OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 216 PERLINDUNGAN SEORANG KAKAK



Chen Kho sedang bermeditasi kala pintu kamarnya digedor oleh pengawal, konsentransinya buyar seketika. Ia bergegas merubah posisi tiduran, menyembunyikan kegiatan yang barusan ia lakukan. Pintu kamarnya terbuka, tebakan Chen Kho pasti salah satu pelayan datang membawakan jatah makanan.


“Brother .…”


Suara yang familiar dengan panggilan khas itu sangat dikenali Chen Kho, hanya ada satu orang yang memanggilnya dengan sebutan ‘brother’. Ia bergegas bangun dari sandiwara tidurnya. “Grace, akhirnya kau datang.” Seru Chen Kho senang, dari sorot matanya yang berbinar jelas terpantul rasa senang yang tak terkira


melihat kedatangan adiknya.


“Brother, maaf baru menjengukmu.” Grace memeluk erat kakaknya, matanya terpejam hingga tetes air mata pun berlinang begitu saja.


Chen Kho melepaskan pelukan, ia mulai tidak senang mendapati adiknya tengah menangis. Walau gadis itu menangis membelakanginya, tapi tetesan basah itu mengenai kaos di pundaknya. “Kau menangis? Apa si brengsek itu menyakitimu?” tanya Chen Kho geram. Ia tak segan kabur dari kamar ini untuk menghajar Xiao Jun andai Grace membenarkan dugaannya.


Grace menggeleng sembari tersenyum, “No, bukan itu. Aku hanya terlalu senang bertemu dengamu sampai mengeluarkan air mata.” Grace mengusap air matanya lalu tersenyum manis seolah tidak menangis sebelumnya.


Senyuman manis yang dijadikan kedok Grace itu tidak mempan bagi Chen Kho, ia tetap tak percaya bahwa pertemuan dengannya sampai membuat Grace terharu. Ia sangat mengenal adiknya yang bukan tipikal gadis berperasaan halus. Grace hanya menangis ketika ia sungguh putus asa dan tak tahu harus berbuat apalagi.


“Jujur saja, percuma kamu tutupi. Aku sangat mengenalmu, kecuali kamu tak percaya lagi padaku.” Ujar Chen Kho. Hatinya ikut hancur saat melihat adiknya bersedih.


Grace tersenyum getir, ia memang tidak salah memilih tempat curhat. Yang ia khawatirkan hanya emosi Chen Kho yang sulit dikendalikan bila marah, Grace hanya ingin didengarkan tanpa perlu dibantu dengan tindakan nyata. Ia enggan membuat Chen Kho berselisih lagi dengan pria yang dicintainya.


“Janji dulu, brother harus diam. Jangan lakukan apapun pada siapapun, jika kakak memang sayang dan peduli padaku!” ancam Grace.


Chen Kho terdiam, agak berat harus berucap janji demikian. Emosinya meletup-letup dan ia juga tak yakin bisa mengendalikannya.


“Bisa kak?” Grace menagih kepastian.


Chen Kho melirik Grace, wajah adiknya tak kalah frustasi dengannya. Ia sungguh tidak tega membiarkan gadis itu menderita. Dalam hati bertanya, mengapa nasib mereka begitu malang harus terlibat dalam ambisi gila ayah mereka. Chen Kho menghela napas panjang sebelum memberi jawaban. “Aku janji!”


Grace tersenyum lebar lalu memeluk Chen Kho sekali lagi, hal biasa yang sering mereka lakukan saat berbagi suka duka. “Kau selalu jadi brother yang bisa kuandalkan. Thanks.” Bisik Grace senang.


“Lalu, apa yang bikin kamu sedih?” tanya Chen Kho tak sabaran.


Pelukan itu dilonggarkan Grace, wajahnya berubah ekspresi dari senang lalu kini terlihat menyedihkan. “Aku merasa Xiao Jun tidak mencintaiku.”  Desis Grace lirih.


Chen Kho menatap adiknya lembut, akhirnya Grace sadar tidak dicintai. Selama ini Chen Kho berusaha menutupi dan melakukan apapun untuk menjaga perasaan Grace. Namun kebusukan tidak akan bisa ditutupi selamanya. Cinta yang tak bisa dipaksakan itu pun ttidak bisa ditutupi dengan kepura-puraan. “Apa rencanamu?”


Grace berbalik badan membelakangi Chen Kho, ia lebih nyaman mengakui perasaan tanpa berhadapan langsung. “Rencanaku? Huft … Bro, aku bukan perencana yang baik. Awalnya aku menolak keras perjodohan ini, bahkan dengan percaya diri bertaruh pada ayah bahwa aku tidak akan jatuh cinta padanya. Aku benci dipaksa menikahi pria yang tidak kukenal, ku kira lebih baik kabur sesampai di sini.” Grace berhenti bicara, ia menatap jauh ke pemandangan di luar jendela.


“Sialnya aku malah kalah telak dari ayah, tidak perlu satu tahun aku sudah sangat jatuh cinta.” Lanjut Grace tertawa kecil, menertawakan kebodohannya.


“Grace ….” Chen Kho memanggil dengan pelan, ia mulai trenyuh pada kesedihan sang adik. Cinta tak berbalas memang belum pernah Chen Kho rasakan tetapi ia tahu bahwa itu sangat menyakitkan.


“Aku sudah memutuskan dan tidak akan menyesal. Terlanjur jatuh cinta, sakit ini bukan salah dia … tapi aku yang terlalu mencintai dan tidak tahu harus bagaimana agar dicintai. Entah berakhir seperti apa kelak, aku tetap akan berusaha memperjuangkan perasaan ini agar berbalas dari dia.” Ujar Grace lirih dan mantap.


Kemantapan hati Grace memilih jalan terjal itu untuk dilangkahi jelas menyesakkan hati Chen Kho, ia tahu segalanya, tahu siapa yang ada di hati Xiao Jun sehingga nyaris tidak ada celah bagi Grace untuk menyelinap di hati Xiao Jun.


“Kamu masih bisa memilih jalan lain, putuskan ikatan ini. Ikut aku dan ayah pulang ke Amerika, Grace!” desak Chen Kho. Ia meraih tangan Grace saking ingin meyakinkannya.


Grace menepis genggaman itu lantaran tak senang mendengar saran kakaknya. “Tidak. Dia calon suamiku, kemanapun dia pergi aku harus ikut. Bro, jangan mendesakku! Aku tidak akan pernah memutuskan dia.”


Chen Kho tak habis pikir dengan keras kepala adiknya, sudah tahu tidak dicintai namun masih nekad melukai diri sendiri. Chen Kho mulai tergoda untuk menggunakan sihir demi menundukkan Grace, tetapi niatnya segera diurungkan. Efeknya tidak akan baik ke depannya bahkan bisa merusak masa depan Grace. Ia tak akan peduli jika dilakukan pada orang lain, namun pada satu-satunya adik yang ia sayangi, Chen Kho tak sampai hati.


“Kau yakin tidak akan menyesal? Bagaimana kalau dia sama sekali tidak bisa mencintaimu karena wanita lain?” Chen Kho terpaksa harus melontarkan fakta yang ia tutupi selama ini demi menjaga perasaan Grace. Lebih baik gadis itu tahu kenyataan buruk itu sekarang dan menyelamatkan diri dri jebakan perasaan tak berbalas, daripada semakin lama semakin larut dalam cinta yang mustahil. Chen Kho berharap mata hati Grace terbuka dan mengambil keputusan yang tepat – pulang ke Negara asal.


Telapak tangan Grace mulai dingin dan gemetaran, pertanyaan yang dijabarkan Chen Kho itu lebih terdengar seperti kenyataan. Xiao Jun mencintai wanita lain? Pria yang menyematkan cincin dan mengikatnya itu punya wanita lain? Grace menggelengkan kepala, lidahnya kelu, sepasang mata indahnya mulai berkaca-kaca.


“Grace? Kalau dia mencintaimu, tidak mungkin dia mengabaikanmu. Orang yang saling jatuh cinta pasti selalu rindu dan ingin bertemu, kau lihat kan apa dia mencarimu? Apa dia bertanya kabar padamu? Semua jawaban itu adalah TIDAK!” Chen Kho mulai bersuara lantang, berharap bisa menyadarkan Grace yang tengah dibutakan cinta.


Grace menutup telinga dengan kedua tangannya, ia tidak mau mendengar lagi. Kepalanya terus menggeleng dengan mata terpejam! “Tidak! Tidak! Tidak! Brother bohong! Dia tidak mungkin punya wanita lain. Dia bersedia tunangan denganku, kalau dia punya wanita lain buat apa dia bersedia dijodohkan!”


Chen Kho tertawa nyaring, menertawakan keluguan adiknya. “Apa kau kira hanya kamu yang dipaksa? Pria sukses seperti dia apa masih betah sendiri? Kau terlalu naïf Grace! Oke … kalau kamu tidak percaya, ikut saja dengannya! Buktikan bahwa ucapanku benar, kau tidak dicintai. Wanita yang ia cintai bernama Weini!”


Deg! Mendengar sebuah nama wanita disebut Chen Kho langsung mendebarkan hati Grace. Hanya dengan mendengar sebuah nama saja sangat menyakitkan, apa itu benar? Atau Chen Kho tengah mengelabuinya? Grace tak menyadari air matanya luruh membasahi pipi mulusnya. “Weini?” ujarnya lirih.


***


Hi Readers, makin penasarankan gimana reaksi Grace ya saat bertemu Weini kelak? Belum apa-apa saja sudah sakit hati loh si Grace. Kira-kira Chen Kho itu enaknya diapain ya? Sudah jahat, ngeselin, tapi tetap punya sisi baik sih, Hmmmm ….


Ada yang mau sumbang ide? Hehehe ….


Yang selalu merindukan kalian,


Author Lee ^^