OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 265 RINDU YANG MENGALAHKAN KEEGOISAN



Dina memarkirkan mobil di garasi kosnya, ia perlu melakukan sesuatu sebelum beranjak dari sana. Semangatnya mulai terkumpul penuh, mulai besok hari-harinya akan kembali menyenangkan karena ia akan disibukkan mengurus Weini lagi.


“Tuan, ada kabar baik. Besok nona Weini kembali syuting, film layar lebarnya sudah mulai produksi. Oh ya tuan, kabar baik lagi. Tadi Stevan mencoba meyakinkan Weini tentang tuan, ya barangkali habis ini non Weini agak melunak. Pokoknya Cia yo (semangat) ya tuan!”


Dina mengirim voice note itu sambil senyam-senyum, ia yakin kabar yang dikirim ini akan membuat Xiao Jun tersenyum lebar. Hasil pura-pura tidurnya ternyata efektif, ia jadi tahu apa yang ada di benak Weini dan Stevan


yang dirahasiakan darinya. Sikap tertutup Weini ini membuat Dina sedikit gerah, ia kembali menekan voice note untuk Xiao Jun.


“Oh ya tuan, kayaknya nona Weini mulai curiga sama aku. Dia main rahasiaan sama Stevan, jadi ke depannya aku nggak bisa intens kasih info ya, daripada ketahuan kan repot.”


Dua pesan suara itu sukses terkirim, namun belum dibaca oleh penerimanya. Dina berdecak, ia mengembalikan ponsel ke dalam tas lalu keluar dari mobil tanpa beban pikiran.


“Yang penting aku udah setoran, selanjutnya terserah mereka.” Ujar Dina sembari bersiul dan masuk ke dalam kosnya.


***


Berulang kali Xiao Jun memutar suara Dina hanya untuk memastikan bahwa ia tidak salah mendengar pesan itu. Dan benar saja tebakan Dina, andai ia bisa melihat selebar apa senyuman Xiao Jun sekarang. Bos muda itu bak tengah jatuh cinta lagi, laporan Dina membangkitkan keyakinannya agar berani maju. Dua sahabat Weini sudah mengupayakan demi mereka, dan ini bukanlah saatnya untuk terus bersembunyi.


Mobil sport Xiao Jun sudah berhenti beberapa menit lalu tepat di samping rumah Weini, tempat ia mengintip teras rumah kekasihnya dari spot ini. Tak terhitung sudah berapa kali ia jadi stalker di sini, tetapi kedatangannya kali ini bukan lagi sebagai pecundang yang mengintip dari kejauhan. Kerinduan yang tak bisa dijelaskan inilah yang mendorong tekadnya kemari, ia harus menemui gadisnya sebelum pikirannya semakin menggila lantaran


memendam rindu.


Haris dan Weini baru saja menyelesaikan makan malam, keduanya saling berpandangan dan tahu apa yang sedang terjadi di depan.


“Kamu yang terima atau aku?” Tanya Haris, ia malah lebih senang kalau Weini yang langsung membukakan pintu untuk kekasihnya.


Weini mengulum senyum, pria itu masih di muka pintu dan belum meminta ijin masuk namun debaran hati Weini sudah boleh bersaing dengan tambur. “Ayah aja, plis.”


Haris tertawa kecil, ia hendak merapikan piringnya namun Weini mencegat dengan lebih cepat meraih piring kosong itu lalu ditumpuk miliknya. “Biar aku aja, ayah temui dia saja.”


“Kau yakin nggak mau sambut duluan? Dia kemari demi kamu loh, bukan demi ayah.” Canda Haris, namun mulutnya tak sesuai kata hati. Nyatanya ia bicara sambil melangkah menuju ruang tamu, meninggalkan Weini yang terpaku


diam menatap punggungnya.


Xiao Jun mengepalkan tangannya kemudian mengetuk daun pintu. Akses masuk sudah diajukan, ia tak bisa membatalkan misi atau mundur berpaling dari sini sebelum penghuninya keluar. Dan kesempatan itu tidak


membiarkannya berlalu, segalanya tampak sangat mudah seolah kedatangannya sudah lama dinantikan. Daun pintu itu berdecit, menampilkan postur tubuh tinggi tegap milik satu-satunya penghuni pria di sana.


Bibir Xiao Jun terasa kering, ia kesulitan menarik seulas senyum saking gugupnya berhadapan dengan Haris. Sebaliknya, Haris dengan sorot mata teduh dan pembawaan diri yang tenang menyuguhkan senyum menawan


kepada Xiao Jun.


Xiao Jun tergugu kaku sedetik, untungnya ia masih sanggup menguasai diri agar lebih tenang. Emosionalnya begitu dipermainkan, kata sambutan itu terdengar sangat menyentuh hatinya. Ia baru menyadari bahwa tak hanya Weini yang ia rindukan di rumah ini, namun juga Haris.


“Ayah, apa kabarmu?” Desis Xiao Jun dengan lembut.


Panggilan itu menyentil perasaan Haris, ia ikut terkejut karena Xiao Jun masih ingat permohonannya untuk memanggilnya ayah. Mereka tersenyum canggung, sampai Haris mempersilahkan anak muda itu masuk dengan


isyarat tangan. Xiao Jun mencuri pandang sekilas ke dalam ruangan, berharap menemukan Weini lewat sorot matanya.


“Dia ada di belakang, mau kupanggilkan sekarang?” Tanya Haris yang menahan senyum lantaran melihat tingkah Xiao Jun.


Kepergok secepat itu oleh tuan rumah, tentu membuat Xiao Jun salah tingkah. Ia tersenyum canggung sembari membetulkan posisi duduknya. “Tidak perlu buru-buru, aku juga ingin ngobrol dengan ayah. Maaf, baru sempat mampir setelah satu minggu pulang.”


“Tidak masalah, cepat atau lambat kau pasti datang. Bagaimana urusanmu di sana?” Haris hanya basa-basi bertanya, ia tentu bisa menebak hasilnya dengan kedatangan Grace maka semua harapan dua sejoli ini tidak mulus.


Xiao Jun menatap serius pada Haris, “Masih perlu berjuang mohon dukunganmu, ayah.”


“Apapun yang terbaik pasti didukung, yang penting kaliannya juga usaha. Ya sudahlah, kamu lanjut saja dengan Weini. Dia ada di kamarnya sekarang, masuklah.” Haris memberi lampu hijau pada putranya untuk masuk ke kamar seorang gadis.


Xiao Jun tak beranjak dari posisi duduk, ia tampak ragu dengan tawaran Haris. “Ng, apa boleh kami bertemu di ruang tamu saja. Aku sungkan harus masuk ke kamar seorang gadis.”


Weini tersenyum tipis mendengar jawaban Xiao Jun, pria itu ternyata cukup tahu diri untuk tidak menjangkau area privasinya meskipun ikatan mereka sudah terbilang dalam. Ia sengaja duduk menguping dari kamar, perlu sedikit waktu baginya untuk tenang berhadapan empat mata dengan Xiao Jun.


“Malah lebih bagus kalau di sini, tapi kalau Weini mau keluar.” Ungkap Haris, ia memainkan perannya sebagai penengah yang memancing reaksi dua anak muda itu agar lebih rileks.


Di saat Xiao Jun menunduk karena merasa kecil harapan bahwa Weini bersedia menemuinya, di saat itupula gadis yang ia nantikan itu menggeret langkahnya keluar dari kamar dan meghampiri ruang tamu. Haris manggut-manggut menatap wajah Weini yang canggung padahal Xiao Jun belum menyadari kedatangannya.


“Kau lagi beruntung, anak muda. Dia bersedia keluar sebelum dipanggil, ha ha ha … Ya sudah, nikmati waktu kalian berdua. Aku ada perlu keluar, tolong jaga rumah sekalian.” Haris berbalik badan menuju pintu keluar, menyisakan tatapan nanar dan protes dari Weini.


“Ayah, ada perlu apa malam-malam?” Weini panik akan ditinggal berduaan, ia merasa lebih nyaman jika Haris ada di dekat mereka. Setidaknya masih ada bala bantuan yang diandalkan andai pertemuannya dan Xiao Jun berujung alot.


Haris melambaikan satu tangan tanpa menoleh, “Beli cemilan buat tamu.”


“Di kulkas masih banyak makanan, ayah. Jangan pergi!” Pekik Weini, namun percuma karena Haris tak mengindahkannya. Semua itu hanya alasan agar ia bisa ditinggal berduaan dengan Xiao Jun. Kini tinggal mereka


berdua dalam jarak dua meter dan saling terdiam. Weini merasa canggung dengan keadaan diam, tetapi haruskah ia yang mulai bicara?


Xiao Jun berdiri lalu melangkah menghampiri Weini, setiap jengkal gerakannya terus diamati oleh Weini. Dua pasang bola mata itu tak berkedip saat saling bertatapan, Weini mematung dengan degub kencang dan darah yang mendesir. Xiao Jun makin mendekat, dan ia tak tahu apa yang akan dilakukan pria itu selanjutnya.


***