
Kepadatan lalu lintas di kawasan jalan S.Parman tak kunjung longgar meskipun malam beranjak larut. Xiao Jun mengamati lalu lalang kendaraan dari jendela, tatapannya kosong tanpa arah. Usai berkemas seperlunya untuk pulang besok namun ia tak kunjung ngantuk.
Gadis itu lagi apa? Tiba-tiba ia memikirkan Weini. Sadar telah melamunkan gadis itu, Xiao Jun buru-buru menepisnya.
Kesempatan pulang sudah ia nantikan sekian lama, Xiao Jun perlu memeriksa kembali kiriman sinyal sihir dari rumah lamanya. Ia mencoba memegang prinsip awal kedatangannya kemari untuk mencari Wei. Takkan ia biarkan perasaan pribadi meluluh lantakkan fokus utama.
Lau mengetuk pintu kamar Xiao Jun, “Tuan muda, nona Weini datang mencarimu.”
***
Lima belas menit sebelumnya…
Butuh perjuangan ekstra melewati arus macet demi mampir ke apartemen elit yang dituju Weini. Dina menyetir dengan kecepatan sedang ketika mencari lahan parkir di area apartemen. Entah angin apa yang bertiup sehingga Weini beinisiatif menghampiri Xiao Jun.
“Non, aku tunggu di mobil aja ya. Mau lemesin otot.” Alasan Dina padahal ia canggung bertemu dengan Lau dan Xiao Jun.
“Temani aku kak. Nggak lama kok.” Paksa Weini.
Dina tak punya pilihan lain, dibuntutinya Weini walau dengan badan ngilu dan hati dag dig dug. Ia mulai menebak kedekatan Xiao Jun dan Weini sejauh mana hingga Weini paham betul di mana tempat tinggal bos muda itu. Lebih mengherankan lagi jika sudah dekat dan saling suka, kenapa masih perlu bantuan pihak lain? Kenapa segengsi itu mengakui perasaan?
Mereka tiba di depan pintu tanpa melakukan apapun. Hanya berdiri mematung menatap kunci pintu digital seakan hendak menguji keberuntungan dengan asal menebak password. Dina mulai kesal jauh-jauh datang hanya menjadi patung penjaga pintu, dipencetnya bel dari belakang. tangannya menjulur melewati pundak Weini.
“Non kelamaan, nggak sabar aku!” ujar Dina sebelum Weini sempat protes.
Sayangnya pintu tak kunjung terbuka, weini mulai kecewa namun Dina tak kalah lesu.
“Kok nggak telpon mereka dulu sebelum datang non, jangan-jangan lagi keluar.” Sesal Dina baru ingat ia bisa saja mengabari Xiao Jun dengan ponsel khusus mereka.
Weini tidak bersedia menjawab. Ia malah memencet ulang bel lalu diam mematung berharap dibukakan pintu.
Dina meronggoh ponselnya, sebaiknya ia mengirim pesan pada Lau daripada menunggu di luar seperti orang kekenyangan.
Pintu terbuka saat Dina belum selesai mengetik pesan. Lau muncul sembari menyunggingkan senyuman ramah. “Nona Weini, Dina selamat malam. Urusan apa yang membawa anda kemari?”
“Paman, aku ingin bicara dengan Xiao Jun sebentar.” Ujar Weini.
“Sayang sekali tuan muda belum juga pulang. Ia keluar tanpa membawa ponsel, saya tidak tahu kemana tuan pergi.” Lau iba melihat gurat kecewa dari Weini.
“Kalau begitu aku akan menunggu.” Weini berkeras hati. Ucapannya membuat syok Dina dan Lau.
“Non, ini udah hampir jam sebelas malam. Besok non masih sekolah, trus ayah non pasti nyariin.” Dina berusaha mencegah Weini menunggu sesuatu yang konyol.
“Dina benar. Lebih baik anda pulang istirahat dulu, saya pasti sampaikan ke tuan saat dia pulang.” Lau tak enak hati, situasi di hadapannya jauh lebih rumit dimengerti ketimbang menangani masalah kerjaan.
“Apa masih ada harapan?” tanya Weini nyaris berdesis. Ia terpaku diam, andai diperbolehkan ia ingin menggunakan kemampuan sihir lalu melenakan Lau dan Dina sejenak agar bisa menerobos masuk. Entah
mengapa ia sangat yakin Xiao Jun ada di dalam.
Ucapan Weini barusan terdengar lirih dan penuh keputus asaan. Dina terbawa suasana sedih kemudian merangkul pundak Weini untuk menguatkan. “Non, pulang aja yuk.”
Weini pasrah saja saat Dina menuntunnya pergi dari hadapan Lau. Tanpa sepatah kata, raut wajah yang menyedihkan, ia benar-benar tidak berniat menutupi kesedihannya.
Lau tak bisa berbuat banyak, bagaimanapun ia hanya mematuhi perintah tuannya. Pengabdian itu menjadi tuntutan walaupun terkadang harus mengesampingkan rasa kasihan. Lepas kepergian kedua gadis muda itu, Lau kembali menghadap Xiao Jun.
“Nona Weini sudah pergi Tuan. Ada lagi yang perlu saya lakukan” tanya Lau sebelum ia undur diri secara formal.
Setelah dipersilahkan pergi ternyata Lau tak juga beranjak dari posisi berdiri. “Mohon maaf tuan, bolehkan saya bertanya sesuatu?”
Xiao Jun membalikkan badan, sedari tadi ia berbicara pada Lau dengan posisi membelakanginya.
“Silahkan!”
Lau mengepalkan kedua tangan, tubuhnya setengah membungkuk tanda hormat. “Sebelumnya maafkan kelancangan hamba. Tapi hamba tidak mengerti mengapa tuan harus berbohong pada nona Weini? hamba tidak tega melihat kesedihan di wajahnya. Dia sangat ingin menemui tuan.”
Xiao Jun menghentikan Lau dari sikap penghormatan, ia sama sekali tidak tersinggung dengan pertanyaan tersebut. “Paman, apa aku boleh jatuh cinta? Kita sama-sama tahu cinta sama sekali tidak berlaku di kediaman
Li. Mungkin nasibku tidak jauh berbeda dengan kakakku dan nona pertama yang dijodohkan demi kepentingan bisnis. Jika tidak bisa memiliki, mengapa harus mengusiknya? Akan semakin menyakitkan kalau tidak dihentikan sekarang.”
“Anda benar tuan. Anda sudah disiapkan menjadi penerus tahta keluarga Li, pernikahan bisnis pasti tidak terelakkan.” Lau tidak bisa memungkiri kenyataan itu. Keluarganya sudah mengabdi pada keluarga Li sejak dua keturunan, dan cerita yang ia dengar dari ayah dan neneknya adalah perjodohan yang masih sangat kentara pada keturunan Li.
Xiao Jun tersenyum sinis, membayangkan harus memikul tanggung jawab klan yang bukan asli darahnya membuatnya menertawakan kedunguan dirinya. “Bahkan untuk mencintai orang saja aku tidak pantas hahaha.” Tawa Xiao Jun terdengar menyayat hati Lau.
“Menurut saya, anda sangat pantas mencintai seseorang. Berkat nona Weini, anda bisa tersenyum senang. Anda bisa mengalihkan fokus selain urusan keluarga dan bisnis, anda bisa berbagi kebaikan dan perhatian yang selama ini tidak pernah saya lihat dari diri anda.” Lau mengutarakan pendapat pribadinya.
“Aku bisa memulai hubungan dengannya. Awalnya dia sangat mengesankan, membuatku penasaran, lalu…” Xiao Jun berhenti sejenak, ia ragu meneruskan.
“Lalu anda jatuh cinta.” Lau menyambung kata kata yang terputus itu.
Xiao Jun tidak mengelak, ia memang jatuh cinta. “Tapi itu hanya keegoisanku saja. Aku akan melukainya dengan cinta yang tak jelas masa depannya.”
“Masa lalu seperti hembusan angin, masa kini seperti cermin, dan masa depan seperti roda. Anda terlalu mencemaskan roda yang masih bisa berputar.” Perumpamaan yang dituturkan Lau tentu dapat dicerna oleh Xiao
Jun. namun pria itu tetap bungkam seakan tak mendapat pencerahan.
“Saya punya keyakinan tentang nona Weini, dia orang yang punya kelebihan dan pasti mampu bertahan demi anda. Itulah sebabnya saya mendukung kalian.”
“Terima kasih paman. Istirahatlah. Saya juga sudah lelah.” Xiao Jun mengakhiri perbincangan mereka dengan mengusir Lau secara halus. Ia perlu menenangkan diri dan semua itu perlu waktu. Biarlah… yang terjadi terjadilah!
***
“Jadi besok tuan Xiao Jun balik ke Hongkong? Pantesan non ngebet banget mau ketemu.” Dina keceplosan, ia sadar ucapan terakhirnya terkesan tidak menjaga perasaan Weini. Dipukulnya jidat yang tidak bersalah itu saking
menyesalnya.
Weini enggan berkomentar, ia cukup lelah mengatur mood agar tidak terlihat memprihatinkan di depan Haris. Seumur-umur ia tak pernah terpikir bakal lemah karena cinta.
“Dia yang ngejar, eh dia yang jual mahal. Non, kayaknya dia lagi tarik ulur deh.” Dina menjentikkan jari begitu mendapat pemikiran brilian.
“Layangan kali tarik ulur.”
“Eh, serius non. Saranku sih ikuti aja permainannya. Mungkin aja dia lagi drama mau balik Hongkong, padahal cuman ngetes perasaan non aja.”
Weini menghela napas pesimis, “Dia bukan tipe begitu.”
Dina berhenti mencari alasan yang menyenangkan hati Weini, semua terbantahkan sia-sia. Weini terkesan membela Xiao Jun seakan pria itu begitu alim dan sempurna. Padahal Dina masih tutup mulut dengan imbalan
yang diberikan Xiao Jun atas kerjasama mereka. Weini hanya tidak tahu bahwa Xiao Jun tidaklah sepolos yang ia pikirkan.
***