!" Tegas Wen Ting dengan sorot mata serius, seperti saat ia menugaskan anak buahnya.
Ming Ming terkesima, ia menahan senyum harunya walaupun sangat ingin mengekspresikan pada tuannya. Majikan yang benar-benar baik itu, sangat peduli pada anak buahnya. Ming Ming mengambil sikap hormat dan dengan bahagia meneriakkan, "Siap tuan... dan... terima kasih." Lirih Ming Ming saat menyuarakan rasa terima kasihnya, tak lupa dengan senyum yang terbit di wajahnya.
Wen Ting tersenyum puas lalu menepuk pundak Ming Ming dengan tegas sebelum ia beranjak dari sana, memberikan waktu kepada pasangan baru yang dimabuk asmara.
Dina tak mengerti apa-apa, ia berdiri terbengong dan sedih menatapi Ming Ming sejak tadi. Ketika Wen Ting hendak berlalu, pria kaya itu sempat menatap ke arah Dina dan memberikan senyuman lebar.
"Kenapa bos itu? Apa dia tersenyum padaku?" Tanya Dina ragu, tapi benar ia yakin senyum itu untuknya karena hanya Dina yang berdiri di sana.
Barulah saat Wen Ting berlalu, perhatian Dina kembali tertuju pada Ming Ming. Ia terkesiap karena begitu memalingkan wajah ke depan, ternyata Ming Ming sudah berdiri menatapnya.
Saking seriusnya Dina melihat Wen Ting sampai tidak menyadari sejak kapan kekasihnya berdiri di hadapannya.
"Apa kabar sayang?" Tanya Ming Ming penuh perhatian, sorot matanya melekat pada Dina.
Bukan kata-kata yang Dina lontarkan sebagai jawaban, bahasa tubuhnya sudah cukup mewakili apa yang ia rasakan dan apa yang dipertanyakan. Dina menghambur ke dalam pelukan Ming Ming, erat dan tak terasa air matanya mengalir saking bahagianya. Ia rindu dan ia telah berlabuh dalam dermaga rindu kekasihnya.
****
Kasih edisi Dina dan Ming Ming dulu ya, biar sama sama bahagia semuanya.