OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 416 DIA KEMBALI



Suara langkah kaki berlari kencang menyusuri sepinya koridor terdengar memecah keheningan di sekitar. Semenjak keributan besar kemarin, kediaman Li nyaris seperti kuburan saking heningnya. Hanya tampak pengawal yang berjaga bak patung hidup di beberapa tempat, serta pelayan yang sesekali bertugas. Hanya ada dua orang yang perlu dilayani, otomatis melonggarkan kerja para pesuruh di rumah besar itu.


Li San masih terengah-engah setelah batuk panjang yang tak kunjung reda. Liang Jia dengan cekatan mengelus punggungnya, berharap bisa meringankan penderitaan suaminya yang batuk terus-menerus. Ia sendiri heran, padahal sudah menuruti saran dokter pribadinya dan rutin minum obat, namun Li San tak merasa kondisi tubuhnya membaik. Justru terasa semakin lemah, seperti menunggu saat-saat ajal menjemputnya.


Pria berkuasa itu tak pernah ketakutan pada hal apapun, termasuk maut sekalipun. Tetapi saat dirasa tubuhnya yang berpenyakit serta harus hidup mengandalkan bantuan orang lain, hanya untuk mengurus keperluan pribadinya saja ia harus mengandalkan bantuan Liang Jia. Sungguh Li San merasa bak kayu balok yang tak berguna, hanya bisa bergerak ketika ditendang atau diangkat orang.


Batuk lagi-lagi menyerang, Li San nyaris kehabisan napas karena terbatuk tanpa jeda. Liang Jia bergegas mengambil segelas air hangat dan menunggu hingga pria tua itu berhenti batuk. Disodorkannya gelas itu perlahan untuk menyuapinya minun. Namun Li San menolak dengan gelengan lemah.


"Minumlah sedikit agar tenggorokanmu lega." Bujuk Liang Jia.


Li San menggeleng lagi, air mukanya tampak sangat menyedihkan. "Sudahlah, biarkan saja aku yang tak berguna ini mati saja. Daripada terus merepotkanmu." Lirih Li San.


Liang Jia bergegas meletakkan gelasnya kemudian meraih tangan suaminya untuk digenggam. Tatapannya menyorotkan kesedihan dan rasa takut kehilangan pria itu.


"Jangan bicara seperti itu, batukmu hanya penyakit biasa, kamu sangat berguna bagi kami. Kamu kepala keluarga di rumah ini."


Lirih Liang Jia, padahal dalam hatinya ia cukup ketakutan dan firasatnya berkata bahwa penyakit Li San mungkin bukan penyakit biasa.


Li San menatap lembut pada istrinya, hal yang langka ia lakukan mengingat di masa lalu ia terbiasa bersikap dingin pada wanita yang sudah memberinya lima orang anak.


"Jia, berjanjilah kelak tanpa aku pun kamu tetap kuat, kamu harus hidup lebih lama dan lebih bahagia."


"Sudahlah, jangan bicara melantur lagi. Kamu akan sembuh, umurmu masih panjang. Kita masih bisa berkumpul dengan Yue Hwa." Liang Jia menutupi keresahannya, hatinya berkata lain dengan ucapannya. Ia pun risau jika Li San tak mampu bertahan.


Li San menatap Liang Jia penuh arti, seakan memelas pengertiannya dan memintanya berjanji. Di saat keduanya saling berpandangan dalam diam, tiba-tiba pintu kamar mereka diketuk perlahan. Seseorang yang datang ia membuyarkan suasana haru sepasang suami istri itu.


"Nona Yue Fang datang...." Teriak pengawal di depan kamar Liang Jia.


Seiring kelarnya teriakan itu, pintupun dibukakan. Liang Jia dan Li San yang masih saling berpegangan tangan itu menoleh ke arah pintu. Bola mata mereka membesar saat melihat sosok putri ketiga mereka yang sekian lama tinggal di luae negri akhirnya pulang lagi.


Yue Fang menatap haru melihat kedekatan kedua orangtuanya yang tak pernah ia lihat sedekat itu. Langkahnya perlahan namun pasti memasuki kamar ibunya, mendekat pada kedua orangtuanya.


"Yue Fang memberi hormat pada ayah dan ibu." Ujar Yue Fang sambil memberikan penghormatannya dengan berlutut.


Liang Jia bergegas membantunya berdiri, ibu dan anak itu saling bertatapan kemudian Liang Jia menarik putrinya dalam pelukan. Kejutan yang luar biasa baginya, di saat hanya tinggal ia dan Li San yang menua di rumah besar itu dalam kondisi tak bagus, ternyata putri ketiganya kembali.


"Aku merindukan ayah dan ibu, maafkan Fang yang tidak berbakti, di saat ayah dan ibu mengalami masa sulit, aku justru tidak tahu apa-apa. Jika tidak melihat berita, aku sungguh tidak tahu kalau kalian kesusahan. Fang sungguh tak berguna...."


Lirih Fang Fang menangis tersedu-sedu.


Li San menjulurkan tangannya, berharap mendapat sambutan dari putrinya.


"Fang, kemarilah...." Lirihnya pelan.


Yue Fang menatap ibunya sekilas, setelah melihat anggukan dari ibunya serta sorot mata yang meyakinkan, iapun berani mendekat ke arah ayahnya. Sangat jarang ayahnya meminta anak-anaknya mendekat, itulah mengapa Yue Fang sempat ragu.


Tangan Yue Fang agak gemetaran saat meraih tangan ayahnya yang terjulur, ia bisa merasakan tangan tua ayahnya dalam sentuhan. Waktu terasa berlalu begitu cepat, atau mungkin karena ia jarang menghabiskan waktu bersama ayahnya sehingga tak mengamati perubahan fisik yang kentara dari pria itu. Li San terlalu sibuk dengan ambisinya dan membiarkan anak-anak tumbuh dewasa tanpa perhatian nyatanya. Hanya mencukupi nafkah lalu ketika mereka dewasa, ia dengan egois menjodohkan mereka.


"Ayah... Ni hao?" Sapa Yue Fang agak kaku.


Yue Fang tak bisa mengontrol perasaannya lagi, ia menggeleng cepat, namun air matanya lebih cepat lagi responnya.


"Tidak, ayah tidak perlu minta maaf. Apa yang ayah berikan padaku sudah cukup berarti. Yue Fang akan tinggal di sini lagi, merawat ayah dan ibu. Mohon terima bakti Yue Fang."


Ujar Yue Fang sesenggukan.


Liang Jia yang melihat itu juga tak kuasa menahan tangis, andai penyesalan Li San terjadi beberapa waktu lalu, mungkin segalanya tak akan serumit ini.


Li San terbawa suasana, air matanya pun mulai menunjukkan kuasa. Dan karena terlalu larut dalam tangisan sehingga napasnya terpengaruh. Batuk lagi-lagi menyiksanya, dengan intens bahkan lebih parah dari sebelumnya hingga ia merasakan ada cairan hangat yang keluar dari mulutnya.


"Ayah...." Pekik Yue Fang histeris saat melihat tangan Li San yang menutupi mulutnya berlumur darah.


"Suamiku...." Begitu pula dengan Liang Jia yang nyaris ambruk lemas saking terkejutnya. Batuk Li San mengeluarkan darah, dan tangan pria itu masih menutupi mulutnya.


Yue Fang dan Liang Jia menangis histeris lagi, hingga Liang Jia berteriak minta pertolongan pengawalnya agar memanggil dokter kemari. Yue Fang dengan sigap mengambil sapu tangan yang sudah ia basahi untuk membersihkan darah di tangan ayahnya.


Kepanikan dua wanita itu tampak kabur dalam penglihatan Li San. Dalam sekejap pun pikirannya seakan kosong, suara penuh kecemasan seolah membisu, ia lemah, semakin tak berdaya, ia teringat kesalahannya, dan tak lama kemudian tubuhnya ambruk di atas ranjang.


"Tidaaaak! Ayaaaah...."


🌟🌟


Gadis pelayan yang sempat lari ketakutan saat membersihkan tubuh Weini, kini kembali menyelesaikan tugasnya yang tertunda. Tangannya gemetaran saking takutnya melihat putri yang tertidur lelap itu, hidup namun seperti mati.


Ia bergidik saat mencuri pandang pada cincin yang kini tampak normal, membuat hatinya ragu apakah tadi ia hanya salah lihat. Tetapi bila salah, tak mungkin Chen Kho membiarkannya begitu saja. Ia pasti sudah kena imbas lantaran laporan palsu. Nyatanya, majikan itu malah berteriak menyuruhnya mengurus tubuh gadis yang tergeletak tak berdaya itu.


"Kamu cantik, tapi apa gunanya kalau hanya tidur. Aku tidak kenal siapa kamu, tapi kumohon jangan menakutiku lagi." Gumam gadis pelayan itu sambil memakaikan baju pada Weini. Ia tak sadar bahwa ucapannya barusan terdengar oleh Weini, dan lebih tak sadar lagi bahwa Weini telah membuka matanya.


Weini telah bangun dari tidurnya, sepasang matanya terbuka lebar melirik gadis pelayan yang membelakanginya.


Gadis pelayan itu berfirasat buruk, ia merasa seperti tengah diperhatikan. Meski agak takut-takut, namun ia mencoba menoleh ke belakang karena penasaran. Dan ketika mendapati Weini sedang menatapnya dalam diam, ia spontan menjerit ketakutan.


"Aaarrgghhhh...."


🌟🌟🌟


Hi guys, update lagi nih.


Kita udah lama ya nggak keluarkan visual para pemeran. Nah kali ini author akan tampilkan sosok wanita yang biasanya berpenampilan sederhana karena memang ia dihukum menjadi pelayan.


Yup, dialah Xin Er.


Nah setelah tinggal bersama putrinya, Li An yang kini menjadi nyonya kaya raya, tentu penampilan sederhana itu sudah ditanggalkan. Setidaknya dia tak lagi terlihat sebagai pembantu ya.


Sosok Xin Er ini keibuan, pengertian dan yang pasti setia. Semoga visual yang author pilihkan ini bisa sreg di hati kalian ya. Maaf kalau memang dirasa kurang pas, habis agak susah nyarinya πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚