
"Katakan yang jelas, kau sedang bicara atau berbisik!" Bentak Chen Kho kepada gadis pelayan yang gelagapan itu.
Pelayan itu menelan ludah, perlakuan Chen Kho membuatnya gentar tetapi ia harus menurutinya. "Dia bangun tuan, nona itu sudah bangun." Ucapnya lebih keras daripada sebelumnya.
Chen Kho terkejut sekaligus senang, senyumnya seketika mengembang. Tanpa menjawab pelayan itu, ia justru mendorong tubuh pelayannya karena menghalangi pintu. Chen Kho berlari menuju kamar Weini, tak sabar melihat secara langsung untuk membuktikan laporan itu.
Pintu kamar Weini masih terbuka lebar, bekas dibuka oleh pelayan itu dan sengaja Weini biarkan karena ia tahu pasti akan ada yang datang setelah ini. Ia berdiri menunggu orang yang menyergapnya tiba, meski hatinya penasaran dan ingin menggunakan kesempatan untuk kabur. Tetapi ia harus bertemu muka si pembunuh Haris, Weini tidak akan melepaskannya.
Dan benar saja, kini seorang pria berlari masuk ke kamarnya namun saat melihat Weini, ia justru mematung di depan pintu. Weini menatap lekat pria itu, masih muda, tampan, dan sayangnya mengapa harus sejahat itu? Tidak sesuai dengan tampangnya yang bagus, hatinya ternyata busuk.
Chen Kho terkesiap, ia takjub hingga tak bisa berkata-kata. Gadis di hadapannya begitu cantik paripurna setelah membuka mata, ia bahkan sudah berdiri di hadapannya.
"Kamu sungguh sudah bangun, syukurlah." Gumam Chen Kho tanpa berkedip.
Weini mengernyit, seorang musuh mensyukuri ia sudah bangun? Terdengar aneh dan terlalu baik untuk seorang pembunuh. Weini kira pria itu akan langsung menghabisinya seperti yang dilakukan pada Haris.
"Siapa kamu? Jangan pura-pura baik di hadapan musuhmu." Gertak Weini.
Gertakan Weini membuat Chen Kho akhirnya berkedip, pria itu pun sadar dari kekagumannya lalu tersenyum untuk menghadapi kenyataan.
"Aku hampir melupakan peran jahatku di sini, saking terpukau oleh kecantikanmu." Gumam Chen Kho mengumbar kata-kata manisnya.
"Hentikan basa-basimu, aku muak mendengar itu. Siapa kamu? Di mana aku sekarang? Ng... tanggal berapa sekarang?" Weini seketika merasa perlu mengingat waktu, ia tak tahu tertidur berapa lama dan apa yang terjadi pasca ia tak sadarkan diri.
Chen Kho menyeringai, "Kau baru sadar tapi pertanyaanmu sudah sebanyak itu. Tampaknya kau sangat ingin tahu apa yang sudah terjadi. Baiklah, aku akan bersikap baik padamu, akan kujawab semua untukmu."
Weini membalas seringai itu, "Aku benci basa basi." Jawabnya singkat dan menusuk.
Chen Kho tertawa melihat sikap berani Weini, sungguh membuat ia semakin kagum.
"Aku suka keberanianmu, setidaknya kau bukan gadis lemah yang hanya tahu memohon dan menangis. Kau baru tidur dua hari, sepertinya kau sudah cukup kuat untuk mengamuk sekarang."
Weini terkesiap, dua hari? Kejadian malam itu baru dua hari berlalu? Ah Dina... Apa dia tertangkap juga? Batin Weini gusar.
Namun begitu Weini segera menepis pertanyaan lain yang berkecamuk di hatinya, masih ada yang harus dihadapi di depan mata. Weini menatap tajam pada Chen Kho, menodong jawaban dari pertanyaannya yang lain.
Chen Kho kembali tertawa, "Kau mengancamku dengan delikan mata seperti itu? Ha Ha Ha... Itu tidak menakutkan tapi malah menggemaskan. Kau sungguh ingin tahu siapa aku? Hmmm... Harus bagaimana aku memanggilmu ya? Adik sepupu...." Ujar Chen kho sengaja menekan panggilan itu lebih tegas dan nyaring.
Weini terkejut, ia menggeleng tak percaya bahwa pria itu masih ada ikatan keluarga dengannya. "Kau jangan mengada-ada!" Bantah Weini.
Chen Kho mengangkat bahu, acuh. "Terserah, aku tidak menyuruhmu percaya. Aku hanya menjawab pertanyaanmu." Jawabnya ketus.
"Kau yang menbunuh ayahku?" Pertanyaan itu diteriakkan lantang oleh Weini. Antara percaya dan tidak percaya, Haris mati di tangan pria yang terlihat culas itu.
Weini meradang, air mata yang menggenangi matanya membuat penglihatannya buyar sesaat. "Tutup mulut kotormu! Aku tak peduli kau siapa, aku sudah bersumpah siapapun yang membunuh ayahku, akan kubunuh!"
Selepas kata-kata itu, Weini membuktikan omongannya bukan hanya gertakan. Tangannya diangkat dan seluruh energinya dikerahkan untuk menyerang.
Chen Kho justru santai berdiri melipat tangan dan meremehkan Weini dengan pandangannya. Begitu Weini menyerang dengan energi sihirnya, Chen Kho hanya menepisnya dengan satu tangan.
Bruk!
Weini tersungkur di lantai dengan napas tersengal-sengal. Ia menatap sinis pada Chen Kbo yang puas menertawakannya. Serangan Weini barusan ternyata masih lemah dan membuatnya terlihat seperti lawakan.
Chen Kho berjalan mendekati Weini, ia pun berjongkok agar bisa menatap wajah Weini yang mendongak padanya.
"Simpan energimu, adik. Percuma, kau tidak akan mematikanku dengan tenaga seperti itu. Masih banyak waktu untuk membunuhku jika kau mau, jadi bersantailah sejenak. Nikmati harimu bersamaku. Ha ha ha...." Tawa Chen kho melengking, semuanya terasa lebih menarik ketika Weini bangun. Setidaknya ia punya lawan bicara serta lawan bermain-main.
Weini menyeringai, ia tak membiarkan kesempatan bagus itu lolos begitu saja. Dua tangannya langsung gesit memeluk kaki Chen Kho, membuat pria itu terkesiap sejenak namun akhirnya malah tersenyum.
"Hisaplah semampumu, akan lebih seru jika bermain denganmu jika kau bertenaga. Dasar gadis rakus, ini kali kedua aku membiarkanmu menyedot energiku." Gumam Chen Kho.
Gantian Weini yang terkejut, tangannya masih mendekap kaki Chen Kho, ia merasakan aliran hangat menjalar masuk ke dalam tubuhnya. Tetapi hati dan pikirannya terguncang kata-kata Chen Kho barusan, pria itu tahu yang Weini lakukan tapi sengaja membiarkan ia mengambil energinya bahkan ini kali kedua. Mengapa ia begitu repot berbelas kasih padanya jika memang ingin membunuhnya, harusnya sudah pria itu lakukan saat Weini tak sadarkan diri.
Tangan Weini terlepas otomatis, tubuhnya sudah mencapai maksimal menampung energi dari luar. Ia merasa lebih bertenaga, namun tidak sepenuhnya pulih. Energi serapan dari Chen Kho ternyata berbeda ketimbang manusia lainnya, Weini tak bisa menyerap sepenuhnya sekaligus.
"Kau sudah puas mengambilnya? Aku tidak keberatan kalau kau mau lagi." Gumam Chen Kho.
Weini menatapnya sinis, "Tidak perlu berbaik hati, aku tidak akan tergugah."
"Oh, begitu caranya kau berterima kasih. Menarik... Aku suka...." Ujar Chen Kho kemudian tertawa.
Weini tak berniat meladeni basa basi Chen Kho, dengan tenaga yang ada sekarang, ia segera berlari menuju pintu dan melewati Chen Kho yang berdiri di hadapannya. Chen Kho tidak terkejut, dibiarkannya Weini menerobos ke segala penjuru rumah ini.
Weini berlari kencang mengitari tempat asing dan luas ini. Ia belum menemukan pintu keluar, namun sejak tadi berlari, belum ada satupun orang yang ia temui. Bahkan musuhnya belum tampak mengejarnya, Weini tak peduli, ia menganggap nasibnya mujur karena belum terkejar dan harus segera menemukan jalan keluar.
Senyum Weini mengembang saat melihat sebuah pintu berukuran lebih besar dari pintu lainnya, ia yakin itulah pintu utama dalam rumah ini. Ia berlari lebih kencang dan berhasil meraih gagang pintu.
Krieeet
Begitu pintu berhasil terbuka, senyuman Weini hilang seketika. Ia shock berat melihat apa yang tampak di hadapannya. Pemandangan yang terbentuk luas itu hanyalah air dan ikan berbagai ukuran yang terlihat mengerikan. Ia bak berada dalam akuarium besar. Banyaknya ikan dan binatang laut itu justru membuat Weini terlihat seperti peliharaan dalam akuarium, ia lah makhluk aneh di dalam sini.
"Di mana aku?" Pekik Weini histeris.
💖💖💖