
Jika kamu mengukur kebahagiaan dengan seberapa banyak hartamu, kuasamu…
Kau akan semakin jauh dari ‘bahagia’ itu
Jika kamu katakan di dunia ini tidak ada yang tak bisa diselesaikan dengan uang
Lalu bisakah kamu membeli waktu, cinta sejati dan keabadian hidup?
_Quote of Haris_
***
Semangkuk penuh bubur ludes menyisakan mangkuk kosong. Xiao Jun meneguk segelas air mineral sebagai penutup sarapan. Ia merapikan sendiri peralatan makannya dan membawa ke bak pencucian piring.
“Tidak perlu repot anak muda, taruh saja.” Haris mencegah Xiao Jun mencuci mangkuk bekas pakainya.
Xiao Jun tidak mengindahkan perintah itu, ia melanjutkan niatnya sekaligus mencuci mangkuk bekas Haris. “Tidak apa paman, ini tidak merepotkan. Aku terbiasa dilayani bukan berarti aku tidak bisa mandiri.”
“Terima kasih, anak muda.” Ujar Haris sembari duduk kembali mengawasi kerja Xiao Jun.
“Oh ya, Paman. Bolehkah tidak memanggilku anak muda? Paman bisa memanggil namaku saja. Aku merasa kurang nyaman dengan panggilan itu.” Xiao Jun mengelap tangannya lalu kembali duduk berhadapan dengan Haris.
Bukan jawaban yang Xiao Jun dapatkan namun keheningan. Haris terlihat hanyut dalam pikirannya yang tak bisa ditafsirkan Xiao Jun. Berulang kali Xiao Jun mencoba membaca pikirannya tapi sayangnya tidak tembus,
menurut Xiao Jun mungkin karena kemampuan sihirnya yang payah dan belum ada kemajuan selama dia menetap di sini.
Haris seakan berat mengucapkan nama itu, ia lebih nyaman dengan sebutan khusus untuk pacar Weini. Kini si anak muda itu menunjukkan keberatan, ia ingin diperlakukan lebih akrab dengan panggilan nama. Namun Haris
sendiri belum yakin dengan Xiao Jun, apakah ia layak menjadi calon menantunya kelak?
“Namamu panjang dan ribet, tidak cocok dengan lidah lokalku yang kadang suka salah menyebut. Gimana kalau ku singkat saja panggilannya? Hmmm… Ajun?” Haris memberi opsi yang terdengar aneh, ia tidak suka dengan nama Xiao Jun hingga merasa perlu memberi nama panggilan khusus dan hanya ia yang boleh memanggilnya.
Xiao Jun mengernyitkan dahi, Haris baru saja memberinya nama panggilan yang terdengar manis dan akrab. Ia langsung suka dengan panggilan itu dan menganggukkan kepala tanda setuju. “Ajun… boleh juga. Paman
mulai sekarang panggil aku Ajun ya!”
“Baiklah, deal. Ah… tanpa bermaksud mengusirmu, apa kamu tidak kesiangan ke kantor?” Haris melirik jam digital di ruang dapur, pagi mulai beranjak siang tanpa terasa.
Xiao Jun tersenyum diingatkan seperti itu. “Kantorku hanya perlu jalan kaki 10 menit ke gedung sebelah, tidak kena macet dan fleksibel waktu. Aku tidak akan terlambat, paman sendiri sudah rapi begini apa ada acara di luar?”
Haris juga baru tersadar dengan kerapian penampilannya, ia merindukan rutinitas sehari-hari yang nyaris dua minggu vakum. “Ya, aku mau pulang ke rumah. Kursus sudah cukup lama diliburkan, saatnya untuk bekerja lagi. Oh ya, Ajun setelah kondisi normal kami tidak bisa tinggal lama lagi di sini. Beberapa hari sebelum pulang, aku pasti akan memberitahumu.”
“Eh? Tidak usah terburu paman. Rumah ini aku belikan untuk kalian, sampai kapanpun silahkan tinggal di sini. Itupun jika kalian mau… paman bisa pindahkan tempat kursus di sekitar sini, aku bisa mencarikan tempat
yang cocok.” Baru saja merasakan kehangatan seperti sebuah keluarga, Xiao Jun malah mendengar nada perpisahan. Rencana Haris terdengar sangat menyakitkan, Xiao Jun tak mengerti rasa sakit itu yang pasti ia tidak rela jauh dari Weini dan Haris.
Haris menghela napas, tipikal anak muda memang suka memaksakan kehendak. Weini terkadang juga sekeras kepala itu, suka memaksakan kehendak yang menurutnya terbaik padahal jauh dari bijaksana.
“Jun, aku sangat terharu dengan ketulusan cintamu pada Weini. Tapi kalian masih sangat muda, jalan dan cobaan masih sangat panjang untuk dilalui. Kami belum bisa menerima kebaikanmu yang bersifat materi, kesannya tidak baik apalagi kamu memegang tradisi timur yang sangat kental tata krama. Jangan sampai Weini dinilai buruk oleh orangtuamu. Memberi kesan kami memanfaatkan kekayaanmu, atau mencintai uangmu. Kamu masih menjalankan
bisnis orangtua, lain cerita jika kamu mandiri.”
kerajaan bisnis atas namanya.
“Apa yang paman katakan tidak kusangkal, saat ini aku masih disetir keluarga tapi kelak bisa kubuktikan kedua kaki ini mampu berpijak tanpa fondasi mereka. Mohon paman memberiku kesempatan membuktikan.”
Haris tertawa, tekad seorang pria yang belum berusia 20 tahun terdengar sangat meyakinkan dan dewasa. “Jun, waktu bisa mengubah segalanya termasuk cinta dan pilihan hidup. Jangan sampai mengingkari apa yang
diucapkan sendiri. Kau dan Weini masih sangat muda, gadisku bahkan baru mengenal cinta pertama. Yang pertama biasanya tidak menjamin keberhasilan, jadi kuharap kalian jangan terlalu berharap lebih dari hubungan ini. Jalani saja apa adanya, biar waktu yang menguji.”
Xiao Jun mulai geram, perasaannya terhadap Weini diragukan oleh ayah sang gadis. Ia bukan orang seperti itu, ia yakin dapat mempertanggung jawabkan perasaannya kini hingga mati tidak akan pernah berubah. Karena Weini juga cinta pertamanya.
“Yang pertama biasanya tak berhasil, tapi bukan berarti semuanya gagal paman. Usia tidak menjamin kedewasaan seseorang, aku tidak pernah mengingkari apa yang sudah kuucapkan. Sulit menemukan yang pertama, aku menghargai pertemuan dengan Weini. Ijinkan aku membuktikan aku pantas menjadi calon menantumu.”
Haris dan Xiao Jun bertatapan hingga menciptakan suasana tegang. Kehangatan yang sebelumnya tercipta kini menguapkan perselisihan.
“Seorang wanita dinilai lebih dari kesetiaan dan kelembutan, sedangkan pria harus bisa dipegang komitmen dan tanggung jawabnya. Hubungan dikatakan serius jika kedua pihak saling dikenalkan dan meyakinkan untuk
menerima satu sama lain. Sebelum kamu bisa melakukan itu, aku belum memperhitungkanmu sebagai calon menantu.”
Syarat dari Haris ternyata cukup berat, Xiao Jun bahkan belum terpikir masalah itu. Ia menangkap maksud Haris yang menunggu Weini dikenalkan dengan orangtuanya. Semula Xiao Jun mengira cinta hanya melibatkan dua orang yang saling menaruh hati, ternyata peran orangtua tak lepas dari pertimbangan. Kini ia bingung, bagaimana ia mengenalkan Weini pada Li San dan Liang Jia? Atau lebih tepatnya ia mengenalkan pada Xin Er dan
ayahnya yang entah di mana?
“Baik paman. Aku pasti mengenalkan Weini pada orangtuaku!”
Keputusan mantap itu terlontar begitu saja dari Xiao Jun, walaupun belum menemukan titik terang namun ia yakin dapat merealisasikannya.
***
Jam istirahat sangat dinantikan Weini, ia berharap waktu bergulir lebih cepat agar bel pulang segera berbunyi. Metta akhirnya masuk sekolah dan belum mencari masalah dengan Weini. Awalnya Weini mengira singa betina itu akan meraung menakutinya saat bertemu, nyatanya gadis jutek itu terlihat lebih pasif dan murung.
Bel istirahat berbunyi tiga kali, Weini penuh semangat mengemasi buku pelajaran. Ia tidak berniat ke kantin tetapi lebih suka menghabiskan waktu sendirian di loteng sekolah. Hingga seseorang menghampiri dirinya yang masih duduk di kelas.
“Gue minta waktu bentar.” Ujar Metta judes.
Weini tidak menyahut dan tidak beranjak dari duduk, ia diam menanti reaksi Metta selanjutnya. Kelas mulai sepi karena murid lain lebih antusias mengisi perut ketimbang menonton serial bersambung pertengkaran mereka. Metta menyuruh dua sahabatnya yang lebih mirip dayang itu meninggalkannya sendiri.
“Kita ngobrol di loteng aja.” Lanjut Metta meminta privasi.
Weini menggeleng, ia menolak loteng tempat persembunyiannya tercemar suasana gaduh. “Di sini aja.”
Metta tak punya pilihan, ia sedang malas perang mulut lagipula ia yang menghampiri musuhnya. Diputarnya kursi di depan Weini hingga saling berhadapan. Ia perlu menyelesaikan sesuatu yang tak boleh ditunda-tunda.
“Gue cuman mau tegasin, jangan karena lu cabut gugatan trus gue perlu minta maaf dan jadi kacung lu! Sorry! Gue gak sudi. Dan gue lebih baik masuk penjara lagi daripada bilang makasi ama lu. Di antara kita nggak ada hutang budi, lu yang mau gue keluar tanpa gue minta.”
Keangkuhan Metta yang sudah tertebak Weini sejak awal, sebelum ia mantap meminta Xiao Jun mencabut gugatan ia sudah tahu akibatnya. Seperti inilah balasannya, sifat seseorang tidak akan mudah berubah meski ia mendapat balasan kebaikan.
“Lu denger gak hei! Gue tetap musuh lo selamanya musuh!” cecar Metta makin meninggikan suaranya.
***