
Apartemen Xiao Jun kembali hening saat para penghuninya beristirahat di kamar masing-masing, kecuali Grace. Gadis itu tidak bisa tidur meskipun tubuhnya terasa lelah, ia bahkan tidak ingat kapan terakhir ia memejamkan mata dan tertidur pulas. Grace memilih duduk santai di sofa ruang tengah dan menikmati setoples cemilan yang menemaninya nonton Televisi. Ia sengaja menyetel tayangan infotainment untuk mengikuti perkembangan gosip tentang Weini yang terkini.
“Mereka hanya tahu sedikit tapi bicara seperti pakarnya saja!” Gerutu Grace yang kesal melihat Sisi dan Metta berkomentar tentang Weini, padahal yang ia tonton hanya sepenggal cuplikan ulang. Saking geramnya, Grace tak sadar menggenggam erat toples kaca itu.
“Kamu sedang apa?” Tanya Li An yang tiba-tiba nimbrung di belakang sofa yang diduduki Grace.
Grace terkesiap, ia langsung menoleh ke belakang lalu tersenyum canggung pada Li An. “Eh, kakak tidak tidur?”
Li An tersenyum lalu ikut duduk di samping Grace, tatapannya terpusat pada layar televisi yang bahasanya tidak ia mengerti namun dari bisa ia tebak dari gambarnya bahwa tayangan itu sedang memberitakan Weini. “Aku tidak biasa tidur siang. Kamu sedang menonton berita Weini rupanya, hmm... tiada hari tanpa pemberitaan tentang dia.
Seluruh dunia sedang mengincarnya, kasihan.” Gumam Li An prihatin.
Grace menghela napas, harus ia akui bahwa ia sependapat dengan Li An. Miris membayangkan nasib Weini
yang menjadi bulan-bulanan media, padahal sesungguhnya perjalanan hidup Weini saja sudah sangat menyedihkan. “Itulah kenapa aku geram melihat mereka yang terus membicarakan Weini, seolah mereka paling tahu tentangnya.” Jawab Grace.
“Apa kamu tahu kalau wajah Weini yang kita kenali itu bukan wajah aslinya? Adikku bahkan sampai mengungsikan managernya karena dia orang pertama yang tahu wajah Weini.” Gumam Li An lemah.
Grace mengangguk pelan, “Berita itu sudah tersiar ke mana-mana, tapi aku baru tahu kalau Dina yang beruntung melihatnya. Tapi... Kurasa sekarang dia di tangan kakakku, semoga Weini baik-baik saja.” Lirih Grace cemas.
Dua wanita itu terdiam sesaat, membahas tentang Chen Kho membuat mood mereka agak berubah. Meskipun
Li An tak mempermasalahkan masa lalu, tetapi Grace tetap merasa sungkan mengungkit soal Chen Kho.
“Maaf kak....” Lirih Grace penuh sesal.
Li An tersenyum, ia merebut toples di tangan Grace agar suasana tidak canggung. “Sudahlah, tidak perlu canggung. Aku benar sudah nggak apa-apa kok, sekarang aku sudah mendapatkan suami yang baik dan sebentar lagi aku akan jadi seorang ibu. Tidak perlu lagi lah memusingkan masa lalu. Okay?” Seru Li An kemudian mengupas kulit kacang pistacio dan memakannya.
Grace tersenyum lega, ia merasa plong bisa menjadi dekat seperti ini dengan Li An. Dua wanita itu tertawa bersama, Grace bahkan mencomot kacang yang toplesnya masih di genggaman Li An. Saat hendak mengupasnya, kulit kacang yang keras itu menusuk jari Grace hingga berdarah.
“Aaawww....” Grace meringis kesakitan, kacang yang melukainya itupun terjatuh ke lantai.
“Grace? Kamu nggak apa-apa?” Tanya Li An langsung menarik tangan Grace untuk melihat lukanya.
Grace tak menjawab, ia sendiri cukup bingung melihat darah yang menetes itu padahal hanya tertusuk sedikit. Li An segera mengambil beberapa lembar tisu di atas meja lalu membungkus jari yang terluka itu.
“Ya ampun, kok bisa ya darahnya sebanyak ini?” Li An terheran-heran.
Grace terdiam, ia hanya mengangguk pelan saat Li An selesai melilitkan tisu di jarinya.
“Kayaknya harus pakai plester deh, darahnya nggak berhenti. Bentar ya, aku tanya paman Lau dulu.” Ujar Li An kemudian beranjak dari tempat duduknya untuk mencari Lau.
Grace mematung sejenak, perasaannya tak karuan dan ia merasakan sesak, sedih yang sangat dalam tanpa sebab. Ada rasa kehilangan yang begitu nyata ia rasakan, tapi Grace tak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi. Ia duduk dalam diam, membiarkan air matanya luruh tanpa isakan.
***
Su Rong gelagapan hingga geraknya makin melemah, Haris berenang lebih cepat menuju Su Rong, ia sendiri mulai tak sanggup menahan napas tanpa bantuan oksigen di kedalaman laut yang dalam itu. Dalam kondisi terhimpit seperti ini, mustahil bisa mengandalkan kemampuan manusia biasa. Dan Haris lagi-lagi mengeluarkan energinya untuk mengerakkan sihir. Tenaganya masih terbatas, ia belum pulih sepenuhnya namun ia tidak mau mati tenggelam di dasar laut.
Dengarkan perintahku, munculkanlah gelembung untuk membawa kami sampai ke atas permukaan laut! Batin
Haris memerintahkan sihirnya bekerja, dalam sekejab sihir itu bekerja, Haris menarik tangan Su Rong dan masuk ke dalam gelembung itu.
“Su Rong... Su Rong! Bangunlah.” Perintah Haris sambil mengguncang tubuh Su Rong yang tidak sadarkan
diri itu.
padanya. “Tu... An?” Lirih Su Rong.
“Kita sudah aman, tenanglah. Sebentar lagi kita akan sampai di atas.”
Baru saja Haris optimis akan sampai di permukaan laut dengan selamat, nyatanya goncangan kembali dirasakan hingga gelembung yang ditumpanginya bergoyang terbawa arus. Su Rong mulai panik apalagi sekeliling tampak gelap dan hanya air dan isi laut yang menakutkan yang terlihat.
“Tuan?” Su Rong cemas lalu meminta pendapat Haris.
Haris hanya diam mengamati apa yang terjadi, getaran sihir itu terasa kuat dari sumber yang baru saja mereka tinggalkan dan sepertinya amukan itu belum juga mereda.
“Tuaaaan!” Pekik Su Rong yang melihat gelembung sihir Haris mulai bocor dan air merembes masuk dari luar.
***
Xiao Jun bangkit dari jatuh dan berlari kencang menuju pintu lorong, ia harus kembali ke dalam untuk menolong ayahnya. Tetapi saat ia hendak melompat, pintu lorong itu retak dan pcah berkeping-keping.
Duaaaar!
Ledakan dasyat itu bahkan menghempaskan tubuh Xiao Jun hingga terpental. Ia meringis kesakitan tapi tidak menyerah, walau harus merangkak, Xiao Jun tetap kembali ke sana untuk melihat.
“Ayah, kalian di mana?” Lirih Xiao Jun. ia kembali berpikir cara apa yang harus ia lakukan untuk menolong ayahnya.
Wahai leluhurku, kumohon bantulah keturunanmu... Aku harus berbuat apa untuk menolong ayahku? Lirih Xiao Jun dalam batinnya.
Kau tak bisa melawan amukan air, hanya bisa menjinakkannya. Dia akan mengikutimu ke manapun kau menaruhnya.
Suara bisikan itu terdengar nyata di telinga Xiao Jun, pertanyaannya telah terjawab dan kini ia harus memikirkannya. “Terima kasih leluhur!” Gumam Xiao Jun optimis.
“Menjinakkan air?” Xiao Jun bertanya sendiri, ia masih harus mencerna petunjuk itu.
“Ya, kita bisa menjinakkannya dengan menyingkirkannya sementara.”
Xiao Jun terperanjat, ia segera menoleh ke samping dan mendapatkan Weini berdiri di sebelahnya dengan
tatapan serius.
“Kau? Bukankah aku suruh kau menunggu di sana?” Protes Xiao Jun yang khawatir dengan Weini.
Weini tersenyum tipis, “ Aku tidak bisa diam menunggu satu persatu orang yang kucintai celaka. Sudahlah
Jun, lebih baik kita bersatu untuk menyingkirkan air laut ini sementara. Ayah dan yang lainnya dalam bahaya.” Gumam Weini kembali pada fokus masalah di depan mata.
Xiao Jun mengangguk, Weini memang keras kepala dan lebih baik kali ini menuruti sikap kerasnya. “Jadi
bagaimana menurutmu? Kita harus pakai sihir yang mana?”
Weini tampak berpikir kemudian tersenyum tipis, ia mengangkat kedua tangannya kemudian mengerahkan
seluruh energi yang bisa disedotnya dari alam semesta. Sesuatu yang baru ia sadari bahwa ia bisa mengumpulkan energi tidak hanya dari manusia, namun juga dari alam.
“Entahlah, yang pasti aku akan mencobanya!”
***