
Langkah Dina tersengal memapah tubuh Stevan yang mulai melemah, pria yang biasanya cerewet itu lebih pasif hingga membuat Dian takut. Mereka diusir Weini keluar dan baru melangkah sampai ruang tamu. Saat tangan Dina merangkul pinggang Stevan agar lebih leluasa memapahnya, sentuhan ringan itu membuat Stevan meringis.
“OMG, berdarah.” Pekik Dina histeris dan ia bergegas mencari sumber luka yang terbuka. Kaos yang dikenakan Stevan berwarna hitam dan baru disadari Dina ada bagian yang sobek kecil karena pecahan piring.
“Sssttt, lu pergi sendiri aja! Gue mau balik nolong Weini.” Stevan mendorong tubuh Dina agar melepaskannya.
“Nggak usah ngaco deh, non Weini gitu-gitu jago kungfu, yang ada lu mati konyol kehabisan darah di sana.” Dina bersikukuh menggeret Stevan pergi bersamanya. Lebih baik mencari bantuan di luar daripada terkurung bertiga dalam kandang musuh.
Kebisingan yang mereka timbulkan rupanya memancing reaksi dari pihak lain, tiba-tiba dari arah kamar Lau dan kamar tamu bermunculan tiga orang tak dikenal. Dina berteriak terkejut saat melihat dua pria dengan setelan piyama serta satu gadis yang terlihat seperti orang lokal. Gadis lokal itu tak kalah terkejut dan berteriak
kencang menyaingi Dina.
Salah satu pria asing itu bertanya dengan ketakutan juga lalu diterjemahkan oleh gadis lokal, “Siapa kalian? Gimana bisa masuk ke sini?”
Dina bengong sejenak, rasa takutnya sedikit berkurang saat mendengar bahasa yang diucapkan bisa ia mengerti. “Heh? Bisa bahasa Indonesia ternyata. Lah, aku yang mau tanya kalian siapa kok bisa seenaknya tinggal di rumah tuan Xiao Jun?”
Gadis lokal itu menerjemahkan ucapan Dina, mereka berbalik menatap Dina dan Stevan dengan tajam. “Kalian pasti penyelusup. Security ... tangkap mereka!” hardik si gadis lokal atas perintah dua pria asing itu. Mereka sendiri tidak berani mendekati Dina dan Stevan, terlihat jelas bahwa mereka juga ketakutan dan mengharapkan
pertolongan security.
“Gue aja yang hadapin.” Stevan masih tidak tahu diri, dengan kondisi darah bercucuran dari punggung ia masih berniat melawan.
***
Sebuah kepalan tinju dengan tenaga kencang menunggu pendaratan ke kepala Weini. Pria bertubuh kekar itu secara curang menyerang lawan dari belakang, ketika target melemah dan ia mengambil kesempatan. Weini masih menoleh ke belakang memastikan kedua rekannya berhasil kabur, hingga feelingnya merasakan sesuatu yang
mengancam dan secara reflek membalikkan badan.
Bogem mentah itu disadari Weini lalu tubuhnya bergegas menunduk dan menyerang perut lawan dengan satu tendangan kuat hingga tubuh pria itu terpental menghantam kitchen set. Pria itu terhuyung namun dengan sigap berdiri kembali, kekuatan Weini yang tidak diprediksi sebelumnya dan dianggap lemah. Nyatanya ia tidak bisa
meremehkan seorang gadis berbadan tinggi langsing yang terlihat seperti orang lemah.
“够了(Gou le) cukup! 我们说很好 (wo men shuo hen hao) kita bicarakan baik-baik.” Ujar Weini berusaha mencegah pertikaian lagi.
Niat baik itu tidak disambut hangat oleh sang lawan, tanpa sepatah katapun ia kembali menyerang Weini dan perkelahian tidak bisa terhindarkan. Weini yakin pria itu terlatih sebagai pengawal layaknya Lau, ia menilai dari jurus yang kasar dan strategi yang mudah terbaca. Haris mengajarinya teknik yang jauh lebih matang daripada musuhnya.
“你的武术也很好 ni de wu shu ye hen hao, 谁是你的老师 shei se ni de lao se? (wushumu sangat bagus, siapa gurumu?” pria itu berhenti sejenak dan bertanya, ia kewalahan menghadapi musuh yang seimbang. Pertanyaan basa basi itu nyatanya untuk mengalihkan perhatian Weini, ia tidak terlihat menanti jawaban namun lebih gesit menyerang.
Teriakan kencang yang datang dari arah ruang tamu mengejutkan Weini, sepertinya ia terlalu lamban dan mengira musuh hanya ada pada satu titik. “Kak Dina?”
***
“Security!” pekik si gadis meminta pertolongan. Tidak ada satupun dari mereka yang bersedia maju memulai
perlawanan. Dina menjerit panik melihat Stevan yang ambruk ke lantai, tinggal ia seorang diri menghadapi lawan berjumlah tiga orang. Jika salah satu dari mereka maju dan menyerang maka habislah Dina menyusul nasib Stevan yang tergeletak kalah sebelum perang.
“Aku nggak ada urusan sama kalian, kenal aja nggak! Mendingan kita damai aja, biarkan kami keluar dari sini.” Ujar Dina mencoba mengambil hati si gadis.
“Penyusup seperti kalian mana boleh dibiarkan pergi begitu saja. Gimana caranya bisa lolos dari keamanan di sini? Tunggu security kami keluar, kalian selesaikan urusan dengannya.” Hardik gadis itu tak bersahabat, antara ketakutan dan penasaran siapa gerangan tamu tengah malah yang tak diundang itu.
“Maksudmu orang ini?” Weini muncul dari balik remang-remang, tangan kanannya tampak tengah menggeret sesuatu. Kehadiran Weini disambut senyum girang Dina, sang penyelamat telah datang setidaknya ia optimis tidak akan babak belur seperti Stevan. Kekagumannya semakin besar saat objek yang tengah diseret Weini itu kian jelas terpampang. Tubuh pria yang menyerang mereka kini terkulai layaknya baju lusuh yang diseret-seret
anak kecil sebagai mainan.
Weini meletakkan tubuh pria yang ia kalahkan persis di pertengahan antara jarak mereka berdiri. Tubuh tinggi besar pria kekar itu tampak tak berguna ketika lunglai oleh seorang gadis. Security yang diandalkan oleh ketiga penghuni baru apartemen Xiao Jun itu telah ditumbangkan, mereka tidak punya kekuatan untuk menang bila terus berkeras hati melawan Weini.
“Siapa kalian dan mau apa?” seru si gadis menjadi juru bicara dua pria asing yang saling berpelukan ketakutan itu.
“Justru aku yang mau tanya, kalian siapa dan mau apa di rumah kekasihku!” ujar Weini lantang.
Si gadis sedang menerjemahkan ucapan Weini pada dua pria itu, mereka bingung sejenak kemudian melontarkan jawaban yang diterjemahkan oleh si gadis. “Maaf, kami tidak ada urusan dengan tuan Xiao Jun. Dia tidak tinggal di sini lagi, kami hanya tim professional yang diutus ayahnya untuk mengurus perusahaan. Sebaiknya kamu jangan mengganggu di sini lagi, tuan Xiao Jun tidak akan kembali memimpin perusahaan ini.”
Jawaban yang sungguh mengejutkan dan tak mampu diterima nalar Weini begitu saja, ia tak mengira kekuasaan orangtua Xiao Jun sangat berpengaruh. Ternyata masih ada keluarga berpengaruh selain ayahnya di Hongkong, Weini mengira hanya ayahnya yang super kejam yang punya kemampuan membatasi kehendak orang seperti itu. Apa ia pergi segitu lamanya sehingga tidak mengikuti perkembangan jaman di kampung halamannya?
Dina tak kalah kaget mendengar apa yang gadis itu sampaikan, namun segalanya terlihat masuk akal. Mereka baru tinggal di sini untuk menggantikan Xiao Jun mengurus bisnis, dan gadis lokal itu pasti direkrut sebagai penerjemah mereka. Dina menepuk bahu Weini, mengembalikan konsentrasinya pada kenyataan.
“Dia pasti kembali. Aku yakin itu!” seru Weini sembari tersenyum getir pada gadis itu. Tidak ada lagi yang perlu ia cari tahu di sini. Segalanya sudah cukup jelas, tinggal menanti janji Xiao Jun padanya untuk kembali ke sisinya. Weini berpaling dari tatapan si gadis dan tersenyum pada Dina, masih ada tugas yang harus dibereskan. Stevan belum juga sadarkan diri dengan kondisi perdarahan yang sudah berhenti.
“Bawa dia ke rumah sakit, kak.” Seru Weini memapah tubuh Stevan. Ia melihat sekilas luka bekas pecahan piring, masih ada serpihan kasar yan menancap dan perlu penanganan medis segera.
“Jangan pergi dulu, anda apakan security kami?” gadis itu mencegat Weini dan Dina atas inisiatifnya. Kedua bos pria itu tak berkutit saking takut dan memasrahkan apapun yang terjadi pada gadis itu.
Weini menepis lembut tangan si gadis yang terbentang di hadapannya. “Dia hanya pingsan, dua jam lagi pasti bangun sendiri. Jika belum sadar setelah dua jam, siram dia dengan air dingin.”
Tindakan Weini yang tersulut emosional berujung jatuhnya korban. Jika ia tahu akhirnya akan sealot ini, tidak akan ia biarkan Stevan mencampuri urusannya. Di saat ia ingin segera kembali merenung dalam kesendirian, ia justru harus mengambil sikap sebagai bentuk tanggung jawabnya sampai Stevan pulih.
***