
Dan hari itu tiba ….
Li An mengawasi kurir yang mengantarkan bunga pesanannya dan meminta mereka meletakkan di dalam ruang tamu. Keterbatasan bahasa membuatnya mengandalkan Haris sebagai juru bicara, yang penting segalanya sesuai dengan yang ia mau.
“Terima kasih ayah, selebihnya serahkan padaku.” Ungkap Li An, ia membenarkan ikat rambutnya yang mulai melorot kemudian bersiap menyulap ruangan dengan dekorasi bernuansa pesta ulangtahun.
“Yakin tidak perlu bantuanku?” Tanya Haris, ia sendiri masih harus menyelesaikan beberapa menu masakan dan merebus telur.
Li An mengangguk, “Tenang ayah, aku paling jago soal hias rumah. Aku selesaikan dengan cepat setelah itu bantu ayah masak.”
Haris tersenyum dan meninggalkan Li An berkreasi semampunya, ia penasaran seperti apa kebolehan putrinya dalam seni dekorasi. Sambil menunggu kerjaan Li An selesai, Haris mengamati hasil kerjaannya dan mengingat
apa yang harus dilakukan lagi. Ia berniat memasak mie panjang umur, telur rebus yang diwarnai merah yang menyimbolkan kegembiraan, capcay goreng, sup sarang wallet, dan request dari Li An yang memintanya memasak bebek panggang.
“Sempurna!” Teriakan Li An terdengar.
Haris mengernyitkan dahi, secepat itukah kerja Li An mendesain dari bunga hidup serta aneka pernak-pernik yang Lau belikan untuknya? Haris yang tidak percaya pun bergegas meninggalkan dapur, menghampiri Li An yang berdiri sambil mengelap tangannya. Haris takjub menatap hasil kerjaan Li An, ruang tamu kini bernuansa pink dan putih dengan balon-balon yang sengaja dilepas agar menggantung di langit-langit, sebuah panggung mini dengan
background kombinasi bunga, pita, balon yang bertuliskan nama Weini, dan masih banyak hiasan yang tidak Haris kenali namanya.
“Sulit dipercaya, kamu menyelesaikan semua ini kurang dari tiga puluh menit?” Haris berdecak kagum, Li An memang punya bakat terpendam.
Li An dengan bangga mengangguk, “Eh masih kurang satu hal ayah, hmm … Harusnya sudah diantarin jam segini.” Gumam Li An, ia masih menanti pesanan terakhirnya diantarkan.
Suara klakson mobil mengejutkannya, sebuah mobil catering mampir di halaman rumah. Li An berbinar menatapnya, yang ia tunggu akhirnya datang. “Ayah, tolong diterima. Itu pesanan terakhirku.” Pinta Li An meminta Haris keluar bersamanya.
Haris menurut saja, ia terkejut melihat empat orang sibuk mengangkat kue tart tiga tingkat yang berwarna pink. “Masukkan ke dalam saja.” Haris menunjuk ruang tamunya, Li An membuntuti langkah ke-empat pria itu sementara Haris membubuhkan tanda tangan pada nota penerimaan barang.
“Seleramu bagus juga.” Gumam Haris, memuji kue bertingkat tiga yang terlihat sangat menarik. Ucapan yang tertera di kue itupun menggunakan aksara Mandarin yang menuliskan nama Weini. Haris mengangkat satu alisnya ketika membaca itu.
“Namanya salah, bukan Wei itu yang dimaksud. Arti nama dia gadis berharga, bukan Wei yang diambil dari marga kita.” Protes Haris, selebihnya tidak ada komplain lain.
Li An tersentak, “Hah? Sayang banget, aku kira artinya Wei marga kita dan Ni nya berarti anak perempuan. Ya sudah aku ubah saja mumpung masih ada waktu.” Ujar Li An, kini pekerjaannya bertambah yang seharusnya sudah beres dengan urusan dekor.
***
Sudah siap dijemput?
Weini tersenyum sendiri membaca pesan dari Xiao Jun. Ia baru mengelarkan syuting hari ini dan mengemasi barangnya. Xiao Jun pasti sudah menunggunya di parkiran, pria itu tidak pernah membuatnya menunggu jika
memang berniat menjemputnya, dia lebih bersedia menguji kesabaran menanti jam pulang Weini yang tidak pasti.
“Non dijemput tuan Xiao Jun kan? Aku nebeng ya, mobilku belum kelar servis udah gitu Stevan pelit nggak mau bagi tumpangan.” Dina datang dengan manyun lalu meminta tumpangan, Weini mengangguk setuju kemudian mereka berjalan keluar menuju parkiran setelah Weini membalas pesan Xiao Jun dengan jawaban singkat.
“Stev, gue nebeng mobil lu ke rumah Weini ya.” Pinta Dina dengan percaya diri, ia yakin betul Stevan tidak akan keberatan karena mereka searah. Dina sengaja datang dengan taksi online agar bisa satu mobil dengan aktor itu. Tujuan mereka sudah jelas, untuk apa terlalu banyak mobil yang iring-iringan ke satu tempat. Belum lagi jika kejebak macet, yang ada hanya saling menunggu nantinya.
Ekspektasi Dina buyar ketika Stevan meresponnya dengan wajah suntuk dan terkesan buru-buru hendak mengejar sesuatu. “Sorry Din, kayaknya nggak bisa deh. Gue ada urusan penting bentar, gue nyusul ke sana tapi palingan telat lah. Mulai aja dulu, nggak usah tunggu gue.”
Tanpa mendengar jawaban Dina, aktor itu melayap pergi begitu saja. Meninggalkan Dina yang bengong dengan mulut terbuka. Dan flashback menjengkelkan itu tutup buku, Dina terpaksa harus jadi obat nyamuk lagi di tengah Weini dan Xiao Jun.
“Din, aku mau ke rumah Weini dulu loh.” Ujar Xiao Jun ketika mereka bertiga sudah berada di dalam mobil.
Weini menoleh pada managernya yang duduk sendiri di belakang. Raut wajah Weini agak sungkan karena mau tak mau membuat manager itu menunggu sebentar. Xiao Jun enggan mengantar Dina dulu dengan alasan tidak searah. Ia akan mengantarkan Dina sampai rumah setelah mengantar Weini dan mampir sebentar.
“Nggak apa-apa tuan, aku selow aja. Pokoknya aku nurut. He he ….” Kilah Dina, dalam hatinya bersorak bahwa justru mereka akan berkumpul di rumah itu. Sebuah pesta kejutan menanti mereka.
***
Stevan berlari tergesa dengan dua tangan yang sibuk memegang sesuatu, langkahnya semakin cepat karena dipicu oleh sebuah pesan yang dikirimkan khusus untuknya. Pesan yang mengalahkan minatnya untuk hadir di pesta Weini tepat waktu, ada hal lain yang jauh lebih penting ia lakukan sekarang.
Di ruang istirahat para pemeran utama, Grace bersikeras menyuruh Fang Fang pulang lebih dulu dan meninggalkannya sendiri. “Aku hanya pengen sendiri sebentar, pulanglah! Jangan perlakukan aku seperti anak
kecil, aku tahu apa yang kulakukan!” Bentak Grace, ia memalingkan wajahnya. Tak sanggup rasanya melihat wajah polos Fang Fang yang sedih karena bentakannya.
“Saya mengerti, maaf nona. Saya pamit dulu.” Fang Fang membungkuk cukup lama sebelum berbalik badan dan pergi dari ruangan itu. Selepas dari sana, ia meraih ponselnya dan terlihat mengirimkan sebuah pesan.
Stevan yang sudah berlari menyusuri lift pun merasakan getaran ponselnya, ia membaca dari luar tanpa sempat membalas lagi.
Cepatan! Begitulah bunyi pesan singkat itu.
Dengan napas tersengal, Stevan membuka pintu ruangan yang tidak terkunci. Untung saja, akan repot jika Grace mengunci dari dalam.
“Sudah kubilang pulang saja!” Bentak Grace. Ia terkejut karena salah memarahi orang, dikiranya Fang Fang berubah pikiran dan kembali membujuknya. Gadis itu membuang wajah, pura-pura mengabaikan kehadiran Stevan. Namun pendengarannya jeli menangkap suara sepatu pria itu yang melangkah semakin mendekatinya.
Sekaleng soft drink dingin diletakkan pada meja di hadapan Grace, dan berhasil menyita perhatiannya. Gadis itu menatap mulai dari kaleng kemudian mendongak pada si pemberi yang memasang senyum tulus. Di luar dugaan Stevan, gadis itu meraih kaleng itu, membuka dan langsung meneguknya. Stevan tersenyum tipis, keputusannya memang tepat memilih berada di sini ketimbang di pesta Weini.
Weini sudah menerima begitu banyak perhatian dan cinta dari orang sekelilingnya, sedangkan Grace yang tahu bahwa malam ini adalah malam milik Weini, hanya bisa menepi, bersembunyi untuk meratapi kesedihan. Gadis di hadapan Stevan ini lebih perlu teman bicara saat ini, dan ia tengah berusaha mendapatkan kepercayaannya.
“Gue juga pernah kayak lu, merasa paling menderita, paling patah hati di dunia ini. Saat itupun gue suka menyendiri, bersembunyi dari keramaian dan nggak ingin siapapun yang ganggu. Sampai akhirnya gue sadar,
kalau diam nggak bakal nyelesaikan masalah. Gue hanya memendam sendiri, dan ternyata punya teman bicara yang lu percaya itu jauh lebih menenangkan.” Usai bicara panjang lebar, Stevan membuka tutup kaleng minumannya kemudian meneguk beberapa kali. Dahaganya terobati, setelah kering akibat lari sekuat tenaga kemari.
Grace tetap diam, memilih kembali meneguk minumannya selagi masih dingin. Biarlah suasana didominasi oleh kesunyian, setidaknya kini ia tidak lagi sendiri.
***