
Dalam sebuah kamar kecil yang hanya berisikan satu ranjang kecil dan toilet seadanya, seorang gadis muda dengan penampilan acak-acakkan meringkuk di atas ranjang yang spreinya telah ia hilangkan entah ke mana. Gadis itu kini duduk dengan tangan memeluk lutut, tatapannya kosong menerawang ke arah dinding bercat putih di depannya. Tak ada yang ia inginkan, bahkan rasanya ia tidak mempunyai sesuatu untuk diimpikan. Bayangan itu selalu menghantuinya, ingatannya dipenuh dengan adegan berdarah yang ia sebabkan. Sepasang tangannya telah ternodai darah seseorang yang tak pernah ia pikirkan akan mati di tangannya. Namun ia sama sekali tak berani membuka mulut, tidak boleh ada yang tahu apa yang telah ia lakukan, atau ia akan dipaksa untuk mempertanggung-jawabkannya.
“Ng... tidak... bukan aku... bukan aku!” Pekiknya histeris seraya menutup mata dan telinganya.
Tak ada satupun yang datang menolongnya, teriakan itu sudah biasa terdengar dari kamarnya. Dan mungkin ia akan berdiam diri di sana di sisa hidupnya, atau entah sampai kapan hingga datangnya sebuah keajaiban yang bisa membawanya keluar dari kurungan ini.
❤️❤️❤️
“Gadis itu sudah kami amankan di rumah sakit jiwa, karena setelah dilakukan pemeriksaan tampaknya ia memiliki kelainan mental dan perlu penanganan khusus. Apa benar anda keluarganya?” Selidik seorang anggota polisi setelah memberikan keterangan tentang keberadaan gadis yang dicari Lau. Kini tatapan polisi itu tajam melihat ke arah Lau dan Su Rong yang datang mengaku sebagai keluarga dan hendak membawanya pulang.
Lau tersenyum ramah, dari sikap tenangnya sangat meyakinkan siapapun lawan bicara. Sungguh ia sudah terdidik untuk menghadapi situasi apapun dalam keadaan tenang dan profesional sekalipun ia dihadapkan dengan posisi yang tidak menguntungkan. “Benar tuan, dia adalah keponakan saya dan ini adalah kakaknya.” Ujar Lau dengan telunjuknya yang mengarah pada Su Rong di sampingnya.
Su Rong hanya tersenyum kaku dan mengangguk, ia tak mengerti apa yan Lau bicarakan tetapi sadar bahwa Lau sedang membicarakannya, maka ia memberikan respon dengan badan yang setengah membungkuk.
Polisi mengamati penampilan Su Rong dari atas kepala hingga bagian kakinya, tampang ganteng serta potongan penampilan pria muda itu memang tidak terlihat seperti orang lokalan. Warna kulit serta gelagatnya pun kurang lebih sama dengan gadis yang dicari mereka. Sepertinya tidak ada yang perlu diragukan lagi, jika benar gadis itu sudah diserahkan pada pihak keluarganya maka berkuranglah beban polisi tersebut.
“Ya... ya... tapi kenapa bisa sampai terpencar gadis itu? Sudah tahu mentalnya terganggu kok masih dibiarkan sendirian? Apa kalian punya identitasnya?” Tanya polisi itu demi bukti yang lebih valid dan meyakinkan.
Lau tampak terdiam sesaat, ia sudah tahu akan dihadapkan dengan pertanyaan itu dan tentu saja ia sudah menyiapkan jawabannya. “Ah, itu... sayang sekali identitasnya dibawa bersamanya saat itu. Jika saat anda9 menemukannya, benda itu tidak lagi bersamanya, kemungkinan besar sudah ia hilangkan. Sebenarnya ketika dia hilang, kondisi mentalnya tidak mengalami gangguan, dia hanya bermain sebentar keluar lalu kami kehilangan jejaknya. Justru saya sangat terkejut dengan penjelasan anda bahwa keponakan saya mengalami gangguan mental. Saya harus segera menemuinya dan mematikan sendiri kondisinya, pak. Mohon bantuan anda.” Gumam Lau.
Pak polisi itu manggut manggut, apa yang disampaikan Lau memang masuk akal. “Siapa nama gadis itu?” Tanya polisi itu sekali lagi untuk meyakinkan.
“Siu Fong.” Jawab Lau tegas. Berbekal informasi yang disampaikan Xiao Jun tentang ciri ciri gadis itu serta pakaian yang dikenakan saat terakhir dilihat Weini, semua itu cocok dengan informasi saat polisi melakukan pemeriksaan pada gadis itu.
❤️❤️❤️
Gadis itu masih duduk termenung dengan tatapan kosong, kali ini fokusnya bukan lagi pada dinding bercat putih, melainkan pada ventilasi yang tampak sebagai satu satunya penghubung ia dengan dunia luar. Ia rindu suasana di luar, merasakan terik matahara menyengat atau mungkin angin yang dingin berhembus. Semua sensasi itu terasa mahal baginya ketika kebebasannya tersita di ruangan sempit ini.
Krieeek.... pintu besi itu terdengar ketika gembok sudah dibuka dan daun pintu itu terbuka. Siu Fung menangkap suara yang aneh tetapi ia masih tak berminat untuk menoleh, bukan lagi suara nampan yang diletakkan kasar di atas lantai, tetapi mungkin perlakuan petugas itu lagi manis dan bisa membawakan makanan dengan cara yang lebih sopan.
“Keluargamu datang menjemputmu, lihatlah mereka.” Seru seorang pria yang menjadi petugas di sana, ia tak pernah berhasil berkomunikasi dengan pasien itu. Tetapi tetap saja ia bicara padanya sesuai prosedur kerja yang mengharuskannya.
Siu Fung tak mengerti apa yang disampaikan dan ia tetap mempertahankan harga dirinya yang tinggi, tak sudi menoleh pada orang yang sedang bicara dengannya. Biarlah, dianggap sakit mentalpun ia tak menggubrisnya.
“Nona Siu Fung tenanglah, kami diutus oleh nona Yue Hwa untuk menolongmu keluar dari sini.” Gumam Lau dalam bahasa yang pastinya dimengerti oleh Siu Fung.
Deg! Siu Fung terkesiap, hatinya bergerumuh dan ia merasa sangat ketakutan. Seseorang mengetahui namanya, dan orang itu pun menyebut nama Yue Hwa, nama yang ia ingat sebagai orang yang memberinya tugas saat misi kabur. Tapi Siu Fung tak becus, ia mangkir dari kepercayaan yang diberikan padanya. Apa dia sungguh hendak menolongku setelah aku mengkhianatinya?
Lau mengangkat satu alisnya, ia pun menatap Su Rong untuk meminta pendapat pria muda itu. Gadis di depan mereka sama sekali tidak menaruh respon pada ucapan mereka, entah benar dugaan polisi bahwa ia mengalami gangguan mental, ataukah memang ia sengaja menghindari siapapun?
Su Rong mengangguk paham, seakan mereka bisa berkomunikasi dengan telepati. Su Rong menatap gadis yang menyembunyikan wajahnya itu, memprihatinkan kondisi fisiknya saat ini hingga ia merasa kasihan padanya. Jika memang benar ia adalah pelayan yang direkrut Chen Kho, jelas Su Rong bisa mengerti tekanan batin yang gadis itu rasakan kurang lebih sama seperti yang ia rasakan pula.
“Nona Siu Fong, jangan takut lagi ya. Tuan Chen Kho sudah meninggal, keadaan di luar sudah aman. Tidak ada yang akan membahayakanmu lagi, nona Yue Hwa telah berkuasa dan dialah yang mengutus kami untuk menolong anda. Apapun yang terjadi anda telah berusaha dan nona Yue Hwa tidak akan menyalahkan anda. Jadi... kami mohon agar anda mau ikut dengan kami keluar dari sini.” Seru Su Rong lantang dan tegas.
Siu Fong terkesiap, mendengar apa yang disampaikan pria itu nyatanya sangat mengejutkannya. Tuan Chen Kho sudah mati? Nona cantik itu berhasil menyelamatkan diri meskipun misiku gagal? Dia benar benar gadis yang hebat... aku telah mengecewakannya, aku harus menebus kesalahanku padanya.
Di saat Lau dan Su Rong saling pandang lantaran merasa cara mereka tidak berhasil, tak lama setelah itu dugaan mereka terpatahkan dengan reaksi Siu Fong yang di luar dugaan. Gadis itu akhirnya menoleh ke arah mereka, menatap lekat dengan sorot mata yang lekat dan ia terlihat sangat normal.
“Ya, bawa aku keluar dari sini... bawa aku menemui nona Yue Hwa.” Lirih Siu Fong mantap.
❤️❤️❤️