
Hari ini kuputuskan untuk menyerah …
Menyerah dari kepura-puraan bahwa hatiku kuat padahal rapuh
Menyerah dari pengharapan pada sesuatu yang ku tahu bukan untukku
Menyerah dari penantian panjang dan tidak berujung
Menyerahkan diri pada keputusan untuk berhenti mencintaimu
_Quote of Stevan_
***
Sepanjang malam hingga fajar menyingsing tak kunjung mengantarkan Stevan ke dunia mimpi. Semakin kuat ia memaksakan diri tertidur, makin kacau pikirannya yang kusut. Nasehat Dina kemarin begitu mengusik pikiran bahkan mengguncang keoptimisan yang setengah mati ia kumpulkan.
Tergantung elu, mau kehilangan total karena harapan yang mustahil atau tetap bersama sebagai sahabat.
Kata-kata Dina yang inilah yang berputar terus dalam rekaman otak Stevan. Selow tapi menusuk tajam sampai ke ubun-ubun. Stevan disudutkan pilihan antara memaksakan kehendak dengan resiko kehilangan atau melepaskan dan
masih tetap bersama atas nama persahabatan? Sekelumit perasaan yang membingungkan, ia hanya ingin menjadi bagian terpenting dalam hidup Weini. Mengapa harus sedemikian susah?
Disibaknya tirai yang menghalangi sinar matahari pagi menyilaukan kamarnya. Stevan berdiri tegak menatap langit dengan luas tak terbatas lalu memandang ke bawah dari gedung pencakar langit yang tinggalinya. Ia mulai berpikir, ini hanya soal sudut pandang. Di mana ia berpijak dan kemana ia menyebarkan pandangan, di situlah terdapat jawaban. Ia harus memilih antara menatap ke langit tak terbatas – dia ibaratkan dengan melepas, atau menatap ke jurang bawah yang menakutkan – mengikat yang tidak ingin diikat.
Stevan meraih ponselnya, ia sadar dengan jelas apa yang akan dia lakukan. Selagi hatinya belum berubah pikiran, selagi masih dapat berpikiran lebih jernih. Ia harus membuat keputusan!
*Memanggil Weini….*
***
Weini baru saja membatalkan niat Dina menjemputnya, sebenarnya Dina sudah menyanggupi untuk berangkat ke lokasi syuting bersama sejak kemarin. Apa daya Weini terpaksa sedikit berbohong demi menutupi kebenaran dari managernya demi mengikuti permintaan Stevan. Aktor itu memintanya merahasiakan pertemuan mereka dari
siapapun termasuk Dina.
Alasan yang membuat Weini tak tega menolak permintaan Stevan karena suara pria itu yang terdengar parau dan menyedihkan. Kata ajakannya memang simpel, namun terdengar menyentuh perasaan seakan pria itu sedang menghadapi pesimisnya hidup.
“Weini, ntar gue jemput ya. Kita otw bareng aja ke loksyut. Ada yang mau gue sampein. Plis.” Kata-kata itulah yang meluluhkan Weini. Hubungan mereka baru saja membaik setelah pertengkaran di apartemen Stevan waktu itu. Setidaknya Weini ingin memberi kesempatan untuk Stevan mengungkapkan kepentingannya. Ia sadar kehadiran pria itu kemarin tentu ada hal penting namun karena ada Dina di antara mereka, mungkin ia mengurungkan niat.
Weini memoles bibirnya dengan lipstick matte warna nude, bulu matanya yang panjang lentik alsi menjadi daya tarik tersendiri. Jika untuk sekedar hang out atau acara pribadi, ia tidak perlu menggunakan riasan tebal. Begini saja dia sudah sangat cantik alami. Weini meratakan warna bibirnya yang sudah dipoles, ia tersenyum menatap pantulan dirinya sebelum beranjak.
Rumah dalam keadaan sepi, Haris sejak pagi pamit mengunjungi om Felix dan meninggalkan sarapan untuk Weini. Ia terpaksa menyentuh jatah makannya walaupun perut masih ogah menerima asupan apapun, namun Weini enggan mengecewakan jerih payah Haris. Weini menyendok sedikit demi sedikit bubur ayam yang sudah dingin
itu, meskipun ada instruksi untuk memanaskan lagi tetapi Weini terlanjur malas ribet.
***
Dan mereka berakhir di sebuah café elit kawasan selatan, bertemankan dua cangkir mocha latte dan beberapa macam cemilan. Melihatnya saja sudah membuat Weini begah kekenyangan, namun lebih baik membiarkan Stevan yang mengambil alih suasana. Pria itu lebih banyak diam sepanjang mereka bersama.
“Oya katanya kamu yang jadi lawan mainku lagi di film laga terbaruku nanti? Kita satu projek lagi kak …” ujar Weini garing, ia tidak pandai mencari topic apalagi disuruh membuka pembicaraan. Senyumnya bahkan setengah maksa dan terlihat jelas kekakuannya.
Stevan tidak tertarik membahas itu, ia terdiam sekian lama karena memikirkan cara menyampaikan isi hatinya. Masih ada sisa keraguan atas keputusan yang ia pilih. Weini terlihat menggoda, kebersediaannya menerima ajakan keluar tanpa menolak yang membuat Stevan bimbang. Ia merasakan angin segar dan harapan semu yang
menggoyahkan tujuan awal.
“Ehem, Weini … Gue ajak lu ketemuan ada yang mau gue katakan. Serius ….” Stevan semula agak canggung namun setelah membuka omongan, perlahan ia mulai menguasai diri dan serius.
Weini menatap Stevan, pria yang ia kenal lebih dari satu tahun. Yang hampir setiap hari, sepanjang hari bersamanya. Intensitas pertemuan mereka sedikit membuat Weini tahu seperti apa sikap Stevan ketika bersungguh-sungguh. Ia mengangguk sebagai tanda persetujuan untuk menyimak keseriusan apa yang akan disampaikan Stevan.
Stevan mengalihkan tatapan sejenak dari sorot teduh sepasang mata Weini. Pandangannya tertuju pada cangkir yang isinya masih utuh. “Gue udah mikirin ini, semalamam … gue nggak tahu pastinya kapan gue mulai jatuh cinta, sama lu … ketika itu lu muncul dengan polos, penuh talenta dan cantik.” Stevan berhenti bicara, ia tersenyum nyengir mendengar pengakuannya sendiri. Sementara Weini masih memasang wajah dengan ekspresi datar, seolah pujian dan rayuan seperti itu tidak lagi mempan.
“Gue bisa saja lupa kapan pastinya gue jatuh cinta, tapi gue nggak akan lupa kapan gue berhenti jatuh semakin dalam karena cinta. So … Weini, gue udah putuskan berhenti mencintai lu terhitung sejak detik ini gue ungkapin.” Plong. Rasa hati Stevan yang akhirnya sanggup mengungkapkan isi hati tanpa terbata-bata.
Weini terkejut, pengakuan yang transparan dan jujur. Ia bisa merasakan kesungguhan dari pengakuan Stevan dan merasa sangat lega. Tak akan ia sesali perginya sebuah cinta, sebuah rasa yang selalu sedia menyemangatinya, yang menantinya lelah dengan kelelahan batin. Ia justru menebarkan senyuman paling lebar dan tulus yang pernah ia sunggingkan untuk Stevan.
“Aku ikut senang dengan tekad move on mu kak. Sungguh, kamu pantas bahagia dengan cinta yang sama dasyatnya dari seseorang yang tulus padamu.” Ungkap Weini. Tapi bukan aku orangnya … lanjut Weini bergumam dalam hati. Ia harus menahan setiap perkataan dari yang ia rasakan agar tidak menyakiti.
Stevan tersenyum kecut, doa harapan Weini yang mainstream itu terkesan mengejek. Padahal harapan yang disampaikan Weini itu tulus, namun tak tepat waktu hingga terdengar menjengkelkan bagi Stevan yang belum siap mendengar.
“Lu ngomong kayak kita nggak bakal ketemu lagi, kayak doa perpisahan. Ngeselin banget!” ungkap Stevan yang akhirnya bocor juga mengumpat.
Weini tersenyum, inilah Stevan yang ia kenal seperti biasa. “Ya maap, sorry …”
“Gue mundur dari cinta demi memajukan persahabatan kita. Elu dan gue tetap sahabat, selamanya! Itu kalau lu mau sih …” ujar Stevan santai, namun ia cemas dengan respon Weini tentang tawarannya. Gadis itu masih diam, seakan Stevan bisa membaca isi hatinya.
“Mmm … gue ambil keputusan ini karena gue nggak tahan bikin lu sakit. Kita udah sering berantem, baik lagi, berantem lagi, baikan lagi gara-gara alasan yang sama. Keegosian gue maksain kehendak ke elu. Kita nggak perlu gondokan kalo perasaan sayang kita hanya sebatas sahabatan, gue nggak pake modus… gue udah mantap sahabatan ama lu.” Timpal Stevan serius.
Weini terharu, pengakuan Stevan, ketulusan bahkan pengorbanannya selama ini akhirnya berujung keputusan yang paling bijak. Tanpa cinta, tidak akan ada yang terluka. Semakin cinta, makin besar rasa sakit saat kehilangan. Walau ada yang bilang antara pria dan wanita tidak akan ada persahabatan sejati, terlebih dengan masa lalu yang pernah mencintai. Tetapi keseriusan yang dinyatakan Stevan barusan, membuat Weini tak punya alasan memberinya kesempatan.
“Baiklah kak, kita sahabatan sekarang dan selamanya.” Weini menyodorkan cangkirnya menantikan toas dari Stevan.
Stevan tersenyum sembari mengangkat cangkir dan membalas toas dari Weini. “Untuk lembaran baru sebagai sahabat. Weini harus bahagia ….”
“Kak Stevan juga harus bahagia!”
***