
Serangan bertubi yang diterima Weini hanya dibalas dengan elakan. Bukan karena ia tidak mampu melawan tenaga pria yang lebih tua itu, namun Weini enggan bermasalah di lokasi kerja. Bukankah ini masih bagian dari profesionalitas? Pria itu melihat Weini tergeletak di lantai dan tampak kesakitan, kesempatan ini langsung dimanfaatkan untuk menyerang lebih dalam. Ia bersiap mematahkan satu kaki gadis itu dengan tendangannya.
“Pisahkan mereka!” Bams beserta kru lainnya menyerbu ke arah pesilat pria dan sebagian menolong Weini.
“Sial.” Pria itu menggerutu saat beberapa orang mulai menghadang bahkan berusaha melumpuhkan aksinya. Ia bergegas melakukan perlawanan dan mendapatkan celah untuk keluar dari kerumunan.
“Jangan biarkan lolos. Suruh security tutup semua akses keluar gedung.” Bams berteriak dengan toa hingga terdengar hingga keluar studio.
Weini terpacu mengumpulkan tenaga dalam ketika tahu pria itu berniat kabur. Ia menyadari sesuatu yang tidak beres. Jika pria itu seorang talent, mustahil akan pergi sebelum kerjaan ini kelar. Pasti ada dalang di balik ini. Tidak akan kubiarkan pergi begitu saja.
Beberapa kru pria berjuang menghadapi serangan brutal pria itu. Dua di antaranya telah tumbang kesakitan. Pria berpostur tinggi kekar itu mempunyai dasar ilmu beladiri yang tinggi namun tanpa perasaan memberi bogem mentah pada orang-orang yang tidak mempunyai kemampuan menandinginya. Amarah Weini semakin bergejolak melihat penindasan tak seimbang itu. Reflek ia beraksi secara berlebihan tanpa menyadari orang di sekeliling
yang terkejut melihat seorang gadis belia terbang melewati kerumunan pria dewasa.
“Bukankah kamu mau menghabisiku? Ayo lihat siapa yang habis duluan!” tantang Weini ketika ia mendarat tepat di hadapan pria sangar itu.
Tanpa basa-basi si pria menyerang Weini tanpa ampun. Gerakan tangan dan kaki yang sangat lincah ditujukan pada Weini, tetap gadis itu hanya bergerak mundur menghindar. Para kru yang tadinya berniat menjadi pahlawan akhirnya menepi sebagai penonton.
Bruk… Tubuh pria itu ambruk ketika Weini mengecohnya. Sengaja menghindar dijadikan trik agar musuh merasa menang padahal Weini bersiap menunggu kesempatan tepat untuk menotok syaraf kesadarannya. Weini berdiri sebagai pemenang di belakang tubuh pria yang terkapar di lantai. Gemuruh tepuk tangan dan sorak sorai mewarnai akhir pertandingan ini.
“Apa dia mati?” Bams berjongkok melihat pria yang tak bergerak itu dengan ekspresi ketakutan.
“Hanya pingsan sampai aku membuka totok kesadarannya.” Ungkap Weini polos.
Bams melongo, apa-apaan itu totok kesadaran? Ia hanya tahu istilah itu dari scenario drama kolosal. Tapi mereka tidak sedang shooting, apa sungguh nyata yang diungkapkan Weini?
“Lu beneran bisa kungfu? Tadi itu lu terbang?” segerombol pertanyaan tercecar keluar saking penasaran.
“Itu hanya ilmu meringankan tubuh, bukan terbang kak. Btw, mau kita apain ini orang?” Weini masih mengamati tubuh pria yang tak sadarkan diri itu.
“Eh iya ya. Kalau diserahkan ke polisi, pasti akan tercium wartawan. Itu tidak bagus buat lu, ntar dikira settingan buat pamor. Secara lu masih baru dan lagi disorot publik.” Bams menimbang plus minus tindakan selanjutnya. Tapi kalau dibiarkan lolos, mungkin kelak akan menimbulkan masalah kepada Weini.
“Gini aja kak, kita ikat dia untuk interograsi. Siapa dia dan apa motivasi dia menyerangku.” ide brilian dari Weini, setidaknya tidak melepaskan begitu saja orang yang berniat jahat. Bams segera menyetujuinya, dengan bantuan beberapa kru, mereka menyulap studio menjadi lokasi penyekapan tawanan.
“Gue ingatkan lu semua di sini kalau masih mau kerja ama gue, lu tutup mulut rapat tentang kejadian hari ini. Jika ada yang tersebar keluar, siap-siap hadapi tuntutan dari gue.” Ultimatum dari Bams yang membuat semua membungkam otomatis.
Atas perintah Bams, Weini membuka totok kesadaran pria itu. Perlahan mata si pria terbuka dan melihat dua sosok berkacak pinggang di hadapannya.
“Lu Cuma punya dua pilihan, ngaku di sini atau masuk penjara! Siapa yang nyuruh lu?” bentak Bams tegas.
Pria itu tersenyum licik lalu membuang muka tanpa sepatah kata. Sikap meledeknya bikin Bams naik pitam. Ditendangnya kursi hingga si pria tersungkur jatuh dalam posisi terikat.
“Lu kira gue main-main. Sadar woi apa yang udah lu lakuin itu criminal besar. Percobaan pembunuhan, plus lu nyusup kemari sebagai talent. Weini, ada totok yang lebih sadis gak biar kapok nih orang?”
Weini menyeringai, tatapannya menakutkan seakan mampu menguliti lawannya hidup-hidup. “Aku sudah menghubungi pamanku, ia segera menyusul dan membawa jarum akupuntur. Kurasa pamanku akan membuka titik
kejujurannya.”
Bams melihat Weini mengerlingkan mata ke arahnya. Gadis itu mengajaknya bersandiwara, tak heran actingnya terlihat alami, memang sudah bakat bawaan. “Bagus Weini, kita bisa merekam semua pengakuannya dan laporkan ke polisi. Lu nggak mau kompromi, gue juga nggak bakal pake hati.”
Pria itu meronta dalam keadaan tumbang dari kursi dan terikat kencang. “Lepaskan aku! Akan ku katakan!”
***
Hiruk pikuk aktivitas puluhan orang yang bekerja seakan tiada hari esok. Tim kreatif tengah berkutat di sela built in dari talk show ternama di TV nasional untuk masuk ke segmen berikutnya. Sementara para bintang tamu dan host bisa bersantai sejenak sembari menunggu waktu jeda.
Seorang artis cantik segera menjauh dari kumpulan ketika melihat panggilan dari layar ponselnya. Ia setengah berlari menuju ruang pribadinya.
“Hei bitch, orang lu yang keok. Hidup mati karir lu ada di tangan gue. Tinggal lu pilih, damai atau kita lanjut ke meja hijau.” Cecar Bams yang bahkan tak sudi menyebut nama wanita tersohor itu.
Popularitas nomor satu namun berkepribadian keji. Dengki dan iri membutakan hati hingga nekad berbuat hal yang nyaris mencelakakan nyawa orang. Bams sebenarnya berniat menyeretnya ke bui, namun yang ia cemaskan adalah pandangan publik terhadap Weini. Baru seumur jagung karier entertainmentnya tapi harus berurusan dengan skandal sebesar ini, bisa jadi publik akan berbalik mencecarnya.
“Kak Bams. Kau menuduhku? Aku nggak ngerti apa maksud kata-katamu.” Wanita itu beralibi. Ia adalah pembohong yang terlatih, kemampuan acting yang matang mempermudahnya berperan bahkan di kehidupan nyata.
“HEI LISA! NGGAK USAH SOK ACTING! LU TEMUI GUE SEGERA DI KANTOR GUE KALAU MASIH MAU KARIR LU SELAMAT!”
Telpon diputuskan sepihak oleh Bams.
“Dia ngancam gue!? Sial!” Lisa *** ponselnya sekuat tenaga. Gerahamnya mengatup kencang. Ia tak menyangka sesulit itu menakhlukkan Weini, justru kini ia yang tersudutkan dengan ancaman dari Bams.
***
“Permisi Tuan…” Lau terburu-buru masuk ke dalam kantor Xiao Jun. Saat ini tuan mudanya sedang bersama dua calon investor besar. Xiao Jun tetap tenang dan masih berkonsentrasi melayani tamunya. Terpaksa Lau berdiri di luar pintu untuk menunggu.
Selang lima belas menit, kedua pria asing keluar dari ruangan Xiao Jun. Lau membungkuk hormat saat mereka berpapasan dengannya.
“Masuklah Paman!”
Lau bergegas masuk dan memberi hormat seperti biasa.
“Maaf atas kelancangan hamba barusan. Hamba panik hingga lupa diri.”
“Apa yang terjadi?” Xiao Jun mengatupkan kedua telapak tangannya hingga jarinya berbunyi.
“Baru saja produser yang menangani proyek iklan kita memberi kabar shooting hari ini gagal. Seorang penyusup berusaha melukai bintang utama. Mereka minta maaf dan bersedia memberi kompensasi kerugian apabila deadline terpaksa diundur karena harus melakukan seleksi ulang mencari pemeran.”
“Apa gadis itu terluka?” Xiao Jun tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Mengapa gadis itu nyaris celaka karena kerjaan darinya?
“Dia baik-baik saja. Malahan dia yang mengalahkan penyusup itu.” Ujar Lau menenangkan Tuannya.
“Syukurlah.” Plong rasa hati Xiao Jun. Weini bisa menjaga diri bahkan lebih dari yang ia perhitungkan. Tapi bagaimana keadaannya sekarang? Ia ragu untuk menghubunginya. Weini mungkin akan menilainya berlebihan, lagipula ia tidak sedekat itu dengan dirinya.
“Pelakunya sudah ketemu? Paman tolong tindak kasus ini segera.”
“Tuan, ada permintaan dari mereka agar masalah ini tidak menjadi konsumsi publik. Dikhawatirkan akan berdampak pada pamor nona Weini dan iklan anda.”
Xiao Jun bungkam sejenak. Ia mungkin tidak terlalu pusing terhadap dampak negatif publik, tetapi lain cerita dengan Weini. Jika itu solusi terbaik, ia tidak punya pilihan lagi selain mengikuti aturan main.
“Paman, cari tahu siapa dalangnya. Tidak kubiarkan dia lolos semudah itu.”
Lau membungkukkan badan sebelum meninggalkan majikannya. Tugas baru itu membukakan kesadarannya bahwa Weini semakin berarti bagi tuan muda. Xiao Jun tidak akan repot meminta pengawal kepercayaan untuk
menyelidiki masalah yang tidak ada sangkut paut dengannya, kecuali orang itu spesial.
Xiao Jun membuka laci meja lalu menarik keluar sebuah amplop coklat. Dibukanya pengait amplop itu dan mengeluarkan secarik kertas yang berisikan biodata Weini. Nomor ponsel gadis itu terpampang beserta alamat
emailnya.
Haruskah aku menghubunginya?
***